Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Buat aku percaya


__ADS_3

Dua hari kemudian


Internasional Primary School


Setelah libur akhir pekan nya, bocah menggemaskan itu kembali ke sekolah yang sangat ia sukai karna bertemu dengan banyak teman.


Cake yang di buat oleh sang ibu pun di bawa di dalam tas yang nanti nya ingin ia berikan pada pria yang sering membawakan sesuatu untuk nya.


"Paman!" ucap nya sembari berlari dengan kaki kecil nya ketika melihat pria itu.


Sean tersenyum ia menangkap tubuh bocah itu dan mengusap kepala nya, "Jangan lari-lari nanti jatuh."


"Axel bawain cake buat paman! Mommy yang buat, enak loh!" ucap nya seraya mengeluarkan cake buatan ibu nya.


"Loh? Kok jadi jelek?" ucap nya penuh tanda tanya saat melihat cake yang ia bawa sudah hancur di tas nya.


Sean ikut menoleh melihat nya, "Gak apa-apa, tapi Axel uda izin dulu sama Mommy?" tanya nya sembari mengambil cake yang sudah hancur tersebut.


Axel menggeleng atas pertanyaan dari pria itu, "Belum, tapi Mommy baik kok! Gak akan malah sama Axel! Axel kan gak nakal!" ucap nya dengan polos.


"Iya, Axel anak baik." ucap Sean sembari mencubit pipi anak itu.


......................


Mansion Zinchanko


Liam memberikan data yang berisi tentang permintaan ilegal yang di kirim untuk di selesaikan oleh tuan nya.


"Jantung?" tanya nya lagi sembari melihat data tersebut.


"Benar tuan," jawab Liam mengiyakan ucapan pria itu.


"Sedikit sulit mencari yang sesuai, dia minta berapa lama?" tanya Richard lagi.


Walau mereka bisa mendapatkan dengan cepat melalui perdagangan manusia namun tak semua nya bisa di gunakan karna harus melalui tes lagi dan beberapa rangkaian yang di persiapkan.


"Secepatnya, mereka tidak katakan berapa lama tapi jika lebih cepat maka lebih baik dan mereka kan menambah benefit dari kontrak nya," jawab Liam pada pria itu.


"Baik, terima saja pesanan nya." jawab pria itu yang tak tau jika keputusan nya saat ini akan menentukan masa depan nya juga.


Liam mengangguk dan segera keluar guna mengurus segala keperluan yang akan di lakukan serta mencari pesanan yang sesuai.


Tak berselang lama pintu ruangan pria itu terbuka, ia menoleh melihat ke arah siapa yang datang lagi ke ruangan nya.


"Kau masih kerja? Belum istirahat?" tanya Ainsley sembari membawakan teh dan makan siang untuk pria itu.


Richard tersenyum dan bangun dari duduk nya, "Kenapa? Rindu?" tanya nya menghampiri wanita itu.


"Kau tidak makan siang jadi aku bawa kesini," ucap nya sembari meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja di depan sofa yang berada di ruangan besar dan terlihat elegan serta mewah tersebut.

__ADS_1


"Makan pembuka nya sudah di bawa?" tanya pria itu sembari melihat makanan yang di bawa oleh istri nya dan mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Pembuka? Mau ku ambilkan?" tanya Ainsley mengernyit.


Pria itu tersenyum ia menarik tangan wanita itu hingga ikut duduk di samping nya.


Cup!


"Kan makanan pembuka nya di sini," ucap nya nya setelah mengecup bibir wanita itu.


"Aku kan bukan makanan," ucap Ainsley setelah pria itu mengecup nya.


"Iya, memang bukan kau kan istri ku." jawab Richard tersenyum.


Ainsley melihat mata pria yang tersenyum pada nya, jika ia tak memancing cemburu pria itu maka sikap pria itu pun akan sangat manis.


"Richard?" panggil Ainsley saat melihat pria itu tengah memakan makanan nya.


Richard menoleh ke arah istrinya, "Hm? Ada apa?" tanya nya lagi.


"Kau bisa percaya pada ku kan?" tanya Ainsley sembari menatap mata pria itu.


"Tidak," jawab Richard dengan cepat.


"Kenapa? Aku tidak akan selingkuh dari mu, aku juga gak mau macam-macam." ucap Ainsley sembari melihat wajah suami nya.


Ainsley menggeleng, "Aku mau kau percaya pada ku, jangan cemburu dengan semua orang. Cukup percaya kalau aku tidak akan meninggalkan mu."


"Tapi kau selalu bersikap selalu akan pergi," ucap Richard yang masih penuh dengan kekhawatiran nya.


"Aku mau kau percaya, aku mau kita saling percaya satu sama lain." Ainsley yang kembali berusaha meyakinkan pria itu.


Richard meletakkan sendok nya, ia mengambil segelas air yang di siapkan di samping makanan nya dan kembali menatap istri nya.


"Kau bisa mudah bilang seperti itu karna kau tau aku mencintai mu sedangkan aku? Kau itu seperti gelembung sabun. Mudah pecah, mudah hilang. Aku tidak akan bisa mengumpulkan yang dan menyatukan gelembung yang pecah itu kan?" tanya Richard pada wanita itu.


"Kalau begitu kau tinggal buat gelembung yang lain nya, kan berasal dari sabun yang sama." jawab Ainsley yang tak mengerti maksud pria itu.


"Meniup gelembung yang lain itu tidak akan sama dengan gelembung yang sebelum nya, apa kau tidak tau apa arti dari ucapan mu barusan?" tanya pria itu mengernyit.


Membuat dan meniup gelembung lain nya sama saja dengan meminta pria itu untuk mencari wanita lain yang bersama dirinya.


"Kan banyak gelembung, lagi pula kalau aku jadi gelembung sabun aku bakalan jadi gelembung yang tidak mudah pecah," jawab Ainsley yang tak mengerti dengan maksud pria itu.


"Tapi khawatir karna aku tau gelembung itu mudah pecah, aku tidak mau kehilangan mu." ucap Richard sembari menatap lekat iris wanita itu.


"Tapi kau pernah meracuni ku, kalau memang takut kehilangan kenapa melakukan nya?" tanya Ainsley sembari menatap pria itu.


"Karna aku mencintai mu, tapi setelah melihat mu tidak sadar aku merasa kehilangan. Aku juga tidak tau aku harus apa." ucap nya sembari melihat mata hijau yang memandang nya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi, aku juga tidak berniat untuk bermain pria." ucap Ainsley sembari memegang tangan suami nya.


Richard melihat dan merasakan tangan halus yang memegang nya.


"Kenapa kau minta hal seperti ini?" tanya nya dengan mengernyit.


"Aku mau seperti orang lain nya, mau antar jemput Axel mau kita sering keluar bersama bertiga, mau berteman." ucap nya sembari menatap ke arah suami nya.


"Di luar bahaya, kau tau? Membiarkan Axel sekolah di luar saja sudah membuat ku khawatir," ucap nya yang tau jika kehidupan keluarga nya tak akan bisa normal karna banyak bahaya yang mengintai.


"Ada kau yang akan melindungi kami kan?" tanya Ainsley sembari menatap mata pria itu.


Jujur saja dengan sikap posesif dan cemburu yang luar biasa dari suami nya ia tak bisa mempercayai perkataan itu begitu saja.


Ia merasa jika suami nya hanya menakuti nya agar ia tak melangkahkan kaki nya keluar dari mansion megah tersebut.


"Kau mau liburan?" tanya Richard pada wanita itu.


"Aku mau belanja, mau bertemu Vindi, mau salon, aku mau semua nya." ucap nya yang mengatakan keinginan nya saat melihat media sosial teman nya.


Bukan nya ia tak bisa melakukan nya, namun ia melakukan nya dari mansion pria itu mau itu salon, belanja, memasak, hanya berpusat di mansion pria itu ataupun mansion lain nya yang terkadang ia tempati saat mereka berpergian.


"Kan bisa di sini," jawab Richard pada wanita itu.


"Tapi aku juga mau keluar," ucap Ainsley lagi.


"Kemarin sudah kan? Kau keluar dengan Clarinda." ucap pria itu yang menyebut nama ibu angkat istri nya.


"Iya, makanya aku mau keluar lagi." jawab Ainsley lirih yang suka saat melihat berbagai hal baru di mata nya.


"Bahaya," ucap Richard yang tak membolehkan juga.


"Richard," panggil Ainsley lagi.


"Kau mau bertemu pria? Makanya ingin sekali keluar?" tuduh nya yang mulai kembali bersikap cemburu pada hal yang tak pasti.


"Apa? Bukan! Aku mau keluar saja," ucap nya lagi.


Pria itu menarik napas nya dengan pelan ketika mendengar ucapan wanita itu.


"Datang bulan mu sudah selesai?" tanya nya sembari menatap ke arah istri nya.


"Datang bulan? Harusnya sudah karna tidak- Humph!" mata nya membulat seketika namun kemudian memejam membiarkan pria itu memakan bibir nya.


"Kau tidak jawab? Aku bisa kel-"


Cup!


"Aku masih belum bisa percaya, kau harus lebih berusaha meyakinkan ku lagi." ucap nya setelah mengecup bibir wanita itu dan mulai menyentuh paha istri nya.

__ADS_1


__ADS_2