Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Tidak tau cara mengurus anak


__ADS_3

Ainsley menekuk wajah nya menatap pria yang terlihat senang di samping nya sembari membawa mobil tersebut.


"Kenapa masih cemberut? Salon udah, belanja juga udah, kita juga makan di luar hari ini. Terus kenapa masih cemberut lagi? Hm?" tanya pria itu tersenyum yang pura-pura tak tau keadaan istri nya.


Ainsley tak menjawab namun hanya menggeser duduk nya dengan wajah yang semakin cemberut.


"Sayang? My hubby? Luv?" panggil pria itu yang membujuk istrinya dengan godaan kecil.


"Ngantuk! Mau tidur!" jawab Ainsley sekilas dan memejamkan mata nya.


"Yaudah, istirahat dulu sekarang. Nanti malam coba lingerie baru yang ku pilihkan untuk mu tadi yah," ucap Richard tersenyum dengan smirk nya.


Mata Ainsley langsung membulat seketika mendengar nya, ia menatap pria itu yang tengah tertawa kecil dan terlihat sangat senang itu.


"Lagi? Tadi kan udah!" ucap nya yang merasa kesal.


"Kan cuma sebentar tadi, baru juga sekali." jawab Richard mengelak dan masih menginginkan hal itu pada istri nya.


Ainsley tak menjawab, percuma saja ia berdebat jika nanti nya tetap akan memiliki hasil yang sama.


...


Internasional Primary School.


"Bye, uncle!" ucap Axel sembari melambaikan tangan nya dengan senyuman cerah di bibir nya.


Pria itu tersenyum, bocah menggemaskan yang perlahan menarik kasih sayang nya membuat nya ingin menemui anak itu terus menerus.


Sean masuk ke dalam mobil nya, menghidupkan benda mahal itu dan mulai melakukan mobil nya.


Sedangkan Axel juga mulai beranjak dari tempat ia berdiri dan ingin menuju ruang tunggu di sekolah nya.


"Axel?"


Bocah menggemaskan itu berbalik begitu mendengar suara wanita yang sangat ia sayangi, "Mommy?"


Tubuhnya langsung berbalik dan dengan langkah nya yang semangat ia langsung menghampiri sang ibu.


"Mommy yang jemput Axel?" tanya anak berumur 5 tahun lebih itu pada sang ibu.


"Sama Daddy juga jemput nya," jawab Ainsley sembari mencubit kecil pipi putra nya dengan gemas.


Axel membuka tangan nya dengan lebar sembari menatap wajah sang ibu.


"Gendong Mom," pinta nya dengan wajah yang begitu menggemaskan hingga membuat wanita itu tak mampu menolak.


Richard yang dari mobil melihat putra nya meminta untuk di gendong langsung keluar dan mendekat.


"Sama Daddy aja yah gendong nya," ucap nya langsung mengangkat tubuh putra kesayangan nya.


Ia tau istrinya tak memiliki stamina sebanyak itu setelah bermain dengan posisi berdiri di mall sebelum nya.


Axel memberontak dalam gendongan sang ayah, ia mau di gendong ibu nya dan bukan ayah nya.


"Ih! Daddy! Axel kan mau di gendong Mommy, bukan Daddy!" ucap Axel sembari menekuk bibir nya.


"Axel gak sayang Daddy? Hm?" tanya Richard tak melepaskan gendongan putra nya yang sudah bergerak kesana dan kemari.


"Sayang, tapi kan Axel seling di gendong Daddy. Mau nya di gendong Mommy." jawab nya cemberut.


Richard pun mendekat ke arah putra nya yang menggemaskan, "Mommy nya lagi lelah karna buat proyek untuk adik Axel tadi."


Axel mendengar bisikan sang ayah, "Nanti Daddy bohong lagi?" tanya nya tak yakin.


Dalam bayangan anak kecil itu memiliki adik tak perlu waktu lama, ia hanya menginginkan adik instan yang bisa keluar dengan cepat dan bermain dengan nya.


"Kok bohong? Daddy tuh mau kasih adik buat Axel tau," ucap Richard yang mengikuti gaya bicara putra kesayangan nya.


"Kalian bicara apa?" tanya Ainsley saat melihat putra dan suami nya yang asik bicara dengan nada berbisik.


Richard hanya tersenyum dan menatap wanita itu, "Axel imut kan?" tanya nya pada sang istri.


Ainsley tersenyum sembari menatap putra nya yang tetap cemberut karna tak di gendong oleh nya, "Iya, anak Mommy paling imut."


"Huh! Tapi Mommy gak mau gendong Axel!" ucap nya yang masih kesal walaupun sang ayah sudah mengatakan sang ibu lelah karna sedang melakukan proyek adik baru nya.


"Sini Mommy yang gendong," ucap Ainsley sembari mengambil putranya dalam gendongan suami nya.


Richard menahan nya, namun saat wanita itu mengangguk dan ingin membiarkan suami nya membiarkan saja ia menggendong putra nya.


"Sekarang sudah sama Mommy kan?" tanya Ainsley tersenyum pada putra kesayangan nya.


"Sayang Mommy!"


Cup!


Axel pun langsung mencium pipi ibu nya saat ia sudah berada dalam gendongan sang ibu.


"Daddy engga?" tanya Richard tersenyum.


"Sayang Daddy juga!"


Cup!

__ADS_1


Satu kecupan pun melayang saat anak yang terlihat manis itu mencium pipi nya.


"Axel nya Daddy imut sekali, Mom buatin adik untuk Axel yuk," ajak pria itu pada istri nya.


Ainsley yang tadi nya tersenyum gemas pada putra nya langsung membelalak saat mendengar ajakan suami nya.


"Apa?" tanya nya mengernyit.


Richard langsung bersikap seperti tak mengatakan apapun karna ia tau wanita itu akan mengomeli nya jika mengatakan hal yang tidak-tidak di depan putra mereka.


"Apa? Tadi aku bilang apa?" tanya nya pura-pura tak tau dengan wajah yang seperti tak melakukan apapun.


"Jangan bilang begitu!" ucap Ainsley pada suami nya.


"Kenapa gak boleh Mom? Axel kan mau adik, kasih Axel tiga adik dong Mom..." ucap anak lelaki pada sang ibu dengan wajah polos dan mata penuh pengharapan.


"Kalau gini nanti Daddy harus buat nya lebih sering tiga kali lipat, ya kan Mom?" tanya Richard yang langsung mengambil kesempatan.


Ainsley hanya tersenyum bingung, ingin bilang tidak namun ia tak bisa menolak wajah menggemaskan putra nya yang begitu berbinar hingga membuat nya tak sanggup untuk menolak namun jika pria itu yang ingin lebih sering tiga kali lipat dari biasa mereka berhubungan maka di pastikan ia tak akan bisa turun dari ranjang nya lagi.


Axel tersenyum dan menyandarkan kepala nya pada sang ibu saat ia merasa nyaman dalam gendongan wanita cantik itu.


"Daddy, kita ke taman belmain boleh gak? Axel mau naik baling-baling." ucap nya meminta pada sang ayah.


"Boleh," jawab Richard segera pada putra nya.


Ainsley pun menggendong tubuh putra nya hingga masuk ke dalam mobil.


"Axel mau duduk di belakang apa Mommy pangku nak?" tanya Ainsley pada putra nya.


"Mau di pangku Mommy," jawab nya dengan mata dan tatapan yang polos.


Ainsley hanya tersenyum melihat putra kesayangan nya dan terus memangku nya, sedangkan Axel kini mulai bermain di dashboard mobil dan melihat ke arah sekeliling nya.


Ia melihat salah satu bekas minuman yang tadi nya di minum sang ibu, "Ih Mommy beli es, Axel gak di kasih..." gumam nya dengan wajah lesu.


"Iya, nanti beli juga sama Mommy yah." ucap Ainsley pada putra nya.


"Mommy suka coklat sama kayak Axel," ucap nya saat melihat minuman sang ibu.


"Engga tuh, Axel salah." potong Richard pada putra nya saat mengganggu anak kecil itu sembari membawa mobil nya.


"Kok salah sih? Mommy tuh suka nya coklat!" sanggah Axel langsung pada sang ayah.


"Mommy tuh suka nya vanila bukan coklat," jawab pria itu tertawa.


Ainsley mengernyit mendengar perdebatan suami dan putra nya yang tidak ada habis nya karna pria itu sangat suka menunggu anak mereka.


"Vanila? Tapi Axel seling lihat Mommy makan sama minum Coklat bukan nya vanila," ujar nya dengan tatapan bingung.


Richard tersenyum mendengar nya, "Mommy tuh suka nya Vanila yang dari Daddy, jadi Axel gak bakal tau." ujar pria itu tertawa ringan.


Mata Aiansly langsung membulat, sejak tadi ia ingin menepis pikiran kotor nya namun kini ia tak lagi bisa berpikir positif.


Bugh!


Tangan nya langsung memukul bahu pria yang tengah menyetir itu dengan kuat, "Richard!" panggil Ainsley dengan tatapan tajam ke arah pria itu.


Sedangkan Axel yang tak mengerti apapun ia hanya melihat ke arah sang ibu, "Memang nya Daddy bisa buat vanila?" tanya nya dengan polos.


"Bisa! Vanila alami, Axel juga terbuat dari vanila." ucap pria itu tertawa.


"Richard!!!" panggil Ainsley lagi dengan geram pada pria itu karna membuat putra nya yang masih polos mendengar percakapan orang dewasa.


Richard hanya tertawa melihat sang istri yang menatap nya dengan kesal, ia tau jika apapun yang ia katakan pada putra nya, pria kecil itu tak akan mengerti.


"Belalti Axel telbuat dali Coklat Mom?" tanya nya dengan wajah polos pada sang ibu dan mata yang hampir menangis.


"Mommy?" panggil nya lagi sembari menatap ibu nya dan kini ia sudah menangis karna gurauan sang ayah.


"Kenapa nangis sayang?" tanya Ainsley sembari menghapus air mata putra nya.


"Kalau Axel telbuat dali vanila Daddy belalti Axel dari coklat dong? Axel gak mau di makan, huhu..." tangis nya sembari memeluk sang ibu.


Sedangkan Richard hanya tertawa melihat putra nya yang menangis, ia gemas dengan kepolosan putra kesayangan nya yang hampir mirip dengan sang ibu dulunya.


"Tuh kan! Nangis! Jangan di gangguin terus Axel nya!" ucap Ainsley memarahi pria itu.


"Sayang, jangan nangis yah. Axel bukan dari coklat kok, Axel itu anak nya Daddy Mommy jadi gak bakalan ada yang makan Axel." ucap Ainsley sembari mengelus dan mengusap wajah putra nya.


"Benelan? Kata Daddy Axel telbuat dali Vanila?" tanya nya tersendat-sendat.


Ainsley menggeleng pada putra nya, "Axel itu ada karna Mommy Daddy sayang Axel, jangan nangis yah sayang..." ucap nya lagi mengakan putra nya.


"Iya, Axel kan kesayangan Daddy Mommy, jangan nangis lagi, tapi katanya mau kuat kayak Daddy?" tanya Richard yang kini sudah tidak tertawa gemas pada putra nya lagi.


Ia menatap wajah wanita yang tengah menghapus air mata putra mereka dengan lembut memberikan tatapan penuh kasih sayang luar biasa pada anak semata wayang mereka saat ini.


Ia juga ingat seberapa keras nya dulu wanita itu ingin mengugurkan kandungan nya karna belum siap mengandung atau mungkin karna tak ingin memiliki ikatan dengan nya namun kini semua nya seperti sudah berbalik ke arah nya.


......................


3 Hari kemudian.

__ADS_1


Mansion Zinchanko


Axel melihat canggung pada wanita dan pria yang kali ini datang pada nya sembari membawakan mainan dan juga makanan kesukaan nya.


"Axel? Lihat, Grandpa bawain mainan buat Axel," ucap Michele pada cucu pertama nya.


Axel berjalan pelan mengambil mainan yang di berikan kakek nya, lalu mengambil canggung dan menatap pria itu.


"Telimakasih," ucap nya dengan sopan karna itu memang ajaran sang ibu.


Sesekali Michele dan Fanny memang mengunjungi cucu mereka, namun karna jarang dan juga kini kedua orang itu sudah tak bisa lagi dekat dengan putri mereka membuat nya bersikap canggung hingga Axel pun merasakan jarak pada kakek nenek kandung seibu nya.


"Axel mau main bola," jawab nya lirih pada sang kakek.


Michele hanya tersenyum, ia beranjak bangun dan menanyakan ibu anak menggemaskan itu.


"Mommy di dalam," ucap nya menunjuk ke dalam mansion karna saat ini ia sedang berada di taman.


"Grandpa ketemu Mommy dulu yah," ucap nya sembari mengusap kepala anak mengenakan itu dan beranjak menemui putri nya.


Wanita yang tengah melihat dan merawat bunga di dalam vas itu terlihat tak menghiraukan kehadiran sang ayah hingga pria itu bersuara.


"Ainsley?" panggil Michele lirih pada putri nya.


Ainsley menoleh menatap ke arah sang ayah yang terlihat ragu pada nya, "Ada apa Pah?" tanya nya menatap pria itu.


"Nanti di pesta B'One kau datang? Bukan hanya suami mu tapi kau juga," ucap nya dengan ragu.


Sebenarnya tak hanya pesta biasa nanti nya, karna pria itu juga berulang tahun di hari yang sama dan ingin putri serta cucu nya bersama nya. Ainsley pun tau hal itu namun ia hanya membuang napas nya dengan pelan.


"Aku akan tanya dia, apa aku boleh ikut." ucap nya menjawab pertanyaan sang ayah.


Michele diam tak mengatakan apapun, ia bingung bagaimana lagi membuka suara untuk berbicara pada putri nya.


"Kau masih belum bisa maafkan Papa Mama?" tanya nya lirih dengan ragu pada putri nya.


Ainsley diam, sulit baginya untuk mengatakan kata mudah itu, mengingat semua pengabaian dan penyiksaan nya dulu. Namun...


"Sudah, anda tidak perlu merasa bersalah lagi." ucap nya yang tak ingin putra kesayangan nya nanti tau bagaimana kehidupan masa kecil nya dulu jika ia terus memusuhi kedua orang tua nya.


"Tapi kenapa kau masih..." ucap Michele lirih yang merasa walaupun bibir putri nya sudah memaafkan nya namun wajah dan eskpresi nya tak sama seperti dulu lagi.


"Saya sudah pernah bilang tidak mengharapkan apapun dari anda lagi, saya sudah maafkan tapi saya masih belum bisa melupakan semua nya, jadi saya harap anda memaklumi nya." ucap Ainsley menatap pria itu.


"Tadi Papah bawa mainan buat Axel, dia tadi juga petik bunga karna dia bilang Mommy nya suka bunga." ucap Michele mengalihkan pembicaraan.


"Kalau di ingat lagi kau dulu juga pernah punya bunga kan? Waktu itu bun-" ucap nya terhenti saat ingatan nya tertuju pada ia uang membuang bunga putri nya karna menanggap mengurus hal itu sangat tidak berguna dan dapat membuat nilai nya turun.


"Waktu itu anda membuang bunga yang saya rawat," sambung Ainsley dengan tatapan nya yang datar, tak lagi menunjukkan rasa marah, sedih ataupun mengharapkan kasih sayang sang ayah lagi.


Michele menjadi canggung, tak ada ingatan yang baik antara ia dan putri nya.


Ainsley menarik napas nya dan membuang nya perlahan, "Selamat menikmati waktu anda, jika ada yang tidak nyaman bisa panggil pelayan." ucap nya sembari memberikan salam formal dan beranjak pergi.


Michele tak bisa mengatakan apapun kecuali membiarkan putri nya pergi, apapun yang ia lalukan terdengar seperti alasan atas sikap salah nya dulu.


...


"Axel main apa?" tanya Fanny mencoba mendekati cucu nya itu.


"Main puzzle," jawab Axel singkat sembari menyusun puzzle di depan nya.


Ia memang merasa lebih dengan Grandma Clarinda nya karna baginya wanita itu yang lebih sering mengunjungi nya dan mudah akrab dengan nya.


"Tadi katanya mau main bola?" tanya Fanny pada cucu pertama nya itu.


"Tapi sekalang Axel mau main puzzle," jawab nya sembari menyusun di depan nya.


"Iya, kan Axel anak pintar, di sekolah dapat peringkat berapa nak?" tanya wanita itu pada putra nya.


"Tiga," jawab Axel sembari memainkan puzzle nya.


"Tiga? Mommy Axel gak marah? Axel ikut les kan?" tanya nya yang masih ingin jika cucu nya selalu unggul seperti putri nya dulu.


"Axel gak mau les, Axel mau main sama Mommy Daddy," jawab nya dengan polos sembari menyatukan satu potongan lagi.


"Grandma? Lihat? Axel udah nyusun semua puzzle nya." ucap nya sembari menunjukkan hasil yang ia raih pada sang nenek.


"Ini karna Axel main terus! Axel gak boleh buat Mommy Daddy, Axel malu!" ucap nya yang mengambil susunan puzzle cucu nya secara tiba-tiba.


Axel terkejut saat apa yang ia pegang diambil tiba-tiba hingga membuat nya terdiam dan menunduk.


"Kenapa Daddy Mommy malu?" tanya nya lirih.


"Kalau Axel jadi anak bodoh, Mommy Daddy Axel pasti malu," ucap Fanny yang tak tau jika ucapan nya bisa menyakiti cucu nya karna ia dulu selalu mengatakan hal tersebut pada putri nya saat masih kecil.


"Axel gak bodoh..." ucap Axel lirih sembari menahan tangis nya.


"Buktinya Axel dapat peringkat ketiga bukan peringkat pertama," ucap nya yang mulai dengan nada rendah saat ia mendengar suara cucu nya yang hampir menangis.


"Tapi Axel gak bodoh, huhu..." tangis nya yang mulai jatuh saat sang nenek mengatakan jika ia bodoh.


Fanny hanya membuang napas nya saat melihat cucu nya yang menangis karna takut ia marahi, "Ainsley benar-benar tidak tau cara mengurus anak," gumam nya berdecak.

__ADS_1


__ADS_2