
Setelah beberapa hari mengetahui semua yang terjadi, kesehatan wanita itu kembali menurun.
Gejolak emosional yang dapat membuat nya mengalami gangguan pada jantung baru nya.
"Mommy?"
Suara kecil yang menggemaskan itu memanggil nya lirih, ia menatap sang ibu yang dalam beberapa hari ini hanya diam.
Mata wanita itu menoleh melihat ke arah putra kecil nya, tangan nya mulai bergerak perlahan memeluk anak itu.
"Axel masih punya Mommy, jangan sedih yah sayang..." ucap wanita itu pada putra nya.
"Mommy nyuluh Axel gak sedih, tapi Mommy sendili sedih..." ucap nya pada sang ibu.
Ainsley hanya diam mendengarkan ucapan putra nya, ia melepaskan pelukan nya dan menatap nya.
"Mommy kan juga punya Axel, jadi Mommy gak sedih dong..." ucap wanita itu tersenyum tipis.
Axel tak mengatakan apapun, ia ingat senyuman yang mirip seperti di buat sang ayah sebelum pergi.
Senyuman yang di paksa kan, bukan senyuman tulus ataupun ceria.
"Mommy jangan senyum gitu," ucap nya lirih.
"Kenapa? Axel mau Mommy sedih?" tanya Ainsley pada putra nya sembari mengangkat tubuh kecil itu ke pangkuan nya.
"Dulu juga Daddy seling senyum gitu sama Axel, Daddy bilang sayang sama Axel telus janji mau main baleng sama adik Axel."
"Tapi Daddy malah pelgi, Daddy malah gak bangun lagi..." ucap Axel sendu dan menunduk tak melihat ke mata ibu nya.
Deg!
Wanita itu memejam, ia memeluk putra nya dan mengelus kepala dengan rambut halus itu secara lembut.
"Mommy kan Mommy nya Axel, mana bisa Mommy tinggalin anak selucu Axel." ucap nya sembari mencubit kecil pipi putra nya.
Ia memang masih berduka, bahkan pemakaman pun belum di adakan karna kondisi kesehatan nya, namun di bandingkan semua itu ia tak ingin melihat putra kesayangan nya terluka.
"Tapi Mommy dulu ninggalin Axel sama Daddy kalna paman Sean," jawab nya sendu.
Ainsley diam sejenak, ia tak tau sudah seberapa banyak cerita yang di buat oleh suami nya namun ia juga tak ingin menjelaskan nya.
Ia ingin pria itu tetap hidup sebagai pria yang baik di mata putra nya.
"Maaf yah, Mommy gak akan tinggalin Axel lagi..." ucap nya sembari memeluk putra kecil nya.
Axel hanya diam tak mengetakan apapun, namun mata nya mulai berkaca saat berada dalam pelukan sang ibu.
"Berarti sekarang Axel udah gak punya Daddy lagi Mom?" tanya nya sendu pada sang ibu.
"Axel kan masih punya Mommy..." ucap wanita itu sembari terus memeluk putra nya dan mengecup puncak kepala nya.
"Tapi Axel kangen Daddy..." jawab bocah kecil itu sembari mengusap air mata nya sendiri.
Suasana hening yang kemudian teralihkan setelah suara pintu ruangan itu terbuka.
"Ainsley?" suara bariton pria yang sudah hampir setengah abad lebih itu memanggil nama putri nya.
"Kalau kau mau Papah bisa membantu mu untuk sementara dalam pengolahan perusahaan dan universitas sampai kau cukup pulih," ucap Michele pada putri nya.
Ainsley diam tak mengatakan apapun, tatapan nya masih terlihat kosong sembari mengelus rambut putra nya.
"Kau harus bisa bertahan, kau ingin melindungi nya kan?" tanya Michele lagi sembari melihat ke arah cucu nya yang menangis lirih.
"Tentu, aku bisa melakukan nya..."
"Aku punya Axel..." ucap nya lirih sembari memeluk putra nya erat.
......................
5 Hari kemudian.
Berita tentang kematian pria itu mulai di publikasi kan dan di lakukan pemakaman.
Tak di beritahukan alasan secara rinci nya mengapa pria itu meninggal namun hanya di katakan sebagai kecelakaan.
Beberapa orang yang memiliki dendam tentu nya merasa senang dan yang berduka hanya sebagian kecil dari yang di kenal pria itu.
__ADS_1
Karna musuh nya lebih banyak dari pada teman nya.
Dan alasan kematian pria itu dapat terpublikasi kan karna ia masih memegang beberapa perusahaan dan berbagai tempat lain nya.
Salah satu dari pria yang memiliki pengaruh besar di negara tersebut.
...
Sation Company.
Sekertaris Jhon yang melihat berita itu langsung membawa nya ke Presdir nya.
"Anda sudah mengetahui ini?" tanya sekertaris Jhon sembari memberikan iPad nya pada pria itu.
Mata pria itu membulat, seperti mustahil jika pria itu meninggal secara tiba-tiba sedangkan ia ingat beberapa waktu yang lalu masih bertemu.
"Kecelakaan? Kenapa tiba-tiba?" gumam nya mengernyit.
Berbeda dengan nya yang tengah memikirkan sesuatu, sekertaris nya malah dengan senyum sumringah menyukai berita kematian itu.
"Sekarang sudah tidak ada yang mengganggu anda lagi!" ucap nya yang lega.
Sekertaris Jhon melihat wajah yang tidak tampak senang ataupun lega ketika mendengar kabar yang ia pikir dapat membuat atasan nya itu senang.
"Anda tidak senang dia sudah tidak ada?" tanya nya penasaran.
Sean diam sejenak di bandingkan rasa senang ia lebih merasa gelisah dan khawatir
"Entah lah, tapi aku tidak merasa senang mendengar nya,"
"Ainsley? Apa dia baik-baik saja? Lalu Axel?" tanya nya lagi pada pria itu.
"Anda masih memikirkan nona Ainsley?" tanya sekertaris Jhon mengernyit.
"Apa dia baik-baik saja?" gumam nya sembari membuang napas nya pelan.
"Apa pun itu bukan nya bagus kalau anda mendekati mereka?" tanya sekertaris Jhon pada pria itu.
Sean diam dan menatap pria di depan nya, "Kau pikir dia itu apa?" tanya nya menatap pria itu.
Ia memang ingin memiliki kembali wanita itu, saat mendengar jika pria itu menyiksa wanita yang ia cintai.
Walaupun begitu ia juga tau jika enam tahun bukan waktu yang singkat untuk seseorang, beberapa kenangan yang terbentuk tentu nya akan terus menemani wanita karna berpisah dalam kematian.
Dan ia saat tau sifat dari wanita yang sampai sekarang masih mengisi hati nya.
"Aku memang membenci nya, tapi tidak sampai ingin melihat nya mati." ucap Sean pada pria itu.
"Kenapa? Anda tidak marah pada nya? Padahal kan dia ingin membunuh Anda?" tanya sekertaris Jhon pada pria itu.
"Aku marah, aku juga kadang punya masa ingin membunuh nya tapi sekarang aku tidak ingin dia sampai mati sungguhan." jawab Sean pada sekertaris nya.
"Kenapa?" tanya sekertaris Jhon mengernyit.
"Karna ku pikir apa yang ku lakukan akan sia-sia," jawab pria itu lirih.
Butuh niat yang besar untuk melepaskan mantan kekasih nya, dan bahkan kalau di pernikahan yang ia tak tau akan seperti apa itu namun yang jelas ia tau wanita itu bukan lah sesuatu yang terbuat dari armor hingga tak goyah sama sekali.
Dan jika pria itu mati maka akan menimbulkan duka untuk wanita yang cintai dan juga seorang anak kecil yang mengambil perhatian nya perlahan.
Ia tak mengerti bagaimana membahagiakan orang lain, namun ia tau di mana batas standrt bahagia orang lain.
Kebahagian Ainsley adalah Axel dan kebagian Axel adalah kedua orang tua nya, jika salah satu nya hilang maka akan memberikan timbangan yang tak sesuai.
Melihat reaksi sekertaris nya yang bingung pria itu pun menghela napas nya dan menyuruh nya keluar.
"Kau bisa lanjutkan pekerjaan mu," ucap nya pada sekertaris nya.
"Apa anda akan hadir di pemakaman nya nanti?" tanya sekertaris Jhon sebelum pergi.
"Ku rasa kalau aku datang dia pasti ingin bangkit lagi," ucap pria itu lirih.
Sekertaris Jhon pun mulai beranjak keluar meninggalkan pria itu.
...
Pakaian hitam, suasana yang terasa kabut membiru membiru dan wanita yang memegang bunga mawar putih bersamaan dengan bunga anyelir di samping nya.
__ADS_1
"Aku ingat kau bilang warna putih tidak cocok dengan mu kan? Jadi aku membawa yang lain juga," ucap nya sembari meletakkan dua tangkai bunga yang mekar dengan cantik itu.
Mata wanita itu menatap ke segala arah, melihat beberapa yang datang ke pemakaman suami nya.
Tidak banyak yang datang, hanya beberapa Chanel bisnis yang ikut serta karna masih ingin terlihat baik pada penerus selanjutnya yaitu diri nya.
Namun ia sadar jika tak ada yang benar-benar berduka, ekspresi yang seakan mengatakan jika mereka tak perlu lagi mengotori tangan mereka untuk membunuh orang yang ingin mereka singkirkan.
Tangan kecil yang memegang gaun nya, menatap nya dengan iris hijau yang bulat.
"Daddy udah benelan gak ada yah Mom?" tanya Axel yang terus menerus mengulang pertanyaan yang sama.
"Daddy tetep ada kok, dia tetep sama kita tapi kita gak bisa main sama Daddy lagi." ucap nya tersenyum tipis pada putra nya.
"Axel udah kangen Daddy, kalau aja dulu Axel gak minta adik sama Daddy mungkin Daddy gak akan jemput adik Axel ya Mom? Daddy juga gak perlu tinggalin kita..." ucap nya sendu pada sang ibu.
Ainsley tak bisa mengatakan apapun, ia hanya mengelus rambut putra nya.
Waktu semakin berlalu, beberapa orang yang datang silih berganti dan memenuhi pemakaman pria itu dengan bunga yang di bawa sebagai tanda belasungkawa.
"Ainsley? Pulang yuk nak? Kasihan Axel," ucap Clarinda pada putri angkat nya setelah ia mendengar Fanny meminta nya untuk membujuk wanita itu pulang.
"Ainsley di sini aja dulu Mah," jawab wanita itu pada sang ibu.
"Axel nungguin pulang sama kamu nak," ucap Clarinda pada wanita itu.
"Bawa Axel pulang dulu Mah, Ainsley minta tolong." ucap nya pada sang ibu.
"Kamu juga gak bisa lelah nak, pikiran kesehatan kamu juga. Kalau kamu sakit percuma kan dia kasih kamu hidup nya." ucap Clarinda pada wanita itu.
"Sebentar lagi Mah,"
"Ainsley mohon..." ucap nya memelas pada sang ibu.
Clarinda menarik napas nya dengan berat mendengar nya, ia pun menepuk bahu putri nya dan meninggalkan nya agar wanita itu bisa memiliki waktu untuk diri nya sendiri.
Hening...
Tak ada rasa takut ataupun rasa tak nyaman, mata wanita itu hanya melihat ke arah tempat peristirahatan pria itu.
"Mungkin kalau di sana akan ada yang memberikan mu cinta lebih banyak,"
"Aku tidak pernah membayangkan kita akan berakhir seperti ini..."
"Walaupun aku tidak bisa mencintai mu sepenuh nya, tapi aku menyayangi mu."
"Selamat tinggal suami ku, ku harap kau bisa istirahat dengan tenang dan terimakasih atas kehidupan yang kau berikan."
ucap wanita itu sembari mengusap air mata nya, ia pun beranjak dari tempat nya dan mulai meninggalkan tempat pria itu.
Ainsley mulai beranjak, malam yang larut. Angin yang dingin serta awan yang berkabut seperti suasana hati nya.
Suasana yang sunyi itu pun setelah tak ada siapapun itu mulai memberikan suara derap langkah yang terdengar.
Pria itu meletakkan bunga gladiol putih di atas pemakaman yang baru saja di lakukan itu.
"Aku membenci mu, tapi kenapa kau harus mati? Mereka sedih karna mu," ucap nya sesaat setelah memberikan bunga yang ia bawa.
"Aku tidak akan mengatakan semoga kau bisa beristirahat dengan tenang aku juga tidak datang untuk belasungkawa pada mu,"
"Aku tidak sedih dan juga tidak senang mendengar nya tapi kenapa aku datang?"
Sean menghela napas nya dengan lirih, ia tak tau kenapa tetap datang ke pemakaman seseorang yang mungkin seperti musuh nya.
Ia gelisah dan merasa khawatir akan wanita yang masih ia simpan di hati nya namun ia juga tak menemui wanita itu sama sekali dan hanya melihat nya dari jauh.
...
Bangku panjang, dengan cahaya lampu di tengah malam yang mulai memberikan air jernih nya, suara isakan yang terdengar lirih.
Wanita itu tak bisa kembali sama sekali, langkah nya berat ketika ingin kembali ke mansion nya.
Membuat kaki nya berhenti dan duduk di bangku yang yang berada di sekitar taman tempat itu.
Kesedihan yang membuat nya bahkan tak menyadari hujan yang turun dengan deras di sekeliling nya.
Tak ada satupun dari pakaian nya yang basah, kesedihan yang mampu membuat nya melupakan sekitar nya.
__ADS_1
Kau benar-benar membuat nya menangis...
Jas hitam yang basah karna hujan, rambut dan wajah yang kuyup serta tangan yang memegang payung besar berwarna hitam menutupi tubuh mungil itu dari tetesan dan dingin nya air dari langit itu.