
"Aku mau dia..."
Liam masih diam dan menunggu jawaban dari remaja itu.
"Mati mengenaskan," jawab nya singkat dengan tatapan mata yang teguh dan terlihat sama sekali tak ingin goyah.
"Kau mau membunuh mereka? Kalau Mommy mu tau bagaimana?" tanya Liam sekali lagi.
"Bukan nya mereka dulu yang mulai?" tanya remaja pria itu pada Liam.
"Mereka atau bukan yang mulai, menurut mu apa dia akan merasa senang?" tanya Liam pada remaja itu.
Axel diam sejenak, tentu nya ia sangat marah saat melihat sang ibu di lukai di depan mata nya.
Dan kemarahan yang ia rasakan adalah hal normal pada setiap anak yang melihat secara langsung orang tua yang di sayangi akan di bunuh di depan nya secara nyata.
"Baik, kalau misal nya aku mengatakan 'Ya' Kau mau membunuh mereka dengan tangan mu sendiri?" tanya Liam mengernyit, "Dan lagi kau mau mereka mati karna alasan yang sama seperti yang di lakukan pada Mommy mu?" sambung nya.
"Iya," jawab nya singkat atas pertanyaan yang di ajukan pria itu.
"Kau yakin bisa membunuh orang lain? Kau saja tidak tega membuang kucing," ucap pria itu sekali lagi.
"Mereka itu manusia sampah! Mana bisa di samakan dengan kucing!" sanggah Axel sejenak.
"Kalau begitu kau akan jadi manusia sampah selanjutnya,"
Suara yang membuat nya langsung membuat kedua orang itu menoleh.
Sean sedari tadi menunggu minuman nya datang namun tak kunjung datang karna ternyata ada yang menghambat sejenak.
"Apa?" tanya Axel yang langsung mengernyit.
"Jangan membunuh siapapun, jangan kotori tangan mu juga," ucap nya sekali lagi.
"Kenapa?! Memang nya dia mikir kayak gitu waktu nyakitin Mommy?!" tanya remaja itu yang semakin tak terima dengan ucapan Sean.
Sean hanya membuang napas nya, ia melihat ke arah map yang di pegang oleh Liam dan tentu nya berisi informasi yang berasal dari nya.
Ia pun mengambil nya dan memberikan nya ke pada remaja itu, "Dari pada tanya apa yang ingin dia lakukan, suruh dia baca dulu apa yang kau bawa." ucap Sean sembari menukar map itu dengan teh hijau yang di pegang oleh remaja itu.
Ia menyentuh bahu remaja itu dan mendekat, "Aku tidak bilang mereka pantas hidup, yang ku bilang hanya jangan kotori tangan mu dan jangan membunuh orang lain."
Remaja itu tentu tak menyukai saran tersebut, "Bukan urusan paman!" ucap nya dengan ketus dan tak suka.
Pria itu hanya tersenyum, "Baca dan lihat lagi yang berada di map itu dan pikirkan ulang apa yang mau kau lakukan, aku tau kau pintar kan?" ucap nya sembari meminum teh yang di berikan remaja itu.
"Oh iya makasih teh nya," ucap nya tersenyum sembari beranjak pergi lagi.
Liam melihat pria yang menjauh dari mereka, "Benar, ku rasa kau harus lihat lagi apa yang ada di dalam nya." ucap nya sembari mulai berbalik dan mengejar ke arah pria yang dengan santai itu pergi dari mereka.
...
Liam tak mengatakan apapun hingga ia dapat menyusul dan berjalan mengikuti pria yang tadi nya meninggalkan mereka.
"Ada apa?" tanya Sean ketika pria itu berjalan mengikuti derap langkah nya.
"Kenapa memberikan informasi itu pada kami?" tanya Liam langsung ke inti nya.
"Karna Axel dengan mu," jawab pria itu singkat.
"Kalian mendapatkan informasi sesingkat itu?" tanya Liam lagi pada pria yang berjalan sembari sesekali meminum teh hijau yang di belikan remaja itu.
Langkah nya terhenti dan menatap ke arah pria di samping nya, "Ku rasa kau lupa aku bekerja di bidang apa? Kalau aku mau aku bisa cari semua kesalahan mu lalu mengangkat nya, dan kalau pun itu terkuak kau mungkin tidak akan selamat kan?" tanya nya lagi.
"Hukum masyarakat lebih tinggi dari pada hukum pidana," ucap nya lagi.
Ia tau jika memiliki kekuasaan dan harta tentu nya bisa membuat seseorang kebal hukum namun bagaimana dengan hukum masyarakat? Menghadapi kemarahan publik tentu nya adalah hal yang berbeda dari lain nya.
"Kau bisa mendapatkan semua informasi?" Liam yang mulai bergumam ketika mendengar nya, "Tapi bahkan kalau pun benar bukan nya itu tak akan mudah?" tanya nya lagi.
Sean hanya tersenyum mendengar nya, "Bahkan salah satu aplikasi di ponsel mu itu saja dari perusahaan ku, menurut mu itu hal yang sulit?"
Liam diam sejenak mendengar nya, jika ia dan tuan nya dulu adalah penguasa terkuat di kalangan dunia yang tersembunyi maka pria di depan nya adalah gudang informasi yang sangat penting.
"Kenapa? Kau sedang berpikir kenapa dulu kalian tidak memanfaatkan pencari informasi ku dulu?" tanya Sean pada pria itu.
Liam langsung menoleh, ia tau apa yang di maksud oleh pria di depan nya namun memilih untuk tak mengatakan apapun.
"Kau tau kan maksud ku? Jantung," sambung pria itu sekali lagi.
"Entah lah, ku rasa..." jawab Liam ambigu karna ia sadar jika ia sudah kehilangan tuan nya.
"Kau bisa mencari nya dan kami bisa mengambil nya, mungkin..." gumam nya lirih.
"Kalau begitu dia tak akan mau, dia akan lebih memilih meretas informasi dari pada harus meminta informasi atau bantuan dari ku." ucap Sean pada pria yang dulu nya adalah bawahan sekaligus tangan kanan dari saingan cinta nya.
Liam diam sejenak, ia tau apa yang di katakan oleh pria itu adalah benar. Karna harga diri tuan nya yang tinggi tentu nya ia tak akan mau meminta tolong pada orang yang di benci selagi masih bisa menyelesaikan nya ia akan melakukan nya sendiri.
"Tapi bukan nya dia yang tetap menang?" tanya Sean pada pria itu.
Karna ia tau, walaupun pria itu sudah tidak ada namun kenangan dan juga semua bayangan pria itu masih terus ada bersama istri dan putra mereka.
"Aku tidak tau kau akan menunggu selama ini," ucap Liam pada pria itu.
__ADS_1
Ia pikir jika tuan nya meninggal pria di depan nya akan langsung mendekat pada istri mendiang pria yang ia hormati itu namun nyata nya masih ada renggang waktu selama sebelas tahun.
"Aku bahkan pernah menunggu orang yang sudah mati," jawab Sean tersenyum dan kembali beranjak pergi.
Liam hanya mengernyit mendengar nya, ia tidak tau jika pria di depan nya juga bukan lah seseorang yang memilki semua masa indah.
Pria yang dulu nya pernah menunggu sang ibu setiap saat namun berakhir melihat ibu yang selalu ia tunggu dengan semangat tergantung mengenaskan.
...
Axel membuka semua yang di berikan pada nya, ia juga melihat beberapa keterangan pribadi dari orang-orang yang menyakiti ibu nya.
Mata nya mengernyit melihat salah satu flashdisk dan mulai memutar nya, "Sial! Menjijikkan!" decak nya yang langsung mematikan video yang di berada di flashdisk tersebut.
Video yang berisi adegan dewasa dan panas dari pria yang memiliki usia cukup tua dengan gadis yang terlihat masih sangat muda.
Tak hanya sampai di situ ia juga melihat data yang berisi keterangan gadis yang berada dalam video tersebut.
"Putri jaksa? Prostitusi?" gumam nya saat membaca apa yang ada di depan nya.
Ia diam sejenak melihat nya, berpikir apa yang bisa di lakukan hanya dengan video panas itu dan juga keterangan yang di berikan hingga ia memikirkan sesuatu yang bisa menghancurkan tanpa mengotori tangan nya.
Ia pun beranjak membuat akun rahasia yang nanti nya akan sulit di lacak, dan Liam lah yang mengajari nya sedikit tentang itu.
Setelah membuat akun remaja itu pun menyebarkan video panas tersebut di internet secara luas.
Tak hanya sampai di situ ia juga melihat sosok pria yang menikam sang ibu di depan mata nya secara langsung beserta dengan keterangan diri.
Ia tak tau jika pria itu kini tengah terlilit hutang yang begitu besar pada para rentenir pindah darat.
Jangan membunuh siapapun, jangan kotori tangan mu juga.
Ia sekarang tau maksud nya untuk tidak membunuh siapapun namun ia bisa membuat orang lain yang mengadili manusia keji itu.
Ia pun dengan segera mengirim lokasi dan keterangan pria yang menikam ibu nya dengan para rentenir lintah darat itu.
"Sekarang hidup mereka akan lebih mengerikan dari kematian kan?" gumam nya setelah menyelesaikan semua nya.
...
Sudah hampir dua hari sang ibu tak kunjung bangun pasca operasi, tangan nya terus mengusap punggung tangan ibu nya dengan lembut dan berharap agar wanita itu lebih cepat bangun.
Gerakan halus yang terasa di tangan nya membuat nya langsung menoleh, mata yang selama dua hari terakhir itu tertutup kini mulai membuka sayu perlahan walaupun hanya masih sebatas garis.
"Mommy?"
"Mommy!"
Remaja itu pun langsung melihat dan seger memanggil dokter ketika ibu nya telah sadar, kini senyuman lega mulai terlihat di wajah nya saat mata yang ia nantikan itu telah terbuka.
......................
Remaja itu mengupaskan apel untuk sang ibu yang kini tengah menonton saluran berita di depan nya.
"Mommy mau lagi?" tanya nya ketika melihat apel yang berada di tangan sang ibu telah habis.
Ainsley tak menjawab melainkan melihat pria yang beberapa waktu ia masukkan ke dalam penjara di temukan meninggal karna gantung diri sekaligus berita kematian seorang pria yang beberapa organ penting di tubuh nya telah di buka dan hilang, di duga hal tersebut adalah sindikat penjualan organ tubuh.
"Sekarang mengerikan sekali," ucap nya bergidik ngeri melihat serangkaian berita yang di tampilkan.
Axel melihat ke arah berita itu, ia hanya berpikir jika hidup dari orang-orang yang menyakiti ibu nya akan menderita namun ternyata yang terjadi melebihi ekspetasi nya.
"Mereka kan juga bukan orang yang baik Mom," ucap nya pada sang ibu.
"Iya, tapi Axel harus tetap hati-hati yah nak di luar," ucap Ainsley yang takut jika sesuatu yang buruk juga terjadi pada putra kesayangan nya.
"Sekolah kamu gimana? Ada masalah?" tanya Ainsley pada putra nya.
Semenjak ia mulai sadar, remaja itu pun kembali masuk ke sekolah seperti biasa dan langsung ke rumah sakit menemui nya setelah pulang dari sekolah.
"Baik kok Mom, gak ada masalah." jawab remaja itu pada ibu nya.
"Maaf yah kita gak jadi pergi karna Mommy sakit, nanti kalau Mommy udah keluar dari sini kita pergi yah?" ucap nya sembari mengusap lembut kepala putra nya.
Axel tersenyum, jangan untuk pergi bersama melihat sang ibu yang sudah bisa kembali berbicara dan mengusap kepala nya saja sudah membuat begitu senang.
"Iya, yang penting Mommy sehat dulu." ucap nya tersenyum pada sang ibu.
......................
Internasional High School.
"Axel? Sekarang kami boleh jenguk Mommy kamu kan?" tanya Mack pada teman nya.
Ia dan teman nya yang cantik itu ingin mengunjungi Tante yang selalu baik dan sering memberikan mereka berbagai macam cake enak dan cantik.
"Mommy aku nanti mau terapi dulu sih, tapi kalau kalian mau nanti malam bisa datang." ucap nya pada Mack.
"Yauda, nanti malam kami datang yah." ucap Emily pada teman nya itu.
Axel melihat sejenak ke arah gadis itu, semenjak mendapat kabar ibu nya terluka gadis itu tak lagi menghindari nya ataupun mengatakan sesuatu tentang hari itu.
"Aku pulang duluan yah, kabari kalau nanti kamu mau ke sana." ucap Mack pada Emily sebelum beranjak.
__ADS_1
Emily mengangguk mendengar ucapan teman nya sebelum mereka beranjak.
"Lily?" panggil Axel lirih.
"Hm?"
"Yang waktu itu kau marah yah?" tanya remaja itu dengan lirih karna ia merasa tak enak hati pada gadis cantik itu.
Emily langsung mengernyit ia mengingat 'waktu' mana yang di maksud oleh teman nya itu.
"Eh? Waktu itu? Bu-bukan marah kok!" ucap nya yang langsung gugup dan salah tingkah ketika ia tau apa yang di maksud teman nya.
"Terus kenapa diam aja, kenapa kalau ada aku langsung pergi?" tanya Axel lagi.
"A-aku kan malu..." gumam nya lirih sembari menunduk.
Remaja itu langsung mengernyit mendengar nya, "Kenapa malu?" tanya nya mengulang sembari langsung melihat mata gadis itu.
"Memang nya Axel engga?" tanya Emily pada teman nya.
Remaja itu pun menangkup pipi bulat dari kepala kecil itu dengan kedua tangan nya, "Engga tuh," ucap nya sembari menatap wajah gadis yang kini tengah melihat nya.
Ia menatap dari sepanjang mata, hidung, hingga ke bibir yang sebelum nya pernah ia rasakan.
"Aku malah suka tuh," ucap nya tanpa sadar.
"Ha? Suka apa?" tanya Emily mengernyit pada teman nya yang masih melihat wajah nya dan menangkup kedua pipi nya.
"Suka cium Lily," jawab remaja itu tanpa sadar ketika di tanya.
"Ha? A... apa?" tanya Emily terkejut.
Mata remaja itu membulat, ia baru sadar apa yang ia katakan dan ia keluarkan dari mulut nya.
"A-apa? Tadi aku bi..bilang apa?" tanya nya yang juga langsung gugup.
Blush!
Wajah remaja tampan itu langsung memerah padam, ia tak tau kalau ia bisa sampai berbicara seperti itu pada teman nya.
"I..itu..."
"Aku cuma mau bilang kalau, maksud aku tuh..." ucap nya sang mulai bingung dan salah tingkah, "Aku bilang begitu karna kamu cantik, eh maksud nya bibir nya- Aduh Bu..bukan begitu..." ucap nya yang bingung sembari tak bisa melihat wajah gadis itu.
Wajah nya seakan memanas, ia merasa sesuatu akan segera meledak dalam diri nya, perasaan yang berdebar hingga membuat nya tak bisa memikirkan apapun di kepala nya.
"A...Aku juga suka kok..." ucap gadis itu lirih yang juga memalingkan wajah nya dan terus menunduk.
Axel langsung terdiam, "Ha? Apa?" tanya nya mengulang sembari meraih tangan gadis itu.
"Kan tadi udah bilang!" ucap gadis cantik itu yang meninggikan suara nya karna merasa gugup.
Melihat teman pria yang langsung terdiam dan hanya melihat ke arah wajah nya membuat gadis cantik itu langsung berbalik.
"Axel nyebelin!" ucap nya mendengus kesal sembari berlalu pergi.
Antara malu dan juga gugup yang menyatu menjadi satu, wajah yang seakan memerah dan pipi yang memanas membuat nya tak ingin segera melarikan diri nya.
"Lily?"
"Lily!" panggil Axel yang dengan cepat langsung menyusul gadis itu segera.
Bukan nya berhenti gadis cantik itu malah semakin mempercepat langkah nya, ia dengan cepat meraih dan langsung menarik tangan gadis itu ketika meraih nya.
Humph!
Mata gadis itu membulat seketika saat kembali merasakan hisapan halus dan bibir lembut teman pria nya, pinggang nya tertahan karna remaja itu memegang nya dengan erat.
Ia terkejut namun ia juga seperti terkena sihir yang membuat nya tak bisa menolak dan ikut memejam.
Gadis itu tak tau cara nya berciuman atau pun memberikan balasan, sama seperti remaja pria yang juga tengah mencium nya saat ini.
Namun sesuatu dalam diri nya bergerak dengan sendiri nya, membalas lum*tan halus itu dengan menghisap kecil bibir bawah teman nya.
Auch!
Axel melepaskan ciuman nya, sudut bibir nya sedikit terluka karna gadis itu terlalu mengigit nya saat gugup dan merasa canggung.
Bukan nya marah remaja itu malah tersenyum cerah setelah melepaskan pangutan nya berbeda dengan gadis yang melihat luka kecil di sudut bibir teman pria nya itu.
Wajah nya langsung memerah padam, ia kembali memalingkan wajah nya dan membuang pandangan nya seketika.
"Lily?" panggil Axel lirih sembari memegang tangan gadis itu.
Emily langsung menepis nya dan menutup wajah merah nya dengan kedua tangan kecil nya seketika.
Remaja tampan itu langsung tertawa melihat nya, ia berdebar dan juga merasakan panas di wajah nya namun ketika ia melihat respon gadis itu yang terlihat lucu dan Menggemaskan malah membuat nya tertawa.
"Kenapa? Bibir kamu luka juga?" tanya remaja itu dengan senyuman cerah dan menggoda kecil gadis itu.
"Axel! Axel nyebelin!" ucap Emily yang semakin memerah wajah nya ketika mendengar pertanyaan teman nya.
Remaja itu tertawa sejenak sembari berusaha membuka satu persatu jari kecil yang menutup wajah yang tengah memerah padam itu.
__ADS_1
"Kenapa? Lily kok sembunyi?" tanya Axel dengan tawa sembari membuka satu persatu jemari tangan kecil gadis itu.
"Axel..." ucap Emily dengan kesal karna remah itu terus saja menggoda nya.