
2 Hari kemudian.
Gadis cantik itu baru terbangun setelah dua hari tak sadarkan diri karna menggigil saat kekasih nya merendam tubuh nya di bathup yang penuh dengan es.
Mata nya melihat tak jelas di kamar yang biasa ia tempati di mansion megah tersebut, yang tak lain adalah kamar kekasih nya.
Sean? Dia dimana?
Batin nya saat ia baru sadar, rasa takut akan di tinggallkan begitu besar melanda nya membuat nya tak bisa berfikir apapun lagi kecuali kekasih nya.
Ia berusaha menyadarkan dirinya sebisa mungkin dan bangun dari tempat tidur nya walau tubuh nya masih belum pulih total.
Bruk!
Langkah nya terjatuh dengan infus yang langsung tercabut di tangan nya membuat nya meringis menahan sakit.
"Auch!" pekik nya saat melihat darah yang keluar sedikit dari jarum infus yang tak sengaja tercabut.
Dengan langkah gontai dan tertatih gadis itu berusaha bangun dan mencari pria nya, akal nya kalah dengan perasaan nya yang sudah terlalu dalam dengan pria itu.
"Nona? Anda sudah bangun? Nona membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu pelayan wanita di mansion megah tersebut saat melihat Ainsley yang keluar dari kamar dengan terburu-buru.
"Sean di mana? Kenapa dia tak ada? Di-dia dimana?" tanya Ainsley dengan hampir menangis.
Pelayan yang melihat pun menjadi tak tega namun tetap tidak bisa memanggil tuan mereka karna Sean sedang pergi mengikuti rapat mendesak yang di adakan oleh sang ayah.
"Nona istirahat lah lebih dulu, tuan akan segera kembali..." jawab pelayan tersebut.
"Dia kemana? Dia meninggalkan ku?" tanya Ainsley dengan suara bergetar ia sangat sensitif dan benar-benar takut di tinggalkan.
"Nona anda masih sakit...
Tuan bilang anda harus beristirahat..." bujuk pelayan wanita tersebut pada Ainsley dan membawa nya ke kamar Sean lagi.
Gadis itu menolak makan ataupun dokter yang di panggil untuk memeriksa keadaan nya. Tak ada yang ia inginkan kecuali kekasih nya, ia memang segila itu pada pria yang jelas juga menyakiti nya secara perlahan.
Pukul 05.34 PM
Sean yang baru saja kembali setelah di pusingkan dengan kakak-kakak nya yang sangat membenci nya dan selalu berusaha menjebak nya agar sang ayah melengserkan nya dari posisi pewaris.
"Tuan, nona Ainsley sudah sadar. Tetapi..." ucap salah satu pelayan wanita langsung menghampiri Sean.
"Sudah sadar?! Kenapa tidak beri tau lebih cepat?!" tanya Sean dan langsung bergegas menghampiri gadis nya.
2 Hari yang lalu saat ia selesai mengerjakan pekerjaan nya, ia kembali melihat kekasih yang sedang mendapat hukuman dan langsung di kejutkan dengan tubuh pucat dan wajah yang sudah seperti tak memiliki darah dengan bibir membiru sempurna.
Tubuh gadis itu mengalami hipotermia dan hampir saja mengakibatkan gagal jantung karna suhu tubuh yang terlalu rendah. Pria itu pun lantas segera menangani dan memanggil dokter untuk segera melakukan penanganan agar mencegah resiko terburuk.
"Ainsley?" panggil Sean ketika ia memasuki kamar nya.
Gadis itu langsung menoleh dan menghampiri pria nya kemudian memeluk nya dengan erat, ia tak merasa marah ataupun dendam sama sekali setiap kali ia mendapatkan hukuman.
"Waktu di club, aku tidak melakukan apa-apa Sean...
Maaf..." tangis sembari memeluk erat pria itu dan menenggelamkan wajah nya.
Sean masih diam tak menjawab gadis itu, jika ia ingat saat di club hati nya bergemuruh panas dan membuat nya kembali jengkel, tangan nya terhenti sebelum ia membalas pelukan gadis nya.
"Sean?" panggil Ainsley dengan suara serak karna tangis nya menatap pria itu dengan lekat.
__ADS_1
Ia semakin takut saat pria itu seperti tak menggubris nya atau membalas pelukan nya sama sekali, bukan tak mau membalas hanya saja tangan nya terhenti karna mengingat masalah di club.
"Kau mau itu yah dari ku? Aku kasih Sean...
Tapi jangan tinggalin aku...
Aku takut..." ucap gadis itu dengan suara tertahan dan menatap dengan penuh mata nya yang berkaca dan sesekali menjatuhkan tetesan bulir bening karna tak dapat terbendung.
"Tentu saja aku menginginkan nya, hal seperti s*k* juga aku butuhkan dari pasangan ku..." jawab pria itu apa ada nya.
Karna ia memang sebelum nya memakai sistem give and take pada mantan pacar nya namun tak melakukan hal tersebut pada gadis yang seperti kelinci polos di depan nya karna perasaan yang ia miliki benar-benar nyata dan memang mencintai nya walaupun sudah bercampur dengan obsesi.
"Kalau begitu kau bisa lakukan pada ku...
Aku juga bisa kasih Sean...
Aku tak akan pergi ke club lagi..." tangis gadis sembari menatap nanar iris pria nya.
Tangan nya membuka satu persatu kancing kemeja piyama longgar milik kekasih nya yang menutup tubuh kecil nya.
"Kau sedang apa?" tanya Sean sembari mengerutkan dahi nya melihat gadis itu membuka persatu kancing piyama nya.
"Kau bilang kau butuh itu...
Kita lakukan sekarang yah? Jangan tinggalin aku Sean..." jawab Ainsley lirih, bulir bening nya menetes dari manik mata jernih nya melewati pipi pucat yang menatap sendu pria tampan itu.
Sean pun menghela nafas nya dan menutup piyama gadis nya serta kembali mengancingkan nya.
"Aku memang mau melakukan nya, tapi tidak sekarang...
Kau masih sakit..." ucap pria dengan nada lembut sembari mengusap air mata yang jatuh dari pipi gadis nya.
"Apa? Aku menemukan gadis lain? Seperti itu?" tanya Sean yang tepat pada tebakan negatif nya.
Ainsley mengangguk perlahan dan menunduk.
Sean yang menghela nafas nya pun melihat gadis cantik itu dan mengecup pelan kening nya.
"Sudah makan? Hm?" tanya nya dengan lembut sembari menangkup pipi menggemaskan itu agar wajah Ainsley mengandah pada nya.
"Belum..." jawab nya lirih sembari menggelengkan kepala nya perlahan.
"Mau makan dengan ku?" tanya Sean lagi sembari memperhatikan lekat iris mata sendu gadis nya.
"Mau..." jawab Ainsley lirih dengan wajah sendu nya.
Sean pun segera memanggil pelayan dan memerintahkan mereka mengantarkan makanan kesukaan gadis nya dan membawa ke kamar.
"Aku tidak mencari wanita lain...
Tadi sedang ada masalah di perusahaan, jadi pergi nya sedikit lama..." jelas pria itu sembari merapikan anak rambut di dahi gadis yang duduk di pangkuan nya.
"Lalu kita kapan melakukan nya?" tanya Ainsley setelah mendengar penjelasan pria nya.
"Lakukan apa?" tanya Sean bingung.
"Itu...
Kau kan mau itu..." jawab Ainsley gugup sembari membuang wajah nya yang mulai memerah karna malu walaupun sedang sangat pucat.
__ADS_1
"Kenapa sangat agresif? Hm?" tanya Sean gemas sembari mencium pipi gadis nya dengan dalam.
"Kalau kau bertemu dengan gadis lain yang masih murni, kau akan meninggalkan ku, kan? Kalau aku masih tetap tak mau?" jawab Ainsley dengan pertanyaan lain di tengah ciuman gemas yang dilayangkan di pipi nya.
Sean pun berhenti mencium dan melihat ke wajah pucat gadis nya yang penuh dengan rasa gelisah.
"Kau sangat takut aku pergi...
Seperti aku punya fans fanatik sekarang..." ucap pria itu sembari tertawa kecil menggoda gadis nya.
"Hm...
Aku sangat cinta dengan mu...
Sangat nya benar-benar banyak!" jawab Ainsley pada pria.
"Love you too, babe..." ucap Sean dengan tulus sembari memangut pelan bibir gadis itu.
Ainsley diam merasakan bibir hangat pria yang memangut, ingatan nya memutar pada pembicaraan saat ia sedang di hukum.
Kau...
Mau dengan ku karna masih murni?
Tentu saja, itu kelebihan mu. Kalau orang lain mengambil nya sebelum aku. Lalu apa lagi yang akan menarik dari mu...
Walaupun ia merasa jika pria nya hanya menginginkan sesuatu dari diri nya namun ia tak masalah sama sekali asalkan tetap bisa bersama dan tak di tinggalkan.
Walaupun itu kebohongan aku tetap suka...
Terimakasih karna mengatakan hal yang selalu ingin ku dengar...
Ainsley perlahan memejamkan mata nya dan membalas setiap lum*tan lembut yang di berikan pada nya.
Ciuman halus yang semakin dalam dan agresif hingga membuat nya sulit bernafas.
...****************...
Okey kalau misal disini ada yang bingung kenapa si Ainsley nya mau aja kasih apa yang di mau sama Sean dan juga gak masalah di perlakukan kasar karna psikis nya udah jatuh. Mental nya udah mulai gak tau mana yang benar dan salah lagi.
Nah masalah dia kan juga bukan karna semenjak di culik Richard tapi masalah terbesar nya adalah keluarga nya sendiri.
Kalau kalian bingung kenapa dia bisa setoxic itu sama Sean, dia sendiri juga udah punya hubungan toxic sama mamah nya.
Sejak kecil udah sering di pukulin, dapat kekerasan fisik sama mental dan hidup nya udah di stir atau di atur dengan kemauan orang tuanya, sudah buat dia terisolasi dari lingkungan sosial.
Jadi walaupun dia dapat kekerasan sama pacar nya dia malah udah menganggap kalau itu hal lumrah dan dia memang salah terus pantas, kenapa? Karna dari kecil nya juga orang tuanya udah ringan tangan.
Dia harus cantik, pintar dan punya bakat harus bener-bener sempurna, makanya dia takut waktu nilai nya diancam turun karna dari kecil yang memang sudah di dokrin harus benar-benar sempurna, gak peduli dia sanggup atau enggak.
Dan hal itu juga yang buat dia gak percaya diri dan merasa dirinya selalu kurang di segala bidang karna memang sebaik apapun usaha nya untuk jadi sempurna kayak yang di mau orang tua nya tetap aja di bilang bodoh, kurang cantik, kurang ini, kurang itu.
Makanya dia gak percaya sama kemampuan nya dan bener-bener insecure terus sangat tidak percaya diri.
Nah dia bisa secrazy love itu sama Sean, karna baru Sean pertama kali kasih pengakuan ke dia dan terkadang diperlakukan seperti ratu yang ngebuat dia itu merasa ada orang yang masih menginginkan nya dan gak nganggap dia anak sial yang cuma jadi beban.
Walaupun Sean nya punya masalah sendiri dan ngebuat dia jadi salah ngambil sikap di rasa cinta nya dan malah nyiksa atau nyakitin pasangan nya karna posesif nya yang udah mulai keluar batas wajar.
Sudah othor perjelas yah kenapa si Ainsley bisa sampai setoxic itu sama Sean. Walaupun di cerita udah othor kasih clue, tapi perjelas lagi aja wkwk😅
__ADS_1
Happy Reading♥️♥️♥️♥️