Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Uncle!


__ADS_3

eps sebelum nya.


"Menurut mu?" jawab Richard tersenyum simpul sembari menyentuh dagu halus gadis itu yang ingin ia terkam di tempat yang sangat memungkinkan itu.


......................


Ainsley menatap bingung ia tak bisa membaca pikiran orang lain.


"Kau benar-benar lucu yah?" tanya Richard sembari tertawa kecil menatap mata polos gadis itu.


"Apanya yang lucu?" tanya Ainsley bingung.


"Sangat mudah di bodohi," ucap Richard dan duduk di sebelah gadis itu.


"Aku tak bodoh! Nilai ku turun juga baru kali ini biasanya tak pernah!" sanggah Ainsley dengan cepat.


Richard hanya menghela nafas nya melihat sikap polos gadis itu, tak heran jika ia bisa sampai di kunci di ruang tak terpakai.


"Kau tidak takut? Disini gelap hanya ada sedikit cahaya dan lagi kau juga..." ucap Richard menggantung karna di bandingkan kegelapan dirinya lah yang lebih berbahaya.


"Takut? Kalau tidak ada hantu nya aku tidak takut, lagi pula tidak terlalu gelap..." jawab Ainsley lirih sembari melihat cahaya yang masuk dari fentilasi udara.


Richard melihat mata gadis itu, mata yang menampilkan kesedihan di dalam nya.


"Oh iya!" ucap Ainsley terkesikap hingga membuat Richard sedikit terkejut karna suara gadis itu yang tiba-tiba meninggi.


"Nanti bisa terlambat! Dosen baru nya kan menyebalkan! Nanti bisa di marahi! Ayo pak kita cari jalan keluar nya!" ucap Ainsley yang kembali menjerit dan menggedor pintu di ruangan tersebut.


Dia ini bodoh atau polos sih?!


Decak Richard yang merasa terganggu dengan suara berisik karna Ainsley berusaha berteriak.


"Berisik! Kau tidak akan di marahi lagi pula kan aku juga terjebak di sini!" bentak Richard pada gadis itu.


Ainsley tersentak ia terdiam membatu mendengar bentakan pria di depan nya.


"I-iya juga anda kan berada disini..." ucap Ainsley lirih dengan tertunduk.


"Tadi kau juga bilang aku menyebalkan?!" tanya Richard lagi sembari semakin memojokkan gadis itu ke pintu.


"Eh?!" Ainsley terkejut ia ingat barusan ia tanpa sadar mengatakan apa yang berada di pikiran nya.


"Bu-bukan pak, tadi saya bilang..." ucap nya terputus karna tak tau alasan yang akan ia gunakan.

__ADS_1


"Apa?!" tanya Richard dengan nada dingin pada gadis itu.


"Lupa pak..." ucap Ainsley beralasan dengan nada lirih.


"Lupa? Kau pikir itu alasan masuk akal?" tanya nya lagi dengan nada penuh penekanan pada gadis yang terlihat gugup itu.


"Maaf..." ucap Ainsley lirih dengan menunduk.


Richard menghela nafas ia semakin tertarik pada gadis itu, dan ingin melihat wajah asli yang ia anggap sebagai kepura-puraan.


Karna bagi nya tak mungkin ada gadis yang bisa sepolos dan sebaik itu.


"Ck! Sudahlah!" ucap Richard berdecak, "Kau tak takut di sini?" sambung nya sembari menatap ke arah gadis itu.


"Tidak! Kan ada Pak dosen!" ucap nya tiba-tiba hingga membuat Richard tersentak.


"Kalau aku tak ada kau tak takut? Biasanya perempuan akan menangis ketakutan di situasi seperti ini," tanya Richard setelah mengusap telinga nya.


"Kalau disini tidak ada hantu nya aku tidak takut! Lagi pula disini..." jawab Ainsley dengan kalimat terpotong.


"Apa?" tanya Richard penasaran.


"Lebih terang, cahaya nya lebih banyak..." jawab Ainsley dengan senyum tipis nya.


Ainsley pun mengatakan hal tersebut bukan tanpa alasan, ia memang sejak kecil sering di kurung dalam ruang bawah tanah oleh ibu nya setiap kali ia di anggap nakal dan melakukan kesalahan walaupun sebenar nya ia tak melakukan apapun yang harus nya pantas di hukum.


"Benarkah?" Richard membuang wajah nya dan menatap ke arah tali karet yang terletak tak jauh dari nya.


"Pak dosen mau membuat kunci imitasi dari tali karet?" tanya Ainsley dengan wajah polos nya menatap pria itu.


"Kau pikir bisa? Mana ada hal seperti itu," jawab pria berwajah tegas tersebut.


"Di kartun yang saya lihat di ponsel Sean bisa!" jawab Ainsley semangat.


"Bukan, kau lihat ini?" tanya Richard sembari membentuk garis bintang dengan tali yang bertaut di jemari nya.


"Wah! Pak dosen hebat sekali!" ucap Ainsley dengan mata berbinar, bagi nya ini adalah baru karna ia memang tak pernah memainkan permainan apapun kecuali belajar.


Tanpa sadar bibir pria itu tertarik seulas senyuman melihat tingkah gadis itu yang seperti anak-anak yang menemukan ekploitasi nya.


"Sudah ku bilang saat hanya kita berdua jangan panggil aku 'Pak' terlalu baku," ucap Richard sedangkan gadis itu hanya terfokus pada tali di jemari tangan nya.


"Lalu saya harus bilang apa?" tanya Ainsley sembari mengandah menatap ke arah mata pria itu.

__ADS_1


"Nama ku? Mungkin itu lebih baik?" ucap Richard tanpa sadar, keluguan gadis itu membuat tingkat waspada nya menurun.


"Tapi kan anda pengajar saya...


Saya tak nyaman jika hanya memanggil nama," ucap Ainsley seraya berfikir.


"Paman! Saya panggil anda Paman saja boleh?" tanya Ainsley dengan senyum cerah nya.


"Aku bukan pa-"


"Saya rasa bagus, kan?" potong gadis itu dengan ocehan nya.


"Kau pikir aku sangat tua untuk jadi paman mu?!" tanya pria itu kesal, semua orang biasanya selalu menghormati dan memanggil ' 'tuan' namun gadis itu malah dengan mudah memanggil nya 'paman'.


"Bukan nya jarak usia saya dan anda memang jauh? Jadi paman lebih cocok kan? Saya juga lebih nyaman memanggil seperti itu dari pada hanya nama." jawab Ainsley dengan senyum polos nya.


"Kau ini pintar atau bodoh?" gumam Richard saat melihat senyum polos gadis itu.


"Pasti banyak yang mengejar mu, kan?" ucap Richard tiba-tiba sembari terus membentuk pola tali di jemari nya.


"Kenapa saya di kejar? Saya tak punya salah apapun," jawab Ainsley yang mulai mencoba meniru tangan pria itu.


"Maksud ku yang menyukai mu," ucap Richard menghela nafas karna gadis itu yang sangat tak paham dengan istilah luar.


"Tidak ada, cuma Sean yang suka pada saya." jawab Ainsley yang tengah fokus meniru pola tali di tangan pria itu.


"Pasti banyak yang suka dengan mu," decak Richard karna tau gadis seperti kelinci polos menggemaskan itu sangat mudah di jadikan santapan para pria seperti nya.


"Kenapa?" tanya Ainsley yang kemudian mengandah pada pria di depan nya.


"Hm?" Richard yang bingung dengan pertanyaan gadis itu.


"Kenapa bisa banyak yang suka pada saya?" ulang Ainsley sekali lagi, ia tak pernah memiliki teman atau pacar sebelum nya dan bahkan orang tua nya sendiri sangat membenci nya.


"Cantik?" ucap Richard yang bingung bagaimana cara menjelaskan nya.


"Kalau begitu paman juga pasti banyak yang suka!" seru Ainsley sekali lagi.


"Tentu saja," ucap Richard tersenyum simpul melihat wajah gadis yang menunjukkan semua isi hati nya, "Lalu kau suka pada ku juga?" tanya Richard dengan tawa kecil nya.


"Tentu saja suka! Paman kan tampan!" ucap Ainsley dengan polos nya mengatakan apa yang ingin ia katakan, "Eh? Masih lebih tampan Sean! Paman tampan nya yang kedua!" sambung nya lagi yang tetap mengutamakan kekasih nya.


"Kau benar-benar tau cara membuat orang lain kesal," decak Richard yang sudah di puji lalu di jatuhkan.

__ADS_1


Sedangkan gadis itu hanya terus tersenyum dengan wajah polos tanpa pernah tau jika ia sudah mulai masuk ke dalam jeratan kawat duri yang mulai di bangun pria di depan nya.


__ADS_2