
Apart Venelue'ca
Pagi menerjap yang datang membuat remaja itu menatap ke arah gadis di samping nya.
Ia ingat yang terakhir mereka lakukan sebelum tertidur, mata yang masih baru saja terbuka itu memperhatikan ke arah gadis itu.
Terus memperhatikan hingga mata yang tertutup itu perlahan bangun dan mulai menggeliat.
Mata gadis itu masih kabur dan setengah tertidur namun ketika ia sudah menatap dengan jelas iris indah itu langsung membulat seketika.
"Astaga!" pekik nya yang langsung bangun terkejut.
Axel pun ikut terperanjat, sedangkan gadis itu segera menarik selimut nya.
"Kenapa di sini? Kenapa kita gak pakai baj-"
Ucapan nya terhenti sebelum sempat mengatakan nya dengan lengkap.
"Kita kan semalam..." ucap remaja tampan itu dengan tersenyum dan wajah yang memerah.
Blush!
Gadis itu kembali mengingat malam yang sebelum nya, wajah nya langsung memerah padam seperti kepiting rebus.
"Axel mesum!" ucap nya sembari memukuli bahu remaja tampan itu.
"Kok aku sih? Kamu kan suka juga..." ucap remaja tampan itu mengelak pada gadis cantik yang tengah memukuli nya itu.
"Gak tau ah! Axel nyebelin!" ucap nya dengan kesal dan beranjak dari tempat tidur sembari mulai memungut pakaian nya yang berserakan di lantai itu.
Sedangkan remaja itu hanya diam, ia melihat gadis yang tengah dalam keadaan polos itu ingin memakai pakaian nya.
"Jangan lihat!" ucap gadis itu segera.
Tuan muda Zinchanko itu malah tertawa kecil dan tersenyum cerah sembari menutup wajah nya dengan satu tangan nya yang semakin tumbuh.
Ia merenggangkan jari-jari nya sehingga sama saja tetap melihat ke arah gadis itu.
"Axel!" panggil Emily mendengus kesal ketika ia tau jika teman nya masih saja melihat nya yang tengah memakai pakaian yang tadi malam mereka renggang kan.
...
Pukul 09.13 am
Gadis itu kini sudah berpakaian lengkap dengan rapi, secangkir coklat panas dan juga sandwich di berikan pada nya namun tak membuat nya kembali menoleh.
"Lily? Makan sandwich nya," ucap Axel pada gadis itu karna sejak mereka masing-masing membersihkan diri Emily hanya mendiamkan nya.
"Iya," jawab gadis itu singkat tanpa menoleh.
Remaja tampan itu pun terlihat bingung, ia sangat ingin bertanya namun jangankan berbicara pada nya gadis itu pun tak melihat nya sama sekali.
"Kau marah?" tanya Axel lirih.
Walaupun bagi nya kemarin malam adalah hal tak terlupakan dan menyenangkan untuk nya namun ia tak menyangka gadis itu akan mendiamkan nya setelah itu.
Emily menggeleng mendengar nya, ia tak mengatakan apapun dan terus mengunci mulut nya.
"Kalau gitu kenapa dari tadi gak mau makan sandwich nya?" tanya remaja itu lagi karna sedari tadi sarapan yang ia buat hanya di biarkan dan tak di sentuh sama sekali.
Emily tak menjawab namun ia mulai melirik ke arah Roti yang berisi sayuran dan daging itu, perlahan ia mengambil dan mulai mengigit nya.
Axel sedikit bernapas lega, ia pun beranjak dari duduk nya dan ingin menyalakan televisi agar tak terlalu kaku untuk ia dan gadis itu.
Setelah itu ia pun ingin kembali duduk di samping gadis itu namun,
Deg!
Ia terperanjat sejenak, berita yang di tayangkan di televisi membuat langkah nya terhenti dan memutar kembali tubuh nya.
Badai salju yang terjadi tepat tadi malam di daerah yang di tuju sang ibu masuk ke dalam berita karna menyebabkan beberapa bencana.
Ia pun langsung bergegas mengambil ponsel nya dengan cepat sedangkan gadis itu pun menoleh ketika mendengar berita yang sama dan melihat teman nya yang sudah berlari mencari ponsel nya untuk menghubungi sang ibu.
Emily pun langsung mengikuti nya ke arah yang sama dan berdiri di samping remaja yang tengah menelpon itu.
Satu deringan panggilan tak terjawab membuat remaja itu semakin khawatir, sedangkan gadis cantik yang di sebelah nya tak mengatakan apapun kecuali raut wajah yang sama khawatir nya dengan diri nya.
"Mommy angkat..." gumam nya lirih dengan perasaan takut, gelisah, dan khawatir.
Ia takut jika harus kembali merasakan rasa nya kehilangan ataupun melihat sang ibu terluka lagi.
"Halo?"
Suara bariton yang terdengar serak khas bangun tidur terdengar oleh nya.
Remaja tampan itu mengernyit sejenak dan kembali melihat ke arah nomor tujuan ponsel nya.
"Mommy? Mommy!" panggil nya lagi karna ia semakin panik saat mendengar suara seorang pria.
"Mommy? Mommy siapa?"
Terdengar suara yang bingung dari sebarang sana namun Axel mulai mengenali suara tersebut.
"Paman Sean?" tanya nya lagi.
Sejenak tak ada balasan sama sekali, "Mommy sama Paman kan?" tanya remaja itu ketika mendengar suara pria tersebut.
"Axel?" tanya suara yang menjawab ponsel nya.
"Kamu mau bicara sama Mommy kamu?" tanya pria itu dari telpon.
Tit,
Axel langsung mematikan ponsel nya, ia tak menjawab pertanyaan pria itu ataupun berbicara dengan ibu nya.
Namun yang ia tau saat ini sang ibu pasti buku-buku saja.
"Kenapa handphone Mommy sama Paman?" tanya nya lirih dengan nada bergumam.
"Oh iya, Mommy kan pergi sama paman. Mungkin Mommy lagi ga ada jadi paman yang jawab..." gumam nya yang merasa bingung namun juga tak sampai memikirkan jika sang ibu tidur dengan pria itu tersebut.
"Tante Ainsley gimana? Baik-baik aja kan?" tanya Emily yang penasaran sekaligus khawatir karna tak mendengar pembicaraan.
Axel pun menoleh menatap ke arah gadis itu, "Handphone nya Mommy tadi di angkat paman." ucap nya lirih pada gadis itu.
__ADS_1
"Tapi yang penting Tante baik-baik saja kan?" tanya gadis itu lagi.
Satu anggukan menjadi jawaban remaja tampan itu.
"Tapi kenapa handphone nya Mommy sama Paman?" tanya Axel mengernyit.
Walaupun ia tak berpikir sejauh itu namun tetap saja bagi nya mengganjal.
"Mungkin Tante lagi sibuk terus karna kamu manggil terus yang denger paman. Kamu kan juga sering angkat telpon aku kalau aku nya gak ada terus kamu denger." ucap Emily yang juga berpikir sama seperti remaja itu.
Axel pun mengangguk, kini ia tak memikirkan segala hal yang jauh ataupun yang buruk, ia hanya bernapas lega dan sekarang tinggal masalah nya pada gadis itu.
"Lily?"
Emily menoleh menatap sejenak ke arah teman nya, sama-sama diam tak mengatakan apapun sekaligus saling menatap iris dan mengunci nya satu sama lain membuat sekelebat ingatan tentang malam yang terasa begitu asing namun menyenangkan itu terulang.
Wajah yang memerah kembali naik ke rona gadis itu, alasan ia sedari tadi mendiamkan nya bukan karena marah ataupun menyesal namun ia terlalu malu dan canggung untuk berbicara ataupun menatap mata remaja itu.
"Kamu marah?" tanya nya lagi dengan suara yang lebih rendah.
"Enggak!" ucap Emily dengan cepat dan langsung berbalik.
Axel pun langsung meraih tangan nya dan menarik nya hingga gadis itu kembali melihat ke arah nya.
"Tunggu dulu, kalau aku salah aku minta maaf! Kalau kamu gak mau lagi aku gak akan begitu lagi! Jangan marah..." ucap nya dengan cepat pada gadis itu sembari memegang tangan kecil di depan nya.
Melihat wajah dan mata yang terlihat sendu itu membuat Emily tak tega namun ia kembali ingat ketika ia dan teman nya itu melakukan hal yang baru.
Wajah nya memerah semu, ia tak bisa menatap menatap mata teman nya karna canggung dan terlebih lagi membuat nya menjadi salah tingkah jika remaja itu terus mendekati nya.
Tak!
Ia menepis dengan kuat, sebenarnya ia hanya memandang sekilas karna ingin melepaskan tangan nya dan segera kabur tanpa sadar pandangan mata nya seperti menatap tak suka dan benci ketika Axel mengartikan nya.
Remaja tampan itu terdiam dan melihat tangan nya yang kosong ketika di tepis dan gadis yang dengan segera membalikkan kembali tubuh nya.
"Maaf..."
Satu kata yang membuat langkah gadis itu terhenti sejenak.
"Kalau aku tau kamu bakalan benci aku gak akan begitu semalam, tapi kalau marah harus nya langsung marahi jangan diam kayak gini..." ucap nya lirih.
Gadis itu berbalik dan menatap ke arah remaja itu, "Aku gak marah," ucap nya lirih.
"La..lagi pula kemarin juga rasa nya..." ucap nya yang tak bisa melanjutkan ketika rona merah di wajah nya semakin meninggi saat ia sadar ia menyukai apa yang mereka lakukan semalam.
"Aku tuh gak marah inti nya!" ucap nya lagi yang kini dengan menatap wajah dan mata teman nya yang tampan itu.
"Aku itu rasa nya malu kalau lihat kamu, kalau lihat atau bicara kayak gini langsung ingat semalam, semalam kan kita..." ucap nya yang kembali tak bisa melanjutkan kalimat nya.
"Kalau kita udah sampai begitu apa kita masih bisa temenan? Kalau kita nanti gak temenan lagi gimana?" ucap gadis lirih yang juga takut kalau hubungan persahabatan nya rusak.
Axel tertegun, ia merasa lega karna gadis itu tak marah pada nya sama sekali namun malah mengkhawatirkan hal lain.
......................
Sementara itu.
Sean yang sudah terbangun karena terus mendengar suara ponsel membuat nya mengangkat nya dan tak tau jika dering yang ia dengar bukan berasal dari ponsel nya.
Ia meninggalkan begitu banyak bekas di tubuh yang bersalut kulit berwarna putih susu itu, memiringkan tubuh nya dan melihat ke arah wanita itu.
Tanpa mengatakan apapun dan hanya melihat serta memandang ke arah nya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Ia juga sudah sangat lama tidak melakukan nya lagi sehingga ketika kembali melakukan hal tersebut membuat nya sampai lepas kontrol dan membuat wanita di samping nya jatuh dengan lelah.
Aroma yang bahkan masih tertinggal di antara diri nya dan tempat tidur itu membuat nya beranjak menyentuh rambut yang tergarai berantakan itu.
"Thanks..." gumam nya lirih sembari mencium sekilas helaian rambut yang berada di tangan nya.
Setelah cukup lama, wanita itu mulai bergerak menggeliat ketika akan terbangun.
Sean memejamkan mata nya, ia tau wanita itu pasti akan terkejut karna kemarin malam seperti kehilangan kendali dan hanya tenggelam dengan hasrat yang lama terpendam dan kini membeludak keluar.
Ainsley membuka mata nya sejenak, pandangan yang masih mengabur namun ia seakan tak begitu peduli dan kembali menggeliat merenggangkan tubuh nya.
Mata nya membulat seketika saat melihat seorang pria di samping nya yang terlihat tak mengenakan pakaian.
"Sean?" gumam iris hijau yang membulat seketika dan lupa dengan apa yang ia lakukan tadi malam.
Ainsley pun terdiam sejenak, sekelebat tentang ingatan malam yang panas dan penuh gairah itu terlintas di kepala nya yang berangsur menjadi begitu jelas dan nyata.
Ia pun masih berusaha menepis dan menyangkal nya dengan berpikir mungkin hal itu hanya mimpi yang ia alami karna sudah terlalu lama berhubungan lagi.
Wanita itu pun mulai membuka selimut nya pelan dan melihat tubuh nya, tentu saja wajah terkejut langsung terlihat oleh nya saat menyadari jika ia tak mengenakan pakaian sama sekali.
Ia pun melirik ke arah pria yang terlihat masih tidur itu walaupun sebenarnya sudah terbangun.
Tangan nya beranjak pelan menyentuh ke arah selimut di dekat tubuh pria itu dan melihat nya ke dalam.
"Kau mau lagi?"
"Astaga!"
Ainsley memekik, ia sangat terkejut ketika mendengar suara pria itu secara tiba-tiba terlebih lagi ketika sedang mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh bidang yang sedang tak mengenakan apapun itu.
"Su..sudah bangun?" tanya Ainsley dengan canggung dan lirih.
"Hm, Kau mau lagi?" tanya pria itu seperti hanya menawarkan es krim.
"Bu..bukan begitu!" jawab Ainsley dengan begitu gugup.
"Aku..."
"Aku cuma," ucap nya yang tak tau harus mengatakan apa.
"I love you," ucap pria itu singkat ketika wanita di depan nya yang seperti kehilangan kata-kata.
Ainsley langsung terdiam dan menatap ke arah mata pria yang tidak menunjukkan apapun di wajah nya namun terlihat jelas dari sorot mata yang mengatakan nya dengan sungguh-sungguh.
"Kau mengatakan itu setelah kita tidur bersama, bahkan waktu tempat tidur ini masih basah?" tanya wanita itu mengernyit.
"Kau tau kan? Bahkan tanpa aku bilang?" tanya Sean karna ia tau jika wanita itu pasti sadar tentang perasaan nya sejak bertahun-tahun yang lalu.
__ADS_1
Ainsley membuang napas nya lirih, ia memijat pelipis nya sejenak.
"Kemarin semua di dalam yah?" tanya nya kini berusaha bersikap setenang mungkin agar masalah saat ini segera berlalu.
"Tidak semua, kau kan juga telan sedikit." jawab pria itu sembari menatap wajah yang terlihat memikirkan hal lain tersebut.
Ainsley diam sejenak dan menarik napas nya, "Hari ini badai nya sudah selesai kan? Aku mau ke apotik." ucap nya lirih.
"Yasudah, kita ke sana bersama." jawab Sean yang tau wanita itu ingin membeli pil kontrasepsi agar mencegah kehamilan.
Walaupun ia sudah cukup berumur namun tentu saja masih ada sedikit rasa takut ketika berhubungan yang terlalu dalam seperti kemarin malam.
Wanita itu bahkan tak pernah lagi menghitung masa subur nya ketika suami nya sudah meninggal karna ia juga tak pernah berpikiran untuk bermain dengan pria sewaan untuk mengusir rasa kesepian nya.
...
Mobil yang masih tersusun dengan panjang membuat wanita itu mengernyit.
"Apa ada apotik atau toko obat di sekitar sini? Mini market?" tanya Ainsley pada pemilik penginapan.
"Apotik sekitar 14 km lagi dan minimarket sekitar 10 km dari sini." ucap si pemilik penginapan.
"Astaga..." ucap wanita itu mengeluh lirih.
"Kenapa masih macet?" tanya Sean yang mulai membuka suara.
"Badai salju tadi malam banyak buat pohon tumbang lalu menimpa mobil jalan juga di tutupi es jadi sekarang masih di tanggulangi, kemungkinan besok pagi hari selesai.
Ainsley membuang napas nya lirih, ia pun kembali beranjak ke kamar yang ia tempati.
"Tidak apa-apa! Biasa nya juga sekali gak pernah jadi!" ucap nya yang meyakinkan diri nya sendiri.
Karna dari pengalaman nya ia perlu melakukan beberapa kali hingga benar-benar menjadi benih yang tumbuh.
Pria itu mengikuti nya masuk ke dalam kamar sembari membeli beberapa pakaian ganti yang lebih nyaman dan juga makanan.
"Pakai ini aja," ucap Sean sembari memberikan kantung belanjaan nya.
Ainsley mengambil nya dan melihat pakaian ganti yang di belikan oleh pria itu untuk hanya berada di sekitar kamar lalu melihat ke arah wajah pria itu.
"Semua warna nya memang yang seperti itu," ucap Sean yang tau wanita itu ingin berkomentar.
Setelah mengganti nya, wanita itu pun beranjak makan dengan pria yang menunggu nya namun tetap saja kedua nya sama-sama hening tak mengatakan apapun.
Ainsley pun membuka laptop nya dan memberi tau jika ia akan terlambat datang karna terhalang bencana.
Sean masih memberikan wanita itu bekerja dan tak mengganggu nya sampai Ainsley mulai beranjak ke tempat tidur dan kembali memejamkan mata nya, ia menganggap hal ini sebagai libur dadakan di tengah pekerjaan nya yang begitu menumpuk.
"Tadi Axel menelpon," ucap Sean ketika wanita itu mulai memejamkan mata nya.
Ia pun lantas membuka nya dan menatap ke arah pria itu.
"Axel?" tanya nya mengernyit dan mata nya membuat ketika ia lupa memberi kabar pada putra nya, "Astaga..." gumam nya lirih.
"Lalu kau bilang apa?" tanya wanita itu sembari melihat ke arah pria yang duduk tak jauh dari nya.
"Menurut mu aku bilang apa?" jawab pria itu dengan pertanyaan lain nya.
"Kau tidak bilang kita tidur bersama kan?" tanya Ainsley tersenyum tipis sembari melihat ke arah pria itu.
"Tapi kita memang tidur bersama kan? Itu fakta nya," jawab Sean pada wanita itu.
"Kalau begitu lupakan saja, anggap saja kita tidak pernah melakukan nya." ucap nya pada pria itu.
Kejadian one night stand memang tak jarang terjadi tempat nya, apa lagi dengan usia yang sudah sama-sama dewasa.
"Kenapa?" tanya pria itu sembari melihat wanita yang seperti ingin melupakan kejadian malam sebelum nya begitu saja.
"Anggap saja kita sama-sama membutuhkan dan kemarin cuma melepaskan apa yang kita mau aja, kita juga udah dewasa untuk itu kan?" tanya nya sembari mengernyit.
"Berarti kalau bukan dengan ku semalam kau bisa melakukan nya dengan pria lain?" tanya pria itu sembari menatap mata yang melihat ke arah nya.
Ainsley diam sejenak, mana mungkin ia mau melakukan nya dengan pria lain sedangkan untuk mabuk bersama pria lain nya saja ia juga tak ingin namun yang ia ucapkan berbeda dari yang ia inginkan, "Tentu."
"Lalu kau sudah pernah melakukan nya?" tanya Sean pada wanita itu sembari melihat ke arah mata yang bergerak gelisah dan tak menatap nya dengan langsung.
"Hm," jawab wanita singkat namun tatapan mata pria di depan nya seperti tak percaya sama sekali.
"Lagi pula lebih aneh kalau aku tidak pernah melakukan nya selama sebelas tahun kan? Aku kan normal juga." ucap nya pada pria itu guna meyakinkan nya.
"Pftt!" Sean tertawa kecil mendengar nya, dari gerak mata ataupun ketika ia meniduri wanita kemarin malam dapat di rasakan jika tubuh wanita itu benar-benar seperti tak tersentuh begitu lama.
"Kau benar-benar normal, sangat normal!" tambah pria itu dengan senyuman nya.
Mendengar kata-kata yang seperti sindiran membuat Ainsley mengernyitkan dahi nya dan menatap kesal.
"Aku gak bohong Sean!" ucap nya lagi.
Pria itu semakin ingin tertawa, kalau di sebelah wanita itu ada putra nya juga yang selalu memasang wajah ketus pada nya maka ekspresi kedua nya benar-benar mirip.
"Lalu kau sering melakukan nya?" tanya nya lagi yang semakin mengecoh wanita itu.
"Tentu!" jawab Ainsley dengan nada yakin walaupun ia sedang ragu.
"Hebat sekali! Padahal tadi malam rasa nya seperti waktu kau masih virgin dulu." ucap pria itu.
Ainsley mengernyit sejenak, ia kembali teringat pengalaman pertama ketika kesucian nya di ambil dengan cara yang sangat menyakitkan.
"Beda! Dulu tuh aku mau mati rasa nya!" sanggah nya dengan cepat, "Kau yang enak aku rasa nya udah mau bertemu malaikat maut!" sambung nya lagi dengan ketus.
Tawa pria itu memudar perlahan, "Maaf..." ucap nya lirih.
Ainsley diam sejenak dan menarik napas nya ketika mendengar permintaan maaf yang penuh dengan penyesalan tersebut.
"Lagi pula dulu aku juga yang mulai duluan," ucap nya lagi dengan lirih.
Karna awal masalah ketika pengalaman pertama nya sebelum di renggut ia menyembunyikan sesuatu di tambah lagi dengan melakukan hal yang tak di sukai oleh pria itu walaupun sudah di peringatkan berkali-kali.
"Sean?" panggil wanita itu ketika kedua nya sudah hening selama beberapa saat.
Sean melihat ke arah wanita yang memanggil nya.
"Sean nyebelin!" ucap nya sekilas sembari menutup diri nya dengan selimut tebal ketika sudah mengatakan.
__ADS_1
Pria itu kembali tersenyum ketika melihat, kelakuan yang sama seperti remaja yang sering berbicara ketus pada nya namun malah terlihat menggemaskan.