Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story END :(Find you again)


__ADS_3

Paris


Mansion Evans


Pagi yang cerah itu pun seperti sihir yang membuat suasana rumah kembali hidup. Wanita yang selama beberapa tahun terakhir itu tak ingin pergi dari tempat tidur nya kini tengah mengumpulkan stamina nya agar dapat memasak sesuatu untuk putri kesayangan nya yang sangat ia rindukan.


"Sup jamur sama grill salmon!" ucap Celine dengan mata berbinar menatap masakan buatan ibu nya.


Suami nya tercinta tentu nya selalu memasakkan apapun yang ia inginkan dan memang semua masakan pria itu sangat lezat namun walaupun sama-sama lezat masakan sang ibu tentu nya berbeda.


"Celine suka nak?" tanya Freya dengan senyuman yang tulus sembari terus mengisi piring putri nya dengan makanan.


Mike merasa sedikit di abaikan namun entah mengapa ia tak marah sedikit pun.


"Papa juga, makan salad nya." ucap nya yang tersenyum sembari memberikan salad yang sehat untuk suami nya agar tetap memiliki stamina yang baik walaupun sudah mulai berumur.


"Celine di kasih salmon aku cuma salad?" tanya Mike yang tertawa melihat sang istri.


"Papa ngalah dong sama Celine," sahut gadis itu tertawa renyah.


Beberapa suapan masuk ke mulut gadis itu, walaupun terasa menyenangkan dan hangat namun ia merasa kosong saat tak ada pria yang sudah menjadi suami nya itu.


"Celine? Kenapa nak?" tanya Freya yang langsung menyadari wajah putri nya perlahan berubah.


"Celine kangen kakak Mah, Papa udah kasih tau kak Steve? Kak Steve kapan ke sini?" tanya nya pada sang ayah.


Mike diam sejenak menatap putri nya lalu membuang napas nya dengan senyuman tipis, "Kakak kamu paling nanti sore juga sampai, kalau bisa terbang teleportasi mungkin sekarang sudah datang jemput kamu."


"Ih Papa! Celine gak bercanda tau!" sahut gadis itu dengan raut kesal nya.


"Papa juga nak, kamu masa tidak kenal kakak mu sendiri? Maaf Papa lupa, kalian sudah nikah kan?" ucap Mike yang masih tak terbiasa dengan perubahan dari status putra dan putri nya.


Freya diam sejenak dan menarik napas nya, ia sudah tau jika kini putri nya tak lagi menyandang status single karna sudah menikah.


"Kamu kenapa masih panggil dia kakak nak? Kamu kan bisa panggil nama nya saja? Or something? " tanya Freya menatap bingung.


"Belum terbiasa Ma, kak Steve juga bilang jangan panggil kakak lagi tapi Celine susah mau ubah nya Ma." jawab nya dengan jujur.


Mike tak mengatakan apapun lagi, ia tau saat ini pasti putra nya tengah panas ke ubun-ubun walaupun ia sedang memiliki hari yang cerah saat ini.


Pukul 05.45 pm


Pria yang baru saja turun dari bandara itu pun langsung ke mansion orang tua nya, ia tau betul di mana gadis nya saat ini dan tentu nya akan segera menjemput nya kembali.


"Kakak?" mata biru itu langsung bersinar melihat sang kakak yang masuk ke dalam mansion megah itu.


Ia pun langsung berlari ke arah pria itu dan memeluk nya dengan erat, "Celine kangen kakak, kak Steve kenapa lama sih sampai nya?" tanya nya dengan wajah cemberut namun begitu senang kini dapat menghirup aroma sang suami lagi.


"Kalau tau bakal kangen kenapa kamu pergi? Hm?" tanya pria itu yang lantang tanpa sadar mencengkram lengan gadis nya.


"Kak sakit..." ucap gadis itu lirih dan perlahan membuat cengkraman itu perlahan melonggar.


"Steve,"


Suara bariton rendah yang sangat ia kenali pun terdengar di telinga nya, seperti pertahanan refleks ia pun langsung menarik tangan istri kecil nya dan memeluk nya seperti takut di rebut oleh seseorang.


Mike hanya menarik napas nya sejenak sembari melihat ke arah putra nya yang ia rindukan.


"Papa tidak akan ambil Celine, jangan melihat dengan mata tajam seperti itu." ucap nya pada putra yang yang menatap dengan mata menusuk.


"Benarkah? Tiga tahun yang lalu kalian mau bunuh anak ku kan?" tanya nya dengan tajam dan dingin pada sang ayah.


Gadis itu tersentak, ia tak tau apapun dan hanya menatap ke arah sang kakak yang membuat nya bingung.


Ingin segera bertanya namun melihat hawa menekan dari suami nya membuat nyali nya hilang di udara dan tetap mencicit di pelukan pria itu.


"Papa tau, dulu Papa salah. Papa minta maaf untuk itu, tapi Papa juga seperti itu karna mau yang terbaik untuk kalian." ucap Mike pada putra nya.


Ia melirik sejenak ke arah putri sambung sekaligus naik status menjadi menantu nya.


"Celine? Mama kamu seperti nya memanggil, kamu temui dia." ucap nya yang ingin berbicara dengan putra nya dan tak mau pembicaraan yang mirip dengan pertengkaran itu membuat putri nya merasa tak nyaman.


Steve pun melihat sejenak ke arah wajah gelisah sang istri, ia pun menarik napas nya dan mengangguk kecil seakan memberikan izin gadis itu untuk menemui ibu nya.


"Sekarang kita bisa bicara?" tanya Mike yang sembari duduk di atas sofa lembut di ruang tengah itu.


Steve tak menjawab ataupun ikut duduk dan hanya menatap sang ayah dengan kesal.


"Waktu itu adik mu masih kecil, dia masih umur 17 tahun. Dia bahkan tidak tau apa yang kamu sudah kamu lakukan dengan nya."


Pria itu diam tak menjawab ucapan sang ayah sama sekali.


"Lalu? Membiarkan anak yang masih belum dewasa itu untuk hamil dan melahirkan? Kamu yakin bukan kamu yang egois dulu? Dia punya cita-cita, dia juga masih muda." ucap Mike menarik napas nya.


"Terus kamu yakin dia siap mental jadi seorang ibu? Kamu yakin kalau dia tidak melepaskan apapun untuk bisa sama kamu hanya karna kamu buat dia hamil?" tanya Mike lagi.


Deg!


Pria itu tak menjawab apapun, ia tau gadis itu sempat menjalani perawatan psikiater karna PPD dan juga hampir membunuh ke empat anak nya sekaligus tanpa sengaja, tak hanya itu ia pun tak lupa tentang impian yang harus di lepaskan gadis nya saat kesempatan emas datang karna tengah mengandung saat itu.


"Tapi kami baik-baik saja kan? Papa lihat dia sekarang kan?" tanya Steve sembari menatap sang ayah.


"Papa tau kamu mampu secara ekonomi dan juga kamu suka atau mungkin cinta? Tapi Papa sebagai orang tua kalian pasti tidak akan pikirkan dari segi kamu saja, kami juga harus memikirkan tentang Celine,"


"Dia masih kecil, masih punya impian dan kamu? Kamu yang harus nya lindungi dan jaga dia? Tapi malah kamu yang hamilin dia? Kamu yang patahkan impian dia, kamu sendiri yang bawa dia ke jalan yang lebih sulit." ucap Mike pada putra nya.


"Papa juga tau tindakan Papa dulu itu salah dan tidak di benarkan, tapi kami pikir dulu itu cara yang paling baik buat masa depan kamu, masa depan Celine." sambung pria itu.


Ia menatap ke arah putra nya yang diam tak membalas apapun perkataan nya, tubuh nya beranjak berdiri dan mendekat ke arah pria berusia 27 tahun itu.


"Tapi apapun itu, Papa harap kamu maafkan tindakan Papa dan Mama. Senang bisa melihat mu kembali nak..." ucap nya sembari perlahan memeluk putra nya.


Tak ada penolakan namun tak ada balasan juga dari pelukan hangat itu.


"Anak ku hampir mati Pa, karna Papa..." gumam nya lirih saat sang ayah memeluk nya.


Mike melepaskan pelukan nya dan menatap wajah yang datar itu, "Hampir? Berarti belum kan? Apa itu arti nya Papa punya cucu?" tanya nya pada putra nya.


"Celine tidak bilang apapun?" tanya Steve dengan bingung pada sang ayah.


"Tidak," jawab Mike mengernyit.

__ADS_1


Pria itu pun menoleh ke belakang dan tak melihat apapun.


"Mana?" tanya nya dengan bingung.


"Apa?" jawab singkat pria itu.


"Cucu Papa?" tanya Mike yang juga balik bertanya.


"Di New York," jawab Steve singkat.


"Apa?! Kamu tinggalin anak kecil?" tanya pria itu terkejut.


"Aku kan cuma tinggalin bukan niat matiin seperti Papa," jawab Steve menyindir. "Lagi pula mereka juga sama pengasuh." sambung nya lagi.


"Mereka? Cucu Papa ada dua?" tanya Mike menebak.


"Bukan dua, tapi empat." jawab pria itu pada sang ayah.


"Empat?! Tapi kan masih tiga tahun? Kau buat anak itu hamil setiap tahun?!" tanya Mike yang ingin sekali menggulung putra nya.


"Hamil setiap tahun apa? Kami saja baru tiga tahun! Anak nya yang kembar empat," jawab Steve yang berlalu menjemput sang istri dari ibu nya.


Sedangkan Mike masih terdiam mendengar nya, empat? Ia punya empat cucu yang tidak ia ketahui? Lalu apa itu adalah cucu yang sama dengan yang hampir ia gugurkan dulu?


Sementara itu kedua wanita yang terlihat tersenyum dengan tawa ringan itu pun terhenti ketika pria itu datang.


"Steve? Nak..." suara lirih yang terdengar lebih lembut dan rendah berbeda dengan suara sang istri yang lebih ceria dan manja.


Pria itu diam tak mengatakan apapun dan hanya melihat ke arah ibu sambung nya sekaligus satu-satu nya mertua yang ia punya.


Greb!


Seperti sebelum nya Freya pun langsung memeluk putra sambung nya itu, "Maaf..."


"Mamah minta maaf..." ucap nya lirih yang terdengar dengan suara yang serak dan tertahan.


Ia pun melepaskan pelukan nya secara perlahan, "Kamu pulang yah nak, tinggal di sini sama Mama sama Papa..." ucap nya pada putra sambungnya.


"Kami tidak bisa tinggal di sini," ucap Steve pada ibu sambung nya.


Karna walaupun ia kembali ke Paris ia tetap ingin memiliki rumah sendiri yang berbeda dari kedua orang tua nya.


"Iya, Mama tau kalian punya hidup yang baru sekarang, tapi setidaknya menginap sebulan sekali bisa kan nak?" tanya Freya dengan mata yang sendu.


"Harus bisa! Kamu juga harus bawa cucu Papa!" sahut pria berumur yang berwibawa itu pada putranya.


"Cucu? Cucu yang mana nak?" tanya Freya dengan bingung.


"Cucu yang mau kalian hilangkan," jawab Steve yang masih menyindir halus kedua orang tua nya.


Freya menunduk, ia merasa bersalah atas sindiran tersebut, "Sstt tidak apa-apa..." ucap Mike yang langsung mendekat ke arah sang istri dan memeluknya.


"Mereka masih ada kok, empat malah." ucap nya berbisik pada sang istri.


Freya langsung mengangkat wajah nya, "Empat? Celine punya empat anak nak?" tanyanya yang langsung menatap ke arah putrinya.


Gadis itu mengangguk, "Iya Mah, Celine hamil kembar empat waktu itu, mereka juga lucu Mah!" ucap nya bersemangat.


Steve tak bisa menolak mata yang penuh pengharapan itu, ia pun tak memiliki elakan untuk dapat menolak nya.


......................


3 Bulan kemudian.


Memindahkan pekerjaan nya membutuhkan waktu yang tak singkat namun ia sudah bisa sering berada di tempat kelahiran nya dan Steve pun tetap memilih untuk menetap di New York karna alasan pekerjaan dan karier nya yang ia bangun di sana.


Sedangkan perusahaan sang ayah? Mike yang tau putra nya keras kepala tentu nya tak bisa memaksa pria itu untuk menjadi pewaris nya.


Maka dari itu ia akan mengganti pewaris nya pada salah satu dari ke empat cucu nya yang masih kecil itu ketika akan beranjak dewasa.


"Cucu grandma pinter, mau ini nak?" tanya Freya yang terlihat begitu senang bermain dengan ke empat makhluk menggemaskan itu.


"Manann,"


"Glanma mau tutu, Key auss..."


"Ley au e lim!"


"Glanma? Glanpa ana? Au endong glanpa..."


Wanita itu sedikit bingung dengan ucapan yang masih belum fasih itu apalagi anak-anak menggemakan itu tak menggunakan bahasa Prancis sama sekali.


Ia tersenyum melihat dengan lembut, "Fey mau mainan? Key mau susu nak? Rey kan gak boleh makan es krim sayang, Ken nanti Grandma bawa ke Grandpa yah nak..." ucap nya yang mengetahui apa yang di katakan cucu-cucu nya walaupun tak jelas.


"Glanpa?" ucap Ken menunjuk ke arah sang kakek dan berjalan mendekati pria itu.


Hup!


Mike langsung mengangkat nya dan menggendong nya, "Kenapa? Semangat sekali?" tanya nya dengan gemas pada anak bermata hijau seperti ia dan putra nya itu.


"Tadi mau di gendong sama GrandPa nya." ucap Freya tertawa kecil.


"Pinter nya cucu grandpa!" ucap Mike dengan gemas dan langsung menciumi gemas cucu nya itu hingga membuat Ken merasa risih.


Ke empat cucu menggemaskan itu kini berada di Prancis walaupun kedua orang tua nya berada di New York.


"Dua hari lagi Steve dan Celine datang kan?" tanya Freya yang terlihat senang namun dengan raut yang sedikit sedih.


"Apa kita suruh mereka ke sini Minggu depan saja?" tanya Mike yang tau jika alasan sang istri sedih karna tau cucu-cucu nya akan di bawa kembali ke New York.


"Mama kan masih mau main sama mereka..." jawab nya yang tak mengiyakan namun sudah jelas ia ingin tetap bermain dengan cucu-cucu nya yang baru beberapa bulan ia temui.


"Iya, nanti Papa coba bilang sama mereka." jawab Mike tersenyum yang senang melihat semnagat sang istri kembali.


......................


New York


Apart.


Gadis itu berulang kali menghembuskan napas nya dengan kasar karna merasa sunyi saat ke empat putra nya berada di Prancis.

__ADS_1


Kelulusan nya pun sudah semakin dekat dan hanya hitungan hari ia akan melaksanakan wisuda nya.


"Kak? Nanti Celine kalau kerja jadi sekretaris kakak? Atau Celine jadi sekertaris Papa aja yah kak di Prancis?" tanya nya pada pria yang tengah membuat sarapan untuk nya.


"Kerja? Memang nya aku kasih kamu izin?" tanya Steve mengernyit sembari meletakkan makanan ke atas meja.


"Terus Celine kuliah buat apa kak?" tanya gadis itu berdecak.


"Kamu kuliah buat diri kamu sendiri tapi kakak gak mau kamu kerja sayang..." ucap nya sembari mencium pipi gadis nya.


"Aku bisa kok penuhi kebutuhan kamu apapun itu, kebutuhan anak-anak kita juga. Kakak itu mau nya kamu cuma fokus sama aku sama anak-anak kita." ucap nya pada gadis nya.


"Tapi kan Celine ma-"


Hoek!


Perut yang sering terasa bergejolak kini semakin menjadi,gadis itu pun langsung berlari ke arah wastafel dan memuntahkan isi perut nya walaupun belum sempat di isi makanan.


"Kamu sakit? Kita cek yah?" tanya Steve yang langsung menyusul ke arah sang istri.


......................


Rumah sakit.


"Hamil?!" mata biru itu membelalak mendengar nya.


"Benar nona," jawab sang dokter pada gadis yang terkejut itu.


Duk!


"Kan! Kakak!" ucap nya yang langsung memukul di tempat ke arah bahu suami nya.


"Celine bilang kan apa!" ucap nya pada pria itu.


"Memang nya kamu bilang apa?" tanya pria itu yang malah senang karna punya alasan lain mencegah sang istri untuk bekerja.


"Celine bilang kan waktu itu kalau obat Celine habis! Kakak keluarin tetap di dalam sih?!" ucap nya pada sang kakak.


Pria itu hanya tersenyum tipis, ia mendekat ke arah telinga gadis nya, "Kamu tau sendiri kan? Mana bisa aku tahan kalau sama kamu..." bisik nya menggoda gadis itu walaupun masih di lihat oleh sang dokter.


...


Steve pun memberitahukan jika gadis nya hamil dengan usia kandungan dua Minggu dan mengatakan tak bisa menjemput anak-anak nya untuk sementara maka dari itu ia mengatakan akan ada orang yang ia kirim untuk menjemput ke empat putra nya yang tengah berada di beda negara itu.


Dan tentu nya hal itu langsung di tolak oleh Mike maupun Freya yang masih ingin berada bersama cucu-cucunya.


"Kak? Mama Papa gak mau mereka di bawa pulang yah?" tebak Celine pada sang suami.


Steve mengangguk, "Celine? Kamu bisa tidak panggil nya jangan kakak? Tapi sayang atau nama saja? Nanti orang lain ngira kamu itu adik ku bukan istri ku." ucap nya pada gadis itu.


Celine mengangguk kecil, ia sering mendengar sang kakak menyuruh nya mengganti panggilan namun ia belum terbiasa.


"Kak? Celine gak mau pulang kak..." ucap nya lirih pada pria itu.


"Terus mau ke mana?" tanya Steve pada gadis nya.


"Terserah kakak," jawab gadis itu singkat.


Pria itu pun melihat jam tangan nya, ia pun memilih untuk membawa gadis nya ke villa yang baru ia beli saat ia tau ia memiliki waktu yang cukup untuk kesana.


...


Deruan angin yang lembut itu bertipe melewati wajah cantik gadis yang berdiri di balkon lantai dua kamar nya.


"Kamu suka?" tanya Steve yang mendekat sembari beranjak memeluk dari belakang ke gadis itu.


"Suka kak," jawab nya lirih.


"Anak Daddy suka juga tidak?" tanya nya sembari mengusap perut rata itu dari belakang.


"Kakak kenapa suka banget sih buat aku hamil?" tanya Celine mengernyit saat merasakan usapan tangan sang kakak.


"Sayang bukan kakak..." ucap nya merevisi panggilan sang istri.


"Aku itu kan suka sama kamu, jadi wajarlah kamu yang hamil kalau misal nya aku suka hamilin wanita lain baru gak wajar sayang..." ucap nya pada gadis itu sembari memeluk gemas dari belakang.


"Celine kangen Key, Rey, Fey sama Ken kak..." ucap nya lirih.


"Tapi kakak juga kangen kita yang berdua gini? Sekali-kali kak ada waktu buat kita? Hm?" tanya pria itu tersenyum pada gadis nya sembari membalik tubuh gadis itu.


"Celine?" panggil nya lirih.


"Hm?" gadis itu menoleh sembari menatap ke arah sang kakak.


"Listen to me," ucap nya berbisik mendekat, "I love you..." sambung nya berbisik.


Senyuman tipis terutas di bibir gadis itu, ia pun mendekat dan mengikuti arah yang sama seperti sang kakak dengan cara menarik pundak pria itu ke bawah sedikit.


"Love you too," balas nya dengan senyuman pada pria itu.


Steve melihat dengan gemas dan beranjak memangut bibir merah muda gadis nya.


....


Aku seperti menemukan sesuatu yang hilang...


Sesuatu yang aku sendiri pun tak tau apa itu...


Tapi aku saat aku bertemu dengan mu, rasa nya seperti menemukan sesuatu yang bahkan tidak ku ketahui...


Aku mencintai mu...


Sekarang...


Nanti...


Atau pun di masa depan...


Dan jika masa depan memang ada, aku akan menemukan mu lagi...


^^^~Steve Goerge Evans^^^

__ADS_1


__ADS_2