
Iris hijau itu mulai terbuka perlahan, suara yang suara monitoring yang sedari tadi berbunyi pun perlahan mereka.
Cahaya yang mulai menangkap iris itu terlihat hingga suara yang terdengar pertama kali di telinga nya ketika bangun.
"Dia sadar!"
Entah siapa yang mengucapkan nya, wanita itu tak tau. Namun yang ia tau pasti adalah pandangan mengabur di depan nya.
Apa yang terjadi?
Kenapa mereka mengelilingi ku?
Seperti nya aku melupakan sesuatu? Tapi apa itu?
Mata nya masih terasa ingin kembali terpejam walaupun ia tak mengantuk, namun beberapa orang seperti tengah mengajak nya berbicara secara terus menerus.
...
2 Hari kemudian.
Axel menunggu di samping wanita yang kini tertidur itu, walaupun sempat tersadar sebelum nya namun kondisi nya masih begitu lemah hingga belum mampu untuk berinteraksi atau berbicara.
"Mommy? Mommy ngantuk telus? Padahal Axel nunggu Mommy bangun loh," ucap anak menggemaskan itu pada sang ibu.
Mata yang tadi nya tertutup kini kembali terbuka perlahan.
"Mommy? Mommy uda bangun? Bangun Mom! udah siang nih!" ucap Axel bersemangat ketika sang ibu membuka mata.
Bagi nya kini hanya tinggal menunggu ayah kesayangan nya kembali dan setelah itu mereka bisa berkumpul bersama lagi.
Axel? Apa ini nyata?
Aku ingin memeluk nya...
Wanita itu tak bisa bergerak sama sekali namun ia sangat itu memeluk pangeran kecil kesayangan nya.
Tubuh dan suara nya seperti tengah tertahan hingga membuat nya seakan lumpuh. Namun kali ini ia sudah bisa menggerakkan nya perlahan.
Iris hijau nya hanya diam memandang ke arah wajah putra nya yang menatap nya dengan berbinar.
Ia rindu pada putra nya bahkan sangat ingin mendekap nya walaupun tubuh nya masih belum bisa bergerak dengan normal dan sempurna.
"Mommy nangis? Kenapa nangis?" tanya Axel heran sembari mengusap air mata ibu nya yang jatuh saat memandang nya.
Tangan mungil nya pun mendekat dan menghapus air mata wanita itu.
"Jangan nangis Mom, udah besal kok nangis?" ucap nya dengan polos dan wajah yang tampak berseri karna melihat sang ibu yang telah sadar.
...
Hari demi hari mulai terlewati, kini Ainsley uang masih dalam masa perawatan pasca operasi pun mulai membaik dan menunjukkan hasil.
Perlahan wanita cantik itu mulai menyadari jika orang-orang yang datang pada nya berkurang.
"Dia di mana Mah?" tanya nya pada Clarinda saat membantu perawatan nya.
"Siapa?" tanya Clarinda yang membuka kursi roda wanita itu dan di bantu perawat lain nya.
"Richard," jawab Ainsley lirih.
"Sedang ada urusan, yang penting kamu sehat dulu yah." ucap Clarinda pada putri nya walaupun ia sempat terkejut sebelum nya.
Ainsley pun tak lagi bertanya, ia juga memilih bungkam atas ketidakhadiran pria itu.
"Mommy!"
Suara yang membuat nya kembali tersenyum, menyapu bersih pikiran negatif nya dan hanya melihat ke arah suara yang mampu menenangkan kegelisahan nya.
"Hey? Jangan lari-lari nak, nanti jatuh..." ucap Ainsley dengan lembut pada putra nya yang mendekat dengan beberapa bunga yang selalu di petik nya.
"Axel seneng Mommy udah bangun, kalau Daddy tau pasti bakal lebih seneng lagi!" ucap nya tersenyum pada sang ibu.
"Mah aku sama Axel aja dulu di sini," ucap Ainsley yang meminta agar ibu angkat nya itu tak menunggu nya dan bisa melakukan aktifitas lain nya.
"Beneran? Mamah tinggal dulu yah, ada urusan." ucap Clarinda yang berhubungan memang ada yang harus ia kerjakan.
"Nanti kamu panggil perawat kalau misal nya ada sesuatu yah? Atau telpon Mamah juga bisa." ucap Clarinda sebelum pergi.
Ainsley mengangguk dengan senyum nya menatap sang ibu dan beranjak pergi.
Axel melihat sang ibu yang masih duduk di kursi roda kalau belum terbiasa dengan kondisi tubuh nya.
"Kenapa? Axel kok liatin Mommy terus nak?" tanya Ainsley sembari mengelus lembut rambut putra nya.
"Axel mau di pangku Mommy," jawab nya dengan polos yang merindukan pangkuan sang ibu.
Ainsley pun tersenyum, ia pun dengan senang hati menuruti permintaan putra nya walau kondisi tubuh nya masih belum maksimal.
__ADS_1
"Mom?" panggil bocah menggemaskan itu saat di pangkuan sang ibu.
"Yes, Love?" jawab Ainsley sembari melihat putra nya.
"Daddy kapan balik dari langit yah? Axel kangen Daddy..." ucap nya lirih dengan wajah lesu.
Dulu saat sang ibu tak sadar ia selalu merindukan wanita itu dan bersama dengan ayah nya.
Namun kini sang ayah bahkan tak terlihat sama sekali.
"Langit? Memang nya Daddy mau ngapain ke langit?" tanya Ainsley yang kebingungan mendengar nya.
"Kata nya mau jemput adik Axel. Tapi sampai sekalang gak balik telus..."
"Axel kan udah kangen Daddy, Daddy gak kangen Axel apa?" tanya nya sendu pada sang ibu.
Sedangkan Ainsley masih terheran mendengar nya, ia tak tau apapun semenjak ia sadar dan masih belum ada satupun yang memberi tau nya.
"Mungkin Daddy lagi sibuk sayang," ucap nya pada putra nya.
Bagi nya pertanyaan yang membingungkan itu hanya ucapan dari seorang anak kecil yang bingung mencari keberadaan sang ayah.
"Mommy gak akan pelgi sama Paman Sean lagi kan?" tanya Axel tiba-tiba pada Ainsley.
Kali ini Ainsley pun bingung lagi mendengar nya.
Sejak kapan ia pergi dengan Sean?
"Kapan Mommy pergi sama paman Sean nak? Mommy gak pernah kemana-mana," ucap nya pada putra nya.
"Bohong! Axel tau kok Mommy itu sama paman Sean telus ninggalin Axel sama Daddy! Makanya Mommy gak pelnah dateng waktu Axel sakit!" bantah Axel seketika karna yang ia tau sang ibu pergi dengan pria lain.
Wajah cantik itu tampak bingung dan mengernyit.
"Siapa yang bilang Axel? Mommy itu juga mau nya lihat Axel." tanya Ainsley yang kebingungan.
"Daddy yang bilang! Padahal Mommy janji gak bakal tinggalin Axel tapi malah ninggalin sama lupa Axel,"
"Axel tuh sedih Mom, Daddy juga sedih..." ucap nya luruh pada sang ibu.
Ainsley diam sejenak, putra kecil nya mengatakan jika sang ayah yang membuat cerita seperti ia yang pergi dengan pria lain walau sebenarnya pria itu lah yang tak membiarkan nya menemui putra nya.
"Paman Sean jahat! Axel benci paman Sean! Dia buat Mommy sakit, buat Mommy tinggalin sama lupain Axel! Buat Daddy sedih!" sambung nya lagi yang penuh dengan sorot mata benci saat mengatakan nama pria itu.
Ainsley diam sejenak melihat nya, ia bahkan tak tau putra nya yang polos dan baik itu bisa memberikan sorot penuh amarah.
Ia tak mau anak nya tumbuh dengan membangun kebencian pada orang lain, ia ingin putra nya tumbuh dengan penuh kasih sayang dan menjadi pria yang lembut nanti nya.
"Kalau baik kenapa buat Mommy tinggalin Axel sama Daddy dulu?" tanya nya seketika.
"Mommy gak pernah tinggalin Axel atau Daddy," jawab Ainsley pada putra nya sembari mengelus kepala anak menggemaskan itu.
"Bohong! Kalau Mommy gak ninggalin Axel kenapa Mommy gak pelnah dateng waktu Axel sakit? Axel kan selalu nungguin Mommy!" sanggah nya seketika.
Ainsley diam sejenak mendengar nya, walaupun ia tau dan bisa mengatakan yang sebenarnya namun ia memilih diam karna tak ingin Axel memandang ataupun berpikir buruk tentang ayah nya.
"Maaf yah, Mommy salah. Lain kali Mommy janji bakalan ada 24 jam buat Axel, hm?" ucap Ainsley yang memilih tak mengatakan apapun tentang apa yang terjadi.
"Huh! Axel malah sama Mommy!" ucap nya dengan wajah yang cemberut dan pipi yang menggembung.
"Jadi Axel bakalan gak mau sama Mommy nih?" tanya Ainsley pada putra nya.
"Tapi kalna Mommy udah bangun Axel maafin deh, tapi janji halus buat cake yang banyak buat Axel sama Daddy nanti yah? Oh iya sama adik Axel juga!" ucap nya pada sang ibu.
"Iya sayang," jawab Ainsley memberikan senyum nya.
...
Mentari yang mulai terbenam memberikan cahaya yang mulai meredup dan mengganti nya dengan sinar bulan.
Malam yang semakin meninggi namun tak membuat wanita itu tertidur walau putra kecil nya sudah terlelap.
"Anda masih belum tidur?" tanya seorang pria membuat nya mengalihkan pandangan nya.
"Belum, aku kan sudah bilang ada yang ingi ku tanyakan." jawab Ainsley pada Liam saat pria itu datang.
"Maaf atas keterlambatan saya," ucap Liam sembari menunduk.
"Tidak apa-apa," jawab Ainsley sembari mengelus putra nya.
"Ini sudah hampir seminggu lebih, Dia kemana?" tanya nya pada pria yang menjadi bawahan suami nya.
Liam diam sejenak mendengar nya, alasan ia dan lain nya masih memberi tau tentang kematian pria itu karna dr. Terry mengatakan untuk menahan semua berita buruk sampai wanita itu beradaptasi dengan jantung nya dengan baik.
"Tuan masih ada urusan, anda akan mengetahui nan-"
"Dia punya wanita lain?" tanya Ainsley memotong ucapan pria itu.
__ADS_1
Putra kecil nya selalu mengatakan tentang adik yang bahkan ia sendiri tak tau. Awal nya ia mengabaikan nya namun pria kecil itu terus berbicara akan bermain dengan adik nya saat sang ayah sudah kembali.
Liam langsung terkejut mendengar nya, ia tak mengerti kenapa istri tuan nya memikirkan hal tersebut.
"Apa yang membuat nyonya berpikir seperti itu?" tanya Liam mengernyit.
"Mungkin saja kan? Dia bisa bosan dengan ku? Dan..."
"Mungkin dia mau membalas ku? Dia selalu berpikir aku selingkuh kan?" jawab Ainsley pada pria itu.
Liam diam sejenak, ia tau yang di katakan oleh wanita di depan nya masuk akal.
"Tapi anda juga tidak percaya kalau dia mencintai anda kan?" tanya nya pada wanita itu.
"Mencintai ku?" gumam Ainsley sembari mengingat ingatan terakhir nya bersama sang suami.
Mata dan wajah yang dingin tanpa ekspresi, sikap yang mengabaikan nya dan juga membuat nya terluka setiap saat.
"Apa karna itu dia menyelamat kan ku? Padahal aku berniat untuk mati?" tanya Ainsley dengan suara bergetar.
Tangan pria itu mengepal mendengar nya, ia tak mengerti kenapa wanita di depan nya mencoba bunuh diri.
Dan akhir dari semua itu membuat ia kehilangan tuan nya.
"Nyonya!" ucap nya yang langsung meninggikan suara nya.
Ainsley tersentak, ia pun langsung melihat putra nya, dan untung nya suara itu tak membuat anak nya bangun.
Axel yang tertidur pulas karna lelah bermain dengan sang ibu karna ia bersemangat setelah lama tak bersama dengan ibu nya.
"Karna sikap gegabah anda itu-" ucap Luka yang terdiam dan tak melanjutkan lagi ucapan nya.
"Anda tau apa yang terjadi karna pilihan anda?" tanya nya yang menahan informasi nya.
Ainsley diam dan menatap ke arah pria itu.
"Kenapa memilih melakukan tindakan bodoh seperti itu? Memang nya apa yang akan anda dapatkan dengan mencoba mati?" tanya nya yang tak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu.
Ainsley diam sejenak, awal nya ia menatap datar namun perlahan senyuman tipis terlihat di wajah nya.
"Kau pikir aku mencoba bunuh diri karna benar-benar ingin mati?" tanya nya pada pria itu saat membuka suara nya.
Liam semakin memanas, tangan nya mengepal mendengar nya, kini ia berpikir jika wanita itu hanya sedang bermain lelucon yang berbahaya dan pada akhirnya membuat nyawa tuan nya yang menggantikan nya.
"Lalu kenapa anda melakukan tindakan bodoh itu?!" tanya nya yang sejenak lupa akan sopan santun pada wanita yang sangat di cintai tuan nya.
Wajah yang tersenyum tipis itu memberikan sorot yang kosong dan tampak masih belum bisa menyembuhkan luka di hati yang bahkan kini mulai terasa hambar saat ia terbiasa dengan luka nya.
"Karna aku ingin hidup, aku melakukan nya bukan untuk mati tapi karna aku ingin hidup..." jawab nya lirih.
Liam semakin tak mengerti begitu mendengar nya.
Ingin hidup?
Jika ingin hidup kenapa bunuh diri?
Itu lah yang menjadi pertanyaan utama di kepala nya.
"Jika anda ingin hidup seharusnya anda tid-"
"Tapi sekeras apapun aku mencoba nya, aku tidak bisa bernapas..." potong Ainsley seketika.
"Padahal tidak ada yang mencekik ku, tidak ada menutup hidung ku tapi aku masih tidak bisa bernapas sama sekali,"
"Aku merasa sakit, dan merasa seperti benar-benar tersiksa..."
"Padahal aku tidak terluka, aku ingin bebas. Aku ingin bisa kembali bernapas, aku tidak ingin sakit lagi, aku ingin hidup..."
ucap wanita itu dengan suara bergetar, bahkan sampai sekarang pun ia terkadang masih merasakan nya.
Mungkin bagi orang lain masalah psikologis adalah yang enteng namun, tak tau jika hal tersebut sangat berbahaya.
Seberapa banyak jiwa nya yang telah hancur, seberapa dalam depresi yang menumpuk dan seberapa luka yang telah tertoleh dalam hati nya.
Tak ada yang tau karna semua orang seakan mengabaikan luka nya dan hanya melihat luka diri sendiri.
Liam masih diam, ia tak begitu mengerti dengan emosi ataupun psikologis seseorang yang telah hancur.
"Kau pasti tidak akan mengerti, dan aku harap kau tidak akan tau rasa nya seperti apa..." ucap Ainsley tersenyum namun memberikan sorot yang tak bisa di artikan.
Air mata nya luruh, dada nya kembali sakit ketika ia merasakan ledakan emosi yang membuat nya kembali terluka.
Ia tak ingin ada orang lain lagi yang merasakan apa yang ia rasakan.
Terluka, Putus asa, Kehilangan harapan, dan mungkin kehilangan diri nya sendiri.
Sesuatu yang benar-benar membuat nya merasa seperti hilang akal dan tak mampu berpikir dengan jernih.
__ADS_1