
Internasional high school.
Tap!
"Axel! Melamun terus!" ucap Diego dengan nada kesal karna teman nya seperti tak mendengarkan pembicaraan nya.
"Ha? Apa?" tanya remaja itu mengulang.
"Kalau kami yang ngomong peka langsung telinga nya! Coba Emily! Langsung di sahut!" ucap Mack menimpali.
Axel memilih tak menjawab hal tersebut, kalau saja teman perempuan nya itu ada di sana pasti gadis itu sudah mengomel.
"Yang kemarin kami lihat itu pacar Mommy kamu yah?" tanya Diego lagi.
"Kenapa sih? Tanyain Mommy ku terus?" tanya Axel yang tak ingin menjawab pertanyaan tentang ibu nya.
Brak!
Diego langsung menggebrak meja dengan satu tangan nya seperti menunjukkan kesungguhan nya.
Plak!
Mack yang terkejut pun langsung memukul belakang kepala teman nya itu, "Aku terkejut! Sial!"
Diego pun mulai tertawa kecil sembari memegang belakang kepala nya, "Ini itu masalah yang penting buat ku!" ucap nya dengan semangat.
"Kenapa? Kan itu Mommy aku, bukan orang tua mu," ucap Axel mengernyit.
"Aku kan mau jadi Ayah tiri mu! Penting lah!" jawab Diego tanpa di saring.
"Wah, anak gila ini mau terjun dari atap?" ucap Axel yang langsung berdiri dan menatap tajam teman nya itu.
"Se-serem punya anak tiri seperti mu..." ucap Diego lirih langsung menciut melihat teman nya.
"Hey? Bicara apa?" tanya Emily yang baru saja tiba sembari meminum es yang ia bawa.
"Cerita tentang Axel yang bakal punya Daddy baru," jawab salah satu dari remaja pria yang tengah berkumpul itu.
"Axel?" tanya Emily sembari duduk tepat di samping pria itu.
"Iya, Ly? Kau tau tidak siapa yang kemarin sama Mommy Axel? Pacar nya yah?" tanya Diego tak menyerah karna ia menyukai ibu teman nya pada pandangan pertama.
Emily diam sejenak dan melirik ke arah teman nya sebelum menjawab.
"Apa sih? Penasaran banget!" ucap Emily yang menjawab nya dengan candaan.
"Kau kan pacar nya Axel! Masa gak tau?!" Diego yang mulai lesu dan mengambek mendengar pertanyaan yang tak di jawab itu.
"Kami gak pacaran tuh," sangkal Emily karna ia memang merasa tidak pernah menjalin hubungan seperti itu.
Para teman remaja pria itu pun langsung melihat ke arah Axel ketika mendengar sangkalan itu.
"Iya, kami gak pacaran." ucap Axel mendengus kasar mengatakan nya.
__ADS_1
"Beneran?" tanya Harry dengan mata menyelidik.
"Iya, tapi Lily punya aku. Jadi kalian gak boleh macarin dia." sambung nya lagi.
"Yah sama aja," ucap Harry tertawa kecil.
Emily pun melirik dan ingin protes namun remaja pria itu langsung memasukkan roti yang ada di tangan nya ke mulut gadis itu.
"Hmmm, rasa strawberry." ucap Emily yang tak jadi protes dan malah teralihkan dengan roti yang ia sukai itu.
"Kok bisa dapat sih? Tadi aku cari gak ada." ucap nya pada Axel.
"Aku uda beli duluan," jawab remaja pria itu sembari melirik dan melihat remahan cream yang berserakan di bibir gadis itu karena tadi ia tiba-tiba memasukan roti nya secara asal agar tak di protes.
"Makan nya pelan-pelan, gak ada yang minta kok." ucap Axel sembari menghapus remahan cream di bibir gadis itu dengan sapu tangan yang selalu ia bawa karna selalu di siapkan oleh sang ibu.
"Iya, iya..." jawab Emily sekena nya.
Sementara itu teman remaja pria itu hanya melihat dan terdiam.
"Gini yang kata nya gak pacaran? Kalau gini mah lebih percaya semester ini aku peringkat pertama," ucap Vern yang mengatakan sindiran halus karna ia selalu berada di peringkat terakhir.
"Makanya cari pacar, biar gak kesel lihat orang romatisan," timpal Mack tertawa yang membuat sekelompok remaja itu pun langsung tertawa renyah.
...
Gadis itu melihat ke sekeliling cafe yang sedang populer di kalangan remaja itu, "Sayang yah Mack gak bisa ikut."
"Iya, dia katanya ada les tambahan. Mau kesini lagi lusa? Bareng Mack?" ajak Axel pada gadis itu.
Setelah memesan minuman dan bersantai kedua nya sempat terdiam sejenak sebelum gadis itu membuka suara.
"Axel?"
"Hm?" Axel langsung menoleh begitu gadis itu memanggil nya.
"Kamu kenapa sih gak kasih Mommy kamu nikah lagi?" tanya nya pada teman nya itu.
"Memang nya kamu mau lihat Mommy kamu nikah lagi sama orang lain?" ucap Axel balik bertanya.
"Daddy aku kan masih ada," jawab Emily langsung.
"Masalah nya itu beda sama Mommy kamu, lagi pula kan paman Sean juga baik, dari kita anak-anak dia gak pernah marahin kita." ucap nya pada teman nya.
Axel tak menjawab ucapan gadis itu sama sekali.
"Tapi aku gak mau punya Daddy lain, lagi pula Mommy juga tau kok, Mommy juga gak mau..." ucap nya mengelak.
"Yakin? Memang nya kamu tau apa yang Mommy kamu rasain?" tanya Emily lagi.
"Kamu nih kenapa sih? Tiba-tiba bilang begitu." ucap Axel sembari mengernyitkan dahi nya.
"Gak apa-apa tapi kadang aku tuh mikir, kamu punya sandaran Mommy dan Mommy kamu itu gak punya sandaran siapa-siapa,"
__ADS_1
"Kamu juga bakalan kuliah, punya pekerjaan terus bakalan sibuk dan Mommy kamu pasti bakal lebih ngerasa kesepian." sambung gadis itu.
"She's alone, you know it." ucap nya lagi pada teman pria nya itu.
Axel tak mengatakan apapun tentang pernyataan yang baru saja di katakan oleh teman nya itu.
"Kenapa mikir nya begitu?" tanya nya lagi pada teman nya yang tak mengerti mengapa gadis di samping nya mengatakan demikian.
"Karna aku sering lihat Mommy aku kesepian, padahal Daddy aku gak meninggal tapi aku sering lihat Mommy..." ucap nya lirih.
"Daddy aku itu hampir 80 % itu kerja terus, sering ke luar negeri. Cuma di akhir pekan aja ada sama kami." sambung nya lirih.
"Aku pernah tanya Daddy kenapa dia kerja terus ninggalin Mommy, tapi Daddy itu jawaban Daddy begini, Kalau Daddy gak kerja sekarang Daddy bakalan sering ninggalin kamu sama Mommy kamu, kalau kamu dewasa terus pergi dan punya hidup sendiri nah gantian Daddy yang sama Mommy," ucap gadis itu pada teman nya.
"Tapi aku gak mau tinggalin Mommy aku, aku bisa kok sama Mommy terus!" jawab nya langsung.
"Gak mau tinggalin tapi kamu mau ngambil rencana univ yang di Kanada," ledek Emily pada teman nya.
"Kan Mommy bisa ikut aku!" ucap remaja pria itu yang langsung menyanggah.
"Memang nya Mommy kamu sudah pasti bakalan bisa ikut? Kalau aku nginap saja mommy kamu selalu pulang bawa kerjaan," ucap Emily pada teman nya.
"Tapi kan aku cuma mau-"
"Bukan nya egois yah? Kamu mau nya sama Mommy kamu terus gak mau Mommy kamu sama orang lain tapi nanti kamu juga yang tinggalin Mommy kamu." potong gadis itu segera.
Axel pun kembali diam, ia tak mengatakan apapun dan hanya mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
Ia bahkan belum meminta maaf pada pria yang ia benci selama bertahun-tahun karna kesalahpahaman.
"Kau suka minuman nya di sini." tanya Axel pada gadis itu.
"Tidak terlalu buruk," jawab Emily.
......................
Sation Company.
Remaja itu duduk dan menunggu di lantai bawah yang di sediakan sofa untuk menunggu, ia bahkan tak memberikan pemberitahuan.
Hingga mata nya menoleh ke arah pria yang berjalan dengan para eksekutif lain nya.
Langkah pria itu terhenti dan menghampiri remaja yang memang selalu memasang wajah masam pada nya.
"Traktir aku makan," ucap Axel dengan nada ketus karna ia sudah terbiasa seperti itu dan merasa aneh jika berubah baik tiba-tiba.
Pria itu hanya tertawa kecil melihat remaja di depan nya yang selalu memasang wajah cemberut.
"Tunggu! Itu tidak bi-"
Salah satu eksekutif tentu nya tak ingin menyetujui hal itu karna mereka masih membutuhkan waktu meyakinkan meraih proyek yang ia inginkan dan persetujuan tanda tangan pria itu.
"Kapan?" potong Sean pada ucapan salah satu eksekutif itu.
__ADS_1
"Ha-hari ini," jawab Axel yang masih dengan nada ketus nya.