Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Axel...


__ADS_3

Giethoorn, Overijssel


Bruk!


Tubuh gadis itu terhempas di ranjang yang empuk, kali ini tak lagi berada lagi di hotel melainkan tempat yang menampilkan pemandangan yang membuat mata wanita itu di manja.


"Tidak mau..." tolak nya sembari mendorong dada bidang pria yang tengah menindih dan mencium leher jenjang nya.


Tak ada jawaban, hanya hembusan napas menggelitik yang menyentuh leher jenjang nya.dan membuat nya merasa geli.


Tangan yang mulai di tahan saat pria itu mulai merasa terganggu dengan sesuatu yang terus berusaha menyingkirkan tubuh nya.


"Kenapa? Aku kan juga ingin ke suatu tempat." ucap pria itu yang seakan dari tadi ada tempat tujuan yang ia inginkan.


"Terus? Kenapa sekarang di sini? Kan masih jam 7! Masih bisa ke cafe dulu," jawab Ainsley mengernyit.


Senyuman simpul terulas di wajah pria tampan itu, tak ada lagi bantahan namun ia mendekat dan menautkan bibir nya pada bibir yang terasa lembut di bawah kungkungan nya saat ini.


Humph!


Tangan putih yang kecil itu menggeliat memberontak, bukan nya tak ingin melayani suami nya namun ia masih ingin bermain keluar karna malam belum larut.


"Sekali saja setelah itu kita keluar," bisik pria itu dengan smirk dan meniup telinga gadis itu.


"Tidak mau, nanti kelelahan..." ucap nya lirih sembari berusaha mengelak.


"Sebentar saja, Hm?" ucap nya sembari memberikan kecupan yang meninggalkan bekas di leher wanita itu.


"Tidak mau, kita ke cafe dulu..." ucap nya yang kukuh dan semakin berusaha menghindar dari sentuhan pria yang sudah menjadi suami nya saat ini.


Richard membuang napas nya dengan kesal, dan bangun dari tubuh sang istri. Ia berjalan ke arah lain membuka barang-barang yang tadi ia beli saat mengunjugi beberapa toko.


"Paman sed- ungh!"


Sreg!


Dalam sekejam sesuatu yang melekat di privasi nya tertarik membuat ucapan nya terhenti saat ia merasakan sesuatu yang panas dan hangat.


Pinggang ramping nya tak bisa bergerak sama sekali, terkunci saat tangan kekar itu memegang nya dengan erat.


"Sudah cukup," ucap nya lirih saat ia merasa sudah cukup memanaskan tubuh kecil itu sedikit.


Ugh!


Ainsley tersentak, ia merasa seperti ada yang mengganjal dan memasuki nya namun pria itu pun bangun dengan smirk nya.


"Ayo, kau bilang mau ke cafe kan?" ucap nya yang tersenyum seperti tak terjadi apapun.


"Itu apa?" tanya nya sembari berusaha meraba dan melepas nya.


"Jangan di lepas, kalau kau lepaskan akan ku buat kaki mu tidak bisa melangkah dari sini." ucap nya sembari menunjuk ranjang di mana wanita itu tertidur.


"Tapi risih," ucap Ainsley lirih yang terlihat tak nyaman karna di setiap gerak nya benda tersebut seakan menggelitik nya.

__ADS_1


Ia pun bangun, namun masih sama. Ia masih merasa tak nyaman dan asing.


"Jangan terlalu banyak bergerak, sekarang pakai ini." ucap Richard sembari memasangkan kembali apa yang sudah ia lepas.


"Aku tidak mau! Tidak suka!" ucap nya yang sembari ingin langsung melepaskan sesuatu yang mengganjal di dalam tubuh nya.


Greb!


Richard menahan tangan kecil itu lalu memandang nya tajam, "Jangan menguji kesabaran ku lagi,"


Ainsley tersentak, ia terkejut melihat tatapan dingin dan datar ke arah nya, aura yang membuat nya tak dapat bernapas.


Richard tersenyum melihat wajah takut dan ragu istri nya yang tak jadi melepaskan apa yang membuat wanita bertubuh mungil itu.


....


Cafe.


Tubuh kecil itu menggeliat saat duduk, ia merasa ada yang bergerak dan membuat nya merasa tak nyaman sekaligus sembari merasakan hal lain yang membuat nya seakan geli sekaligus.


"Kenapa tidak boleh di lepas?" tanya nya sembari menoleh ke arah pria itu.


"Itu hukuman karna kau nakal," bisik Richard di telinga wanita itu.


Ia merasa kesal dan ingin gadis itu merasakan hal yang sama juga, tangan nya mengusap paha putih yang lembut itu sembari menyibak rok pendek yang di kenakan Ainsley.


"Kita masih di cafe!" ucap Ainsley yang langsung menepis tangan yang mengelus nya.


"Kau tau kenapa aku pilih di sini?" bisik pria itu sembari mengecup telinga Ainsley.


"Ssh!" desis nya lirih saat pria itu mengganggu nya di balik meja dengan tangan nya.


"Tu-tunggu!" ucap nya sembari menahan tangan pria itu.


"Sekarang tau kan rasanya? Bagaimana rasa menahan nya," bisik pria itu dengan senyuman nya sembari melihat wajah sayu yang tengah menahan tersebut.


Ainsley tak menjawab ia hanya terus meremas kemeja lengan panjang pria itu saja.


"Kita kembali?" tanya nya singkat sembari berhenti menggelitik istri nya.


Ainsley mengangguk dan kini mengikuti kemauan pria itu.


......................


Mansion Zinchanko.


Bayi mungil yang rapuh dan menggemaskan itu tengah tertidur pulas, hari ini ia berjemur di bawah sinar mentari hangat pagi hari.


Pengasuh wanita yang berada di samping nya melihat bayi kecil itu menggeliat dan mulai terbangun.


"Tuan Axel bangun? Aduh kangen Mommy nya?" tanya nya sembari menggendong bayi mungil yang langsung terisak berbanding terbalik dengan beberapa menit sebelum nya yang sangat tenang.


Tak ada yang bisa menghentikan tangis nya, ia pun berinisiatif menggendong nya dan membawa nya jalan-jalan ke sekitar mansion megah itu namun tak bisa menghentikan tangisan kencang nya.

__ADS_1


"Apa ku bawa keluar mansion saja?" gumam nya lirih sembari menggendong tuan muda nya yang masih sangat kecil itu keluar.


"Iya, di juga pasti bosan kan?" gumam nya yang hanya mempercayai apa yang ada di pikiran nya.


Beberapa pengawal pun sempat menanyainya mengapa ia ingin keluar mansion namun ia mengatakan sesuatu yang terlihat menyakinkan.


Ia memang masih muda, ia bahkan mendapat pekerjaan di situ karna rekomendasi saudara yang berkerja sebagai pengawal di mansion megah itu.


Walaupun ia sangat tertekan saat berhadapan dengan tuan pemilik mansion karna hawa membunuh yang kuat namun ia bisa sedikit tenang karna istri pria itu yang tak seseram pria yang ia nikahi. Dengan gaji yang besar tentu nya membuat siapapun ingin berkerja di sana asalkan tak membuat masalah.


"Sekarang sudah berhenti menangis nya? Pasti kangen sama Mommy nya? Atau karna takut Mommy Daddy nya buat adik baru di sana?" tanya nya tersenyum sembari menggendong bayi mungil itu.


"Eh?" ucap nya yang menyadari jika ia sudah terlalu banyak melangkah keluar dari mansion megah itu.


Ia pun mengeluarkan ponsel nya karna tak ingin kembali berjalan ke mansion itu dan membuang waktu.


"Aku di jem-"


Brak!


AKH!


Kejadian yang begitu tiba-tiba, hingga membuat nya darah segar langsung membasahi wajah kecil yang mulai terdiam itu.


Suara tangisan kembali terdengar, saat tubuh mungil itu terampas dengan kasar ke tangan orang lain.


"Tunggu, itu..." ucap pengasuh itu lirih saat melihat bayi kecil mungil itu kembali menangis kencang ketika di bawa oleh beberapa orang asing.


Brak!


Crass!!!


Satu pukulan yang menggunakan palu Bessara menghantam kepala nya berulang kali hingga membuat seluruh cairan merah kental itu menyiprat ke segala sisi


Akh!


Suara jeritan itu perlahan melemah di iringi dengan darah yang semakin mengucur deras bagai genangan hujan.


......................


Giethoorn, Overijssel


Deg!


Napas yang tersengal dan tubuh yang gemetar membuat wanita itu langsung terbangun.


"Ainsley? Kenapa?" tanya Richard yang masih belum tertidur sama sekali dan tengah membaca buku di samping istri nya.


"Aku mimpi buruk," jawab nya dengan napas yang berat dan suara gemetar.


"Mimpi apa? Hm?" tanya pria itu sembari menarik selimut dan memeluk tubuh yang terlihat takut itu.


"Axel..." jawab nya lirih.

__ADS_1


Richard menepuk punggung istri nya, "Dia baik-baik saja, selama dia tetap di mansion tidak akan ada yang bisa menyakiti nya..."


Ucap pria itu yang tak tau jika pengasuh nya sudah membawa putra nya keluar dari istana yang ia buat.


__ADS_2