
Satu bulan kemudian.
Gadis itu sudah mulai merasakan sibuk nya mengurus empat bayi kembar nya saat sang kakak tidak ada.
Ingin sekali bibir nya mengeluh dan meminta sang kakak untuk memberi nya pengasuh agar dapat menjaga bayi-bayi nya saat Shanon sudah pulang, namun...
"Kamu tadi gimana? Mereka baik-baik aja kan?" tanya Steve sembari mengecup pipi gadis itu ketika ia kembali.
Celine diam sejenak, ia ingin mengatakan tidak karna kini mulai terasa terbebani namun ia tak bisa mengungkapkan nya melihat mata yang penuh kasih sayang pada ke empat bayi mungil itu.
"Iya, kak tapi belum Celine mandiin mereka..." jawab nya lirih.
Steve menatap ke arah gadis nya yang terlihat lesu dan bahkan tak mudah tertawa seperti sebelum nya.
"Kamu kenapa cemberut? Hm?" tanya nya yang tak jadi melangkah ke arah kamar putra-putra nya.
Mereka ngerepotin, Celine gak mau urus kak...
"Gak apa-apa kak," jawab nya mengelak dengan isi hati nya, "Celine mau cepet daftar kuliah aja." sambung nya pada pria itu.
"Iya, setelah pesta pernikahan kita." jawab Steve sembari mengusap belakang kepala gadis itu yang seakan menyimpan sesuatu.
"Iya kak..." jawab nya lirih.
Apa yang bisa di harapkan dari gadis yang baru menginjak usia 18 tahun?
Gadis yang bahkan tak tau apa-apa bagaimana mengurus diri nya sendiri dengan baik harus mengurus ke empat makhluk yang membutuhkan perhatian lebih.
Gadis yang masih penuh dengan sifat kekanakan dan masih ingin bermain lebih lama, gadis manja yang bahkan belum memiliki pemikiran yang matang ataupun dewasa.
Mungkin awal nya memiliki rasa ketertarikan karna menganggap bayi-bayi mungil itu menggemaskan namun seiring berjalan nya waktu ia mulai merasakan beban tanggung jawab yang harus ia ambil sebagai ibu dari ke empat bayi mungil itu.
"Celine? Kamu kenapa? Kenapa masih cemberut?" tanya Steve pada gadis nya yang terus menekuk wajah nya.
Gadis itu kembali menoleh, ia beranjak memeluk tubuh pria itu, kalau dulu tidak ada ke empat bayi kembar nya maka ia bisa lebih bersantai saat ini.
"Celine kangen kakak..." jawab nya lirih sembari menyembunyikan wajah nya di dalam dada bidang pria itu.
Steve tersenyum, ia membalas pelukan gadis itu dan mengusap rambut nya dengan lembut, "Kakak juga sayang Celine." bisik nya di telinga gadis yang saat ini tengah memeluk erat tubuh nya.
...
Gemericik air hangat dan wajah yang tertawa dengan menggeliat itu melihat ke arah sang ayah.
"Key suka main air? Anak Daddy suka main air? Hm?" tanya nya dengan gemas pada putra sulung nya itu.
Bayi mungil itu hanya tertawa dengan menggeliatkan tubuh nya yang begitu mungil itu.
"Celine, ini." ucap Steve yang memberikan putra pertama nya agar segera di keringkan sedangkan ia mengambil putra kedua nya untuk mandi yang selanjutnya.
Gadis itu mengambil nya, tangan nya dengan hati-hati memindahkan bayi mungil nya dan mengeringkan nya namun tetap saja ia tak tak memiliki pengalaman dan di tambah dengan gangguan kecemasan yang mulai datang pada nya sejak beberapa hari yang lalu.
Ibu yang tak nyaman tentu nya membuat bayi mungil itu merasakan hal yang sama juga sama seperti sang ibu.
Huu...
HUA...
Huhu...
Baby Key mulai menangis, entah usapan di tubuh nya yang terasa kasar ataupun posisi yang membuat nya tak nyaman tentu bayi mungil yang belum bisa bicara itu hanya menangis.
"Key? Sayang? Kenapa nangis? Kamu kenapa nangis aja?" ucap Celine yang terkejut dan panik ketika bayi mungil nya kembali menjadi dan rewel pada nya.
Steve menoleh, sebentar lagi tangisan itu akan menular dengan cepat pada saudara nya yang lain.
"Di gendong dulu, mana tau dia diam." ucap Steve yang memberi saran sebelum ke tiga bayi nya yang lain mulai ikut menangis.
Gadis itu pun melilitnya dengan kain dan membawa nya keluar.
"Sstt, Maaf mommy buat kamu nangis, jangan nangis lagi Key..." ucap nya lirih pada putra nya yang terus menangis itu.
Sedangkan Steve mulai selesai memandikan dan memakaikan pakaian untuk bayi-bayi mungil nya dan gadis nya masih belum kembali sama sekali setelah keluar kamar.
__ADS_1
"Celine?" panggil Steve yang keluar.
Ia berjalan ke ruang tengah dan masih mendengar tangis bayi nya yang belum berhenti.
"Kak? Dia nangis terus..." ucap gadis itu yang langsung memberikan gendongan nya pada sang kakak.
Steve mengambil nya, ia melihat tak hanya putra yang menangis namun juga gadis nya yang terlihat dengan mata yang begitu berkaca.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa ikutan nangis?" tanya Steve yang menggendong bayi mungil nya sembari mengusap mata gadis nya.
"Gak apa-apa kak, Celine mau ke kamar dulu boleh kak?" tanya nya pada pria itu.
Steve mengangguk dan gadis itu pun langsung pergi ke kamar nya.
...
Pukul 08.30 pm
Steve melihat ke arah gadis yang sudah berbaring dan menutup dirinya dengan selimut itu.
"Kamu udah makan malam? Makan malam sama kakak yah?" tanya Steve yang merasa tak biasa dengan gadis nya yang tidur lebih cepat saat ini.
Tak ada jawaban, gadis itu tetap membelakangi nya dan tak menatap wajah nya sedikitpun.
"Celine? Kamu denger kakak?" tanya Steve mengulang pada gadis nya sekali lagi.
"Kak..." panggil gadis itu lirih.
Steve mendekat mendengar suara lirihan gadisnya yang memanggil dirinya.
"Kenapa? Kamu mau bilang apa?" jawab Steve pada gadis itu.
Celine menoleh, ia membalik tubuh nya dan melihat ke arah sang kakak yang duduk di tepi ranjang.
Pria itu tersentak sejenak, gadis nya tetap terlihat berkaca dengan hidung yang memerah.
"Kamu masih nangis?" tanya nya yang langsung mengusap air mata gadis itu.
"Jangan nangis sayang, Key aja udah gak nangis lagi kenapa kamu masih nangis? Hm?" tanya pria itu sembari menatap iris biru yang berkaca.
Ia kesulitan dalam mengatur dan mengurus putra-putra nya sehingga ia mulai merasa enggan untuk mengurus bayi mungil itu.
Steve tak mengatakan apapun, ia memang membuat gadis remaja yang masih kekanakan itu menjadi hamil dan tanpa sadar tetap memaksa gadis itu untuk melahirkan putra-putra nya dengan cara yang halus.
Menanyakan kesiapan mental? Tentu nya ia tak pernah bertanya sekalipun tentang kesiapan gadis muda yang masih begitu manja itu untuk menjadi seorang ibu.
"Kak..." panggil Celine lirih sembari memegang tangan pria yang terus melihat nya.
"Celine? Kamu itu punya kakak, kalau kamu masih belum bisa urus mereka gak apa-apa, ada kakak yang bisa bantu kamu, kalau kamu mau kakak juga bisa sewa pengasuh buat urus mereka kalau kakak lagi gak ada." ucap nya sembari menghapus air mata gadis itu.
Celine diam tak mengatakan apapun, "Ce...Celine bisa kak..." jawab nya lirih yang membohongi dirinya sendiri karna takut sang kakak menganggap diri nya tak bisa melakukan apapun.
Ia tak tau, bahkan jika diri nya tak bisa melakukan apapun, pria tampan itu tetap akan bersama nya.
"Yakin? Kalau kamu mau kakak bisa car-"
"Celine bisa kak!" jawab nya yang langsung menyentak.
Perubahan suasana hati dan perasaan nya mulai terlihat dan membuat nya terlihat mudah marah dan mudah menangis juga.
"Iya, kakak percaya kok sama kamu..." jawab nya sembari mengusap mata gadis nya dengan lembut.
"Makan malam yah? Sama kakak? Kakak masakin makanan kesukaan kamu." ucap nya pada gadis kesayangan nya itu dan beranjak membangunkan.
Bagi nya saat ini bukan seperti mengurus 4 anak namun mengurus lima anak karna gadis nya yang juga masih membutuhkan perhatian nya.
Pluk,
Gadis itu tak menjawab apapun dan bukan nya bangun ia malah kembali memeluk tubuh tegap sang kakak.
Ia tak mengatakan apapun melainkan hanya ingin memeluk pria itu untuk sejenak. Steve pun tak menolak, ia mengukup tubuh kecil itu dalam dekapan nya sampai mulai tenang.
...
__ADS_1
4 Hari kemudian.
Tangisan bayi mulai bersahutan di apart mewah itu, ke empat bayi yang menangis secara bersamaan tentu nya membuat seluruh ruangan penuh akan tangisan dari bayi-bayi mungil yang menggemaskan itu.
"Key? Rey? Fey? Ken? Kalian lapar? Mau minum susu? Mommy kasih susu yah?" tanya nya nya sembari menggoyangkan keranjang bayi nya dan mulai mengambil salah satu dari ke empat anak nya untuk di beri ASI.
Seharusnya ia membiarkan saja sang kakak yang ingin menyewa pengasuh untuk mengurus bayi-bayi nya, namun gadis itu bersikap sedikit keras kepala walau ia tau tak bisa menjaga ke empat anak nya sekaligus.
"Kalian kenapa sih? Kenapa nangis terus? Kamu juga kenapa gak mau minum susu Fey?" tanya Celine yang mulai kembali frustasi dalam mengurus hal yang baginya terlihat merepotkan itu.
Ia menatap dan mulai ikut menangis juga, rasa panik mendengar tangisan bayi yang tak bisa ia tenangkan membuat nya tak sadar jika putra bungsu sedang mengalami demam.
Hua...
Huhu...
Hua...
Tangisan yang terus bersautan satu sama lain, "Kalian kenapa sih? Lapar? Mau mandi?" tanya nya lagi yang juga ikut bingung.
Ia meletakkan putra ketiga nya kembali ke dalam keranjang bayi dan mulai menyiapkan air untuk mandi putra-putra itu karna tak bisa ia berikan asi.
"Sekarang mandi sama Mommy yah? Kalian mau mandi kan?" tanya nya sembari menggendong putra kedua nya memasukkan nya ke dalam bak mandi bayi.
Tangisan Baby Rey semakin kuat saat tubuh nya merasa tak nyaman karna suhu air yang begitu rendah, ia merasa kedinginan namun tak bisa mengatakan nya pada sang ibu yang tak mengerti dengan suhu air yang di inginkan anak-anak nya.
"Fey kenapa makin nangis? Kamu kenapa?" gadis itu bingung, namun ia kira dengan memandikan ke empat bayi nya dengan cepat akan membuat bayi-bayi itu tenang.
Ia pun mulai memasukkan bayi-bayi nya yang lain dan tentu nya tangisan bayi-bayi yang tak bisa berbicara ataupun protes itu semakin kencang, apalagi Baby Ken yang memang sejak awal mengalami demam ringan namun sang ibu tak mengetahui nya.
"Mandi sama Mommy, kalian kenapa makin nangis?" tanya Celine yang semakin panik mendengar tangisan yang bersahutan dan tak berhenti sama sekali itu.
Ia memundur menatap ke empat bayi nya, panik, gelisah, dan cemas pun menyerang nya. Tangan nya gemetar, ia pun mulai menutup kedua telinga nya dan beranjak pergi meninggalkan ke empat bayi nya yang masih ia rendam.
Langkah berjalan ke ruang tengah, ia menghidupkan televisi yang berlayar lebar itu dan menaikkan volume nya hingga mengalahkan suara tangisan bayi-bayi mungil nya yang ia tinggal.
Ia menatap nanar dengan iris yang bergetar ke arah televisi yang memberikan suara yang begitu besar itu.
Sementara itu Steve yang melupakan sesuatu di apart nya pun harus kembali pulang. Ia tanpa sengaja meninggalkan dokumen nya di atas meja kerja yang berada di kamar nya.
Deg!
Begitu langkah nya masuk ke dalam apart nya ia mendengar volume televisi yang begitu besar hingga memekakkan telinga nya.
Tup!
Pria itu pun mengambil remote tv nya dan langsung mematikan nya, "Celine? Kamu ken-" ucapan nya terhenti melihat ke arah gadis nya yang terlihat habis menangis dan bahkan kini pun masih menangis.
"Kamu kenapa?" tanya nya sembari mengusap air mata gadis itu.
Hua...
Suara yang mulai sayup terdengar di telinga nya, ia tak tau namun ia langsung beranjak meninggalkan gadis itu dan mencari ke empat putra nya.
"Astaga!" pekik nya terkejut melihat ke empat bayi mungil itu yang sudah kedinginan karena di tinggal di dalam rendaman air.
Beruntungnya, wajah ke empat bayi itu tak tenggelam oleh air sehingga masih bisa bernapas.
Steve pun mulai mengeluarkan nya satu persatu dan mengusap nya lalu memberikan pakaian yang hangat untuk bayi-bayi nya sebelum ia membawa ke rumah sakit untuk diperiksa.
"Celine? Kamu kenapa-" ia langsung mendatangi gadis nya, ingin menanyakan mengapa gadis itu merendam putra-putra nya lalu meninggalkan nya.
"Ce..Celine gak bisa urus mereka kak..."
"Mereka nangis terus, Celine gak tau harus apa..."
"Maaf kak, Maaf..." ucap nya yang menangis dan terlihat begitu tertekan dari wajah nya yang terus mengalirkan cairan bening itu.
Deg!
Steve tersentak melihat gadis nya yang seperti tak biasanya.
"Kamu ikut kakak, kita ke rumah sakit bawa mereka juga." ucap nya yang menarik tangan gadis itu.
__ADS_1
Dan mau tak mau urusan kantor nya harus di tunda lebih dulu, ia harus nya tak meminta pendapat tentang menyewa pengasuh dan langsung melakukan nya saja agar hari seperti tak terjadi.
"Kak..." panggil gadis itu lirih dengan masih menangis menatap sang kakak yang saat ini tak mengatakan sepatah kata pun pada nya.