Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Wake up Mom....


__ADS_3

Mansion Zinchanko


Axel melihat ke arah mainan di depan nya, ia tampak lesu dan merasa tidak adil.


Ayah yang biasa datang bermain pada nya kini pergi entah kemana dan terlihat begitu sibuk, sedangkan ibu nya yang ia pikir tengah bersama pria lain.


Kaki kecil nya pun bangun dan berjalan ke ruangan kerja sang ayah.


...


"Kau sudah menemukan nya? Yang benar-benar cocok? Apa sudah di lakukan pemeriksaan?" tanya Richard sekali lagi pada pria itu.


"Sudah tuan, tapi yang menjadi masalah saat ini adalah dia yang berada di Afrika." jawab Liam terlihat ragu.


"Apa nya yang masalah? Kita kan bisa membawa nya kesini." jawab Richard seketika.


"Seperti nya dia tau jantung nya akan di ambil," ucap Liam pada pria itu.


"Dia bunuh diri?" tanya Richard yang langsung tepat sasaran pada pria itu.


"Benar tuan, penjaga yang di sana mengatakan kalau dia berteriak tidak akan mati di bunuh sia-sia," ucap Liam menerangkan.


"Mati sia-sia?! Jantung nya kan bermanfaat!" jawab Richard yang berdecak.


"Lalu dia mati?" tanya Richard lagi.


"Dia mati dalam perjalanan," jawab Liam pada pria itu.


"Perjalanan? Apa sudah lebih dari empat jam?" tanya Richard mengernyit.


Liam tak menjawab namun dari mata nya menunjukkan semua nya.


Richard membuang napas nya dengan kasar, ia memijat pelipis nya sembari memikirkan waktu yang semakin sempit.


"Apa hasil tes jantung ku sudah keluar?" tanya nya ketika kembali melihat ke arah bawahan nya.


Liam la langsung tersentak seketika mendengar pertanyaan tuan nya.


"Tuan!" ucap nya seketika pada pria itu.


"Jangan meneriaki ku dan cukup jawab saja," ucap Richard mengernyit.


"Saya akan temukan jantung lain nya yang cocok dengan nyonya," ucap Liam pada pria itu.


Richard diam sejenak, ia merasa memang tak akan bisa jika tinggalkan oleh wanita yang sudah memenuhi rasa cinta di hati nya.


Entah itu demi pria lain atau pun kematian, namun tawa pahit terlintas di wajah nya ketika ia ingat sesuatu yang pernah ia lakukan.


"Dulu aku pikir tidak apa-apa kalau dia mati asal aku bisa memiliki nya, maka nya aku meracuni nya." ucap nya tertawa pahit.


Liam tak menjawab namun ia terus memperhatikan wajah tuan nya yang terlihat begitu sedih walaupun tengah tersenyum.


"Aku pikir dia tetap akan hidup, dia akan selamat kalau aku mau, tapi sekarang?"


"Aku tidak bisa melihat nya seperti itu, aku mau dia bergerak, aku mau dia bicara, aku mau dia melihat ku, aku tidak mau dia meninggalkan ku seperti ini." sambung Richard pada bawahan yang selalu mendengarkan nya.


"Aku juga tidak bisa menemui anak kedua ku, menurut mu dia laki-laki atau perempuan?" tanya nya pada pria yang berdiri di depan meja kerja nya.


Sekali lagi Liam tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya menatap tuan yang dengan tatapan yang khawatir.


"Aku ingin dia terus bersama ku," sambung pria itu lirih dengan nada gemetar.


Richard pun memejam, ia sadar jika ia sudah bicara terlalu banyak hal yang tak perlu.


Kelelahan dan juga suasana yang kacau membuat nya semakin sulit mengontrol suasana hati nya.


"Beri tau orang tua Ainsley dan Clarinda," ucap nya setelah kembali mengendalikan perasaan nya.


"Baik, Tuan." ucap Liam pada pria itu.


Suara pintu yang terdengar membuat kedua pria itu langsung menoleh, tubuh mungil yang mengintip di antara kedua pintu menatap dengan mata bulat nya pada sang ayah.


"Daddy?" panggil nya sembari mendekat.


Richard tersenyum, ia tak bisa menunjukkan raut sedih ataupun marah pada putra kesayangan nya.


"Yes, Love?" jawab pria itu sembari mendekat dan membuka tangan nya.


Sedetik kemudian pelukan kecil yang hangat datang pada nya, "Daddy? Main sama Axel yuk!" ajak nya pada sang Ayah.


"Daddy lagi ada kerja, Axel mau gak main nya nanti malam? Kita main perang-perangan? Hm?" tanya Richard pada putra nya.


Axel hanya diam dengan lesu nya, "Daddy? Mommy sekalang udah punya anak balu lagi yah sama paman Sean makanya udah gak ingat Axel lagi?" tanya nya dengan sendu pada sang ayah.


"Eh? Siapa yang bilang begitu?" tanya Richard langsung mengernyit saat ia mendengar pertanyaan putra nya yang menurut nya entah dari mana karna ia tak pernah mengajarkan nya.


"Tapi Mommy gak pulang telus, dulu Mommy nya Zeno juga katanya pelgi sama yang lain ninggalin Zeno sama Daddy nya, telus Mommy nya Zeno udah gak mau balik lagi kalna punya anak balu lagi." ucap nya yang menceritakan salah satu masalah yang di alami teman nya saat di sekolah.

__ADS_1


"Axel gak mau jadi kayak Zeno Dad," ucap nya dengan mata bergetar dan hampir menangis.


"Tapi Axel juga malah sama Mommy, kenapa sih Mommy pelgi? Kenapa Mommy gak sayang Axel? Axel malah!" ucap nya nya pada sang ayah namun suara nya terdengar serak.


Keceriaan nya memang berkurang semenjak pasca penculikan, namun ketika melihat kedua orang tua nya tak bersama semakin membuat nya kehilangan semua senyuman cerah nya.


Richard melihat iris hijau yang meneteskan air mata di depan nya, ia mengusap nya dengan lembut dan memeluk tubuh putra nya.


"Mommy gak akan tinggalin Axel," ucap nya pada putra nya.


"Tapi Mommy aja gak ada sekalang," jawab nya yang terputus cegukan karna menahan tangis.


"Mommy kan lagi sakit," ucap Richard pada putra nya.


"Bohong! Mommy pasti lagi sama Paman Sean!" jawab nya dengan suara serak karna tak bisa menahan tangis nya.


Richard tak mengatakan apapun lagi namun, ia hanya memeluk putra nya hingga tubuh kecil itu berhenti gemetar.


Tak terasa malam pun datang, Axel yang setelah lelah menangis tak menginginkan ruangan sang ayah malah tetap berada di sana sembari memainkan mainan nya.


Sesekali ia melihat sang ayah yang terlihat frustasi dan lelah.


"Dad? Nanti kalau Axel udah besal Axel yang bantuan Daddy, jadi Daddy gak usah pusing lagi." ucap nya pada sang ayah walau sebenarnya ia tak mengerti apa pekerjaan pria yang ia panggil Daddy.


Richard tersenyum mendengar ucapan putra nya yang terdengar manis dan menggemaskan.


"Nanti kalau Daddy udah gak ada Axel bisa gantiin Daddy, jagain Mommy, tapi kalau Daddy masih ada Axel main aja, jangan mau pusing. Daddy aja yang pusing." ucap Richard menjawab ucapan putra nya.


"Tapi kan Axel mau bantuin Daddy," Axel yang langsung memanyunkan bibir nya ketika mendengar ucapan sang ayah.


"Axel ada di sini saja sudah bantu Daddy," ucap pria itu sembari menutup laptop nya dan mengangkat tubuh putra nya.


"Kita makan malam?" tanya Richard sembari menggendong putra nya dan melihat jam.


Axel terlihat lesu mendengar nya, ia mau sang ibu menyuapi nya namun tak mengatakan nya karna sifat kekanakan nya yang memanfaatkan kalau ia masih marah.


"Daddy yang suapi?" tanya Richard saat melihat wajah putra nya yang lesu karna ia tau istri nya selalu memanjakan anak mereka.


Axel menoleh, ia langsung mengangguk dan menatap sang ayah.


"Mau!" ucap nya dengan senyum nya.


......................


Langkah kecil yang mengikuti kaki kecil yang tengah berjalan berdampingan dengan nya, tangan mungil yang menggandeng nya membawa nya entah kemana.


"Kita mau kemana Dad?" tanya Axel sembari melihat sang ayah.


Pintu tersebut perlahan terbuka, tubuh kecil yang belum tinggi itu tak bisa melihat dengan jelas namun ia tau wanita yang tengah terbaring itu adalah ibu nya.


"Itu Mommy, Axel kangen Mommy kan?" tanya pria itu yang membawa putra nya menemui sang ibu.


Axel berbalik tak mau melihat nya, ia memeluk sang ayah dan tak menghampiri wanita itu.


"Axel gak tau! Axel gak mau peduli sama Mommy! Axel sakit aja Mommy juga gak pelnah datang!" ucap nya memeluk sang ayah dan tak mau beranjak mendekat pada ibu nya.


"Mommy lagi sakit makanya gak bisa lihat Axel," ucap nya pada putra nya.


Namun hal tersebut tak membawa pengaruh, putra nya masih saja memeluk nya dengan erat.


Ia pun menepuk punggung putra nya lalu membawa nya keluar dan keruangan yang berbeda.


Perasaan yang tadi nya marah dan begitu kesal meluap seketika, ia juga baru tau jika marah dapat menimbulkan tangis yang begitu keras.


Tangan mungil nya memeluk sang ayah, dengan erat, ia marah dan benci pada ibu nya yang tak pernah datang pada nya namun di saat yang bersamaan ia merasa sedih dan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan hingga hanya tangisan yang datang.


Richard melihat tubuh mungil yang kini tertidur karena menangis hebat itu, ia menatap ke arah putra nya dan mengelus nya dengan pelan.


"Axel gak boleh benci Mommy, Axel harus nya benci paman aja..." ucap nya lirih pada putra kecil nya.


...


Pagi yang mulai datang, tangan kecil yang langsung meraba di samping nya mencari sang ayah yang tadi malam menidurkan nya.


Ia pun perlahan bangun dengan mengucek mata nya sembari melihat sekeliling nya.


Ia tau jika berada di rumah sakit, namun tempat yang ia tinggali saat ini seperti kamar yang nyaman dan tentu saja kekayaaan sang ayah yang mampu membuat seperti itu.


Kaki kecil nya perlahan turun dari ranjang, dan berjalan hingga ke tempat di mana ia di bawa kemarin malam dan menangis setelah nya.


Mata nya menatap heran, sang ibu yang tak bergerak sama sekali dari posisi yang semalam dan juga alat-alat yang mengelilingi nya lebih banyak dari alat medis nya dulu.


"Mommy?" panggil nya pada sang ibu.


"Mommy kok jahat sih sama Axel sama Daddy? Kenapa tinggalin Axel sama Daddy?" tanya nya yang tidak tau sang ibu tengah tak bisa mendengar suara nya.


"Axel itu sakit Mom, Axel kangen Mommy..." ucap nya yang mulai menangis pada sang ibu.

__ADS_1


"Axel setiap hali tungguin Mommy, Axel mau nya main sama Mommy tapi Mommy malah sama paman Sean,"


"Mom? Kata Daddy sekalang Mommy lagi sakit, Apa paman Sean yang buat Mommy sakit? Makanya sekalang Mommy balik lagi ke Daddy?" tanya nya dengan polos karna ia tak mengetahui apapun.


"Iya sih, sekalang banyak yang bunyi-bunyi di deket Mommy," ucap nya pada sang ibu saat melihat semua monitor yang mengelilingi ibu nya.


"Kalau Mommy sakit begini Axel mana bisa malah sama Mommy..." ucap nya yang semakin menangis pada sang ibu.


Ia memang memberontak tadi malam sejadi-jadi nya namun setelah satu malam menangis tiada henti, ia juga sangat merindukan sang ibu.


"Axel gak jadi malah deh sama Mommy tapi Mommy halus bangun, nanti malah Axel kulang 30 pelsen deh buat Mommy..." ucap nya pada sang ibu.


"Axel?"


Obrolan nya terputus saat suara sang ayah membuat nya langsung menoleh.


Pria itu menatap wajah yang memerah karna tangis nya, serta mata sendu putra nya yang melihat ke arah nya.


"Axel kenapa?" tanya Richard sembari mengusap air mata putra nya.


"Axel kangen Mommy, huhu..." tangis nya yang kini mengadu jika ia merindukan sang ibu saat sudah melihat nya.


Richard tak menjawab, ia hanya kembali memberikan pelukan nya.


"Tapi Mommy tidul telus, Huhu..." sambung nya dengan tangis yang semakin terdengar di balik pelukan pria itu.


"Iya, nanti Mommy bakalan bangun kok, Axel harus sayang Mommy makanya." ucap pria itu sembari memeluk putra nya.


...


Dua hari kemudian.


Kaki kecil itu terdengar memenuhi satu lantai rumah sakit yang seperti berada di mansion nya.


Sang ayah yang tak hanya membeli satu lantai namun satu rumah sakit hanya untuk pengobatan istri nya.


Tangan mungil yang di penuhi oleh bunga-bunga yang baru di petik di bawa oleh anak menggemaskan itu.


"Mommy? Axel bawa ini bukan kalna udah gak malah lagi yah, tapi kalna sayang aja bunga nya masih cantik di buang," ucap nya pada sang ibu.


Tangan mungil nya terlihat lecet karena ia yang mencabut dan memetik sendiri bunga di taman rumah sakit untuk ibu nya.


"Mommy? Wake up Mom..." ucap nya sembari meraih tangan sang ibu.


"Mommy kok bangun-bangun sih? Padahal Axel bakalan maafin Mommy..." ucap nya yang mulai mengeluh saat sang ibu tak kunjung bangun.


Ia tidak tau kondisi ibu nya seperti apa namun, ia sadar jika sang ibu tidak baik-baik saja saat melihat para dokter yang begitu banyak mengelilingi ibu nya.


"Mom..." panggil nya lirih.


"Axel jadi anak baik kok, anak pintel..."


"Axel udah gak malah sama Mommy lagi, Mommy bangun yah?" ucap nya sembari meraih tangan sang ibu.


"Daddy tiap hali sedih, Axel juga sedih..."


"Mommy bilang bakalan buat Axel cake setiap hali, bakalan bacain dongeng tiap hali..." ucap nya sembari meneteskan air mata nya.


Ia selalu membawa bunga dan juga apapun yang terlihat cantik di pandangan nya pada sang ibu namun hal tersebut juga tak mampu membuat nya bangun.


"Tapi sekalang Mommy gak bisa bacain Axel dongeng, gak bisa buatin cake untuk Axel kalau tidul telus...." ucap nya sembari menghapus air mata nya.


"Apa Mommy malah kalna Axel pelnah buang cake yang Mommy buat? Maka nya sekalang Mommy gak mau bangun buatin Axel cake lagi?" tanya nya dengan tatapan polos dan mata penuh akan linangan cairan putih bening.


"Wake up Mom, I Miss you so much..." ucap nya pada sang ibu.


"Axel?"


Sekali lagi suara sang ayah membuat nya menoleh dan menatap ke arah pria itu.


"Daddy?" panggil nya mendekat ke sang ayah.


Richard hanya membuka pelukan nya, namun ia masih diam ketika suasana hati nya kembali kacau saat mendengar tentang kondisi terbaru dari sang istri yang semakin memburuk.


"Mommy kenapa belum bangun?" tanya Axel dengan tangis nya yang meleleh.


"Sebentar lagi Mommy bangun," ucap Richard pada putra nya dengan lembut.


"Kalna Axel nakal yah? Maka nya Mommy gak mau bangun? Atau kalna Axel bilang Axel benci Mommy?" tanya nya menebak dengan tangis nya.


Richard menggeleng pada putra nya dan menatap wajah sendu itu.


"Axel kangen Mommy, Dad..."


"Axel mau Mommy, Huhu..." ucap nya menangis di depan sang ayah.


Melihat tangisan putra nya membuat nya semakin tak bisa menahan sesuatu di dada nya.

__ADS_1


Sesuatu seperti runtuh di dalam hati nya yang membuat nya memeluk putra nya yang tengah menangis.


"Iya, Daddy tau kok. Daddy juga kangen Mommy," ucap nya dengan suara bergetar dan tertahan di tenggorokan saat memeluk tubuh putra nya.


__ADS_2