Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Love you so many times


__ADS_3

Flashback on.


Gadis kecil yang melihat ke arah kupu-kupu di taman kediaman nya. Wajah nya perlahan tersenyum.


Para pelayan dan pengasuh gadis kecil itu pun itu tersenyum melihat nona muda nya yang menggemaskan terlihat senang.


Semua pelayan dan pekerja di kediaman megah itu tak ada satupun yang tidak menyukai gadis ramah dan menggemaskan. Membuat nya menjadi putri idaman diantara para pelayan.


"Nona? Mau masuk? Sudah sore, nanti nona sakit." ucap pengasuh gadis kecil itu pada nona nya.


"Mau kasih ini buat Mamah, bial gak malah lagi..." ucap nya tersenyum dengan mata berbinar sembari membawa setangkai bunga yang diambilkan pelayan nya.


"Bibi sama kakak mau juga?" tanya nya dengan wajah polos dan suara gemas nya saat melihat para pelayan dan pengasuh yang menjaga nya tersenyum.


"Mau cubit pipi nona..." ucap salah satu pelayan yang masih berusia sekitar 20 tahunan karna tak tahan dengan keimutan gadis kecil itu.


"Jangan, nanti sakit..." jawab gadis kecil itu dengan wajah lesu nya yang membuat semua pelayan dan pengasuh semakin terpesona dengan keimutan nya.


Tak lama mereka bicara ibu dari gadis kecil menggemaskan itu kembali, wanita dengan paras cantik dan mata yang berwarna biru itu terlihat begitu kesal karna pertengkaran hebat antara ia dan suami nya.


"Mamah!" panggil nya dengan semangat sembari membawa setangkai bunga di tangan nya menghampiri sang ibu.


Wanita itu menghentikan langkah nya melihat putri yang ia anggap sebagai pembawa bencana di hidup, anak itu memang tak salah apapun namun ia butuh sesuatu untuk di salahkan dan pelampiasan amarah nya.


"Bunga nya buat Mamah..." ucap nya tersenyum manis.


Wanita itu tak merespon dan mengernyit, ia tak suka melihat gadis kecil itu terlihat bahagia, sedangkan ia harus terjebak dengan suami nya karna gadis kecil itu.


PLAK!!!


Tangan nya dengan cepat langsung menampar gadis itu membuat tubuh mungil nya langsung tersungkur dan setangkai bunga yang langsung terjatuh.


"Karna ayah sialan mu itu aku jadi seperti ini, setidak nya kau harus sedikit menderita juga kan?" gumam nya dengan mata tajam.


Tak ada kesalahan yang di lakukan gadis kecil itu, kesalahan nya hanyalah tersenyum dan terlihat senang saat sang ibu tengah di landa amarah.


"Sa-sakit Mah..." tangis nya yang terkejut sembari memegang pipi nya yang memerah.


"Anak nakal! Kau selalu membuat susah! Sial!" decak nya dengan kesal sembari menendang tubuh yang baru beranjak bangun.


Para pelayan tersebut terkejut namun tak bisa membantu nona nya, mereka sendiri bahkan bingung kenapa nyonya mereka tak bisa menyayangi putri cantik, menggemaskan, dan bisa bersikap baik tersebut.


Buk! Buk!


Tubuh kecil nya yang meringkuk menahan sakit saat ia terus menerus di pukul dan di tentang secara berulang kali oleh sang ibu.


"Huaa...


A-ampun Mah...


Sa-sakit...


Huhuhu..." tangis nya yang merintih tak memiliki kesempatan bangun sama sekali dan terus meringkuk menahan tendangan kaki dari sang ibu.


Ukh!


"Sa-sakit Mah...


Huhuhu..." tangis nya menjadi saat rambut nya di tarik dan di seret lagi ke ruang bawah tanah gudang yang memiliki tempat gelap tersebut.

__ADS_1


Bruk!


Wanita itu melempar tubuh yang sudah membiru tersebut dengan keras.


"Ainsley gak nakal Mah..." ucap nya dengan tercekat dan cegukan karna tangis nya.


PLAK!


"Gak nakal?! Kau itu susah diatur! Bukan nya belajar malah bermain!" ucap sang ibu setelah menampar putri nya hingga terjatuh.


"Ma-maaf Mah..." tangis nya sembari berusaha meraih kaki sang ibu yang berdiri di depan nya.


Wanita itu langsung menendang dan menginjak dada putri nya hingga membuat gadis kecil itu semakin menangis meraung dan meringis kesakitan.


"Anak nakal harus di hukum kan?" tanya wanita tersebut dengan mata yang tajam menatap mata yang sembab karna menangis tersebut.


Ukh!


Ringis nya saat pijakan kaki sang ibu terhenti di dada nya. Gadis malang itu langsung meringkuk menahan sakit di tubuh nya. Wanita pun tersenyum dan langsung keluar.


Satu harian penuh ia mengurung gadis kevil nya yang sedang terluka tanpa di obati ataupun di berikan makan dan minum.


Mata gadis itu menerjap terbuka, ia tak sadarkan diri dan bangun dengan sendiri juga namun masih berada di ruang gelap yang sama.


Tubuh nya tak bisa di gerakkan dengan rasa sakit yang teramat sangat dan memar kebiruan di sekujur tubuh dan wajah nya.


"Mah...


Buka pintu nya...


Janji gak nakal lagi...


"Lapel Mah...


Haus..." sambung nya dengan rasa lapar dan dahaga di tengah rasa sakit nya, tak ada satupun yang membuka pintu nya ataupun memberikan makanan dan minuman pada gadis malang itu hampir dua hari penuh.


Flashback off.


......................


Satu minggu kemudian.


Mansion Sean.


Tubuh gadis yang balutan perban yang tengah tertidur tersebut pun mulai bergetar, berkeringat dan gelisah.


Mata nya masih terpejam dan tengah tenggelam dalam mimpi buruk nya.


"Sa-sakit...


Ma-maaf..." gumam nya lirih dan mulai menangis dalam tidur nya.


"Ainsley?! Ainsley?!" panggil seorang pria yang berusaha menyadarkan gadis nya.


Deg...


Mata gadis itu tersentak dan terbangun secara bersamaan, nafas nya terengah-engah dengan keringat dingin membasahi tubuh nya.


"Sstt...

__ADS_1


Sudah tidak apa-apa..." ucap nya pria tersebut sembari menenangkan gadis nya yang sudah tak sadar selama satu minggu setelah hukuman dan merenggut kesucian gadis itu.


Mata gadis itu mulai mengandar pada pria nya dan menatap dengan sendu, tangan nya memegang tangan kekar yang tengah berusaha menenangkan nya.


"Sean...


A-aku bukan anak nakal..." ucap nya lirih dengan tangis nya.


Setiap kali ia mengalami kekerasan fisik dalam bentuk apapun, ia selalu bermimpi buruk setelah nya.


Kenangan masa kecil yang bagaikan mimpi terburuk dalam hidup nya, rasa sakit yang tak bisa ataupun terlupa ataupun hilang sebaik apapun ia mengubur nya.


"Iya...


Ainsley anak baik..." jawab pria itu sembari menghapus air mata gadis nya.


...


3 Hari kemudian.


"Makan lagi," ucap pria itu dengan nada lembut pada kekasih yang tengah ia suapi.


"Kenyang..." jawab gadis itu tak ingin lagi memakan suapan sendok dari kekasih nya.


Pria itu menghela nafas dan mengembalikan sendok ke mangkuk bubur nya lagi.


"Masih sakit luka nya?" tanya Sean sembari melihat ke balik sweter yang di kenakan kekasih nya.


"Se-sedikit..." ucap Ainsley gugup saat kekasih nya tiba-tiba mendekat.


Pria itu tersenyum melihat reaksi gugup gadis nya padahal mereka sudah melakukan hubungan yang lebih jauh.


"Aku sudah meminta izin dari kampus mu, aku juga buat tugas mu selama tak sadar." ucap Sean pada gadis.


"Benarkah? Terimakasih!" ucap nya dengan di iringi senyuman manis.


Sean terdiam sesaat menatap senyuman hangat dan lembut gadis itu yang bagaikan cahaya mentari fajar.


Mau ia mencari sampai ujung dunia manapun ia tak akan bisa menemukan gadis secantik dan sebaik kekasih nya saat ini. Bahkan dengan rasa cinta yang setulus kekasih nya.


Tak menyimpan dendam ataupun marah sama sekali atas perbuatan nya yang luar biasa kejam.


"Bukan, aku yang harus nya mengatakan nya." ucap Sean sembari mengelus rambut gadis nya. "Terimakasih..." sambung nya dan mengecup kening gadis itu dengan lembut.


Ia memang tak bisa mengendalikan sifat posesif dan obsesif yang mengekang hidup pasangan nya namun bukan berarti rasa cinta nya tak ada sama sekali.


Cinta yang ia miliki memang mengerikan namun ia tak lagi bisa mengendalikan dirinya sendiri saat berhadapan dengan kelinci polos nya.


"Kenapa Sean yang bilang begitu?" tanya Ainsley bingung karna ia tak tau alasan pria nya bisa mengucapkan terimakasih.


"Kau memberikan sesuatu yang berharga, tentu saja aku yang harus nya berterimakasih kan?" jawab pria itu tersenyum sembari mengusap pipi kekasih nya.


"Sean kau tak akan pergi kan? Aku cuma punya Sean..." ucap Ainsley tiba-tiba dan langsung meraih tangan yang tengah membelai pipi nya dengan lembut.


Pria itu hanya tersenyum dan memangut bibir kekasih dengan lembut lalu melepaskan nya sejenak ia menatap iris mata yang berkilau indah tersebut dengan lekat.


"Love you...


So many times..." bisik pria itu sembari mengecup dan mulai memeluk gadis nya dengan perlahan dan hati-hati agar tak melukai luka cambukan yang ia buat.

__ADS_1


__ADS_2