Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Toxic relationship part 2


__ADS_3

Iris mata gadis itu bergetar melihat tubuh nya sendiri. Kulit putih yang bersih namun begitu banyak bekas kemerahan diatas nya.


Sean kenapa? Kau mau menunjukkan seberapa kotor aku?


Pandangan nya seperti kosong dan tak memiliki semangat ataupun nyawa. Buliran bening jatuh perlahan dari mata bulat nya yang kini terlihat sayu.


"Kau yakin? Hukuman apapun? Hm?" tanya Sean pada gadis itu sembari menangkup tubuh polos itu dari belakang.


"Hm..." jawab Ainsley lirih dengan buliran bening yang terus jatuh ke pipi nya.


"Baik, Kalau begitu pertama duduk disini dan buka kaki mu." titah Sean sembari menunjuk ke arah wastafel depan cermin yang cukup luas dan terlihat mewah itu.


Ainsley tersentak beberapa saat, rasanya tubuh nya membatu tak ingin mengikuti perintah memalukan itu.


"Kenapa? Kau bilang aku bisa menghukum mu dengan apapun kan? Kalau kau tak mau, kau bisa pakai pakaian mu dan aku akan menyuruh orang lain mengantar mu kembali ke apart mu." gertak Sean pada gadis itu, ia bisa dengan mudah mengancam gadis itu menggunakan hubungan mereka.


"Lalu kita? Apa kita masih..." tanya gadis itu lirih dengan takut.


"Kita berakhir, aku membebaskan mu..." ancam Sean yang membuat gadis itu seperti tersambar petir.


"Kau bilang, kau mencintai ku...


Tak ingin melepaskan ku, tapi kenapa sekarang kenapa?" tanya Ainsley lirih, dada nya terasa sesak hingga membuat nya sulit untuk berbicara.


"Itu benar, tapi kau sendiri yang ingin aku melepaskan mu..." jawab pria pada gadis nya.


"Tidak! Aku tak mau!" jawab Ainsley cepat dengan suara serak karna tangis nya.


"Kalau begitu kenapa tak patuh?" tanya Sean dengan wajah dingin dan sorotan mata yang tak bisa di baca.


Gadis itu terdiam, ia tak mau satu-satu nya pria yang menjadi tempat bergantung dan alasan ia masih ingin bertahan di tengah semua kesulitan yang ia alami meninggalkan nya.


Gadis itu pun perlahan duduk di wastafel dan melakukan apa yang di minta kekasih nya. Ia menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan kecil nya, menahan malu saat tubuh nya di perlihatkan seperti itu.


"Kau tadi ingat apa saja yang dia lakukan padamu?" tanya Sean pada gadisnya yang sedang menyembunyikan wajah nya.


Ainsley pun menjawab dengan menggelengkan kepala nya, terdengar isak tangis lirih di balik tangan kecil yang menutup wajah cantik itu.


"Disini terasa sakit?" tanya Sean sembari menyentuh bagian privasi gadis itu dan membuat Ainsley langsung merapatkan kaki nya secara refleks.


"Sudah ku bilang di buka!" bentak pria itu dan membuat gadis nya langsung terkejut.


"Ma-malu Sean..." jawab Ainsley lirih dengan suara gemetar.


"Disini sakit tadi?" tanya Sean lagi mengulang pertanyaan yang sama.


"Se-sedikit..." jawab Ainsley dengan suara tangis nya.


Pria itu mengerutkan kening nya dan menatap ke arah gadis yang masih terisak dengan menutup wajah nya dengan kedua tangan kecil nya.


"Dia melakukan seperti ini tadi? Atau dia sudah..." tanya Sean pada gadis itu sembari menyentuh bagian privasi gadis itu dengan jemari nya.


Dia masih...


Ainsley mengangguk perlahan pada perlakukan kekasih nya, walaupun ia sangat tak ingin melakukan nya.


Pria itu menunduk dan memeriksa nya sendiri, untuk membuktikan kecurigaan nya benar atau tidak tanpa melakukan hal itu pada gadis nya.


"Ja-jangan di lihat Sean...

__ADS_1


Ma-malu..." ucap Ainsley lirih dalam tangis, suara nya bergetar dan terdengar begitu sayu.


"Sudah selesai, buka tangan mu...


Jangan menutupi wajah..." ucap Sean pada Ainsley sembari membuka tangan kecil yang menutupi wajah cantik itu.


"Ini belum hukuman mu...


Kau tau kan?" tanya Sean pada gadis yang benar-benar memiliki wajah sayu itu.


Ainsley mengangguk perlahan sembari membuang wajah nya tak mampu melihat wajah kekasih nya yang hanya berjarak beberapa senti dari nya saja.


Wajah sayu yang menggemaskan di mata pria tampan itu, Ia pun mulai memangut bibir merah muda di depan nya yang mulai terlihat pucat karna kedinginan dan rasa takut yang membaur menjadi satu.


Hummmpphh...


Mata Ainsley membelalak sejenak saat kekasih nya mencium bibir nya dan menjalarkan tangan nya di tubuh polos nya.


"Buka bibir mu dan balas ciuman ku..." bisik Sean di telinga gadis itu dan mulai mencium gadis nya lagi.


Ainsley pun hanya menuruti ucapan kekasih nya, Sean mulai mencium dengan agresif dan mel*mat setiap inci dari mulut gadis itu.


Uch!


Ringis gadis itu yang terbungkam ciuman saat tangan kekar yang mulai menjamah nya semakin agresif dan terkadang mer*mas dada nya dengan kuat.


Sean pun melepaskan ciuman dalam nya dan menatap gadis itu.


"Kenapa sakit?" tanya pria itu dengan senyuman simpul berjuta arti pada gadis nya.


Ainsley pun mengangguk perlahan mengindahkan ucapan dari kekasih nya, lidah nya begitu kelu tak mampu berbicara dan hanya air mata yang mengatakan betapa sulit dan sesak yang ia rasakan.


Deg...


Gadis itu tersentak sesaat mendengar ucapan kekasih nya, ia tau awal mula hubungan nya adalah pria itu yang tertarik karna ia masih murni diantara gadis lain seusia nya.


Dia bertahan dengan ku karna masih murni?


Batin gadis itu penuh tanda tanya yang mulai mempertanyakan rasa cinta yang di miliki pasangan nya namun tak ingin dan tak mampu melepaskan pria itu.


"Kau...


Mau dengan ku karna masih murni?" tanya gadis itu lirih dengan suara gemetar.


Sean terdiam sesaat, sejujur nya walaupun gadis itu murni atau tidak ia tetap akan mau asalkan bukan berkhianat pada nya, namun jika ia mengatakan yang sesungguh nya ia takut jika gadis nya tak berhati-hati lagi.


Tidak! Aku akan tetap dengan mu, karna aku mencintai mu...


"Tentu saja, itu kelebihan mu. Kalau orang lain mengambil nya sebelum aku. Lalu apa lagi yang akan menarik dari mu..." jawab pria itu yang sangat berbeda dari hati nya.


Gadis itu memejam sesaat mendengar jawaban dari pria yang sangat ia cintai dengan dalam.


Kau tidak benar-benar mencintai ku Sean...


Tapi kalau hanya itu yang akan membuat mu tinggal, aku tak masalah...


Aku tak mau sendiri...


"Lalu kenapa tidak mengambil nya sekarang? Aku mau melakukan nya kalau dengan mu." ucap Ainsley yang akan memberikan apapun dari dirinya termasuk kemurnian yang ia jaga.

__ADS_1


"Setelah menghukum mu." jawab Sean dingin dan menjauh dari gadis yang ia himpit ke cermin di atas wastafel tempat ia menyuruh gadis itu duduk.


"Kau mau di cambuk dengan tali pinggang atau kayu kecil? Hm?" tanya pria itu.


Tali pinggang atau kayu kecil yang berbentuk mirip cambukan jenis kayu yang seperti alat pengajar guru untuk menunjuk papan tulis.


"Kenapa diam? Aku sedang bertanya pada mu." ucap Sean pada gadis itu.


"Tidak mau kedua nya..." jawab Ainsley lirih dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia tau rasa sakit dari kedua nya benar-benar terasa akan meremukkan tulang nya.


"Kalau begitu aku memukul mu dengan tongkat 15 kali? Kau mau?" tanya pria itu pada gadis nya.


"Tongkat? Nanti tulang rusuk ku patah lagi..." ucap gadis itu lirih dengan suara bergetar.


Sean pun melihat datar ke arah gadis itu, ia tau alasan gadis nya tak bisa memilih diantara ketiga hukuman nya karna akan segera konser.


"Kalau begitu, kesini!" ucap Sean sembari menarik tangan gadis itu dengan kasar dan kembali memasukkan nya lagi ke bathup yang berisi air es itu.


Tubuh gadis itu gemetar begitu memasuki air yang benar-benar dingin hingga menembus tulang-tulang nya.


"Kau diam disini dan jangan keluar selangkah pun sampai aku kembali!" ucap pria itu dan meninggalkan gadis nya begitu saja.


Ainsley melihat punggung kekar itu yang semakin menjauh tanpa menoleh pada nya sedikit pun.


satu menit...


lima menit...


Dan menit menyakitkan berikutnya...


Gadis itu tidak tau sudah berapa lama ia berada dalam kubangan air dingin yang merendamnya, tubuh nya menggigil dengan hebat dengan bibir kian membiru.


Ia duduk menekuk dan memeluk lutut nya memendam dingin yang begitu masuk hingga ke tulang nya.


Cinta?


Mungkin jika orang lain yang mendengar semua kisah nya akan menanggap nya bodoh karna tetap ingin terjebak dengan pria yang memberikan rasa sakit sekaligus kenyamanan pada nya.


Namun gadis polos yang tak mengerti apapun tentang hiluk-piluk dunia yang kejam itu telah memberi hati dan rasa cinta yang tak wajar pada pria nya, kepatuhan dan apapun yang di inginkan pria nya.


Air mata nya selalu lolos tanpa henti jatuh ke wajah pucat gadis cantik itu, hingga seperti berada di puncak dingin nya dan melayang tanpa rasa sakit yang mulai terasa hambar.


Sean maaf...


Jangan pergi...


Aku takut sendiri...


Kalau kau mau hal itu dari ku sekarang aku bisa berikan...


Tidak apa-apa tidak mencintai ku...


Tapi jangan tinggalkan aku...


Walaupun hanya rasa kasihan dan tertarik sesaat, aku tak masalah...


Aku takut Sean...


Aku takut kalau aku benar-benar tak memiliki siapapun....

__ADS_1


__ADS_2