
Kediaman Clarinda.
Wanita itu berjalan ke kamar putri nya membawa salad segar untuk camilan saat ia bercerita dengan gadis itu.
"Astaga! Calesta!" ucap nya terkejut saat melihat gadis itu meringkuk di lantai.
"Ma-mamah..." ucap gadis itu meringis.
Clarinda langsung mendekap gadis itu dan memeluk nya, "Tidak apa-apa, Mamah di sini...
Jangan takut sayang..."
"Suruh dia pergi Mah..." ucap gadis itu lirih sembari menutup telinga nya.
Tubuh nya gemetar dengan hebat dan mulai melemah dalam pelukan Clarinda.
"Calesta? Sayang? Kenapa nak?" tanya Clarinda panik sembari menepuk pipi gadis itu yang sudah kehilangan kesadaran nya.
...
Wanita itu menggenggam erat tangan putri nya, ia memanggil dokter dan sudah melakukan pemeriksaan, sekali lagi masalah yang memperburuk gadis itu adalah psikis nya.
Mata nya mulai menerjap, ia membuka perlahan dan menatap wanita yang menangis lirih di samping tempat tidur nya.
"Mamah?" panggil nya pada sang ibu.
"Sayang? Sudah bangun?" ucap Clarinda yang langsung mendekat.
"Mamah kenapa nangis? Mamah sakit?" tanya Calesta yang langsung menyeka air mata ibu angkat nya.
Clarinda menggeleng, ia menatap dalam putri cantik nya dan melihat menyeluruh, "Calesta mau terapi untuk balikin ingatan Calesta tidak?"
Gadis itu langsung mengernyit ia langsung menggeleng tak mau, "Kenapa? Mamah mau pulangkan Calesta ke Prancis?" tanya gadis itu langsung.
"Bukan! Bukan seperti itu, Mamah hanya tidak mau lihat kamu seperti ini lagi?" ucap Clarinda.
Setelah konsultasi dengan psikiater yang merawat gadis itu, ia mengalami halusinasi dan pecahan memori yang menyakiti nya karna tak dapat mengingat semua masa lalu nya.
Masa lalu yang mulai kembali tersusun satu persatu dan kembali menyakiti nya tanpa sadar.
"Memang nya Calesta kenapa?" tanya gadis itu lagi, ia tak ingat lagi sempat histeris saat mendengar halusinasi nya.
Clarinda diam ia menatap sejenak ke arah sang dokter yang masih berada di dalam kamar tersebut.
Sang dokter pun mulai memberi penjelasan yang tak begitu membebani gadis itu.
"Tidak kok! Calesta baik-baik saja!" sanggah Calesta langsung pada sang dokter.
Yang di khawatirkan saat ini adalah pengalihan identitas karna saat gadis itu mengalami serangan panik mendadak maka ia akan kehilangan identitas nya.
Antara Ainsley atau Calesta yang tak dapat ia ingat kedua nya dan dapat menciptakan emosi baru.
Clarinda pun memilih bicara pada sang dokter agar tak terdengar oleh putri kesayangan nya itu.
....
Satu bulan kemudian.
__ADS_1
Clarinda menyiapkan beberapa psikiater wanita yang ia pekerjakan di rumah nya dan berguna untuk mendekat pada putri nya tanpa tau jika mereka adalah dokter.
Hal ini di lakukan agar gadis itu tak merasa takut akan 'Dibuang' karna itulah yang menjadi dasar pemikiran nya jika Clarinda mengungkit tentang masa lalu nya.
Keadaan nya mulai membaik, tak ada halusinasi dan semua berjalan kembali normal seperti sebelum nya.
......................
Mansion Zinchanko.
"Pa-paman sudah..." rintih gadis itu saat berada dalam kungkungan pria tampan itu.
Richard langsung menarik tangan gadis itu membawa nya ke mansion dan mulai memakan nya.
Setelah perselisihan nya dengan O'Prey tiga tahun lalu ia kembali memiliki perselisihan dengan musuh nya yang semakin menggunung, apa lagi sejak ia pindah ke Spanyol yang membuat para tikus itu semakin bergerak guna menghancurkan nya untuk balas dendam ataupun merebut apa yang sudah ia capai.
Hal itu lah yang membuat ia sekarang mulai semakin sibuk membereskan masalah sebelum para musuh nya mendekat ke radar yang ingin ia lindungi.
Dan karna itu ia jadi mulai jarang menyentuh tubuh gadis itu, tubuh yang memiliki efek lebih tinggi di bandingkan ekstasi dan morfin.
"Kita sudah tak melakukan nya selama 23 hari, kau tak merindukan nya?" tanya pria itu sembari berbisik di telinga gadis itu.
"23 hari? Pa-paman menghi- Shh...
hitung nya?" tanya gadis itu tak jelas saat ia merasakan lidah hangat pria itu menyapu belakang telinga nya saat pergerakan yang di lakukan semakin cepat.
Tubuh nya kembali melengkung ia memeluk pria itu kembali dan melepaskan yang membuat nya tertahan.
"I.. Istirahat sebentar..." ucap nya menarik napas dan terengah-engah.
Apalagi jika bukan untuk membangkitkan gairah gadis itu karna ia masih belum cukup walaupun sudah membuat tubuh mungil mencapai batas nya berkali-kali.
"Paman...
Kalau ada yang lihat gimana?" tanya Calesta di sela lum*tan pria itu yang menangkup tubuh nya.
"Mereka tak ada ada yang datang kesini, aku juga sudah minta untuk mematikan cctv di sini jangan takut," jawab pria sembari melepaskan lum*tan nya.
"Paman...
Aku sudah tidak sanggup lagi..." tolak gadis itu sembari mendorong tubuh yang tengah melekat pada nya bagaikan bayi besar dengan tenaga lemah nya.
"Iya, makanya setelah ini kita selesai." ucap pria itu sembari membalik tubuh gadis itu dan menyandarkan nya ke sandaran sofa empuk yang lebar tersebut.
Ia mencium punggung putih yang bersih itu dan menj*lat bekas kecelakaan nya yang masih terlihat karna masih dalam pemulihan untuk menghilangkan bekas luka tersebut.
Tangan nya bergerak menggelitik bagian sensitif gadis itu dan membuat bibir mungil itu kembali men**sah lalu ia pun kembali melakukan penyatuan nya.
"Panggil nama ku," bisik pria itu di balik telinga gadis cantik itu.
Calesta tak menurut ia hanya diam tak mengindahkan permintaan pria itu, hingga ia merasakan sesuatu yang semakin menggelitik nya dan gerakan yang semakin kuat membuat nya meringis sembari merasakan sesuatu yang meluap.
"Ri-richard...
Engh..." panggil nya lirih terbata-bata.
Pria itu tersenyum ia memelankan tempo dan mengecup punggung gadis itu hingga tak ada satupun tempat yang tak tertinggal bekas percintaan nya.
__ADS_1
Gadis itu tak bisa melakukan apapun, tubuh nya memanas kembali dan pria itu memakan tubuh nya lagi dan lagi hingga mengeluarkan semua kehangatan nya di dalam tubuh gadis itu.
...
3 Jam kemudian.
"Paman bangun!" panggil gadis itu sembari menggoyangkan lengan pria itu.
Tak lama Calesta tertidur ia pun ikut tertidur karna memang ia baru saja tiba di Spanyol namun langsung mencari gadis itu dan meminta nya untuk kembali berhubungan.
"Kenapa? Mau lagi?" tanya pria itu yang mulai terbangun dan mengusap sebelah mata nya.
"Hush! Mau pindah ke kamar!" jawab gadis itu sembari mencubit lengan pria itu dengan kuat.
"Lalu lanjutkan yang tadi?" tanya pria itu tersenyum sembari memeluk tubuh polos tersebut yang masih berada di sofa tersebut.
"Mau tidur! Risih di sini!" jawab gadis itu sembari mendorong dada bidang mendekap nya dan berusaha meloloskan diri.
Richard tertawa mendengar ucapan ketus gadis itu, ia bangun dan mulai memakai celana nya yang berserakan lalu memakai kan kemeja longgar nya ke tubuh gadis itu kemudian menggendong nya ke kamar.
......................
"Kenapa banyak sekali?" tanya gadis itu saat ia di pakaikan syal dan topi tebal serta jaket yang menutupi seluruh tubuh nya.
"Sekarang cuaca nya semakin dingin, nanti kau sakit..." ucap Richard saat memakai kan gadis itu topi rajut.
Calesta menatap curiga pada pria itu.
"Ada apa dengan tatapan mu itu?" tanya Richard saat menatap pandangan gadis itu.
"Paman tidak mau aku sakit atau takut aku tidak bisa melakukan nya?" tanya gadis itu dengan nada curiga.
"Kedua nya," jawab pria itu dengan senyuman menggoda nya dan memakai sabuk pengaman nya.
Ia mulai melajukan mobil nya dan melirik gadis itu yang tengah meminum obat, "Kau sakit?"
Calesta menghabiskan air mineral nya yang berada dalam botol dan menoleh ke arah pria itu, "Tidak, ini pil KB."
Richard mengangguk ia melirik ke arah pil tersebut dan kembali melajukan mobil nya.
...
Setelah mengantar gadis itu kembali sekaligus membawa nya jalan-jalan Richard kembali ke mansion nya, ia membuka laci rias nya dan melihat pil KB yang selalu di minum gadis itu.
Ia pun mengambil dan membawa nya, "Ganti dengan Placebo."
NB KET : Placebo adalah “obat palsu” yang bentuknya dibuat mirip dengan obat asli. Disebut juga obat kosong yang tak memiliki kandungan apapun.
Liam mengambil apa yang di lemparkan tuan nya dan melihat pil KB yang selalu di minum gadis yang selalu menjadi teman tidur tuan nya.
Menggunakan Placebo sebagai pil KB tentu nya tidak akan berfungsi untuk dapat mencegah kehamilan seperti yang di inginkan gadis itu.
"Baik tuan," jawab nya patuh fan mengerti maksud tuan nya.
__ADS_1