
Villa Zinchanko.
Richard membawa Ainsley ke villa milik nya yang terdekat dan langsung menempatkan tubuh lunglai gadis itu ke kamar nya.
"Panggil dokter dan priksa dia," ucap Richard kepada pelayan di villa nya tersebut.
Setelah menjalani pemeriksaan, dan benar saja apa yang ia firasatkan bahwa gadis itu di berikan campuran narkotika dalam suntikan nya.
Kokain yang di berikan tidak dalam jumlah besar sehingga masih dapat di tangani dengan segera dan tak membuat Ainsley menjadi seorang pecandu.
...
Pukul 08.45 pm.
"Kau sudah cari tau yang ku minta?" tanya Richard pada Liam saat bawahan nya itu membawakan laporan nya.
"Sudah tuan," jawab Liam sembari memberikan data nya.
Pria itu tersentak sejenak saat melihat beberapa bekas kecupan di leher tuan nya saat menyerahkan laporan yang di minta.
Richard pun membuka isi nya dan melihat semua keterangan termasuk prilaku buruk pria itu.
"Cacat?" gumam nya sembari melihat beberapa kasus yang ikut serta di keterangan milik Danny.
Ia melihat salah satu catatan bahwa pria itu membuat pasangan ranjang nya mengalami kecacatan karna perlakuan nya yang suka menyiksa saat melakukan hubungan tersebut.
"Pantas saja dia mencampur kokain..." gumam nya saat membaca laporan di depan nya.
"Sekarang apa yang akan tuan lakukan?" tanya Liam pada tuan nya tersebut.
"Buat dia mati karna overdosis," ucap Richard ringan dan berlalu pergi ke kamar Ainsley.
"Baik tuan," jawab Liam patuh dan melaksanakan apa yang di perintahkan tuan nya.
...
Mata nya tertuju pada gadis yang masih memejam dan wajah yang terlihat letih, ia juga melihat beberapa bekas memar akibat ulah nya yang menghisap dan menciumi tubuh gadis itu.
"Pantas saja dia memberi mu kokain," ucap nya sembari mengelus pipi lembut gadis itu.
"Dia akan mati, jadi kau tak akan melihat nya lagi. Kau senang kan?" sambung Richard sembari mencium kening dan pipi gadis itu berulang kali.
......................
Mansion Sean.
__ADS_1
Tubuh pria itu berkeringat, ia memukul dengan kuat samsak di depan nya tanpa henti.
Hanya dengan cara itulah ia meluapkan emosi nya, ia pun terjatuh ke atas matras empuk di ruangan gym tersebut dengan nafas yang terengah-engah saat kaki nya mulai goyah akibat kelelahan.
Pria itu tertawa namun lebih seperti tangisan, ia melepas sarung tinju nya dan mengusap rambut nya.
Meletakkan siku tangan ke dahi nya dan menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Aku seperti monster, ku mohon...
Jangan beri aku tatapan itu...
Jangan kau..." gumam nya lirih sembari mengingat tatapan mata gadis nya yang memberi pandangan menusuk.
"Ainsley...
Aku merindukan mu...
Peluk aku saat ini..." gumam nya sembari mulai meringkuk seperti anak kecil yang kedinginan.
Ia memang butuh dukungan saat ini, terutama dari gadis nya yang membuatnya bisa berharap lagi pada seseorang dan melelehkan hati nya yang sudah memandang jika seluruh dunia tak adil.
"Kau sudah janji tak akan meninggalkan ku, jangan jadi pembohong seperti dia..." ucap nya sembari memejam.
Tanpa sadar satu bulir bening terjatuh di mata nya, ia ingat saat dulu sebelum melihat kematian sang ibu, wanita itu berjanji akan menemani nya hingga dewasa.
Rencana yang menyenangkan, tiket, penginapan semua sudah di persiapkan. Namun sehari sebelum semua itu berlangsung sang ibu sudah terbujur kaku di seutas tali tipis.
Maka dari itu hati kecil nya percaya jika kematian ibu nya tak sesederhana yang terlihat, tak mungkin wanita yang membuat rencana liburan dengan putra nya begitu matang namun tiba-tiba melakukan bunuh diri.
Dan itu semua berbekas pada diri pria itu hingga saat ini, hingga ia memiliki wanita yang ia cintai untuk pertama kali nya.
Wanita yang ingin ia bawa untuk hidup dengan nya dan melengkapi semua yang hilang dari hidup nya. Ia tak tau bagaimana cara yang benar agar mempertahankan wanita itu.
Karna rasa takut akan di tinggalkan lebih besar dari pada rasional nya.
......................
Villa Zinchanko.
Pukul 7.12 am.
Ainsley mulai terbangun dengan membuka mata nya dengan nya sayup, ia merasa pegal di seluruh tubuh nya dan mulai menyadari jika ia sudah mengenakan pakaian yang berbeda.
"Aku dimana?" gumam nya sembari memegang kepala nya yang terasa sakit.
__ADS_1
Ia masih belum mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam karna masih butuh memproses semua peristiwa yang terjadi hingga.
Deg!
Bola mata nya membulat, ia tak mengingat semua dengan jelas namun ia ingat garis besar nya, termasuk ia yang tiba-tiba di berikan suntikan lalu di tolong oleh Sean dan berakhir melakukan hubungan dalam dengan Richard di dalam mobil.
"A-apa yang ku lakukan?" gumam nya terkejut sembari meremas rambutnya.
Potongan ingatan nya berputar saat ia bergerak dengan sangat menikmati di atas pangkuan pria itu serta semua adegan dewasa yang menghantui nya lalu mulai terbesit rasa bersalah karna mendorong Sean dan menyuruhnya pergi.
Apa aku harus menelpon nya? Tapi aku...
Aku tidak pantas...
Batin Ainsley sembari meremas selimut yang sedang menghangatkan tubuh nya.
Sejenak ia melupakan masalah di mana ia saat ini, dan kembali tersadar.
Gadis itu pun dengan perlahan turun dari ranjang nya dan membuka pintu kamar tersebut.
Tidak terkunci.
Ia pun melangkah keluar dengan pelan dan menatap tempat mewah dan megah itu, hingga mata nya melirik dan menyipit saat melihat pria yang dulu ia lihat saat di culik.
"Di-dia!" ucap nya terbelalak sembari menutup mulut dengan tangan kecil nya secara refleks.
Ia pun mengendap dan mengikuti langkah pria yang tak ia ketahui nama nya itu.
"Tuan saya sudah melakukan perintah tuan," ucap setelah melaksanakan apa yang di minta tuan nya.
"Anak itu, mungkin akan jadi penghalang untuk ku. Apa menurutmu dia juga harus di singkirkan?" tanya Richard sembari memikirkan pria yang menjadi kekasih Ainsley tanpa ia tau jika hubungan keduanya sudah kandas.
"Anak itu?" tanya Liam bingung dengan mengernyitkan dahi nya.
"Nama nya Sean kan? Kalau aku tak bisa menjadikan nya rekan lebih baik dia juga mati saja," jawab Richard karna tak ingin memiliki penghalang dalam hubungan yang ingin ia rajut.
Deg!
Ainsley terperanjat, ia memang menipu dirinya sendiri dengan berusaha percaya jika 'Paman' dan 'Penculik bertopeng' adalah orang yang berbeda namun dengan semua hal yang jelas di depan mata nya membuat nya tak bisa membohongi dirinya lagi.
Ini tidak nyata kan? Aku sedang bermimpi...
Batin nya dengan begitu terkejut akan semua yang ia dengar.
Sean...
__ADS_1
Tidak boleh Sean...