
Gadis itu menunggu pria yang sedari tadi tak keluar dari kamar mandi, hingga ia bergegas mengecek nya.
"Sean masih lam-" ucap nya terpotong saat melihat tubuh bidang pria itu yang di balut handuk berwarna coklat.
Sean langsung menoleh, ia tengah membersihkan wajah nya dari janggut yang mulai tumbuh.
"Sebentar, kau sudah lapar?" tanya nya sembari menatap gadis itu.
Wajah Ainsley memerah, "Iya, jadi cepatlah lah setelah itu kita sarapan." jawab nya lalu menutup pintu nya perlahan.
Sean tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan itu yang tengah malu-malu terhadap nya.
Gadis itu pun segera keluar, ia memilih bagian tersembunyi dari rumah yang menampilkan kesan klasik namun nyaman itu.
Ia terdiam sejenak menjernihkan pikiran nya, wajah nya memerah memanas namun ia malah jadi terdiam.
"Dengar musik saja deh!" ucap nya sembari menarik headset dan meletakkan di telinga nya lalu memutar musik nya.
Sean keluar setelah memakai pakaian nya, ia mendekat ke arah gadis itu.
"Cuacanya lebih dingin hari ini, jadi tutup leher nya yah," ucap Sean sembari menaikkan sweater di leher gadis itu.
Ainsley menatap nya dengan kosong, namun pria itu semakin gemas.
Auch!
Ringis nya saat pipi nya di gigit tiba-tiba oleh pria tampan itu.
"Ayo sarapan, melihat mu jadi lapar." ucap nya tertawa dan tersenyum.
"Tapi jangan di gigit!" ucap Ainsley sembari menyentuh pipi nya.
"Makanya jangan melamun! Sini sarapan!" ucap nya sembari menggandeng tangan gadis itu.
....
Matahari yang naik meninggi sembari menyebarkan benih sinar di yang mampu membuat siapapun menjadi hangat.
"Langkah kaki mu lebih lebar," ucap gadis itu tersenyum sembari mengikuti bekas tapak kaki pria yang tercetak jelas di atas pasir putih itu.
"Kau tidak bosan? Setiap hari main di pantai?" tanya Sean yang tetap memegang kedua tangan gadis yang tengah tertawa mengikuti langkah kaki nya.
"Tidak," jawab Ainsley menggeleng dan menoleh ke arah pria yang memegangi tangan nya.
Senyuman pria itu naik ketika melihat wajah cerah yang juga tersenyum itu.
"Oh iya, tadi aku lihat mainan anak sama catch dream, aku beli dua." ucap nya sembari mendekat dan menyusul ke samping pria itu.
"Dua? Mainan anak nya?" tanya Sean mengernyit sembari menoleh ke arah gadis itu samping nya.
"Bukan! Catch dream nya, satu untuk Axel satu lagi untuk mu, kau kan sering mimpi buruk." jawab Ainsley pada pria itu.
"Benarkah? Apa aku harus memberi mu hadiah?" tanya Sean tertawa.
Ainsley tersenyum, ia menggeleng, "Aku sudah gantung di kamar."
Pria itu tak mengatakan apapun, hanya senyuman cerah yang tampak dari hati nya lalu ia mengusap puncak kepala gadis itu dengan tangan nya.
Selama beberapa hari terakhir gadis itu merasakan semua keinginan yang dulu ia impikan terwujud.
Sosialisasi, Rumah yang ia inginkan, Pantai, Tempat yang jauh siapapun dan bersama pria yang ia sukai.
Hanya satu yang kurang bagi nya saat ini, mungkin hal ini bukan termasuk dalam list yang ia inginkan dulu karna baru timbul belakangan ini.
Axel, putra kecil nya yang selalu menggenggam erat jemari nya ketika bertemu.
"Aku jadi ingin mencium mu," ucap pria itu lirih sembari mendengar ombak yang naik dan menimbulkan buih yang hilang dalam sekejap.
"Boleh," jawab gadis itu tersenyum.
Sean menoleh lalu menangkup wajah kecil gadis di depan nya, ia mendekat hingga bisa mendengar suara deru napas gadis itu.
Humph!
Bibir nya ia tautkan perlahan dan menangkup bibir merah muda yang terasa manis itu.
Selama mereka tinggal bersama ataupun tidur di ranjang yang sama, ia tak pernah melakukan hal yang jauh lebih dalam walaupun ia tau gadis itu tak lagi mengeluarkan darah pasca melahirkan.
Ia hanya ingin menikmati hari yang ia lewati dan mewujudkan semua impian gadis itu ketika mereka masih menjalin hubungan dulunya.
__ADS_1
Sean melepaskan ciuman nya, ia melihat gadis itu yang terengah-engah menarik napas karna ciuman yang lembut namun dalam tersebut.
"Kita kembali hari ini," ucap pria itu lirih setelah melepaskan ciuman nya.
"Hari ini? Bukan nya kita Prancis lusa?" tanya Ainsley mengernyit.
"Kau juga tidak sepenuh nya tenang kan?" tanya Sean yang masih dapat melihat raut gelisah ataupun khawatir di sela raut bahagia gadis itu.
"Hm?"
"Apa yang di lakukan? Apa dia menangis? Bagaimana kalau dia haus? Apa tidur nya cukup? Apa dia suka kalau aku berikan boneka lagi?" ucap pria itu tiba-tiba.
"Kau selalu memikirkan itu kan? Untuk anak mu?" tanya pria itu sembari menatap iris lekat gadis di depan nya.
Ainsley terdiam, ia tak tau bagaimana pria itu bisa membaca pikiran nya.
"Maaf..." ucap Ainsley lirih.
"Untuk apa?" tanya Sean tersenyum pada gadis itu.
Ainsley diam, ia hanya ingin meminta maaf untuk kesalahan yang mungkin tidak ia sadari.
"Kita kenal sudah lama yah? Seingat ku waktu itu kau masih 19 tahun kan? Kau bahkan masih percaya drakula," ucap Sean tertawa meningkat pertemuan pertama nya.
Ainsley diam, ia tak tau mengapa pria itu tiba-tiba bercerita tentang masa lalu nya.
"Setelah itu kita pacaran 6 bulan kemudian, sekitar dua tahun lebih kan? Kita pacaran?" tanya pria itu mengingat.
"Iya, waktu itu aku suka sekali..." jawab Ainsley lirih.
"Waktu awal aku pacaran dengan mu, aku tidak begitu suka, kau terlalu bergantung pada ku." jawab pria itu yang ingat karna dulu nya ia mendekati gadis itu untuk memanfaatkan status sosial nya.
Ainsley langsung menoleh ke arah wajah yang menatap ke depan tanpa menatap nya.
"Tapi aku juga tidak tau sejak kapan merasa suka kalau kau bergantung dengan ku, aku benci melihat mu dekat dengan orang lain, aku ingin kau hanya jadi milik ku satu-satu nya." sambung pria itu dengan senyuman tipis.
"Lalu aku sadar, kalau aku sudah benar-benar jatuh cinta, mungkin kau tidak akan percaya, tapi cinta pertama ku itu yah kau sendiri." ucap Sean tersenyum.
"Aku? Tapi kan Sean punya banyak mantan dulu?" ucap Ainsley langsung membantah.
"Iya, tapi yang benar-benar ku suka itu dirimu," Sean yang langsung menjawab nya, "Brengsek, kan aku?"
Ainsley menoleh ke arah pria itu.
"Impian?" gumam Ainsley yang menatap ke arah sekitar nya.
Ia tersadar semua nya sama persis dengan apa yang ia inginkan dulu, walaupun ia bercerita saat pria tengah bekerja namun ia tak menyangka jika semua ucapan nya di dengarkan.
"Kau bahagia?" tanya pria itu sekali lagi sembari menangkup pipi halus gadis itu.
Ainsley mengangguk, sejak awal hidup seperti ini lah yang ia impikan dan rencanakan.
Pria itu menarik napas nya, "Kau juga ingat apa impian mu selanjutnya?" tanya pria itu dengan suara yang mulai parau.
"Impian ku?" gadis itu memutar ingatan nya, semua hal yang ia rencanakan hingga kepala nya terkunci pada satu memori nya.
Aku mau jadi ibu yang tinggal dengan anak ku saja, jadi Sean yang kerja nanti kami nunggu Sean pulang terus makan malam bareng!
Ucapan yang dulu pernah ia katakan pada pria itu.
Menjadi seorang ibu yang mencintai anak nya dan memberikan semua kasih sayang yang dulu tidak pernah ia dapatkan.
"Aku pernah janji bakal mewujudkan semua yang kau inginkan, iya kan? Maka nya aku menyuruh mu bersabar." ucap pria itu tersenyum walau ia merasa tak ingin melakukan nya.
Suara nya berubah parau, ia mencintai gadis itu namun ia tau siapa yang lebih membutuhkan nya.
Ainsley masih terdiam, iris nya menatap lekat pada pria di depan nya, namun entah kenapa dada nya terasa sakit.
Suka namun tidak bisa bersama, itulah yang ia rasakan saat ini. Sesuatu yang dekat namun tak bisa ia raih bagaikan tembok kaca yang datang di tengah kedua nya.
Ia tak sadar, setetes buliran bening jatuh di kelopak mata nya
"Kau, Aku..."
"Kita itu sama, kita kehilangan sesuatu kan?" tanya pria itu yang merasa kehidupan keluarga ia miliki dengan kehidupan keluarga yang di miliki gadis itu mirip.
"Sekarang kau hanya perlu mewujudkan impian mu yang tersisa saja kan?" tanya pria itu lirih dan menghapus air mata yang jatuh di pipi gadis itu.
"Sean aku..." ucap gadis itu tersendat sembari meraih tangan hangat yang berada di pipi nya.
"Kau bisa jadi ibu yang baik, itu impian mu karna kau tidak mau kalau anak mu juga merasakan yang sama seperti mu dulu kan?" tanya pria itu dengan senyuman pahit.
"Aku tau rasa nya punya ibu tiri, dan itu menyakitkan, mungkin ibu ku juga tidak mau pergi tapi terkadang aku membenci nya, karna meninggalkan ku sendiri." jawab pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Tapi aku merindukan nya..." sambung pria itu, selama ia hidup kebahagiaan nya hanya dua, yang pertama ibu kandung nya yang telah tiada dan yang kedua adalah wanita yang ia cintai.
"Maaf..." ucap gadis itu lirih sembari menangis, ia bingung dengan kesalahan nya namun ia ingin meminta maaf.
"Sekarang siapa yang salah? Kau yang tidak mendengarkan ku dulu? Atau aku yang terlalu arogan?" tanya pria itu yang mulai mencari kapan titik awal hubungan nya hancur.
"Sekarang semua janji ku sudah ku penuhi jadi aku harap kau bisa tetap tersenyum seperti saat kita tinggal bersama," ucap pria yang berusaha tenang dan mengatur perasaan nya.
"Aku pernah kehilangan mu, dan dulu aku berpikir kalau saja bisa melihat mu itu sudah cukup, aku takut serakah lagi." jawab nya tersenyum.
"Kenapa? Kenapa sekarang Sean seperti ini?" tanya gadis itu dengab tersendat-sendat.
"Karna aku tau, kau ternyata lebih berharga dari yang ku bayangkan, kau mungkin akan bahagia kalau terus seperti ini tapi mungkin juga akan menyesal." jawab nya tersenyum.
"Anak mu yang nanti sudah dewasa pasti akan membenci mu karna kau meninggalkan nya dan aku takut kalau kau akan seperti ini lagi," sambung pria itu lirih.
"Tapi aku..." ucap Ainsley yang kesulitan karna tangis nya.
Impian?
Keinginan?
Janji?
Pria itu selalu mewujudkan apa yang menjadi angan nya, walau mungkin memerlukan waktu yang tak singkat namun semua nya akan terwujud.
Ia tau seberapa sakit pria itu menyiksa nya dulu namun ia juga tau jika mereka dulu sama-sama egois dan bergerak hanya sesuai keinginan hati tanpa memikirkan dampak.
"Kau tidak tau kan? Rasa nya menyesal itu seperti apa? Waktu juga tidak akan bisa di putar, jadi aku tidak mau kau merasakan hal itu." sambung Sean lirih.
Dulu saat ia menyadari cara mencintai yang ia gunakan salah dan mulai menyesali perbuatan nya namun gadis itu sudah terlanjur menghilang.
Dan perasaan yang tak bisa di definisikan itu lebih menyakiti nya dari pada Luk fisik yang pernah ia terima.
"Kalau kau meninggalkan anak mu sekarang kau akan menyesal saat dia membenci mu nanti, aku tau kau juga tidak ingin meninggalkan nya kan? Tapi dia mungkin tidak akan memikirkan nya,"
"Kenapa dia tidak tinggal dengan ayah ku? Apa aku bukan siapapun?" mungkin itu yang nanti di pikiran nya.
"Aku tidak bermaksud begitu, aku sayang Axel tapi aku..." ucap nya tersendat yang tak bisa melanjutkan perkataan nya.
"Aku tau, aku tau kau sayang anak mu..." ucap pria itu menenangkan dan menghapus air mata gadis itu.
"Dan sekarang aku juga tau siapa yang lebih membutuhkan mu, bukan aku tapi sesuatu yang kau hadirkan sendiri." ucap pria itu lirih.
"Maaf..." hanya itu yang bisa keluar, pikiran nya kosong dengan perasaan yang campur aduk hingga membuat nya tak bisa bernapas.
Pria itu diam sejenak melihat air mata yang jatuh turun di pipi gadis itu, ia pun menarik nya dengan pelan kedalam pelukan nya.
Suara isakan lirih terdengar di balik dada bidang nya, tangan nya mengusap lembut punggung yang gemetar karna tangis nya.
"Aku tidak akan membenci mu jadi bahagia lah semampu mu, menangis dan setelah semua nya reda tersenyum seperti ketika bangun dan melihat matahari lagi..." bisik nya di telinga gadis itu.
"Cause I love you..." sambung nya lirih.
Tes...
Satu bulir cairan bening itu jatuh dari mata nya
Aneh kan?
Padahal gadis itu tidak meninggal, ataupun terluka, dan tubuh nya sedang tak di pukul ataupun atau di tikam seseorang.
Tapi kenapa merasa sedih?
Perasaan meluap yang membuat nya tidak bisa bernapas, semua nya mungkin adalah jalan yang salah tapi ia ingin memberikan yang terbaik semampu nya.
Tidak ada yang tau masa depan, ia hanya menjalani masa yang kini ia lewati.
Ainsley tak bisa menahan air mata nya, ia menangis cukup lama sembari merasakan hangat dan aroma dari tubuh pria yang tengah mendekap nya.
Sean terus mendekap tubuh gadis itu hingga tenang, tak peduli seberapa lama yang di butuhkan.
Aku sudah membuat jalan untuk mu kan?
Karna aku akan melepaskan mu, jadi kau harus bahagia...
Seperti semua mimpi yang kau inginkan...
Semua nya sudah terwujud hanya pria yang akan tinggal dengan mu saja yang berbeda...
Aku tidak akan kemanapun...
Aku akan menjaga mu, jadi hiduplah di dunia yang menjadi mimpi mu...
__ADS_1