
Mata biru itu masih terbuka walau malam sudah begitu larut, pikiran bercabang namun yang ia tau pasti sang kakak tetap bersama nya saat ini.
"Kamu belum tidur?" Steve yang baru saja kembali setelah melihat putra-putra yang menggemaskan dan bahkan belum memiliki nama itu melihat gadis nya yang masih membuka mata nya.
"Dari mana kak?" tanya Celine yang tak menjawab melainkan memberi pertanyaan lain nya.
"Lihat anak kita, kamu belum lihat mereka kan? Kakak belum kasih mereka nama, kakak mau nya pilih nama nya bareng kamu." ucap Steve yang tersenyum melihat gadis nya.
"Kak?" panggil Celine lirih.
"Waktu di kantor kakak aku datang, tapi kata temen kantor kakak, kakak lagi sama pacar kakak..." ucap nya lirih yang mengatakan kejadian hari itu.
Steve tak mengatakan apapun melainkan hanya tetap diam mendengarkan gadis itu.
"Terus kamu percaya?" tanya nya saat ia sudah mendengar apa yang di katakan gadis nya.
"Tapi kan kakak pernah mimpi perempuan lain, hati aku sakit kak denger nya..." jawab Celine lirih.
"Kamu cuma perlu percaya kakak bukan orang lain," ucap nya sembari melihat ke arah iris biru itu, "Kamu tau siapa orang nya?"
Gadis itu menggeleng, "Celine gak tau kak,tapi Celine ketemu nya di di depan pintu lift 4F lantai satu," jawab gadis itu.
Steve mengangguk mendengar nya, ia tak butuh penjelasan lagi karna ia hanya perlu memeriksa dengan siapa gadis itu bicara melalui cctv yang terpasang di tempat yang di katakan.
"Celine? Kakak itu sayang nya cuma sama kamu bukan orang lain, kalau pun ada yang kakak sayang selain kamu sekarang itu anak kita. Jadi kamu jangan takut lagi, hm?" tanya Steve pada gadis nya.
Celine diam namun ia lebih memilih mengikuti kata hati nya dan kembali pada pria itu.
"Bener kan kak?" tanya nya memastikan.
Steve tersenyum mendengar nya, mata biru yang bulat dan bersinar itu tengah menatap nya dengan penuh harapan dan jawaban.
"Iya, masa kakak bohong sama kamu?" tanya pria itu sembari mencubit pipi gadis di depan nya.
Celine menepis tangan pria itu, terkadang ia selalu di perlakukan seperti anak-anak namun biarpun seperti itu ia tak membenci nya sama sekali.
"Kak?" panggil nya yang kini malah memegang tangan yang tadi usil di wajah nya.
"Aku belum ketemu mereka," ucap nya lirih pada pria itu.
Steve semakin tersenyum, ia mengecup pipi gadis nya dan melihat ke arah mata biru itu.
"Mereka baik-baik saja, cuma karna ada sedikit masalah tapi kamu bisa ketemu mereka beberapa hari lagi kok..."
"Mereka itu imut, seperti Mommy nya." ucap Steve saat melihat gadis itu.
"Kan Celine yang hamil," jawab gadis itu yang tersenyum dan merasa suka jika bayi-bayi nya mirip dengan diri nya.
......................
Pria itu menatap ke arah laptop di depan nya, melihat dengan siapa gadis nya berbicara bahkan sampai membuat nya pecah ketuban yang hampir membuat nyawa anak-anak nya dalam bahaya.
"Dia? Jadi dia?" ucap nya tersenyum miring saat merasa begitu geram melihat hasil rekaman cctv yang berada di lobi bangunan itu.
Tak ada pembicaraan yang terdengar namun yang jelas ia tau jika seharus nya pembicaraan itu tak ada sama sekali.
Ia melihat dengan mata kesal, "Kau harus bayar sesuatu yang kau lakukan, iya kan?" gumam nya yang memikirkan rencana yang ada di kepala nya.
....
Rumah sakit.
5 Hari kemudian.
Mata biru itu berbinar dan membulat melihat bayi-bayi mungil yang di lilit dengan kain dan di satukan di dalam keranjang itu.
"Gemes kak, mau cubit pipi nya. Kecil banget hihi..." ucap gadis itu yang merasa gemas dengan bayi-bayi mungil yang ia lahirkan itu.
Steve tersenyum melihat gadis nya yang kini bersemangat dengan menatap putra-putra mereka.
"Bangun, Mommy mau gendong..." ucap Celine yang merasa gemas dan mulai mencubit salah satu pipi lembut bayi mungil nya.
Huu...
Bayi mungil yang berada di paling kanan itu mulai menggeliat karna tangan jahil sang ibu yang mengganggu nya.
"Kak? Dia lihat kak," ucap Celine bersemangat yang semakin bermain dengan bayi mungil nya itu.
Hyu...
__ADS_1
Hu..HUA...
Bayi mungil dengan kulit yang masih merah itu mulai menangis sejadi jadi nya, suara yang besar itu pun membuat ketiga saudara nya yang lain mulai ikut menangis secara bersahutan.
"Ka...kak?" ucap Celine lirih yang bingung dengan para bayi mungil yang kini sudah menangis karna ulah tangan jahil ibu mereka sendiri.
Perawat yang masih berada di dalam ruangan itu pun mulai mengambil nya dan menenangkan nya.
"Tuan dan nona ingin coba menggendong nya? Bisa di gendong dua sekaligus." ucap nya pada kedua orang tua bayi-bayi mungil yang rewel itu.
"Ta...tapi mereka kan lagi nangis..." ucap Celine lirih yang enggan karna takut bayi-bayi itu menangis lagi.
Perawat tersebut tersenyum, ia menggendong dan menenangkan satu bayi lalu mulai memberikan nya ke tangan gadis yang tak tau apa-apa cara mengurus anak itu.
"Tangan nya di lemaskan dan gendong dengan lembut," ucap nya sembari mengatur tangan gadis itu sedemikian rupa.
Setelah itu ia pun mengambil satu bayi lagi dan memberikan nya ke pangkuan tangan yang lain dari gadis itu.
"Ayah nya mau gendong juga?" tanya nya yang pada pria yang hanya menatap ke arah gadis dan putra-putra nya saja.
Steve menoleh, menatap wanita yang cukup berumur dengan rambut keriting bergelombang itu.
Ia tak menjawab namun si perawat mulai menggendong bayi-bayi mungil itu dan memindahkan nya ke tangan sang ayah.
Tangisan yang awal nya bersahutan itu kini mulai mereda saat pertama kali mendapatkan gendongan tangan dari kedua orang tua nya.
"Kakak belum pikirin nama mereka kak?" tanya Celine menatap bayi-bayi mungil itu di tangan nya dan tangan sang kakak.
"Sudah, tapi kamu gak punya nama untuk mereka?" tanya Steve pada gadis itu.
"Punya, tapi cuma satu gak sampai 4, hihi..." jawab gadis itu tertawa.
Steve melihat tingkah kekanakan gadis itu dan menatap nya sejenak.
"Siapa?" tanya nya dengan penasaran, walupun hanya satu nama namun ia bisa memberikan nama itu untuk putra tertua nya yang hanya berbeda beberapa menit saja saudara nya yang lain.
"Key," jawab Celine singkat namun dengan senyuman cerah bagai matahari.
"Key? Kenapa Key?" tanya Steve mengernyit.
"Key itu artinya kunci dan mereka itu kunci supaya kakak gak bisa lari dari aku." jawab Celine tersenyum dengan wajah polos nya.
Steve tertawa mendengar nya, jika putra-putra menang kunci agar ia tak kabur namun malah sebalik nya.
"Kalau begitu nama anak pertama kita Key Levander Evans," ucap nya pada gadis itu.
Celine tersenyum dan menyetujui begitu saja nama yang bagus itu untuk putra pertama nya.
"Terus yang kedua, ketiga, ke empat apa kak?" tanya nya sembari memiringkan kepala nya tanpa sadar menatap sang kakak.
"Rey? Fey? Ken? Panggilan nya cocok kan? Cuma butuh tiga huruf untuk panggilan mereka dan nama nya mirip," ucap Steve tersenyum pada gadis itu.
Celine mengangguk, walaupun ada kemungkinan bayi nya tak kembar identik namun nama nya cukup untuk membuat nya ingat ke empat putranya dengan mudah.
"Dia mau makan itu," ucap sang perawat melihat geliat bayi mungil itu yang seperti nya sudah mulai menginginkan asi.
Steve maupun Celine pun menoleh, pembicaraan nya tentang nama terpotong sejenak akibat ucapan si perawat.
"Kasih asi nya gimana? Di peras gitu? Kan sakit? Kak Steve bilang kala- Humph!" bibir nya terbungkam dengan tangan besar sang kakak.
"Celine? Nanti di kasih tau yah cara nya sama perawat nya," ucap nya tersenyum pada gadis itu.
Ya, ia mengatakan setiap kali menghisap ataupun meremas d*da gadis itu untuk berlatih jika putra-putra nya sudah lahir maka nanti nya akan memberi asi dan gadis itu percaya begitu saja jika cara nya memang harus seperti itu.
Sedangkan sang kakak mulai kembali melakukan segala rayuan setelah hari di mana ia ulang tahun agar bisa kembali menyentuh tubuh kecil gadis nya yang semakin padat.
Sang perawat menatap bingung namun ia tak ambil pusing. Ia cukup mengarahkan bayi mungil itu agar menghisap asi ibu nya.
"Ih, baby nya mirip kakak." ucap gadis itu tertawa kecil melihat putra nya yang tengah meminum asi itu.
"Kan juga anak kakak," jawab Steve tersenyum pada gadis itu.
"Ia, baby nya juga suka ngemut punya Celine kayak kakak, hihi..." ucap nya gamblang dengan tawa kecil nya.
"Ehem," sang perawat hanya berdehem melihat gadis yang tertawa polos padahal baru saja mengatakan hal yang cukup vulgar tanpa sadar.
Sedangkan Steve tak mengatakan apapun, salah nya juga yang tak pernah membuat gadis itu bersikap dewasa.
"Mereka semua minum asi?" tanya Celine bingung saat di berikan lagi putra nya yang lain untuk memakan asupan penuh gizi itu.
"Benar nona," jawab sang perawat.
__ADS_1
"Berarti aku kasih asi nya sama lima orang dong sekarang?" tanya nya lagi pada wanita yang memiliki rambut kriting bergelombang itu.
"Lima? Anak kita cuma empat Celine," ucap Steve yang mengira gadis nya salah menghitung.
"Iya lima! Key, Rey, Fey, Ken sama kakak! Kakak kan dari dulu suka hisap-hisap juga! Masa lupa sih kak?" jawab gadis itu mengernyit melihat sang kakak.
Kali ini Steve kembali terdiam, tentu saja ia suka memakan tubuh ranum gadis nya sejak pertama kali ia menyentuh tubuh kecil itu dan kali ini untunglah gadis itu berbicara dengan bahasa Perancis sehingga si perawat tak mengerti ucapan nya.
"Kalau kakak asi kamu udah habis tetep kakak hisap kok," jawab Steve berbisik pada gadis itu.
"Dulu kan juga belum ada kan kak? Tapi kenapa kakak juga suka?" tanya nya dengan bingung yang masih tak nyambung dengan ucapan sang kakak.
"Tapi kamu suka kan?" tanya Steve tersenyum.
Wajah gadis itu memerah mendengar nya, memang berbeda rasa nya saat bayi-bayi mungil nya dan sang ayah menghisap nya.
Jika sang ayah dari putra-putra nya yang melakukan hal tersebut maka tubuh nya akan terasa terbakar dan menginginkan sesuatu yang lain berbeda dengan saat ini.
Bukan perasaan yang panas dan sengatan listrik yang mengalir namun ia merasa tenang dan suka melihat putra-putra nya yang menggemaskan itu.
Sang perawat menatap dengan bingung melihat wajah yang memerah dari gadis kecil yang memberi ASI pada dua putra nya itu, berbicara menggunakan bahasa negara yang tak ia ketahui karna keturunan Amerika asli.
......................
2 Minggu kemudian.
Apart
Gadis itu sudah kembali ke apart nya menatap ke arah televisi yang tengah menampilkan serangkaian berita sekilas.
Semenjak ia menjalani pengobatan pasca operasi dan kembali ke rumah, bayi-bayi mungil itu berada dalam pengawasan penuh sang ayah karna tau ibu yang mereka miliki masih bersikap anak-anak juga dan tak tau cara mengurus ke empat bayi mungil itu.
Steve juga tak berencana menyewa pengasuh karna ia ingin bayi-bayi nya tubuh di tangan kedua orang tua nya maka dari itu sebisa mungkin ia merawat ke empat bayi itu secara bersamaan.
"Kak? Itu mirip sama yang bilang kalau kakak selingkuh!" ucap Celine sembari menunjuk ke arah layar televisi nya yang memberikan kabar seseorang yang kecelakaan hingga membuat penumpang nya menderita luka berat dan kemungkinan meninggal dunia.
"Karma itu mungkin, karna buat kamu sama anak kita hampir celaka." ucap Steve enteng seperti sudah mengetahui segala nya sembari dengan santai mengupas kan kulit apel untuk gadis nya.
"Karma nya serem kak," jawab Celine bergidik.
"Kamu gak usah pikirin yang gak penting, bukan nya sekarang kamu harus cepet pulih? Jadi acara nya bisa kita majukan." ucap Steve yang tak sabar ingin membuat gadis itu seutuh nya menjadi milik nya.
"Acara apa kak?" tanya Celine dengan bingung sembari memakan apel yang di berikan sang kakak.
Steve berhenti mengupas apel selanjutnya dan menatap gadis itu, "Kamu lupa? Kita mau nikah Celine, masa kamu mau kita seperti ini aja?" tanya Steve pada gadis itu.
"Lupa kak," jawab Celine terkekeh, yang ia lakukan saja sudah seperti pernikahan saat ini mana mungkin ia ingat dengan status nya yang masih belum memiliki hubungan mengikat dengan pria itu.
Steve tak jadi kesal melihat tawa gadis itu, "Kamu nanti jangan bolos lagi kalau kuliah, kamu mau masuk jurusan apa nanti?" tanya pria itu.
Sebentar lagi masa sekolah menengah atas gadis itu akan berakhir, walaupun ia sempat di buat pusing dengan tingkah gadis nya yang tak belajar sama sekali ketika sang guru datang ke apart nya.
Celine terdiam, semenjak ia melepaskan kesempatan emas nya untuk menjadi musisi ia seperti tak bersemangat untuk melakukan hal yang lain nya.
"Gak tau kak Celine bingung," jawab gadis itu menggeleng, lalu menoleh ke arah televisi lagi, "Apa jadi kayak dia aja kak?" tanya gadis itu dengan iseng sembari menunjuk ke arah pembawa berita.
"Gak boleh!" jawab Steve dengan tegas, kali ini alasan ia tak mengizinkan karna tak ingin kecantikan gadis nya di lihat banyak orang lain.
"Semua gak boleh!" ucap Celine dengan bibit mengerucut menatap ke arah pria itu.
"Bukan semua gak boleh semua sayang, kakak mau nya kamu di rumah aja urus anak kita, urus kakak, urus diri kamu sendiri. Itu aja." ucap Steve pada gadis nya sembari mengecup pipi nya.
"Terus tadi kenapa tanya Celine mau nya jurusan apa kak?" tanya gadis itu dengan bingung.
"Kakak kan cuma bolehin kamu kuliah bukan kerja Celine," ucap pria itu pada gadis nya.
Pria yang penuh dengan sifat pencemburu itu sudah berusaha menahan diri nya agar tak mengurung gadis nya dan membiarkannya kuliah. Namun kerja? Tentu nya tak mudah mendapatkan izin itu dari nya apalagi saat ia sanggup menghidupi gadis nya dan ke empat anak nya.
"Huh! Kakak nyebelin!" jawab gadis itu mengerucut.
"Tapi kamu suka kan?" tanya Steve yang sering mengucapkan kalimat yang sama.
"Suka! Banget malah!" jawab gadis itu itu tersenyum dan memeluk tubuh sang kakak.
Ke empat bayi nya kini tengah tertidur pulas walaupun sebentar lagi suasana tenang itu akan segera hilang saat tangis bayi-bayi mungil itu mulai terbangun dan kembali membuat repot.
...****************...
Key Levander Evans π Rey Levander Evans π Fey Levander Evans πKen Levander Evans
__ADS_1
happy reading πππ