
Mansion Zinchanko.
"Kau memang asal menggendong anak ku tadi?" tanya pria itu dengan sorot yang tajam pada wanita cantik di depan nya yang sudah gemetar ketakutan.
"Ti-tidak, tadi saya hanya sedikit memarahi dan menggendong dalam posisi yang tidak nyaman sebentar," ucap Grace gemetar sembari berharap pria yang membawa nya kesana.
"Kau!" tatapan tajam setajam pisau yang mengarah pada wanita cantik itu membuat nya merasa ketakutan.
"Pantas saja dia tidak mau, yang mau sama dia predator." decak nya bergumam mengingat gadis yang ia temui sebelum nya.
"Bilang apa tadi kau?!" tanya Richard dengan tajam.
"Tuan?" panggil Liam dan langsung menarik wanita tersebut.
"Lama sekali datang nya?" tanya Grace pada Liam dengan suara berbisik.
"Kau melindungi nya? Kalian pacaran?" tanya Richard pada bawahan nya.
"Maaf, jika dia menyinggung tuan." ucap pria itu menunduk pada tuan nya.
"Kenapa minta maaf? Aku tidak melakukan kesalahan apapun! Kan aku cuma akting yang seperti kau bilang." ucap Grace membela diri.
Liam sengaja meminta wanita yang ia kencani karna ia tau wanita itu tidak akan terpikat pada tuan nya ataupun benar-benar melakukan hal yang buruk pada nona yang di sukai tuan nya.
Ia tau wanita cantik berdarah asli Spanyol itu sangat mengejar nya dan menyukai dirinya, wanita yang hanya memancarkan rasa suka nya pada dirinya.
Walaupun ia pernah kehilangan kekasih nya beberapa tahun lalu yang sudah meninggal namun ia tak ingin meninggalkan wanita yang mungkin bisa mengisi hari nya, karna ia takut menyesal.
Liam pun membawa wanita itu keluar setelah tuan nya menyuruh mereka keluar.
...
Wanita itu langsung memeluk pria yang bersama nya.
"Tuan mu seram sekali sih? Pantesan perempuan tadi tidak mau, kalo di ibaratkan itu tuan mu kayak predator terus perempuan tadi tuh kayak mangsa nya, jadi kasihan..." ucap Grace pada pria di samping nya sembari bergelayut manja.
"Tapi tadi akting mu sudah bagus kok," balas Liam tersenyum memberikan pujian.
"Tapi kenapa kau suruh aku yang jadi pacar pura-pura nya sih? Aku kan pacar mu!" decak Grace pada pria itu.
Liam hanya tersenyum, "Karna aku tau kau tidak akan suka dia."
"Iya, aku kan suka nya kau!" jawab Grace sembari meminta pria itu mengecup bibir nya.
......................
7 Hari kemudian.
Cake shop.
Auch!
Ringis gadis itu yang mulai membuka toko nya dan tanpa sengaja langsung memegang panggangan nya.
"Kenapa?" suara yang langsung datang dan meraih tangan yang memerah tersebut.
"Tidak, aku baik-baik saja..." jawab Ainsley yang masih terlihat linglung.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sean pada gadis itu.
"Tidak, aku hanya..." jawab Ainsley lirih.
Sean diam sejenak memperhatikan wajah gelisah gadis itu.
"Sean? Menurut mu kalau aku ajukan banding untuk hak asuh, apa aku bisa menang?" tanya nya lirih.
"Kau mau ambil hak asuh Axel?" tanya Sean mengernyit.
"Hm, aku ingin..." jawab Ainsley lirih.
__ADS_1
"Dia mau menikah..." sambung nya lagi.
"Lalu? Kau merasa tidak senang?" tanya pria itu dengan tatapan menelisik.
"Bukan, tapi aku takut kalau istri nya tidak akan suka Axel atau mungkin memperlakukan anak ku dengan buruk, aku tidak mau Axel jadi seperti ku." jawab Ainsley dengan lirih.
Sean diam sejenak, mereka memang sama-sama memiliki keluarga yang buruk, ia yang punya ibu tiri yang jahat dan gadis itu yang memilki ibu kandung yang tak ada ubah nya dengan ibu nya.
"Kalau di pengadilan mungkin riwayat penyakit mental mu dan bukti kalau kau pernah ingin mengugurkan anak mu akan menjadi berat," ucap Sean yang tau kenapa Richard bisa sangat yakin jika gadis itu tak akan mendapat hak asuh anak nya.
"Kau tidak minta hak asuh nya dengan baik pada nya saja? Atau mau ku bantu? Mungkin akan sulit tapi kita bisa mencoba nya," sambung pria itu sekali lagi.
"Sudah, dia mau aku yang urus kalau kami menik-" ucap nya terhenti saat melihat wajah pria itu.
"Tidak perlu, nanti Sean bisa jadi sasaran nya." jawab Ainsley yang menolak bantuan pria itu.
Sean melihat wajah gelisah gadis itu yang masih sama beberapa hari terakhir.
"Ainsley?" panggil nya sembari mengetuk meja.
Gadis itu menoleh, "Hm?"
"Kau sudah lihat rumah yang ku berikan untuk hadiah mu ulang tahun kemarin?" tanya Sean pada gadis cantik.
"Secara keseluruhan sudah tapi belum ku lihat langsung, dan lagi seperti nya aku tidak bisa menerimanya..." ucap nya lirih pada pria itu.
"Kenapa?" tanya Sean langsung, karna dari dulu ia memang membuat rumah itu untuk gadis yang ada di depan nya.
Walau dulu ia tak tau jika hubungan mereka bisa seperti ini.
"Hanya merasa tidak pantas saja," jawab Ainsley lirih.
Sean membuang napas nya dengan pelan, "Kalau begitu kita kesana sekarang!" ajak nya pada gadis itu.
"Sekarang?! Kanada?" tanya Ainsley pada pria itu.
......................
Kanada.
Sesuai janji Sean membuat nya rumah yang jauh dari keluarga nya ataupun keluarga gadis itu.
Ainsley pun tak tau entah kenapa kini diri nya bisa menginjakkan kaki di tanah yang sudah berada di negeri yang berbeda itu di bandingkan tadi pagi.
"Sebentar lagi kita juga ke Prancis kan?" tanya pria itu sembari menggenggam jemari kecil gadis itu.
"Tapi kan sekarang itu mendad-"
"Ayo tinggal bersama, sampai kita kembali ke Prancis!" ajak pria itu pada gadis di samping nya.
"Tinggal bersama?! Lalu Axel?! Axel bagaimana? Aku akan pulang ke Prancis saja sudah sangat mem-"
"Dia tak akan terjadi apapun, jadi hanya untuk dua Minggu saja, ayo tinggal bersama seperti dulu." potong nya yang ingin gadis itu tinggal bersama nya walau dengan waktu singkat.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Ainsley lirih.
Sean tersenyum hingga mobil nya memasuki salah satu rumah yang terlihat besar namun juga tidak sebesar mansion ataupun rumah mewah megah lain nya.
Rumah yang terlihat kehangatan serta mampu membuat mata siapapun merasa nyaman.
Rumah yang dulu nya selalu menjadi impian gadis itu.
"Lebih bagus dari pada foto yang kau berikan," ucap Ainsley yang menatap rumah yang sesuai dengan selera nya itu.
Dekat dengan pantai biru dan pasir yang berwarna putih, udara yang segar serta tempat yang nyaman dan beberapa tetangga yang ramah.
"Sekali ini saja, tinggal dengan ku sampai kita kembali ke Prancis." ucap pria itu memohon.
Tangan hangat yang menggenggam nya serta tatapan mata yang menatap nya dengan dalam membuat nya tak bisa menolak dengan keras.
__ADS_1
"Axel? Axel bagaimana?" gumam nya lirih memikirkan bayi kecil yang rapuh itu.
"Tidak akan terjadi apapun, mungkin perasaan nya bisa berubah tapi setidak nya dia tidak akan mau anak nya mati sia-sia karena orang lain," ucap Sean yang bisa mengerti sedikit jalan pikiran Richard.
"Apa tidak apa-apa kalau kita tinggal bersama?" tanya nya lirih tanda ia mulai setuju.
Sean tersenyum, "Tentu! Lagi pula aku juga tidak akan minta itu dari mu, kalau kau tidak mau!" ucap nya tersenyum.
...
Setelah makan malam dan berkeliling rumah impian nya kini gadis itu berbaring di ranjang yang empuk dan dapat merasakan hangat nya tubuh yang sedang mendekap nya.
Sudah berapa lama yah aku tidak begini?
Batin nya sembari menyentuh leher pria yang tengah memeluk nya saat ini.
Merasakan hangat nya tubuh pria itu yang dulu sering mendekap nya.
"Jangan menyentuh seperti itu, kau tidak punya rasa takut?" ucap pria itu sembari tetap memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
"Sean belum tidur?" tanya Ainsley yang tersentak.
"Belum, aku takut melakukan yang tidak-tidak pada mu kalau aku tertidur." jawab Sean sembari kali ini menoleh.
"Maaf..." jawab Ainsley lirih sembari menunduk dan menarik tangan nya.
Pria itu diam sejenak ia mengambil tangan gadis itu lalu meletakkan nya lagi ke leher nya, "Kenapa minta maaf, lagi pula aku suka di sentuh."
"Hm?" Ainsley tampak sedikit terkejut dan bingung.
Sean pun kembali mendekap tubuh kecil gadis itu dalam pelukan nya sembari mengelus punggung nya dengan lembut.
"Aku pasti jadi ibu yang buruk kan?" tanya nya pada pria itu.
Ia sadar apa yang ia lakukan terkesan egois namun ia juga ingin kebahagian nya sendiri.
Kebahagian yang belum pernah tercapai namun sudah terputus saat ia mengandung.
"Seharusnya aku dulu tidak," ucap nya yang sedikit menyesali dengan kesepakatan yang dulu ia buat dengan Richard.
Ia memang melakukan nya namun ia selalu menjaga dirinya agar tak hamil jika saja pria itu tak mengganti obat-obatan nya dengan Placebo.
"Tapi aku lebih suka yang sekarang, kau jadi lebih bisa memilih keputusan mu sendiri tidak jadi seperti boneka kayu lagi," ucap Sean pada Ainsley.
"Dan lagi, aku yakin kalau akan jadi ibu yang baik." ucap nya lirih.
"Tapi aku meninggalkan anak ku," jawab Ainsley tersenyum pahit.
"Kau tidak meninggalkan nya," bantah Sean pada gadis itu.
Karna aku yakin, kau hanya memiliki serpihan perasaan yang tertinggal pada ku...
Ia tau rasa bingung gadis itu, namun ia memilih untuk mengatakan apapun saat ini.
......................
8 Hari kemudian.
Mansion Zinchanko.
Brak!
"Kanada?!" ucap pria itu dengan nada amarah yang meninggi.
"Baru saja aku mengatakan akan menikah dia langsung tinggal dengan pria lain! Si*l!" decak pria itu penuh amarah.
Ia tau kemana dan dengan siapa bahkan apa yang tengah di lakukan gadis itu.
Amarah nya memuncak dan meninggi ingin langsung membunuh pria yang tengah bersana gadis nya lalu memotong kaki gadis itu agar tak ada lagi langkah yang bisa di gunakan oleh gadis cantik itu.
__ADS_1