
Mansion Zinchanko.
Ainsley membuang napas nya pelan sembari menggoyangkan keranjang bayi putra nya agar tetap tertidur sedangkan Richard langsung pergi begitu mengantar nya ke mansion setelah dari kediaman nya.
Ia tersenyum miris mengingat orang tua nya tadi, namun entah kenapa ia ingat saat ia dulu menginginkan kebersamaan keluarga nya.
"Makan malam?" gumam nya sembari melihat wajah tenang putra nya.
Kini ia berada dalam mansion itu dan sudah mengetahui jika pemilik mansion dan paman yang ia kenal adalah orang yang sama.
"Benar-benar berbeda," ucap nya membuang napas pelan.
Nyah...
Baby Axel menggeliat dengan tangan mungil nya, "Anak Mommy bangun?"
Ainsley menoleh melihat ke arah putra nya dan langsung mengambil nya agar bisa menggendong nya langsung.
"Kenapa? Lihat Mommy gitu? Hm?" tanya nya sembari mulai mencium pipi putra nya dengan gemas.
Ia menggendong dan membawa nya ke balkon di kamar itu lalu memeluk putra nya dan mengusap punggung nya dengan lembut.
"Apa Mommy ajak Daddy kamu makan malam bersama?" tanya Ainsley pada putra nya.
Nyah...
Kepalan tangan mungil yang menyentuh wajah gadis itu membuat Ainsley tersenyum.
Setiap kali melihat putra nya, ia merasa tenang. Walaupun ia takut dengan pernikahan yang akan ia lakukan nanti nya namun ia selalu merasa lega dan semua ketakutan nya lenyap hanya dengan melihat wajah bayi mungil itu.
"Mommy sayang Axel, Axel kesayangan Mommy..." ucap nya yang terus mengatakan tentang betapa ia menyayangi putra itu.
Bayi mungil itu tersenyum, dan menggeliat dengan gemas melihat ibu nya.
......................
Sementara itu.
Aroma anyir yang kuat mulai merasuki penciuman siapapun yang berada di sana, hari penyambutan yang datang pada nya begitu tiba di tempat kelahiran nya.
"Kenapa jumlah mereka semakin banyak?" ucap nya sembari merenggangkan leher nya melihat beberapa orang yang langsung mengincar nya.
Sedangkan ia tak lagi begitu aktif saat masa kehamilan gadis itu karna takut musuh nya mengincar Ainsley dan membahayakan anak yang berada dalam kandungan nya.
Tangan nya berlumuran darah, tempat yang gelap dengan hanya memberikan sedikit red light untuk sinar di tempat itu.
"Apa lagi si*lan kau mau mati juga?" tanya nya dengan nada rendah dan tatapan yang seakan tak kenal takut.
"Bunuh dia!" perintah yang terdengar dari gelap nya tempat tersebut.
"Mau ku buat usus mu lurus?" tanya pria itu dengan seringai nya.
Pria itu pun bangun begitu ada yang kembali menyerang nya, entah kenapa semua musuh nya di negara asal nya sedang menjadikan nya objek buruan.
Ia bisa saja langsung pergi namun karna ia sekalian ingin mengurangi musuh nya yang sudah berkembang bagai telur semut membuat nya harus membunuh beberapa orang dan merebut apa yang mereka miliki.
Suara tembakan peluru terdengar, tak hanya milik nya namun milik orang yang menyerang juga, sedangkan Liam tengah berada di tempat lain untuk membereskan nya.
Deruan napas yang terdengar memenuhi ruangan serta jeritan yang tertahan saat salah satu anggota tubuh terpotong terdengar jelas.
Cairan merah kental yang tak ada ubah nya dengan air biasa saat melewati sepatu tebal yang di gunakan pria itu.
Pisau tajam itu mengarah tepat ke mata nya, namun Richard berhasil menangkis nya dan menahan nya.
Tangan pria yang mengacungkan nya sama-sama
Crass!!
Pisau yang menusuk di dalam perut itu di putar dan di tarik keatas.
AKH!
"Sudah ku bilang kan? Usus mu akan ku buat lurus," bisik Richard di telinga pria yang tadi nya memerintahkan untuk membunuh nya.
Ia menarik pisau nya keluar, darah segar pun langsung menyembur keluar hingga mengenai wajah nya.
Ukh!
Ringis nya merasakan rasa sakit yang luar biasa, bukan pisau namun tangan pria itu yang masuk ke dalam perut.
AKH!
Suara teriakan yang semakin lirih saat usus pria itu tertarik panjang tanpa adanya lipatan lagi.
"Ck! Menjijikkan!" decak nya kesal.
Drtt...drtt...
Ponsel nya berdering beberapa kali, ia awalnya mengacuhkan nya namun deringan ponsel nya tak terhenti sama sekali.
"Si*l! Seharusnya aku mematikan telpon!" ucap nya kesal saat ia tak merasa bunyi telpon nya tak berhenti juga.
Ia pun mengambil dari saku nya, melihat nama yang memanggil nya, kekesalan nya langsung hilang bagai buih di lautan.
"Halo?" suara menenangkan yang terdengar begitu ia mengangkat ponsel nya.
"Tumben sekali kau menelpon ku?" tanya pria itu dengan senyum di bibir nya dan nada yang menggoda gadis di sebrang sana.
"Malam ini pulang nya masih lama?" tanya Ainsley dari telpon.
Richard diam sejenak, ia masih tak bisa keluar sekarang karna ada beberapa hal yang perlu ia incar.
"Ada apa? Kau mau menunggu ku?" tanya pria itu dengan nada menggoda.
"Aku mau makan malam bersama..." suara lirih yang terdengar dari telpon.
__ADS_1
Richard tersenyum, "Aku akan pulang lebih cepat malam ini."
Hati pria itu seperti musim semi yang menumbuhkan semua bunga nya, gadis itu tak pernah meminta sesuatu ataupun mengajak nya dan berinisiatif lebih dulu.
Dan ini adalah makan malam pertama yang di minta oleh gadis cantik itu.
......................
Mansion Zinchanko.
Ia pun berjalan ke dapur dan melihat beberapa koki di mansion megah itu yang menyiapakan makan malam.
"Kenapa tidak ada brokoli di sini?" tanya Ainsley saat melihat para koki itu tengah membuat makan malam.
Mereka semua sudah tau jika gadis itu yang akan menjadi nyonya di mansion megah itu membuat semua pekerja yang berada di sana begitu menghormati gadis yang tengah melihat makan malam nya.
"Tuan tidak suka brokoli, apa Nyonya ingin memakan nya?" tanya salah satu koki dengan sopan.
"Tidak, masak saja yang ingin kalian siapkan." ucap Ainsley pada para koki.
"Seperti anak kecil..." gumam nya lirih melihat pria dewasa yang ia kenal itu tak menyukai sayuran sampai tak membolehkan para koki nya mencampur dalam masakan nya.
"Apa lagi yang dia tak suka?" tanya Ainsley iseng pada para koki.
"Tuan juga tidak suka kacang merah, makanan dan minuman yang manis." ucap salah satu koki.
"Lalu kenapa banyak caviar di sini?" tanya Ainsley sembari melihat beberapa masakan yang di hias dengan telur ikan mahal itu.
"Dia suka?" tanya Ainsley lagi sebelum ada yang menjawab pertanyaan nya.
"Benar nyonya," ucap salah satu koki.
Ainsley mengangguk, ia pun berjalan keluar sembari bergumam mengingat jenis makanan yang di sukai dan tidak di sukai pria itu.
Setidaknya ia harus sedikit mengetahui dengan apa yang di suka dan tidak di sukai calon suami nya nanti.
Makan malam telah selesai, gadis itu menunggu di depan makanan yang masih hangat saat baru selesai di masak.
Gadis itu menunggu, mengunggu saat yang sama seperti dulu ia menunggu kedua orang tuanya.
Namun kali ini harapan nya lebih besar karna ia merasa yakin jika pria itu akan datang.
Denting jam mulai bergerak hingga memutar lingkaran di dalam nya.
Makanan yang mulai dingin dan malam yang sudah semakin larut.
"Dia tidak datang?" gumam nya lirih sembari melihat ke arah jam nya.
Ia pun mengambil ponsel nya dan terus menelpon pria itu lagi.
"Telpon ku tidak di angkat?" gumam nya mengernyit melihat panggilan nya tak ada yang di terima.
......................
Suasana riuh yang berdarah masih tak berhenti, pria itu ingin cepat kembali namun tak bisa ketika ia harus melewati orang-orang yang mengincar nya lebih dulu.
Ainsley?
Dusk!
Seseorang yang langsung memanfaatkan situasi saat pria itu tengah lengah.
Ukh!
Richard tersentak saat belati tajam itu menembus perut kotak nya, ia tak sadar memberikan celah karna sibuk dengan gadis kesayangan nya.
"Richard?" panggil Ainsley dari telpon saat tak ada suara sama sekali setelah ucapan yang terhenti.
"Dasar bodoh!" umpat pria itu sembari menarik tangan yang tengah memegang belati dalam perut nya.
Cras!
Darah segar dari tubuh nya keluar, ia lupa dengan telpon yang sudah tersambung sebum nya.
"Halo?" panggil Ainsley yang terkejut karna mengira pria itu tengah memaki nya.
Richard mendengar suara gadis itu dan mata pria yang baru saja menikam nya melihat nama di ponsel nya, ia pun langsung mematikan ponsel nya dan menarik rambut pria itu.
"Mata mu seperti nya sudah tidak di perlukan lagi!" ucap nya geram sembari menusuk mata pria itu dengan pisau yang tadi baru saja membelah perut nya.
AKH!
Teriakan terdengar keras di tempat itu bersamaan dengan bola mata yang menggelinding ke lantai kumuh.
Ia tak suka jika orang yang berada di tempat itu bahkan melihat nama gadis nya dari telpon.
"Ukh!" ringis nya menyentuh perut nya yang mengalirkan darah.
Ia masih bisa menahan rasa sakit nya karna tak menggunakan pisau besar ataupun tikaman yang ia dapat tidak di putar seperti yang biasa ia lakukan pada orang lain termasuk pada mantan gadis nya dulu.
Namun bukan berarti luka nya adalah masalah yang ringan dan mudah, ia masih membutuhkan pengobatan untuk menghentikan perdarahan nya.
Setelah ia rasa cukup aman hingga ia bisa pergi tanpa ada yang mengikuti nya ia pun langsung bergegas melaju dengan mobil nya.
"Dia menunggu?" gumam nya yang malah tertuju pada gadis nya.
Ia pun segera menelpon kepala pelayan di mansion nya untuk menyiapkan pakaian ganti dan perban.
......................
Mansion Zinchanko.
Ainsley mengernyit, telpon nya di matikan dan ia dikatakan bodoh, "Apa dia sedang mempermainkan ku?"
Ia merasakan sesuatu yang Dejavu terulang pada nya, dulu ia selalu menunggu makan malam bersama kedua orang tua nya hingga tengah malam bahkan dini hari namun tak kunjung datang.
Sama seperti sekarang yang sudah memasuki pukul 12.35 am namun pria itu tak kunjung datang.
"Pada akhirnya aku tetap berada di titik yang sama..." gumam nya lirih.
__ADS_1
Tak ada yang mengatakan padanya di mana dan sedang apa pria itu saat ini.
Wajar jika ia merasa kecewa ataupun marah karna tak mengetahui apapun.
...
"Tuan! Anda harus di obati lebih dulu!" ucap kepala pelayan melihat tuan nya yang hanya membersihkan luka dan memperban perut nya saja dengan kasa.
"Ainsley masih menunggu?" tanya nya tanpa memperdulikan rasa khawatir pekerja nya.
"Bukan itu yang harus di pikirkan?" ucap kepala pelayan segera ketika ia melihat semua darah yang menetes mengalir dari tubuh tegap pria tampan itu.
"Aku memikirkan nya," jawab Richard yang tak ingin gadis itu tidak makan malam.
Setelah memakai perban sementara Richard pun memakai pakaian dan celana yang berwarna gelap agar tak terlihat noda darah jika kasa itu sudah tak bisa lagi melindungi luka nya.
Jujur saja ia sangat bersemangat dengan inisiatif gadis itu untuk pertama kali nya, namu keadaan yang membuat nya tak bisa menepati janji dengan mudah.
...
Langkah nya terhenti, ia merasakan rasa sakit di tubuh nya namun pria itu menahan nya, ia menyiapkan wajah nya dan menghampiri gadis itu.
"Kau menunggu lama?" tanya nya sembari menyentuh pundak gadis itu.
Ainsley menoleh ia menepis nya segara, "Kalau tidak bisa datang katakan saja."
Richard melihat wajah kesal yang marah dengan mata yang berkaca di gadis cantik itu.
"Kau marah? Aku ada urusan tadi, Hm? Sekarang kita makan malam?" tanya nya sembari melihat makanan yang masih tak tersentuh sama sekali.
"Sudah tidak lapar!" jawab Ainsley ketus sembari terus menepis tangan pria itu.
Ia merasa marah namun ia masih tak tau bahwa pria itu bahkan langsung datang tanpa di obati saat perut nya di tikam.
"Maaf..." ucap Richard dengan nada rendah agar membuat gadis nya tak kesal lagi.
"Bukan nya tadi memaki ku? Kau juga tidak mengangkat telpon ku?" ucap Aianley kesal.
"Kapan aku memaki mu?" tanya Richard mengernyit.
"Tadi bilang aku bodoh!" ucap nya segara.
"Bukan kau yang ku maksud! Dan lagi aku bukan nya sengaja tidak mengangkat telpon mu," ucap nya segara.
Ia bahkan sampai di tikam saat sibuk mengangkat dan menjawab telpon gadis itu.
"Jangan marah lagi, hm?" bujuk nya dengan lembut walau sebenarnya ia ingin segara tumbang karna perdarahan nya belum terhenti.
"Makanan nya sudah dingin," ucap Ainsley singkat.
"Mau buat yang baru?" tanya Richard pada gadis itu.
"Terlalu lama!" jawab Ainsley yang masih kesal.
"Sudahlah, ku rasa aku yang terlalu kekanakan." ucap nya sembari membuang napas saat ia merasa sikap nya seperti tak biasa nya.
Karna ia merasa pria itu tak akan ingkar seperti kedua orang tua nya membuat nya memiliki harapan yang besar sehingga ia measa kesal dan marah ketika pria itu mengingkari perkataan yang sudah di janjikan.
"Tidak akan seperti ini lagi, kita panas kan? Hm?" tawar Richard membujuk gadis itu sembari mengecup kening nya dengan lembut.
"Tidak! Aku tidak mau!" ucap Ainsley yang mendorong tubuh pria itu menjauh hingga mengenai luka tikaman Richard.
Ukh!
Richard kali ini tak bisa menahan ringis nya saat luka nya terdorong oleh tangan gadis itu tanpa sengaja.
Ainsley menoleh, ia merasa pria itu tengah menahan sakit.
"Ada apa?" tanya nya menelisik sembari mengernyit karna ia sangat jarang melihat pria itu menahan merasa sakit.
Richard tersenyum melihat wajah yang terlihat khawatir pada nya, "Mungkin karna aku belum makan malam, makan malam dengan ku yah? Hm?"
Ainsley membuang napas nya, ia pun setuju dan akhirnya Richard pun segera memerintahkan para koki untuk kembali memanaskan makan malam nya.
Setelah beberapa saat.
Pria itu sedikit kesulitan menelan makanan yang berada dalam mulut nya.
Darah nya mengalir keluar karna tadi tak sengaja terkena tangan gadis itu saat mendorong nya.
"Tadi dari mana?" tanya Ainsley sembari menyantap makanan nya.
"Ada urusan," jawab Richard sembari tersenyum pada nya walau ia tengah menahan sakit.
Baginya ini adalah momen yang tak boleh dilewatkan karna ia sangat suka waktu yang ia habiskan bersama gadis yang ia sukai.
Ainsley tak lagi bertanya, ia hanya melanjutkan makan malam nya walau lebih tepat nya malam dini hari.
"Richard?" panggil Ainsley saat ia mulai menyadari wajah pria itu memucat seiring waktu berlalu.
"Kau sudah selsai?" tanya pria itu pada gadis nya.
"Iya," jawab Ainsley mengangguk dan melirik ke arah makanan yang di makan pria itu.
Hanya sedikit yang di makan oleh Richard.
Setelah minum ia pun segara beranjak namun langkah gadis itu terhenti, ia mengernyit melihat noda darah yang berada di atas lantai putih itu ketika ia berjalan.
"Kenapa ada dar- Paman!" panggil nya yang terkejut hingga lupa memanggil nama.
Pria itu terjatuh dan tumbang ke tubuh gadis saat pandangan nya mengabur ketika darah yang ia keluarkan mulai mengambil kesadaran nya.
"Kau lupa? Sudah ku larang panggil paman kan? Hm? Mau di hukum? Gadis nakal..." ucap nya melemah di telinga gadis itu.
Ainsley tak mampu menahan berat tubuh pria itu hingga sama-sama terjatuh.
Deg!
Ia merasakan tangan dan pakaian nya yang ikut basah saat tubuh pria itu menempel pada nya.
__ADS_1
"Paman!" panggil Ainsley dengan panik berusaha agar menyadarkan pria itu.