
Tak ada satupun ekspresi yang keluar dari wajah gadis itu, Richard tersenyum simpul melihat nya, ia kembali mencium tangan lentik yang terlihat lemah itu sekali lagi.
"Masih mau tetap disini?" tanya nya pada gadis cantik di samping nya.
Mata yang tak memiliki sorot, wajah yang pucat serta bibir yang kering tetap tak dapat menyembunyikan wajah cantik nya.
Ainsley tak menjawab dan tetap melihat ke arah para anak-anak yang sedang bermain.
"Ayo, pergi." ucap Richard sembari menarik tangan gadis itu.
Menyadari tangan nya tertarik membuat gadis itu tersentak dan menatap pria yang sedang bersama nya.
Ia tak ingin beranjak dan menggeleng mengisyaratkan tak mau pergi kemanapun.
"Ayo, jangan nakal dan ikuti saja." ucap Richard dengan smirk nya dan menarik tangan gadis itu.
Bagaikan hipnotis ketika ia di suruh untuk tak 'nakal' membuat gadis itu bergerak dengan sendirinya dan mengikuti ke arah pria yang membawa nya.
Akal nya memang belum pulih sama sekali sehingga ia bahkan tak bisa mencerna apa yang akan terjadi pada nya.
Richard membawa gadis itu berjalan melewati lorong sepi dan menghimpit gadis itu ke dinding, tak ada penolakan sama sekali dan tak ada ekspresi sama sekali.
"Kau tak mau bicara?" tanya pria itu sembari memegang dagu gadis di depan nya.
Tak ada jawaban sama sekali, secarik senyuman muncul di wajah pria itu dengan ide gila di kepala nya.
Emhh...
Hambar!
Tak ada rasa ataupun perasaan sama sekali yang di rasakan oleh gadis itu saat bibir di pangut lembut dan perlahan di hisap oleh pria yang bersama nya saat ini.
Mata kosong dan mata api itu bertemu dalam satu tatapan karna tak ada yang satupun yang menutup kelopak mata masing-masing menikmati lum*tan lembut tersebut.
Gadis yang jiwa nya telah mati dan pria yang ingin melihat reaksi gadis itu.
Richard pun mulai menutup padangan gadis itu dengan tangan, karna merasa tak nyaman pada mata yang tak menunjukkan perasaan apapun itu.
Ia terus mencium gadis itu hingga tanpa sadar menurunkan ciuman nya ke lengkung leher gadis itu dan semakin mengusap tubuh gadis yang tengah terhimpit antara tembok dan tubuh kekar nya.
Deg...
Ia tersentak saat merasakan usapan yang harusnya tak mudah untuk disentuh itu, menyadari jika tubuh nya sudah terjamah secara perlahan lagi.
__ADS_1
Dug!
Tangan nya langsung mendorong keras pria yang tengah mencium nya, hingga membuat Richard tersentak dan melepaskan semua yang baru ia lakukan.
"Ja...a..." ucap nya tersendat dengan suara yang tak bisa keluar sama sekali.
Ia memeluk diri nya sendiri yang gemetar dengan hebat, mata kosong itu kini di penuhi sorot ketakutan yang luar biasa hingga membuat kaki nya ambruk ke lantai yang dingin.
Hah...hah...hah...
Suara tarikan nafas yang berat saat tak ada oksigen yang terhirup oleh nya. Tangan nya mulai menyentuh dada nya dan meremas pakaian yang ia kenakan.
Sesak!
Gadis itu tak bisa bernafas sama sekali, ia gemetar dengan hebat dan ketakutan yang memenuhi diri nya.
Buliran bening nya terjatuh satu persatu dari manik jernih nya dengan nafas yang semakin berat.
"Ainsley?! Kenapa?!" tanya Richard mulai khawatir melihat kondisi gadis itu.
"Ukh!" ringis nya dengan tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
Richard pun membawa gadis itu segera untuk mendapatkan perawatan dan obat penenang karna serangan panik mendadak yang di rasakan nya.
......................
Pria itu memandang ke arah foto gadis yang tengah tersenyum cerah itu.
Senyuman yang dulu nya masih ada dan terlihat begitu jernih serta mata yang polos berbeda dengan sekarang yang seperti orang mati tanpa adanya kehidupan sama sekali.
"Liam, coba lihat itu. Apa yang kau rasakan?" tanya Richard pada bawahan nya saat ia memandang foto yang tengah tersenyum tersebut.
"Tak ada, tapi apakah ada jawaban yang tuan inginkan?" tanya Liam sekali lagi.
"Tak ada? Tapi kenapa aku tak nyaman melihat nya? Rasa nya seperti ada yang mengganjal." ucap Richard tak mengerti dengan perasaan nya.
Ketika melihat senyuman cerah itu namun begitu ingat dengan wajah yang tak memiliki ekspresi apapun itu membuat dada nya terasa sesak tak nyaman.
"Tuan menyukai nya? Mungkin itu perasaan suka." jawab Liam pada tuan nya.
"Suka? Maksud mu perasaan konyol yang membuat mu jadi orang lemah?" tanya Richard lagi.
Liam tak menjawab, ia ingin membantah namun tak ia juga tak ingin melawan tuan nya.
__ADS_1
"Keluarlah," ucap Richard pada Liam dan membuat pria itu pun mengikuti perintah tuan nya.
Richard membuang nafas nya dengan berat, ia sama sekali tak ingin mencintai siapapun apalagi dengan sesuatu yang ia anggap sebagai mainan dan dijadikan sebagai salah satu objek pelampiasan kesenangan saja.
Cinta? Pada mainan?!
Batin nya dengan gelisah.
Ia tau cinta adalah satu kata yang membuat seseorang menjadi lemah, dan ia melihat sendiri contoh nyata di mata nya saat Liam bawahan nya kehilangan kekasih nya karna penyakit langka yang di derita 5 tahun lalu.
Ia tau bawahan nya adalah pria kuat namun saat itu begitu hancur saat kematian wanita nya, walaupun sekarang sudah membaik namun tetap saja pria itu terus melemah dan sentimentil dengan apapun yang berkaitan dengan mendiang kekasih nya.
"Aku tak boleh menyukai nya, sepertinya aku harus benar-benar membunuh nya sebelum membuat ku semakin kacau." gumam nya lirih.
Ia tak tau jika perasaan yang tak pernah ia hadapi ini tak bisa menggunakan cara yang biasa ia gunakan.
......................
Kediaman Belen.
"Berhenti urusi kehidupan ku! Dan urus putri mu yang sudah gila itu!" wanita yang berparas menawan itu menatap tajam ke arah suami nya.
"Kau pikir dia cuma putri ku?! Dia tak mungkin lahir kalau kau tidak pernah mengandung nya!" pria itu tak kalah menatap marah ke arah sang istri karna merasa tak becus mengurusi satu anak saja.
Wanita itu tertawa getir mendengar nya, ia bahkan tak menyangka akan mengandung anak dari pria di depan nya.
Pria yang menipu serta memanfaatkan dan merusak semua kepercayaan yang ia berikan seperti tak berharga sama sekali.
"Bagi ku, anak ku cuma satu! Dan dia, hanya kesalahan!" Fanny menatap dengan penuh kebencian ke arah pria di depan nya.
"Lalu anak itu bukan anak mu? Tidak bisakah kau lupakan saja apa yang sudah terjadi?!" ucap Michele membuang nafas kasar.
Pertengkaran yang terjadi kesekian kali nya membuat pernikahan itu semakin retak bahkan sudah di katakan hancur.
"Melupakan?! Kau membunuh putra ku! Aku juga mati sejak hari itu! Dan anak itu aku akan membuat nya menderita, dia harus membayar apa yang ayah nya lakukan!" ucap nya dengan iris bergetar.
Pria itu diam dan merubah wajah nya menjadi dingin dan tajam menatap wanita di depan nya.
"Aku membenci anak itu, dan penyesalan terbesar ku adalah melahirkan nya!" ucap nya sekali lagi.
Ia sama sekali tak lagi menganggap putri kecil yang ia lahirkan adalah putri nya, saat ia mengetahui semua yang di lakukan ayah dari putri nya.
Michele saat melihat punggung wanita itu keluar dari kamar nya. Ia awalnya memang merebut apa yang seharusnya bukan menjadi milik nya lalu kemudian menjerat nya.
__ADS_1
Namun setelah putri nya lahir, ia mulai menginginkan 'Rumah' seperti orang lain nya dengan memiliki keluarga.
Namun saat semua perbuatan nya terungkap ia membalik situasi dengan menjadikan putri kecil nya sebagai alat untuk menahan semua yang sudah ia miliki.