Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Cincin


__ADS_3

Ainsley tak bisa memejamkan mata nya, walaupun tubuh nya sudah lelah namun ia masih tak bisa tertidur sedangkan pria yang memeluk pinggang nya dengan erat dari belakang kini sudah tertidur.


Kenapa aku memikirkannya?! Jangan egois!


Decak nya dalam hati yang masih berpikir tentang siang tadi, wanita yang terlihat cantik dengan gaya elegan yang meraih dan merangkul tangan mantan kekasih nya membuat nya sedikit tak nyaman dan merasa ganjal di hati nya.


Walaupun ia sudah berusaha melupakan nya dan hanya berfokus pada apa yang ia miliki saat ini saja.


Ainsley pun membalik tubuh nya, wajah tenang yang terlelap itu terlihat tak begitu berbahaya ataupun seperti sore tadi yang memakan nya habis-habisan setelah membuat rambut nya rontok.


Tangan nya mulai bergerak menyentuh wajah pria itu perlahan, mata nya menatap dengan lekat wajah yang sebelum nya tak pernah ia perhatikan.


"Apa sih yang buat aku gak suka? Kenapa sulit sekali?" gumam Ainsley sembari menatap wajah pria itu.


Wajah yang memiliki garis ketampanan, tubuh yang bagus, finansial dan keuangan yang mencukupi bahkan melebihi, sifat posesif yang mungkin juga berbeda tipis dengan mantan kekasih nya dulu, namun kenapa ia masih tak bisa mengalihkan perasaan nya.


Greb!


Ainsley tersentak tangan nya tiba-tiba di genggam dan mata pria itu yang mulai terbuka.


"Kau bangun? Aku menganggu mu?" tanya Ainsley terkejut.


"Kau menyentuh ku, mana mungkin aku tidak bangun." jawab Richard sembari menatap lekat iris hijau keemasan wanita itu.


Richard awalnya memang sudah tertidur namun ia yang sensitif dengan gerakan sehingga membuat nya mudah terbangun.


Walaupun ada kala nya ia benar-benar terlelap saat tidur Ainsley, seperti mendapatkan kenyamanan yang membuat nya seakan tenggelam.


"Karna kau masih suka orang lain? Apa aku perlu mencoba membunuh nya lagi?" tanya Richard sembari menggenggam tangan Ainsley dengan erat.


Tatapan yang sungguh-sungguh ingin melakukan nya walaupun ia tengah memasang wajah yang datar.


"Apa? Kenapa harus ada yang di bunuh?" tanya Ainsley terkejut.


"Karna kalau dia mati kau hanya akan berfokus pada ku saja," jawab pria itu singkat dan jujur.


"Sekarang juga! Aku kan cuma memperhatikan kau dengan Axel saja," jawab Ainsley cepat.


"Tapi kenapa kau bilang sulit menyukai ku? Karna tadi sore aku menjambak rambut mu?" tanya Richard sembari memutar memori nya tentang pertengkaran yang sempat terjadi tadi sore.


"Kalau aku bilang iya, kau mau minta maaf?" tanya Ainsley saat ingat tadi sore kepala nya memang ingin tercabut ikut dengan rambut nya yang rontok.


"Maaf? Untuk? Kalau kau menurut aku juga tidak akan melakukan nya?" tanya Richard yang merasa ia tak melakukan kesalahan apapun.


"Tadi salah ku itu apa? Karna pakai make up? Karna bertemu dengan Sean? Atau karna bertemu dengan Gio?" tanya Ainsley lagi.


"Nama nya Gio?" tanya Richard yang tak menjawab dan malah bertanya ke arah lain.


Ainsley mengernyit, "Harusnya jawab dulu pertanyaan ku! Lagi pula kau tau dari mana aku bertemu mereka dan sedang apa?"


Richard diam sejenak sembari mengusap punggung tangan yang ia genggam, "Kesalahan mu itu semua nya, kau harus nya tidak pakai make up, tidak bertemu dengan para ceng*guk si*lan itu!"


"Kan itu bukan mau ku! Lagi pula kalau misal nya aku tampilan informal di pertemuan formal kau mau mereka mengkritik ku?! Bisa saja aku juga jadi bahan tertawaan!" ucap Ainsley yang menjelaskan kenapa itu perlu berpenampilan rapi di pertemuan khusus.


Richard bukan nya tak tau akan hal itu, ia hanya tak ingin orang lain melihat kecantikan istrinya ia takut akan ada lagi pria yang tertarik dan menginginkan wanita itu.


"Kalau kau di rumah saja kan tidak perlu repot seperti itu!" jawab Richard langsung.


"Harus berapa kali aku bilang? Aku juga punya tanggung jawab? Dan itu yang harus ku tanggung!" ucap Ainsley yang kembali menjelaskan.


"Orang tua mu jahat? Mau ku bunuh saja? Nanti ku kirimkan kepala mereka," tanya Richard yang malah menangkap pembicaraan yang lain.


"Kenapa jadi nya ke orang tua ku? Lagi pula aku juga tidak mau kau membunuh mereka!" jawab Ainsley yang heran.


"Mereka memberikan mu tanggung jawab yang tidak berguna," jawab Richard kesal.


"Paman ini kenapa sih?!" tanya Ainsley yang sekali lagi sangat sulit mengubah panggilan nya.


Cup!


"Sayang," ucap Richard membenarkan panggilan sang istri agar berhenti menanggilan nya paman.


Ainsley terlihat raut yang tak bisa membaca wajah pria itu, entah apa yang di inginkan pria itu.


"Aku mau kau hanya memperhatikan ku saja, jangan bekerja ataupun pergi kemana pun, tanpa melalukan nya kau juga bisa hidup seperti ratu," jawab pria itu sembari mengigit ujung jari telunjuk dari tangan wanita yang ia genggam.


Auch


"Kenapa di gigit?" tanya Ainsley sembari meringis.


"Karna aku mau," jawab Richard ambigu.


Ia memang suka menganggu, menggoda, mengigit, mencium, ataupun melahap wanita di depan nya.


Pria itu perlahan mendekap dan menarik tubuh kecil istri nya lalu mendekap nya dan menepuk punggung nya dengan pelan.


"Tidur, jangan nanti Axel tidur kau bangun, Axel bangun kau tidur," ucap pria itu sembari mengusap dan mencium puncak kepala wanita itu.


Wangi bunga lembut dari rambut Ainsley membuat nya semakin merasa nyaman dan sesekali memeluk erat tubuh kecil yang hilang dalam dekapan nya bahkan sampai membuat Ainsley terkadang merasa sesak.


......................


Kediaman Daniel


Pria paruh baya itu marah besar saat putra nya menolak menikah dengan wanita yang sudah ia jodohkan.


"Lalu kau mau membiarkan anak itu tidak memakai nama keluarga ini?!" bentak Daniel dengan tegas.


"Lalu anda ingin membiarkan anak yang tidak jelas asal usul nya memasuki keluarga ini?" tanya Sean dengan tawa kecil.


Tekanan darah Daniel langsung ingin melambung tinggi melihat putra nya yang begitu santai bahkan setelah ada seorang wanita yang mengaku hamil dengan putra nya.


Sean melirik sejenak dan mulai membuang napas nya dengan malas, "Kalau dia bukan dari kalangan atas pasti anda tidak akan mendesak saya kan?"


"Apa maksud mu?" tanya Daniel mengernyit, "Kau tidak sadar? Semua yang ku lakukan saat ini hanya demi kebaikan mu!"


Sean tertawa mendengar nya, "Kebaikan saya apa kebaikan untuk anda?"


"Kau ini tidak mengerti tanggung jawab?!" tanya Daniel dengan emosi.


Senyum yang awal nya masih terlihat tenang itu jatuh, "Tanggung jawab?" tanya nya tertawa getir.


"Tau apa anda tentang tanggung jawab? Kalau Anda tau ibu saya tidak akan meninggal seperti itu! Dan dia tidak akan meninggal sebagai wanita simpanan anda!" ucap nya yang merasa emosi nya ikut membuncah.


Ia tau seberapa banyak sang ibu dulu minta untuk di lepaskan dan membawa nya pergi namun ayah nya malah tak ingin melakukan nya.


Ingin tetap memiliki ibu nya namun juga tidak bisa melindungi ataupun memberikan status yang jelas dan terus menahan nya.

__ADS_1


Daniel tersentak, ia tak bisa membantah ataupun mengatakan pembelaan karna dulu ia memang sangat br*ngsek pada ibu dari putra yang berada di depan nya.


"Anda diam? Saya sudah pernah bilang kan? Hilangkan sikap yang seakan menjadi seperti ayah saya!" ucap nya berdecak dan beranjak kembali ke mansion nya.


Daniel terduduk saat putra pergi, diantara ketiga putra nya yang lain, Sean adalah yang paling ia sayangi karna ia juga mencintai ibu nya.


Namun ia memang tidak bisa melindungi wanita yang ia cintai ataupun bersikap seakan menyanyi putra nya begitu wanita itu meninggal karna tak mau istri nya juga menghabisi putra nya.


"Padahal aku menyuruh nya menikah supaya dia melupakan wanita itu," gumam nya yang juga tau tentang hubungan putra nya dulu.


Bagi nya ia sudah mencarikan wanita yang terlihat pantas untuk putra nya, wanita elegan dan berasal dari keluarga baik-baik.


......................


Sementara itu.


Suara er*ngan lolos begitu saja dari kedua orang yang saling bertaut tersebut.


Marilyn menjatuhkan diri nya di atas tubuh Josh setelah ia selesai mencapai pencapaian nya.


Josh pun menarik tangan wanita itu kesamping nya mendekap nya, "Kau akan menikah dengan nya?" tanya pria itu sembari mengusap rambut wanita itu dengan lembut.


"Hm, setelah aku dapat kompensasi dan warisan kami akan bercerai." jawab Marilyn yang hanya ingin menenangkan kekasih simpanan nya saja.


"Kau tidak benar-benar suka dia kan?" tanya Josh lirih.


"Tentu saja tidak," jawab Marilyn tersenyum.


Ia ingin mendapatkan kedua nya, ia juga ingin agar Sean bertekuk lutut dan juga mencintai nya dengan begitu ia bisa mendapatkan kedua nya sekaligus.


Aku akan mendapatkan mereka, Pria-pria ini adalah milik ku...


Batin Marilyn yang tetap tersenyum di dalam pelukan pria itu.


......................


Mansion Sean.


Pria itu berdecak kesal sembari melempar tubuh nya ke ranjang.


"Apa seharusnya waktu di Kanada dulu aku mengurung nya saja?" gumam Sean memejam saat ia mengingat pertemuan nya terkahir kalo beberapa bulan yang lalu dengan Ainsley.


"Kalau aku melakukan nya dia juga tidak akan memaafkan ku," ucap nya memejam sembari mengalihkan ke arah ruangan yang berada di balik lemari buku di kamar nya.


Ruangan di mana ia dulu suka mendisplinkan mantan kekasih nya jika tak mendengar kan nya.


Sean pun beranjak bangun dan membuka nya, ia membuang napas nya dengan kasar.


Ia tak lagi masuk ke tempat itu saat hubungan nya berakhir, perlahan ia mulai mengambil rantai ataupun borgol dan beberapa cambuk yang dulu pernah ia gunakan.


Lalu memindahkan nya untuk membereskan tempat yang sebeanrnya terlihat indah itu kalau saja tak ada peralatan yang mengerikan itu di dalam nya.


"Dulu, Kapan aku mulai serakah dengan nya?" ucap nya lirih sembari memikirkan sejak kapan sifat posesif nya dulu.


"Benar juga, dia kan tidak peka, terlalu polos juga." gumam nya yang ingat kenapa dulu ia begitu ketat dengan mantan kekasih nya.


Sean membuang napas nya dengan pelan, ia kini sadar ada beberapa hal yang tak bisa berjalan sesuai kemauan nya.


Ia yang sudah bersikap tegas saja dulu, Ainsley masih bisa terjerat dengan jebakan orang lain yang pada akhirnya juga membuat wanita itu menjauh.


Jika saja tempramen pria yang di nikahi wanita itu hampir sama seperti nya dulu dan sikap Ainsley yang juga masih tidak peka pada sekeliling mungkin saja hanya akan berbeda tempat namun dengan pijakan yang sama.


"Lagi pula dia juga terlihat bahagia," gumam nya yang kembali membereskan barang-barang di ruangan tersebut.


Salah satu boneka rajutan yang harusnya bisa terlihat menggemaskan namun malah terlihat seperti boneka mumi yang mirip dengan vudo yang lebih cocok untuk di tusuk jarum agar sampai ke orang yang di benci.


Sean tertawa melihat nya tanpa sadar sembari memegang boneka yang dulu di buat dan di berikan oleh mantan kekasih nya.


Sean? Aku buat boneka! Tadi Vindi buatin untuk pacar nya, jadi aku juga ikutan buat!


Suara yang terdengar di pikiran nya seakan masih terngiang di telinga nya.


Penuh semangat dan terdengar jelas, senyuman cerah dan wajah yang malu-malu memberikan apa yang di buat nya sampai pria itu tak bisa mengomentari bentuk dari boneka yang di buat itu karna tak ingin senyum malu-malu itu hilang.


"Yang ini di simpan saja," ucap nya sembari menyisihkan boneka tersebut agar tak ia buang.


......................


Dua Minggu kemudian.


Richard melihat tajam ke arah sang istri yang terlihat memakai riasan di wajah nya karna akan pergi lagi ke pertemuan.


Sedangkan Baby Axel terlihat bermain sembari terkadang memegang janggut halus sang ayah ketika ia berada dalam gendongan pria itu.


"Kau harus pergi?" tanya pria itu dengan wajah dan raut kesal.


"Iya, sebentar saja nanti setelah selesai aku juga langsung kembali." jawab Ainsley sembari memakai parfum di pergelangan tangan nya.


"Nanti kau kembali aku juga mau pergi," jawab yang kesal.


"Mau kemana?" tanya Ainsley yang langsung berbalik menoleh.


Richard tersenyum melihat nya, selama beberapa hari ini ia memang mengerjakan beberapa pekerjaan dari rumah sedangkan pekerjaan yang mengharuskan nya keluar ia berikan pada Liam dan hari ini terdapat beberapa hal yang tak bisa di bereskan oleh bawahan nya.


"Penasaran? Cium dulu," ucap Richard sembari mendekat ke arah wanita nya.


Ainsley mengernyit dan kembali merias wajah nya tanpa mencium pria itu hingga membuat Richard memeluk wajah nya.


"Axel sayang, Mommy pergi dulu yah." ucap Ainsley sembari mengecup dan mencium putra nya.


Sedangkan Richard melihat dengan kesal, mendengar wanita itu memanggil kata sayang pada nya sangat sulit namun selalu memanggil putra mereka dengan kata sayang.


Richard pun langsung memundur menjauhkan Baby Axel yang tengah ia gendong untuk mengentikan ciuman gemas Ainsley di pipi putra nya itu.


"Dia bilang Mommy nya bau! Tidak mau di cium!" ucap nya kesal sembari menggendong Baby Axel menjauh.


Ainsley hanya bisa terperangah mendengar nya, ia tak tau jika akan ada taraf cemburu hingga pada putra nya.


"Yasudah aku pergi dulu," jawab nya sembari tersenyum saat melihat putra nya.


Richard hanya memandang nya tajam hingga membuat Ainsley merasa merinding melihat nya.


Cup!


Satu kecupan melayang di bibir pria itu sebelum ia beranjak pergi, ia merasakan firasat yang mengatakan harus menenangkan pria itu sebelum ia kembali.


"Aku bau?" tanya Ainsley setelah berjinjit dan mengecup pipi pria itu.

__ADS_1


Richard terdiam sejenak karna terkejut wanita itu tiba-tiba mencium nya, "Masih, harus di pastikan lagi."


Humph!


Ia menarik tengkuk wanita itu lalu mel*mat bibir nya sekilas dan melepaskan nya.


Nyanya...


Bayi mungil itu meraih rambut sang ibu yang tengah di l*mat oleh sang ayah.


Buk!


"Masa ciuman di depan bayi?!" ucap Ainsley saat lum*tan singkat itu terlepas sembari memukul punggung pria yang tengah menggendong putra nya.


Richard pun melihat ke arah putra nya yang malah tertawa dengan mata dan berbinar, "Dia saja tertawa."


Ucap nya enteng sembari melihat putra nya yang menggemaskan.


"Bye Mommy, sekarang Mommy uda wangi..." ucap nya tersenyum sembari melambaikan tangan kecil putra nya pada wanita itu.


Ainsley pun hanya menggeleng dan mulai beranjak pergi.


Senyuman pria itu perlahan hilang dan berubah ia mengambil ponsel nya dan kembali meminta agar Cindy melaporkan semua nya seperti yang sebelum nya.


"Kalau ada yang dekati Mommy harus kita apain?" tanya sembari mengangkat putra yang tertawa polos.


Baby Axel hanya tertawa senang karna sang ayah mengayunkan dan menggendong nya di udara membuat nya tertawa lepas.


"Apa? Axel bilang apa? Di bunuh? Oh cincang yah?" tanya Richard sembari mencium gemas putra nya.


Tentu nya bayi mungil yang belum bisa bicara itu tak mengatakan demikian namun ia lah yang memiliki niat seperti itu.


"Pintar nya anak Daddy," ucap nya sembari membawa putra nya bermain.


Walaupun ia sangat menyayangi putra nya namun tetap saja ia tanpa sadar juga seperti membesarkan putra dengan cara ia di besarkan dulu.


"Satu pengganggu saja sudah sulit hilang, jangan sampai pemain biola jelek itu juga mendekati nya!" decak nya kesal.


......................


Yayasan B'One.


Karna ini merupakan salah satu acara amal yang di adakan oleh B'One grup membuat Ainsley juga harus ikut berpartisipasi guna menaikkan nama dari tempat yang ia pimpin.


Wanita itu memakai sarung tangan berkebun saat ia akan menanam pohon bersama anak-anak yang bersekolah di yayasan milik nya.


"Mereka dekat sekali dengan mu?" tanya Ainsley tersenyum sembari melihat beberapa anak-anak lain nya mengerubungi Gio.


"Karna saya mudah dekat dengan semua orang? Oh saya lupa sesuatu," ucap nya dengan nada ingin wanita itu menebak.


"Lupa apa?" tanya Ainsley mengernyit.


"Saya kan sulit dekat dengan anda," jawab Gio sembari tertawa.


Ainsley hanya memberikan senyum nya sembari melihat ke arah tanaman nya.


Gio melihat sekilas cincin pernikahan yang selalu di jari manis wanita itu sebelum memakai sarung tangan berkebun nya.


Setiap kali ia melihat nya, ia selalu merasa tak nyaman dan kesal tanpa alasan.


Ia memang terpesona pada wanita itu saat pertama kali melihat nya di pameran galeri seni, banyak orang yang hanya mengartikan lukisan yang di buat oleh pelukis terkenal tanpa wajah itu dengan arti kesedihan.


Dan hanya wanita itu yang menjawab dengan arti kesepian.


"Anda seperti nya kenal dekat dengan teman saya? Sean?" tanya Gio agar membuat bahan pembicaraan.


Ainsley diam sejenak mendengar nama pria itu, "Hm, seperti itu," jawab nya singkat, "Dia akan menikah?" tanya Ainsley lirih dengan suara kecil.


"Menikah? Entah lah?" jawab nya sembari berpikir, "Dulu dia pernah bilang menikah, ku rasa dia masih suka mantan pacar nya?" jawab pria itu yang tertawa.


Ainsley hanya diam mendengar nya, "Iya, padahal kan dia tidak boleh begitu, dia kan juga harus hidup dengan bahagia," jawab wanita itu lirih.


Gio melihat nya, raut yang terlihat berbeda dan canggung serta ungkapan yang ingin pria itu bahagia dan juga rasa bersalah di dalam nya.


"Aku? Bahagia seperti aku?" tanya Gio dengan senyuman ramah sembari membentuk daun yang membuat nya seperti kelinci.


Ainsley tersenyum, ia bahkan tertawa kecil tanpa sadar.


"Anda cantik," ucap Gio tanpa sadar.


"Hm?" Ainsley melihat bingung karna ia tak mendengar ucapan lirih yang keluar tanpa sadar tersebut.


"Tidak apa-apa," jawab nya sembari mengalihkan perhatian pada tanaman itu lagi.


Setelah proses tanam menanam itu selesai Ainsley pun bersiap untuk mencuci tangan nya.


"Loh? Cincin ku mana?" ucap nya yang terkejut saat ia menyadari tak melihat cincin pernikahan di tangan nya.


Ia pun segara berbalik dan kembali ke tempat tadi nya ia menanam dan tempat yang tadi nya ia datangi.


"Anda mencari apa?" tanya Gio yang mendekat saat dari jauh ia melihat wanita itu yang seakan mencari sesuatu.


"Cincin? Kau lihat cincin ku?" tanya Ainsley sembari mencari tetap mencari.


"Saya bantu," jawab Gio sembari ikut mencari cincin yang biasa di pakai oleh wanita itu.


Setelah mencari di tempat mereka menanam tadi ia pun melihat salah satu kilau yang hampir terkubur.


"Ini cin-"


"Kau sudah dapat? Suami ku akan sangat marah kalau sampai hilang," ucap Ainsley panik dan tak mendengar jika pria itu ingin mengatakan jika sudah menemukan cincin nya.


Gio diam sejenak, mendengar suami wanita itu akan marah dan seperti nya menciptakan kerenggangan membuat bibir nya bungkam tanpa sadar.


"Kau menemukan nya?" tanya Ainsley berbalik melihat pria itu.


Gio yang tersentak pun tanpa sadar menginjak cincin wanita itu dan menyembunyikan nya sembari semakin menginjak nya agar masuk ke tanah dan tak di temukan.


"Tidak, saya belum menemukan nya, tapi sudah mulai malam sebaiknya kita semua kembali karna dekan lain nya juga sudah pulang," ucap Gio tersenyum seperti biasanya.


Ainsley gelisah namun ia juga memang harus pulang agar pria posesif itu tak berpikir macam-macam tentang nya.


"Terimakasih karna sudah membantu," ucap Ainsley sembari membungkuk sekilas dan berbalik pergi.


Gio tersenyum sampai wanita itu pergi lalu mengangkat kaki nya dan mengambil cincin tersebut.


"Lagi pula mereka hanya akan bertengkar kecil kan?" gumam nya sembari mengantongi cincin indah itu ke dalam kantung saku.

__ADS_1


__ADS_2