
Gadis itu memejam beberapa saat, ia mendengar suara sayup di telinga nya dan pemeriksaan yang di lakukan untuk persiapan aborsi yang ia inginkan.
Kalau kita menikah aku mau punya anak lima.
Lima? Banyak sekali? Kalau gitu Sean aja yang hamil!
Kalau begitu 7?
Kenapa makin banyak?
Karna aku mau punya banyak anak!
Deg!
Mata gadis itu terbuka, entah mengapa ia teringat dengan impian pernikahan dan keluarga yang di inginkan mantan kekasih nya.
Ia memang belum sepenuh nya terlepas dari bayangan sang kekasih, namun saat ini di bandingkan dengan rasa terkejut ia lebih bingung.
Bingung dengan situasi yang datang padanya, tubuh nya menjadi penghantar saluran kehangatan dua pria yang datang pada nya dalam jarak berdekatan.
Hal itu memang bukan hal aneh untuk gadis seusia nya yang masih ingin menikmati masa muda, namun ia juga bukan gadis biasa yang memiliki kehidupan normal.
*Aku tidak mau!
Aku tidak mau jadi seperti Mamah!
Aku mau keluarga*!
Batin nya dan langsung bangun hingga membuat perawat yang berada di sebelah nya terkejut.
"Sa-saya tidak jadi," ujar nya gugup dan ragu.
Sang dokter pun hanya menghela napas, dan akhirnya gadis itu hanya melakukan pemeriksaan pada kandungan nya serta efek yang di timbulkan dari obat penggugur yang ia minum.
......................
Kediaman Belen.
Gadis itu menuju ke rumah nya, ia tau hal ini adalah keputusan yang tiba-tiba dan mendadak namun biarpun begitu ia sudah memikirkan di waktu singkat.
"Selamat sore nona," ucap salah satu pelayan yang terkejut melihat nona muda yang ia layani datang tiba-tiba.
"Papah di ruangan nya?" tanya Ainsley sejenak sebelum ia beranjak ke ruangan kerja sang ayah.
Pelayan tersebut pun menunduk mengiyakan ucapan majikan muda nya, "Benar nona."
Ainsley pun kembali berjalan dan memasuki ruangan sang ayah.
Michele terperanjat saat ia mendengar pintu terbuka tanpa mengetuk, pandangan mata nya pun langsung teralihkan dan menatap putri tunggal nya datang menemui nya setelah makan malam keluarga dan membuat gadis cantik itu alergi.
Bruk!
Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya di atas lutut dan memohon pada sang ayah dengan tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Michele tersentak melihat sikap tak biasa putri nya.
"Saya ingin pindah kuliah dan tempat tinggal," ucap nya tanpa melihat sang ayah.
Michele menghela napas dan menatap ke arah putri nya, "Lalu kenapa langsung berlutut?" tanya nya dengan helaan napas kasar.
"Saya ingin anda maupun ibu tidak mengganggu saya selama di luar negeri," jawab gadis itu tanpa melihat sang ayah.
"Kenapa?" tanya Michele, walaupun gadis itu tinggal di luar ia tak bisa lepas tangan karna harus mempersiapkan putri nya sebagai pewaris.
"Karna saya gila? Saya tak ingin membuat malu karna masalah yang saya timbulkan," jawab Ainsley sembari menatap sang Ayah.
__ADS_1
Michele cukup terkejut, tidak ada raut wajah gugup ataupun takut di mata putri nya.
"Seharusnya kau tak membuat masalah seperti itu kan? Lagi pula kau juga punya segala nya kenapa kau..." ucap Michele tak melanjutkan kalimat nya namun terlihat jelas di mata nya jika ia tak memandang tinggi putri nya sendiri.
Ia bukan tak pernah menyayangi gadis kecil itu, namun semakin retak nya hubungan yang ia miliki dengan sang istri ia pun mulai melampiaskan rasa kesal dan frustasi nya pada putri kecil yang menggemaskan tersebut.
Dulu ia berpikir jika mengabaikan putri nya, maka sang istri akan merasa lebih tenang namun semakin berjalan nya waktu tingkat keegoisan nya bertambah.
Ia ingin gadis itu memenuhi semua standar yang ia bangun dari mulai kecantikan, kecerdasan, sikap dan semua yang memiliki nilai tinggi.
Ia ingin memiliki sesuatu yang sempurna seperti menciptakan sebuah karya hingga membuat nya lupa jika putri kecil nya memiliki perasaan yang dan juga bisa terluka.
"Saya tidak tau, saya tak pernah di ajarkan apapun." jawab Ainsley tersenyum pahit.
Michele mengerutkan dahi nya menatap sang putri, ia tak senang dengan jawaban yang seakan menyindir nya.
"Apa kau tidak di ajarkan sopan santun? Astaga, kenapa aku bisa punya anak seperti mu?" ucap Michele sembari memegang dahi nya.
Ainsley tersenyum pahit mendengar nya, "Memang nya apa yang sudah anda ajarkan pada saya? Satu-satu nya yang saya ingat tentang anda hanya membalikkan punggung dan pergi."
Ingatan yang terukir jelas setiap kali ia di siksa oleh sang ibu dan sosok yang ia inginkan untuk melindungi nya hanya melihat dari jauh dan membalik tubuh nya tanpa menghentikan ataupun menolong.
"Jadi, untuk kali ini saya harap anda tidak akan membalikkan punggung anda lagi untuk saya," sarkas gadis itu menyindir sikap sang ayah selama ini selalu mengabaikan nya.
"Hanya pindah keluar negeri kan?" tanya Michele dengan menyipitkan mata nya menatap tajam sang putri.
"Benar, dan saya harap anda menutup informasi tentang kepindahan saya," jawab gadis itu.
"Kenapa? Kau mau membuat masalah lagi?" tuding pria itu pada putri nya.
"Bukan nya saya sendiri sudah jadi masalah?" jawab Ainsley ambigu, ia tau kehadiran tak pernah di inginkan.
Michele bingung dengan ucapan putri nya.
"Kesehatan mental, anda pasti tidak ingin publik mengetahui kesehatan mental yang akan menjadi kelemahan saya kan?" sambung Ainsley sekali lagi.
"Baik, kau akan mendapatkan yang kau mau.Tapi jangan bersikap memalukan lagi di luar," ucap Michele menghela napas.
Ainsley pun menghela napas nya dan mulai beranjak bangun, bagi nya yang ia lakukan bukanlah permintaan anak pada ayah nya namun sebuah negoisasi yang akan mendapatkan keuntungan masing-masing.
"Dan lain kali, jangan terlalu mudah berlutut pada seseorang, aku tak mengajarkan mu menjadi rendah pada seseorang," ucap Michele tanpa melihat wajah sang putri.
Ainsley diam tak menjawab, bagi nya kata-kata tersebut benar-benar menggelikan, kata-kata yang harus nya ia dengar saat ia berada di situasi yang di rendahkan namun sang ayah bahkan tak memperdulikan nya.
"Benarkah? Saya tak ingat, mungkin karna saya benar-benar bodoh," jawab gadis itu dengan menundukkan kepala nya sejenak dan berlalu pergi dari ruangan sang ayah
Namun langkah nya terhenti sebelum ia meraih gagang pintu yang akan menghubungkan nya keluar ruangan.
"Apa anda tau? Seberapa banyak saya membenci wanita yang melahirkan saya tapi saya lebih membenci anda," ucap nya pada sang ayah sembari menoleh.
"Apa kau sedang ada masalah?" tanya Michele saat merasa putri nya benar-benar bersikap berbeda.
"Benar, Saya merasa takut jika saya akan menjadi orang tua seperti kalian." jawab Ainsley dengan senyuman tipis dan keluar.
Ia berjalan menuruni anak tangga dan bahkan berpapasan dengan sang ibu yang sedang memangku rakun si hewan peliharaan nya dan mengelus nya dengan kasih sayang.
Pandangan Fanny bertemu dengan putri nya, sejak ia mengatakan semua masa lalu nya, ia tak lagi pernah berbicara pada gadis itu.
Hanya lirikan dan ujung mata sekilas menatap wanita yang kecantikan nya tak pudar tersebut, ia melewati begitu saja tanpa memberi sapaan ataupun mencari perhatian dan kasih sayang seperti biasanya.
"Tunggu! Kau? Kenapa tidak menyapa?" tanya Fanny pada gadis itu saat melihat sikap dingin putri nya.
Langkah Ainsley terhenti ia membalik tubuh nya dan menatap sang ibu.
"Untuk apa? Lagi pula itu tak akan berguna kan?" jawab gadis itu yang sudah lelah dan tak ingin lagi mencari kasih sayang semu yang tak akan pernah ia dapatkan.
__ADS_1
"Kau! Aku harap aku tak bertemu dengan mu lagi!" ucap Fanny yang merasa kesal saat melihat sikap tak peduli putri nya yang sudah sangat berbeda dengan Ainsley yang ia kenal.
"Apa itu kutukan kematian?" tanya Ainsley tersenyum hambar.
Fanny tersentak namun ia mementingkan harga diri nya dari pada memikirkan perasaan putri nya yang terluka.
"Benar," jawab nya singkat sembari membuang wajah nya tak sanggup melihat wajah sang putri.
Wajah yang akan sangat ia ingin lihat kelak di kemudian hari.
......................
Sation Company.
Ainsley menunggu di sofa tunggu yang berada di lantai bawah perusahaan tersebut, beberapa karyawan yang mengenal nya sebagi kekasih salah satu direktur pewaris perusahaan tersebut pun menyapa nya dan menawarkan akan memanggil Sean langsung atau keruangan nya saja.
Namun gadis cantik itu menolak, dan tetap Menunggu hingga mantan kekasih nya keluar dengan sendiri.
Langkah pria itu terhenti, ia mata nya terhipnotis sejenak dan menata ke arah gadis cantik yang tengah membaca majalah di tangan nya dan duduk dengan tenang tersebut.
"Ainsley?" panggil nya dan mendekati gadis cantik tersebut.
Ainsley menoleh, mata nya menatap sejenak ke arah pria di depan nya, ia bangun dan mendekati pria itu.
Satu tangan nya ia letakkan di bahu pria tinggi itu dan sedikit lebih berjinjit dengan wedges yang ia kenakan, hingga...
Cup
Mata pria itu terbelalak saat merasakan bibir lembut dari gadis cantik itu yang mencium nya tiba-tiba.
Tak hanya dirinya para staf yang lain nya pun dapat melihat sikap mengejutkan dari gadis pemalu itu pada atasan yang selalu bersikap dingin pada para bawahan nya.
"Dulu aku selalu ingin melakukan ini, menunggu dan memberikan kejutan karna datang tiba-tiba lalu memberikan ucapan 'Hai' seperti yang kau ajarkan," ucap Ainsley tersenyum.
Ia ingat dulu kekasih nya pernah mengajarkan untuk memberikan kecupan sebagai ganti dari sapaan biasa.
Sean masih terdiam, kali ini pria sekeras batu itu yang tak berkutik sedikitpun.
Ia menoleh ke belakang menatap para eksekutif yang masih mengikuti nya, "Kalian pergi dulu saja,"
Pria itu pun kembali menatap gadis di depan nya yang masih memberikan senyuman tipis.
"Seharusnya kau tak boleh melakukan nya pada pria yang masih memiliki perasaan dengan mu," ucap Sean pada gadis itu.
Ainsley meminta untuk dilepaskan namun gadis itu kini malah mendekatkan dan semakin mendebarkan detak yang berada di jantung nya.
"Kan aku cuma bilang ingin melakukan hal yang ku inginkan saja," jawab Ainsley ringan.
"Tetap sa-"
"Aku akan keluar negeri," potong gadis segera sebelum pria di depan nya menyelesaikan kalimat yang ingin di katakan.
Sean mengernyitkan dahi nya mendengar penuturan gadis cantik tersebut.
"Kenapa? Kau dulu tidak mau keluar negeri, lalu sekarang?" tanya Sean yang merasa hal ini tiba-tiba.
Ia sedang sangat sibuk untuk membalas dendam nya pada ibu tiri nya namun setidaknya ia masih bisa memperhatikan gadis yang ia cintai dari jauh.
"Hanya ingin cari situasi baru," jawab Ainsley dengan senyuman tipis yang menghiasi bibir nya.
"Kapan kau pergi?" tanya Sean lagi.
"Besok, pukul 10 pagi." jawab Ainsley singkat.
Sean diam tak membalas perkataan gadis cantik tersebut, namun ia memperhatikan dengan lekat wajah cantik tersebut.
__ADS_1
"See you, My ex." ucap nya sembari memberikan senyuman yang dulu selalu bisa ia berikan kapan saja pada pria tampan itu.