Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Tetangga baru?


__ADS_3

Mansion Zinchanko


Anak kecil menggemaskan itu hanya diam termanggu, menatap mainan nya yang kini terlihat kosong.


"Axel?"


Suara yang lembut memanggil nya hingga membuat mata nya menoleh menatap ke arah suara.


"Mommy?" gumam nya yang melihat sang ibu mendekat.


"Axel kenapa? Diam aja?" tanya Ainsley sembari mendekat dan mengelus putra nya.


"Axel kangen Daddy..." gumam nya lirih dengan wajah lesu.


Wanita itu diam sejenak, ia mengelus rambut putra nya dan melihat wajah tak bersemangat anak itu.


"Mau buat cake sama Mommy gak?" tanya nya sembari tersenyum pada putra kesayangan nya.


"Mommy kan masih sakit," ucap pria kecil itu yang tau jika sang ibu masih menjalani perawatan pasca operasi.


"Gak apa-apa, kalau cuma buat cake Mommy bisa kok." ucap Ainsley dengan senyuman yang membuat mata hijau bulat itu mulai berbinar.


"Benelan?" tanya nya lagi mengulang.


"Masa Mommy bohong sih sama anak kesayangan Mommy?" jawab Ainsley sembari mencubit hidung putra nya.


Ia pun berdiri dan mengulurkan tangan nya pada putra kecil kesayangan nya.


"Ayo, Axel kan anak kesayangan Mommy..." ucap nya sembari mengulurkan tangan nya pada putra nya.


Tangan kecil itu meraih tangan ibu nya, ia mengikuti hingga sampai di mana tempat memasak cake yang ia sukai.


...


Aroma butter yang harum menggoda, kepulan asap putih yang terlihat ketika panggangan itu baru saja di buka.


"Axel mau yang coklat!" ucap nya sembari menunjuk cake nya dan ingin menyentuh.


Namun secepat kilat tangan wanita itu langsung mencegah tangan putra nya agar tidak terbakar cake panas yang baru saja di keluarkan dari panggangan.


"Axel! Mommy bilang kan jangan di pegang kalau baru di keluarin dari oven," ucap Ainsley memarahi putra nya yang tak hati-hati.


"Sorry Mom..." ucap Axel lirih dengan mata yang yang kembali lesu membuat wanita itu tak bisa memarahi nya lebih lanjut.


"Tangan anak Mommy gak boleh luka, kalau Axel sakit nanti Mommy juga sakit..." ucap nya lembut sembari menggenggam tangan kecil itu.


Axel hanya diam dengan wajah lesu nya dan tak melihat sang ibu melainkan hanya menunduk dan melihat ke arah kaki nya.


"Axel mau lihat Mommy sakit?" tanya nya langsung membuat pria kecil itu menatap ke arah nya.


"Enggak! Axel gak mau lihat Mommy sakit..."


"Axel sayang Mommy," ucap nya sembari memeluk wanita itu.


Ainsley tersenyum melihat sikap gemas putra nya, ia pun melepaskan pelukan itu dan melihat ke arah putra kesayangan nya.


"Axel mau hias cake bareng Mommy gak?" tanya nya melihat ke arah putra nya.


"Mau!" ucap Axel dengan mengangguk semangat pada sang ibu.

__ADS_1


Cream yang seperti tak sesuai ekspektasi terlihat hancur saat tangan kecil itu merias nya, namun sang ibu tak memarahi nya sama sekali dan hanya mengapresiasi apa yang di buat oleh tangan mungil putra nya.


"Mom? Mommy kok buat yang rasa mocca?" tanya nya sembari menatap sang ibu diantara ia dan ibu nya tak ada yang menyukai rasa itu kecuali sang ayah.


"Yang rasa mocca kan untuk Daddy, masa Daddy gak di buatin?" jawab wanita itu sembari mencubit kecil pipi putra nya.


"Tapi kan Daddy udah gak ada, Daddy udah pelgi..." ucap nya lirih sembari mengingat sang ayah.


"Daddy itu tetep sama kita, beda nya dia gak kelihatan aja." ucap wanita itu pada putra nya.


"Sekalang Daddy di mana? Di samping Axel? Deket Mommy?" tanya nya dengan polos.


"Daddy di langit sama adik Axel, kalau Daddy nya balik nanti adik Axel kesepian." ucap wanita pada putra nya.


"Bawa sekalian aja adik Axel bial main sama Axel." ucap nya yang lesu pada sang ibu.


"Axel bisa terbang dan sentuh langit tidak? Kalau tidak pakai pesawat?" tanya wanita itu pada putra kecil nya.


Axel menggeleng, bagaimana ia bisa menyentuh langit dengan tangan nya dan menggapai nya tanpa apapun.


"Sama, adik Axel juga gak bisa turun di sini. Jadi Axel sama Mommy adik Axel sama Daddy." ucap nya pada putra kecil nya.


Pria kecil itu terlihat lesu namun ia mencoba mengerti walaupun sebenrnya ia tak ingin mengerti sama sekali.


"Daddy kangen Axel gak yah Mom?" tanya nya lirih sembari melihat cake mocca yang di sukai ayah nya.


"Kangen dong, Axel kan anak kesayangan Daddy." jawab Ainsley tersenyum.


Walaupun sempat mengalami hambatan karna mood putra nya yang terus berubah, namun senyum kecil dan menggemaskan tetap terlihat di wajah putra nya sore itu.


Kegiatan yang di sukai anak berumur lima tahun membuat nya kembali tertawa walau ia kini sudah kehilangan sosok sang ayah.


...


"Axel mau sekolah di sana lagi?" tanya nya pada putra kesayangan nya.


Anggukan kecil menjadi jawaban anak lelaki yang berparas menggemaskan itu.


"Di sana ada Lily, temen Axel."


"Axel udah lama gak sekolah, Axel juga kangen Lily..." ucap nya pada sang ibu yang menceritakan tentang teman yang dekat dengan nya.


"Axel kapan mau mulai sekolah? Minggu depan mau?" tanya nya pada putra kesayangan nya itu.


"Besok boleh Mom?" jawab Axel segera pada sang ibu.


"Boleh," jawab Ainsley dengan senyuman dan anggukan kecil.


Senyuman melebar terlihat di wajah Axel, ia senang karna akan mulai bermain dengan teman-teman nya lagi.


"Coba aja kalau ada Daddy pasti Axel bisa minta di anterin sama Mommy Daddy..." ucap nya sesaat sebelum sang ibu beranjak turun dari tempat tidur nya.


Ainsley tak bisa mengatakan apapun kecuali hanya memberikan senyuman nya, ia pun mencium kening putra nya dengan dalam dan menaikkan selimut nya.


"Good night, Love." ucap nya sembari beranjak dan mematikan lampu kamar putra nya sebelum pergi.


Ia pun kembali ke kamar nya, sudah hampir sebulan pria itu tak bersama nya lagi, ia masih mengingat nya namun ia juga tidak ingin terus menerus seperti itu.


Ranjang yang biasa nya ia gunakan berdua dan berbagi dengan seseorang kini kosong dan hanya menyisahkan diri nya saja.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ini akan berlalu..." gumam nya sembari mulai menutup mata nya.


......................


3 Minggu kemudian.


Apart Venelue'ca


Wanita itu membeli sebuah penthouse mewah di kawasan elit sebagai ganti dari mansion yang ia tempati.


Alasan nya memilih apart di bandingkan mansion karna ingin mengubah suasana dan ia juga ingat jika pertama kali ia mencoba mandiri adalah tinggal sendiri di apart waktu kuliah.


"Ini lumah balu kita Mom?" tanya Axel sembari melihat ke arah sekeliling tempat yang terlihat bagus dan mewah itu dengan gaya elegan yang di pilih sendiri oleh ibu nya.


Tak kalah mewah dengan mansion yang ia tinggali hanya saja kali ini tak ada hamparan tanah luas yang di penuhi bunga seperti mansion nya.


"Iya, Axel suka tidak?" tanya Ainsley pada putra.


"Suka! Kamar Axel yang mana?" tanya nya pada sang ibu.


Wanita itu tersenyum, tentu nya ia sudah merancang kamar putra nya agar di sukai oleh anak kesayangan nya.


"Sini, ikut Mommy." ucap nya pada putra nya dan membawa nya.


Apart yang kali ini lebih sunyi, tak seperti mansion nya yang tinggali dulu yang penuh dengan pengawal dan pelayan, kini hanya ia dan putra nya saja.


Para pelayan tentu nya ada namun tak berjaga 24 jam kecuali pengasuh putra nya ketika ia tak ada.


"Suka?" tanya nya pada Axel ketika membuka pintu kamar putra nya.


"Suka! Axel bisa lihat semua nya dari sini." ucap nya pada sang ibu sembari menunjuk kota yang terlihat dari jendela kaca besar di kamar nya.


Wanita itu tersenyum sembari mengecup pipi putra nya, "Kiss Mommy juga dong." ucap nya pada Axel.


Muach!


Ciuman gemas pun datang dari pria kecil itu. "Axel di sini dulu yah, Mommy masih ada urusan sebentar." ucap nya karna masih ada yang perlu ia urus perihal ke pindahan nya.


Axel pun mengangguk mendengar nya, ia membiarkan sang ibu pergi dan melihat-lihat kamar baru nya kembali.


Wanita itu mulai beranjak keluar dari pintu apart nya, belum sampai ia melangkah ia sudah berdiri terdiam melihat pria yang baru saja keluar dari apart yang lain.


"Kau? Kenapa di sini?"


Tanya pria itu yang mengernyit melihat wanita di depan nya keluar dari pintu apart yang bersebrangan dari nya.


"Bukan nya harus nya aku yang tanya? Mansion mu kan jauh dari sini, Sation juga." jawab Ainsley yang sama bingung nya.


"Pembangunan cabang dan proyek baru makanya aku tinggal di si- tidak, kau saja belum jawab pertanyaan ku." ucap Sean yang bingung.


"Aku baru pindah," jawab Ainsley pada pria itu.


"Di sini? Kapan?" tanya nya langsung.


Ia sama sekali tak tau menahu tentang ke pindahan wanita itu karna ia sudah membeli penthouse itu dua tahun yang lalu setelah rancangan proyek nya di jalankan.


Karna jarak yang cukup jauh antara mansion dan tempat proyek baru nya membuat nya membeli salah satu penthouse mewah itu dan sesekali ia tinggal di sana jika masih ada pekerjaan dan kembali ke mansion nya jika sudah pekerjaan sudah berada di perusahaan pusat.


"Hari ini," jawab Ainsley dengan wajah yang bingung.

__ADS_1


Suasana yang kaku dan canggung membuat nya cepat-cepat mengakhiri pembicaraan nya dan beranjak pergi.


"Aku pergi dulu," ucap nya pada pria itu sebelum pergi.


__ADS_2