Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Manipulative boy


__ADS_3

Internasional high school.


Duk!


"Aduh!" gadis itu langsung meringis ketika seseorang menabrak nya dari belakang dan mengambil tas nya.


"Axel! Aku terkejut!" ucap nya dengan kesal pada pria yang malah tertawa kecil melihat nya.


"Tidak terlambat?" tanya Axel sembari mulai menyamakan langkah nya.


"Huh! Bilangin aku, dia sendiri juga sering di hukum lari lapangan." ucap Emily pada teman nya itu.


Langkah pria yang mulai memasuki remaja itu pun terhenti hingga membuat gadis yang awal nya berjalan beriringan dengan nya juga terhenti dan menoleh ke belakang.


"Kenapa?" tanya Emily sembari memiringkan kepala nya menatap ke arah teman nya.


Axel hanya diam dengan wajah nya yang terlihat serius.


"Axel! Kenapa? Kok diam aja sih?" ucap Emily dan beranjak mendekat ke arah teman nya lagi.


"Kau tumbuh dalam sehari?" tanya Axel mengernyit melihat nya.


"Hm? Apa?" Emily masih memproses, ia tak mengerti apa maksud ucapan dari teman nya itu.


"Rok mu kenapa semakin pendek?" tanya Axel lagi melihat ukuran rok gadis itu semakin naik ke atas.


"Iya! Aku kecilin! Nanti kan aku mau lihat anak basket!" jawab Emily dengan senyum manis nya pada teman nya itu.


Raut wajah pria itu langsung berubah mendengar nya.


Greb!


"Aduh! Mau kemana? Pelan Axel!" ucap Emily yang terkejut saat tiba-tiba teman nya langsung menarik tangan nya dengan segera.


Setelah memasuki wilayah sekolah dan menuju loker nya Axel mengambil sesuatu dan membawa gadis itu ke ruang ganti perempuan.


"Ini, pakai ini!" ucap nya sembari melempar celana training pada gadis itu.


"Ih! Gak mau! Udah aku pendekin malah di suruh pakai celana!" tolak Emily langsung dengan bibir manyun nya.


"Lily! Anak basket itu mata keranjang semua!" ucap Axel pada gadis yang terlihat sudah kukuh itu.


"Gak mau, aku suka rok pendek..." jawab Emily pada teman nya dengan ucapan bernada sembari menunjukkan jika ia nyaman memakai nya.


Gadis cantik itu kini tumbuh menjadi gadis yang ceria dan centil di saat yang bersamaan.


Akh!


"Axel!" ucap nya yang terkejut saat teman nya mendudukkan nya dan memakai nya celana panjang training itu.


"Axel! Ih! Malu!" ucap nya ketika teman pria nya memakaikan celana pada nya dan tentu nya rok nya akan tersingkap.


Beberapa saat kemudian.


Axel berjongkok dan menggulung celana yang terlalu panjang untuk gadis yang memiliki tinggi tak seberapa atau pendek itu.


Wajah Emily tampak kesal pada teman nya, padahal ia ingin tampil cantik saat melihat anak-anak basket yang salah satu nya ada yang ia sukai.


"Udah lah, cemberut terus."


"Ayo, ke kelas," ucap Axel sembari meraih tangan gadis yang manyun itu.


"Gak tau! Axel nyebelin!" ucap Emily ketus karna kesal dan menepis tangan teman nya lalu berjalan lebih dulu.


Remaja pria itu tak marah sama sekali, ia tersenyum dan hampir menahan tawa nya.


"Kenapa? Malah ketawa?" tanya Emily saat sadar teman nya seperti tengah menahan tertawa.


"Selera mu masih sama yah," ucap Axel yang terkadang melepas tawa nya tanpa sengaja.


Emily mengernyit mendengar nya, ia tak mengerti apa maksud teman nya itu.


"Sudah gitu mau pakai rok pendek lagi," ucap nya lagi yang terus tertawa kecil.


"Maksud nya apa sih?!" tanya Emily semakin kesal karna teman nya tertawa seperti menyudutkan nya.


Axel mendekat ke telinga gadis itu dan mulai bersuara, "Strawberry kecil, strawberry manis..."


Awal nya Emily masih mengernyit bingung mendengar nya namun tiba-tiba ia ingat sesuatu yang membuat mata nya membulat seketika.


Rona merah mulai naik memenuhi wajah terutama pipi nya saat ia tau apa maksud teman pria nya.


Bugh!


"Axel!" ucap nya sembari memukul punggung remaja pria itu.


Axel tak membalas ia hanya terus tertawa padahal gadis itu terus memukuli punggung nya.


Memakaikan celana training panjang milik nya pada gadis itu secara paksa tentu nya membuat nya melihat sesuatu.


Pakaian dalam dengan motif strawberry yang lucu dan menggemaskan, sesuatu yang bahkan belum berubah sejak mereka masih kanak-kanak.

__ADS_1


Emily semakin kesal melihat teman nya yang terus tertawa tanpa beban padahal ia sudah jengkel setengah mati.


Tangan nya menarik dasi Axel dan dalam sedetik kemudian.


Hap!


"Aduh! Iya! Aku berhenti tertawa nih!" ucap Axel yang merasa geli sekaligus nyeri di leher nya ketika gadis itu mengigit nya.


Sebenarnya sasaran gigitan gadis itu bukan leher melainkan telinga namun apa daya tubuh pendek nya tak bisa menggapai teman nya yang terus tumbuh.


"Mau aku traktir?" tanya Axel tersenyum pada gadis yang memasang wajah cemberut itu.


"Terserah!" jawab ketus gadis itu sat sedang kesal walaupun ia sudah mengigit hingga menimbulkan bekas di leher teman nya.


Sementara itu satu lagi remaja pria yang pecicilan dan menganggu siapapun yang ia lihat di lorong sekolah sebelum menuju kelas nya.


"Axel sama Lily udah datang?" tanya Mack yang sudah masuk ke kelas nya lebih dulu.


"Belum," jawab salah satu teman sekelas nya.


Entah bagaimana jalan nya ia bisa berteman dengan dua anak itu setelah kompetisi sekolah mereka usai.


Tak lama setelah itu kedua orang yang Mack cari pun datang, yang satu tertawa kecil dan yang satu nya lagi terlihat begitu kesal.


"Kalian bertengkar?" tanya nya melihat reaksi kedua orang yang berbeda itu.


"Gak tau!" jawab Emily ketus dan duduk di bangku nya.


Sedangkan Axel hanya menggendikkan bahu nya sembari tersenyum enteng seperti mengetakan 'Entahlah, aku juga tidak tau'.


Axel pun ikut duduk di samping gadis itu karna ia memang teman sebangku nya dari dulu.


"Mau es krim?" tanya Axel lagi pada gadis itu.


"Rasa strawberry!" sahut Emily ketus walaupun ia sedang marah.


"Favorite Strawberry," ucap Axel lagi yang kembali menggoda gadis itu.


"Axel!" ucap Emily semakin kesal.


Mack hanya terus diam melihat interaksi kedua nya, ia duduk satu meja di depan kedua teman nya itu.


"Mack? Mau beli sesuatu di kantin? Ayo," ajak Axel pada teman nya yang dari tadi hanya diam itu.


"Traktir aku juga!" ucap Mack pada teman nya yang kaya raya itu.


"Okey!" jawab Axel cepat pada Mack.


...


"Axel? Do you have girlfriend?" tanya salah seorang teman remaja pria itu.


Axel mengernyit mendengar nya, ia tak mengerti mengapa kakak kelas nya itu bertanya.


Kakak kelas yang aktif dalam olahraga basket itu pun menunjuk dengan mata nya ke arah leher pria itu.


"Oh? Ini? Hmm..." jawab nya menggantung yang membuat orang lain mengartikan nya sebagi jawaban 'Iya'


"Who is she? Emily?" tanya kakak kelas berwajah maskulin itu lagi.


Axel tak menjawab ia hanya tersenyum atas pertanyaan itu dan membuat kakak kelas di depan nya menjadi salah paham akan sesuatu.


"Okey, thanks." ucap pria itu dan melakukan pembayaran atas minuman yang ia beli setelah itu beranjak pergi.


Seutas smirk ada di wajah remaja pria itu ketika melihat pria yang ia tau menyukai teman centil nya yang sedang marah di kelas saat ini.


"Axel? Kau mau buat Lily gak punya pacar terus?" tanya Mack yang tau jika kedua nya tak memiliki hubungan seperti itu namun teman nya terus membuat orang lain salah paham.


"Dia itu gak baik," jawab Axel singkat pada Mack.


"Kau juga bilang begitu pada yang sebelum-sebelum nya." ucap Mack pada teman nya setelah mengambil es krim yang ia inginkan.


Wajah Axel pun berubah mendengar nya ia mengandarkan pandangan nya dan melihat ke arah teman nya itu.


"Jangan ikut campur, dia saja tidak marah." ucap nya dengan nada dingin pada Mack.


Mack pun diam, terkadang ia merasa teman nya itu bisa seperti kutub Utara secara tiba-tiba lalu kembali mencair dan humble serta menyenangkan lagi.


Entah dapat dari mana teman nya itu bisa bersikap seperti itu namun sejak kecil ia terkadang merasakan sorot tak suka pada nya lalu kembali terlihat biasa dan tak terjadi apapun saat kembali berbicara dengan teman centil nya.


"Jangan serius kali deh! Ayo! Makan es krim!" ucap Mack yang kembali mencairkan suasana.


"Hm, nanti dia juga semakin marah." ucap Axel yang kembali tersenyum seperti biasa pada Mack.


......................


Udara yang terhirup dengan sejuk membuat wanita itu mengandarkan kepala nya dengan nyaman menikmati waktu istirahat nya sembari melakukan peninjauan tempat.


"Ini minum,"


Sekaleng soda segar yang dingin di sodorkan pada wanita itu.

__ADS_1


Ainsley membuka mata nya dan menatap ke arah pria itu.


"Tau aja," jawab wanita itu tersenyum sembari mengambil sekaleng soda yang di berikan oleh pria itu.


"Kau baru mengunjungi nya?" tanya Sean sembari meminum soda milik nya yang berada di tangan nya.


Ainsley membuang napas nya mendengar pertanyaan pria itu, ia membuka cabang toko roti yang baru beberapa tahun lalu di kembangkan oleh perusahaan nya namun sudah berjalan pesat.


Dan peninjauan tempat cabang itu melewati tempat peristirahatan suami nya yang telah meninggal.


"Hm, apa dia baik-baik saja di sana?" tanya Ainsley pada pria itu sembari melihat langit yang terlihat cerah.


"Entahlah, mungkin. Atau dia sedang sangat kesal sekarang karna kau bicara dengan ku?" tanya Sean tertawa kecil.


Ainsley tersenyum mendengar nya, terkadang ia mengingat dan merasa kesepian di tidur nya.


Bohong jika di katakan ia tak pernah merindukan pria itu sekali pun, pria posesif yang begitu mengekang namun juga terkadang memperlakukan nya melebihi seorang ratu.


"Tapi dari pada itu seperti nya ada yang lebih kesal lagi sekarang? Ku rasa yang ada di rumah sakit?" tanya Ainsley tertawa kecil pada pria itu.


Sean membuang napas nya panjang ketika mendengar sindiran halus wanita di samping nya.


Memang benar ayah nya berada di rumah sakit karna tekanan darah yang kembali naik saat ia menolak wanita yang di jodohkan pada nya lagi.


"Kau sih, kenapa gak mau nikah." ucap Ainsley pada pria itu.


Sean menoleh mendengar nya, "Kau memang nya mau aku kalau aku benar-benar menikah?" tanya Sean pada wanita itu.


Ainsley terdiam sejenak mendengar nya, ia tak bisa langsung menjawab melainkan bibir nya terkunci untuk mengatakan 'Iya'


Selama sebelas tahun terakhir walaupun tak setiap hari namun ia tetap berkomunikasi pada pria itu seperti saat sekarang.


Bukan komunikasi untuk hal yang dalam namun komunikasi yang membuat wanita itu bertahan dari tahun ke tahun walaupun kedua nya tak memiliki hubungan yang jelas dan terikat.


"A-apa sih? Kenapa tanya aku?" ucap nya mengalihkan pertanyaan.


Sean tersenyum kecil melihat nya, jika wanita itu memang ingin ia menikah tentu bisa langsung menjawab pertanyaan nya namun wanita itu seakan enggan menjawab nya.


"Aku juga mau menikah?" ucap Sean pada wanita itu.


Ainsley langsung menoleh menatap nya seolah dengan mata penasaran siapa yang ingin di nikahi pria itu.


"Dengan mu, boleh tidak?" tanya Sean tersenyum seperti bercanda walaupun ia serius namun ia tak bis mengatakan nya terang-terangan karna tak mau wanita merasa tak nyaman dengan nya.


"Mau perang dunia sama Axel?" sahut Ainsley langsung.


"Kau kan bisa jadi wasit nya," jawab Sean terkekeh pada wanita itu.


Ainsley hanya menggeleng mendengar nya.


"Tapi ku rasa dia tidak membenci ku, walaupun sering marah-marah sih..." sambung Sean sembari mengingat anak wanita di samping nya.


Walaupun bersikap ketus, dingin dan selalu marah pada nya namun seiring berjalan nya waktu ia tau jika anak kecil yang beranjak ke remaja itu tidak benar-benar membenci nya.


Namun seperti merasa takut jika ia akan merebut satu-satu nya orang yang di miliki nya sehingga membuat remaja pria itu melakukan tindak pertahanan diri dengan sikap yang seolah begitu membenci nya.


"Dia posesif nya nurun sama siapa sih? Richard?" tanya Sean pada wanita itu karna ia tau wanita di depan nya tidak memiliki sifat seperti itu.


"Kenapa?" tanya Ainsley pada pria di samping nya.


"Sama Mommy nya aja dia posesif, gak tau nanti kalau udah ada gadis yang dia suka." jawab Sean tertawa kecil mengingat putra wanita itu.


"He just doesn't wanna have stepdad," jawab Ainsley tersenyum jika ingat sikap putra nya yang begitu anti pada pria yang mendekati nya karna tak mau ayah baru.


"Waktu dia kecil sifat nya hampir seratus persen menurun pada mu, tapi sekarang ku rasa dia mengambil gen ayah nya." ucap Sean tersenyum.


"Tapi dia akan lebih baik, aku yakin..." ucap Ainsley tersenyum.


Ia tau jika putra nya sekarang lebih condong ke sifat suami nya secara perlahan namun setidak nya ia sudah mendidik nya agar putra tak melakukan kekerasan pada orang lain seperti suami nya dulu.


"Tentu, dia kan putra mu." jawab Sean tersenyum pada wanita itu.


"Kau mau lihat tempat yang bagus di sini?" ajak Sean pada wanita itu.


"Kau tau?" tanya Ainsley mengernyit.


"Hey? Kau lupa? Jarak cabang Sation kan tidak jauh dari sini, maka nya aku bisa menyusul pada mu sekarang." jawab Sean pada wanita itu.


"Ayo," ucap nya sembari meraih tangan wanita itu dan membawa nya menunjukkan tempat yang mungkin bisa menjadi tempat strategi untuk pelanggan yang bersantai di toko cake yang akan ia buka nanti nya.


...****************...




Axel Miller Zinchanko



__ADS_1


Emily Rothe


Ini visual yang othor pilih tapi kalau kalian gak suka dan punya visual yang kalian anggap lebih cocok bisa pakai yang di imajinasi kalian yah


__ADS_2