
Rumah sakit.
Wanita itu melihat ke arah bunga yang berada di vas cantik di samping nya.
"Kau yang bawakan bunga nya?" tanya nya pada pria yang berada di samping nya.
"Hm, kau masih suka bunga itu kan?" tanya Sean sembari beranjak mengambil makanan ringan untuk wanita itu.
"Aku mau minum," ucap nya agar pria itu mengambilkan minuman alih-alih mengambilkan makanan untuk nya.
Sean pun segera berpindah dan mengambil minuman untuk wanita itu, "Jus?" tanya nya sembari melihat sekilas.
Satu anggukan menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.
Setelah mengambilkan jus yang di inginkan wanita itu, Sean pun duduk di sofa yang berada samping Ainsley duduk.
"Waktu kau tidak sadar Axel tanya tentang hubungan kita dulu," ucap nya setelah wanita meminum seteguk jus apel yang berada di tangan nya.
Ainsley langsung menoleh menatap ke arah pria itu.
"Lalu kau bilang apa?" tanya nya seketika.
"Ku bilang kalau kau mantan pacar ku," jawab pria itu dengan jujur.
"Lalu dia bilang apa?" tanya Ainsley lagi sembari terus menatap ke arah pria itu.
"Dia tanya kenapa kita bisa putus," jawab Sean.
"Ka-kau bilang apa?" tanya wanita itu lirih.
"Aku tidak bilang apapun yang buruk, tapi dia malah nuduh aku yang selingkuh dari mu." jawab Sean tertawa kecil mengingat tuduhan frontal remaja itu.
"Ha? Kenapa?" tanya Ainsley dengan bingung, karna kalau pun di tanya siapa yang berpaling lebih dulu itu pasti adalah diri nya.
"Kalau ku pikir lagi kita putus mungkin karna aku kan? Jadi mau selingkuh atau tidak tetap karna ku," ucap nya lirih.
Ainsley diam sejenak mendengar nya, "Kalau karna hukuman mu itu juga bukan salah mu sepenuh nya, aku kan juga dulu yang mau menerima nya." ucap nya lirih.
"Maaf," ucap pria itu sembari mengingat sekilas apa yang pernah ia lakukan untuk membuat wanita itu tunduk pada nya dulu.
"Tapi dari pada terus mendengar mu meminta maaf bukan nya aku yang lebih salah?" tanya wanita itu.
"Aku tidur dengan pria lain waktu kita masih punya hubungan, itu juga bukan sekali..." ucap nya lirih.
"Kau kan juga melakukan nya bukan karna benar-benar mau," ucap pria itu.
Ainsley menatap sejenak ke arah pria itu.
"Kenapa? Yang ku bilang benar kan? Kalau kau benar-benar mau melakukan nya kenapa dulu coba bunuh diri? Depresi juga sampai beberapa waktu." ucap pria itu sembari menatap ke arah wanita itu.
"Tapi karna dia aku punya Axel," ucap Ainsley yang malah tersenyum.
"Aku jadi tau rasa nya punya keluarga, setelah ku pikir lagi dia tidak terlalu buruk, apapun itu dia suami yang baik dan ayah yang baik untuk anak ku."
"Kecuali kalau sedang cemburu," ucap nya tersenyum kecil, "Dia paling sering cemburu dengan mu." sambung nya.
Sean hanya tersenyum mendengar nya, "Apa kalian kalau bertengkar menyebut nama ku?"
"Hm?" Ainsley kembali menoleh bingung.
"Pantas saja aku sering tersedak di rumah, ternyata ada yang sedang membicarakan ku." sambung pria yang berusaha mencairkan suasana nya.
Ainsley tertawa kecil mendengar nya, ia menatap ke arah pria sekilas menanggapi ucapan pria itu.
Luka yang begitu berat untuk nya dulu kini mulai terasa hambar, walaupun belum pulih sepenuh nya namun semua luka itu mulai memudar.
"Tapi Sean..." ucap nya lirih pada pria itu.
Ia menatap ke arah wajah pria di depan nya, "Terimakasih..."
"Dulu waktu aku tidak punya siapapun aku punya kau, lalu setelah aku punya orang lain kita berhenti waktu aku sendiri lagi kau ada lagi," ucap nya tersenyum.
"Karna itu terimakasih," sambung nya sembari menatap ke arah pria itu.
Waktu ia berada di titik paling buruk dulu nya setidak pria itu yang mampu membuat nya bertahan walaupun memiliki jalan yang tak mudah juga.
__ADS_1
Dan ketika ia memiliki seseorang yang lain, memiliki keluarga seperti apa yang ia inginkan dulu nya pria itu pergi dari nya.
Lalu saat ia kembali harus bertahan sendiri pria itu kembali datang, mungkin terlihat perbuatan kecil dan sepele namun hal kecil seperti itu juga sangat berarti untuk nya.
Sementara itu seorang remaja yang baru saja kembali dari sekolah dan langsung ke rumah sakit setelah menggoda kecil teman nya.
Ia berdiri sejenak ketika melihat sang ibu kedapatan mendapatkan tamu tanpa sadar pembicaraan kedua orang itu terdengar di telinga nya.
Tak ada yang bisa ia katakan ia hanya berdiam sejenak tanpa masuk ke dalam atau mengatakan apapun.
...
Pukul 08.45 pm
Wanita itu melihat ke arah putra nya yang tengah duduk di samping nya.
"Bibir Axel kenapa nak?" tanya Ainsley dengan lembut.
"Ini? Bukan apa-apa kok Mom." jawab Axel sembari memegang bibir bawah nya yang terluka.
Ainsley diam dan memperhatikan raut wajah putra yang langsung memerah saat ia bertanya tentang luka di sudut bibir remaja itu.
"Axel udah punya pacar?" tanya nya lagi dengan tatapan yang penuh penasaran.
"Pa-pacar apa?! Enggak kok!" jawab remaja itu seperti tengah salah tingkah seketika.
Ainsley langsung tersenyum melihat reaksi berlebihan dari putra nya, "Anak Mommy udah besar..." ucap nya sembari menggoda kecil putra kesayangan nya itu.
"Mommy!" Axel yang langsung mendengus mendengar sang ibu yang menggoda nya.
"Siapa pacar anak Mommy? Kasih tau dong Mommy kan juga mau tau..." ucap nya lagi pada putra nya.
"Masih belum kok Mom..." jawab Axel lirih hampir tak bersuara pada ibu nya.
"Beneran? Sama siapa? Emily?" tanya wanita yang langsung semangat.
"Ih! Mommy tanya terus!" ucap Axel yang semakin memerah wajah nya ketika mendengar godaan dari sang ibu.
Ainsley pun tertawa melihat nya, namun ia tak bisa tertawa lepas karna bekas operasi yang masih tersisa di dalam tubuh nya.
Tangan nya beranjak mengelus rambut halus putra nya dengan lembut, "Kalau ada yang Axel suka, Axel harus sayang yah sama dia, kalau dia gak suka Axel, kamu gak boleh maksa."
Remaja itu diam sejenak, "Mommy?"
Ucapan sang ibu membuat nya kembali mengingat sesuatu dan juga hal yang hampir ia sesali.
"Hm?"
"Axel mau tanya sesuatu," ucap nya pada sang ibu.
"Apa itu?"
"Kalau misal nya Axel setuju Mommy buat nikah lagi Mommy bakal sama paman Sean?" tanya remaja itu.
Ainsley diam sejenak mendengar nya, "Kalau Axel gak suka Mommy gak akan nikah lagi kok..." jawab nya.
"Mommy suka gak sama paman Sean?" tanya nya lagi.
"Kenapa Axel tanya begitu?" Ainsley yang tak mengerti mengapa putra nya bertanya demikian.
"Axel mau tau Mom," jawab nya segera.
"Mommy? Kalau misal nya Mommy punya orang yang Mommy suka sekarang Mommy boleh kok sama dia."
"Axel gak apa-apa," ucap nya lirih.
Ia diam sejenak sebelum melanjutkan kalimat nya, "Waktu lihat Mommy sakit, Axel mikir kalau mungkin Axel masih belum bisa bahagiain Mommy..."
"Mungkin aja banyak yang mau Mommy lakuin tapi gak bisa karna ada Axel, atau mungkin Mommy punya orang yang Mommy suka tapi juga gak bisa karna Axel gak mau..." ucap nya lirih.
"Axel? Kenapa bilang begitu nak? Mommy bahagia kok sama Axel sekarang." ucap nya lirih.
"Tapi Mommy suka paman Sean kan?" tanya nya lagi.
Wanita itu diam, ia tak menyangkal ataupun mengiyakan pertanyaan putra nya.
__ADS_1
"Waktu Mommy gak sadar Axel mikir bakalan lakuin apapun yang buat Mommy bahagia,"
"If you happy with him, you can do."
"Lagi pula Daddy juga pasti mau lihat yang sama kok, makanya Daddy kasih Mommy jantung itu." ucap nya pada sang ibu.
"Axel? Kalau kamu gak suka, kamu gak perlu maksain diri kok." ucap nya pada putra nya.
"Axel itu sama kok kayak Mommy, kalau lihat Mommy bahagia Axel juga bakalan bahagia." ucap nya tersenyum pada sang ibu.
Mata wanita itu berkaca, ia tersenyum melihat putra nya. "Anak Mommy memang udah besar sekarang..." gumam nya lirih menatap putra.
Remaja itu memeluk sang ibu, "Jadi kalau ada yang mau Mommy lakuin sekarang apapun itu asal bisa buat Mommy seneng lakuin aja. Axel juga bakalan ikut seneng kok..." ucap nya.
"Iya..." jawab wanita itu lirih sembari menepuk punggung putra nya.
......................
Cafetaria.
Pria itu menatap ke arah remaja di depan yang terus menerus mengesap es yang berada di depan nya.
Axel sudah di beri tau beberapa hari yang lalu jika yang menemukan informasi tentang orang-orang yang mencelakai ibu nya adalah pria di depan nya.
"Ada apa?" tanya pria itu ketika remaja di depan nya kembali meminta untuk di traktir lagi.
"Gak apa-apa!" jawab nya dengan ketus.
Sean hanya menggeleng pelan sembari meminum minuman yang sudah ia pesan.
"Paman?" panggil nya dengan nada cepat dan lirih.
"Hm?" jawab pria itu sembari melihat ke arah remaja yang menatap nya.
"Paman suka Mommy kan?" tanya nya lirih hampir tak terdengar.
Pria itu mengernyit, ia hampir tersedak namun dengan cepat menghapus lemon tea di bibir nya.
"Kenapa tanya begitu?" ucap nya yang langsung menanyakan alasan remaja itu berkata demikian.
"Karna aku mau tanya," jawab remaja itu asal.
"Kalau aku bilang suka bagaimana?" tanya nya dengan tersenyum.
Tak ada jawaban dari remaja itu, "Paman nyebelin!" ucap nya dengan ketus.
"Kalau aku tiba-tiba punya anak seperti mu juga nyebelin," jawab Sean tertawa pada remaja itu.
"Huh! Terserah!" jawab remaja itu dengan raut kesal dan mengernyit.
"Jangan terlalu sering menekuk wajah, nanti cepat tua." ucap nya pada remaja tampan itu dengan tawa kecil.
Axel diam sejenak, "Tapi itu terserah paman, aku juga udah dewasa kok! Bukan anak-anak lagi," ucap nya lirih.
"Jadi paman boleh jadi Daddy kedua?" tanya pria itu dengan tawa kecil nya menggoda remaja di depan nya.
"Tidak tau!" elak remaja tampan itu tanpa melihat ke arah wajah pria di depan nya.
Sean diam sejenak, ia menatap wajah remaja itu, bertahun-tahun menghadapi perkataan dan wajah ketus remaja itu tentu membuat nya dapat mengartikan ucapan dari remaja itu.
"Tumben? Kata nya kalau ada orang yang berubah secara tiba-tiba atau melakukan hal yang tak biasa katanya udah dekat maut," ucap pria itu dengan tatapan menyelidik.
"Paman!" sahut Axel langsung.
"Bercanda," ucap pria itu dengan tawa kecil nya.
Tak ada lagi pembicaraan kecuali pesanan yang bertambah dari remaja itu.
...****************...
Yang mau spin off Richard sama Ainsley setelah nopel ini tamat yah.
Dan lagi othor bilang, kalau ini nopel nya menyesuaikan judul, dan othor juga berusaha buat happy ending buat semua nya.
Oke itu aja yang mau othor bilang, jadi yang kangen dad Richard nanti yah dan yang tanya nopel tentang Louise nanti setelah ini tamat.
__ADS_1
Othor nya lagi PKL soal nya wkwk
Happy reading๐๐๐