
Wanita itu menekan lift yang berada di depan nya, secepat kilat ia pun masuk setelah pintu lift tersebut di buka.
Setelah masuk ia pun dengan cepat menutup nya, pria yang tadi nya berjalan dan ingin masuk itu pun mempercepat langkah nya sebelum lift di tutup namun.
Dup!
"Dia sedang menghindari ku?" gumam Sean yang melihat wanita itu begitu cepat-cepat ingin pergi dari nya.
Pria itu menghela napas nya dan beranjak ke lift lain dan menunggu nya.
...
Derap langkah cepat begitu pintu lift telah turun membuat wanita itu segera keluar, ia tak tau mengapa menghindari nya bahkan setelah suami nya meninggal.
Kebiasaan nya untuk menghindari pria lain dan meminimalisir kontak dengan pria masih terbawa hingga sekarang.
Respon alami yang membuat nya langsung menghindar begitu ada yang mendekat pada nya.
Ia pun segera mengurus tentang admistrasi kepindahan nya dan juga apa saja yang di perlukan.
Pria itu melihat ke arah punggung wanita yang berjalan menjauh dari nya dan sedang sibuk itu, ia menarik napas nya ketika sadar wanita itu menghindari nya dan mulai berjalan keluar.
......................
Internasional Prime school
"Bye, Mom!" ucap Axel dengan senyuman nya dan melambaikan tangan nya dengan senang hati pada sang ibu yang masih berada di dalam mobil.
"Bye, Love..." jawab wanita itu tersenyum sembari ikut melambaikan tangan nya pada putra kesayangan nya itu.
Belum lama mobil sang ibu berbalik pergi dan ia pun yang masih beberapa langkah memasuki sekolah nya.
Bruk!
Tas nya tertarik membuat nya langsung menolah siapa yang menarik nya secara tiba-tiba.
"Axel gak tungguin Lily!" ucap gadis kecil itu dengan suara gemas dan cemberut nya.
"Axel kila kan Lily udah dateng duluan tadi..." ucap nya pada gadis kecil itu.
"Huh! Lily mau malah sama Axel!" ucap nya sembari membuang wajah nya dan mendengus kesal lalu berjalan dengan cepat.
"Lily? Lily! Emily!" panggil Axel sembari menyusul teman nya dari belakang.
Ia pun mengambil nya tas yang di kenakan gadis kecil itu hingga membuat Lily tersentak.
"Axel! Balikin tas aku!" ucap gadis kecil itu berteriak pada teman nya yang sudah lari dengan cepat pergi membawa tas nya.
"Gak mau! Ambil sendili! Haha!" jawab Axel sembari tertawa dan membawa dengan cepat tas teman yang ia pegang.
Karna ia tau gadis kecil itu akan mengejar nya kemana pun jika ia mengambil salah satu barang yang di miliki oleh nya.
......................
Sementara itu.
"Apa maksud anda membuat peraturan seperti ini?" tanya salah satu direktur yang tak terima dengan kebijakan baru yang di buat wanita itu.
"Sudah di jelaskan di kertas yang baru saja anda lempar barusan, dan lagi kenapa anda tidak setuju? Anda berniat mengambil uang perusahaan?" jawab wanita itu dengan pertanyaan lain nya.
Beberapa dewan serta direktur lain nya membuang wajah masam mendengar nya. Memang benar jika pergolakan di beberapa perusahaan mulai terjadi.
Pengendali di belakang layar yang telah menghilang membuat rasa tamak dan serakah itu mencuat tinggi sehingga ketika adanya pengganti lain yang mulai menempati dan duduk secara resmi tanpa berada di balik layar membuat para orang tamak itu kepanasan dan tak terima.
"Saya dengar anda tidak melakukan apapun selama 6 tahun? Hal itu saja sudah menunjukkan jelas kalau anda tidak punya kua-"
"Seperti nya anda lupa siapa saya? Saya putri tunggal dari B'One grup, dan saya di besarkan untuk menjadi pewaris. Jika anda merasa keberatan kenapa anda tidak melakukan pekerjaaan anda sebaik mungkin? Alih-alih menyalahkan dan mengatakan orang lain tidak lebih pintar dari anda." ucap Ainsley yang merasa kesal namun harus ia tahan.
Para dewan dan bahkan Presdir sebelum nya yang menjadi penguasa pengganti namun tetap mengikuti perintah pemilik sebenar nya ketika Richard masih hidup merasa enggan dan tak suka ketika kursi tertinggi di tempati oleh wanita yang bahkan belum pernah mereka temui.
"Ini bukan tempat bermain-main untuk seseorang apa lagi jika hanya untuk mengusir rasa bosan nya." ucap salah satu wanita berkaca mata yang terlihat berusia kurang lebih 60 tahun.
"Apa saya seperti terlihat hanya ingin bersenang-senang?" tanya Ainsley pada wanita itu.
Walaupun ia kesal namun ia tak bisa melalukan pemecatan atau pergantian dengan mudah karna harus ada beberapa prosedur yang di lakukan.
"Wanita yang kehilangan suami nya di usia muda bisa saja kan?"
Suara lirih yang terdengar dan sampai di telinga wanita itu, ia menatap ke arah sekeliling meja lonjong yang besar itu namun tak ada yang bersikap mengatakan nya secara terang-terangan.
Beberapa orang yang berpikir bisa mendekati nya dengan mudah, orang-orang yang menolak nya karna merasa kemampuan nya tak cukup dan juga kini ia menjadi sasaran dari para pria mata keranjang yang ingin dekat dengan nya karna status nya.
Janda kaya yang cantik, itu lah yang mungkin orang lain pikirkan tentang nya.
"Seperti nya kalian terlalu menganggap remeh keputusan yang tuan buat? Apa kalian melupakan sesuatu?" tanya Liam membuat suara ketika situasi penolakan semakin terjadi.
Beberapa dari mereka pun bungkam, hal yang membuat mereka enggan adalah karna tau pria itu juga berasal dari dunia gelap dan merasa nyawa mereka bisa terancam jika menganggu nya.
"Kita selesaikan rapat hari ini, dan keputusan nya tetap sama seperti yang di rencanakan," ucap Ainsley yang sudah lelah dengan perdebatan tak berujung itu.
"Mana bisa seperti itu! Anda seharus-"
"Kalau begitu apa anda bisa buat yang lebih baik? Jika tidak bisa berhenti bersikap sok pintar dan menjadi penguasa di sini," ucap wanita itu yang kesabaran nya sudah mulai menipis.
...
Wanita itu membuang napas nya dengan pelan, beban pekerjaan yang mulai datang menumpuk pada nya setelah hampir 6 tahun berhenti total karna yang ia lakukan hanya berada di mansion.
__ADS_1
"Mereka meremehkan anda lagi," ucap Liam pada wanita itu setelah rapat pertemuan.
"Mereka akan terus seperti itu, tidak usah hiraukan." jawab Ainsley sembari memijat pelipis nya.
"Anda ingin mengganti mereka?" tanya pria itu ketika melihat wanita itu tengah memilah apa yang ada di depan nya.
"Hm, percuma kan mempertahankan orang-orang yang akan menusuk punggung kita suatu hari nanti? Jadi lebih baik langsung di ganti saja." jawab Ainsley yang mulai memilah dan mencari alasan pemecatan serta penyingkiran dari beberapa orang yang hingg saat ini masih enggan mengakui nya sebagai pengganti suami nya.
Liam tak mengatakan apapun, ia memang mulai berhenti dari dunia gelap itu sejak tuan nya meninggal.
Ia memikirkan istri dan anak nya kelak sekaligus masih membantu mantan istri tuan nya untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan nya.
Ainsley melihat dan membuang napas nya lirih, ia menatap apa yang di depan nya dan menyandarkan kepala nya ke kursi yang ia duduki itu.
"Apa mereka seperti ini karna aku janda?" tanya nya pada pria itu.
"Kenapa anda berpikir seperti itu?" tanya Liam mengernyit dan bingung dengan maksud yang di berikan wanita cantik itu.
Ainsley membuang napas nya, walau tidak terang-terangan namun cara pandang dari sebagian orang lain berubah pada nya.
"Entah lah, ku rasa karna aku sedang banyak pikiran." gumam wanita itu, "Aku akan selesaikan ini." ucap nya pada Liam selanjutnya.
Liam pun mengangguk dan beranjak keluar dari tempat itu.
...................
Internasional Prime School.
Suara berisik dari para anak-anak kecil yang berlarian dan tertawa terdengar memenuhi ruangan kelas dan juga sekolah itu ketika jam istirahat di mulai.
"Yeyy, sebental lagi mau ada lomba!" seru seorang anak lelaki yang menggemaskan itu.
Sedangkan Axel yang ikut dalam pembicaraan itu terlihat memperhatikan dan mendengarkan teman nya yang lain mengoceh sembari ia meminum susu di botol minum nya yang di siapkan sang ibu.
"Seneng deh nanti Mommy sama Daddy dateng!"
Seru lain nya yang membuat mata Axel langsung menoleh, ia masih diam dan hanya mendengarkan saja.
"Daddy aku nanti pasti yang menang!" ucap salah satu nya lagi membanggakan sang ayah.
Karna ada acara di sekolah yang di tempati oleh tuan muda Zinchanko itu membuat sekolah memanggil orang tua atau wali dari murid nya untuk berpartisipasi.
Berbagai lomba yang di siapkan untuk para murid dan juga orang tua agar menambah keseruan.
"Enggak sih, pasti Daddy Axel yang menang." ucap Axel sembari terus meminum susu nya dengan santai.
"Enggak! Axel nih!" ucap Mack yang merasa kesal karna ucapan nya di patahkan.
"Gak pelcaya, Daddy Axel tuh bisa semua nya! Daddy Mack pasti kalah kalau ketemu Daddy Axel!" ucap Axel lagi pada teman nya.
"Yauda! Nanti pas lomba waktu lomba kita lihat siapa yang menang!" ucap Mack pada Axel dengan mendengus kesal dan pipi bulat yang menggembung.
"Yah, Axel tukang bohong! Penakut! Katanya Daddy Axel bisa semua nya! Tapi waktu di suluh menang kok langsung gak ada!" ejek Mack pada pria kecil itu.
"Daddy Axel tuh lagi di langit bukan di sini!" ucap Axel yang berteriak karna kesal teman nya mengatakan hal yang tak ingin ia dengar sama sekali.
"Berarti Axel gak punya Daddy? Huh! Axel nih banyak bohong nya!" ucap Mack pada Axel.
Pertengkaran anak kecil yang berawal dari hal sepele tentu nya sering menimbulkan pertengkaran.
"Axel punya kok!" ucap nya seketika.
"Mana? Kalau ada bawa nanti waktu lomba!" ucap Mack pada Axel sekali lagi.
"Axel punya Daddy! Tapi Daddy Axel gak bisa dateng!" ucap nya sekali lagi.
"Yauda! Sama aja bohong! Axel bohong kan?" ucap Mack pada teman yang lain nya.
"Iya, kalau Daddy Axel ada kenapa gak dateng aja? Kalau di langit kan bisa di jemput pakai pesawat?"
ucap salah satu teman pria kecil itu yang berpikir dengan pikiran kekanakan nya.
"Tapi Daddy Axel gak bisa di jemput pakai pesawat, Langit nya tinggi banget jadi pesawat nya gak sampai." ucap nya sekali membenarkan apa yang ia katakan.
"Bilang aja Axel gak punya Daddy! Huh! Dasar tukang bohong!" ucap Mack berdecak mengejek teman sekelas nya itu.
"Axel punya kok!" ucap nya lagi dengan kesal.
"Axel gak punya Daddy..." ucap Mack dengan nada mengejek hingga membuat anak menggemaskan itu merasa kesal.
Wajah masam dan kesal terlihat dari sorot anak berumur lima tahun itu, ia pun bangun dari bangku nya dan,
Brak!
Tangan nya mendorong kuat teman sekelas nya hingga terjatuh dari bangku yang sedang ia duduki.
"Axel nakal!" ucap Mack yang tak terima ia di dorong.
"Mack yang nakal! Bilangin Axel gak punya Daddy! Axel kan punya!" ucap nya tak terima dengan ucapan teman nya.
Mack pun bangun dan kembali mendorong Axel hingga membuat tubuh kecil itu juga terjatuh.
"Huh!" gumam Axel yang merasa kesal dan bangun lagi, ia menyeruduk dan langsung mengigit tangan teman nya dengan kuat.
Tangan kecil nya pun ikut menarik rambut Mack yang mencoba memukuli kepala nya agar melepaskan gigitan nya.
Tak ada yang memisahkan, anak-anak yang lain hanya melihat karna terpaku dan tak berani mendekat.
__ADS_1
Sementara itu gadis kecil yang masih berlarian dengan tawa nya saat bermain dengan teman nya yang lain pun memasuki ruangan kelas yang gaduh karna pertengahan anak TK tersebut.
"Loh? Itu Axel? Axel kok belantem?" tanya nya pada teman nya yang lain.
"Akh!"
Axel meringis, entah bagaimana bisa posisi mereka yang berguling dan yang berganti Mack mengigit kaki nya.
"Auch!"
"Aduh!" ringis Mack ketika rambut nya di tarik kuat oleh yang lain nya.
"Kok gigit Axel sih?!" ucap Emily sembari menarik rambut teman sekelas nya karna membela teman nya yang lain.
"Aduh!" Mack pun langsung ikut menarik rambut panjang gadis kecil itu.
"Kok lambut Lily di talik?!" ucap Axel yang semakin mempertambah keadaan.
Saling menyeruduk, menggigit, menarik rambut dan mencakar satu sama lain terlihat di ketiga anak yang berguling di lantai lalu bangun lagi dan saling menyerang dua lawan satu.
Tak ada yang memisahkan hingga bel kembali berbunyi dan guru yang mengajar datang.
......................
Ainsley yang masih berkelut dengan kertas-kertas yang tak ada habis nya itu pun mulai mengambil secangkir teh di tangan nya.
Telpon nya berdering terus menerus hingga membuat nya tak ada pilihan lain selain mengangkat nya.
"Halo?" jawab nya ketika panggilan telpon yang datang ia terima.
Entah apa yang di katakan di penelpon dari sebrang sana namun mata nya membulat seketika mendengar nya.
"Baik, saya kesana." ucap nya sembari bangun dan segera bergegas.
...
Setelah sampai di sekolah ia pun langsung menuju ruang guru, ia membuang napas nya dengan berat ketika melihat putra nya.
Rambut yang naik ke atas tak beraturan seperti habis di setrum dan juga seragam yang tentu nya tak rapi lagi.
Wajah dan tubuh yang lecet terlihat jelas, bahkan kedua anak yang duduk berdampingan dengan putra nya pun terlihat memiliki kondisi yang sama namun berbeda dengan anak lelaki di samping nya yang terlihat memiliki kondisi paling buruk.
"Axel?" panggil Ainsley sembari melihat ke arah putra nya.
"Oh ini orang tua dari Axel? Anak anda memukuli anak saya! Teman sekelas nya yang lain juga bilang kalau anak anda yang memulai nya." ucap seorang wanita yang telah sampai di sana lebih dulu.
"Mack duluan yang mulai! Dia ejek Axel gak punya Daddy! Padahal kan Daddy Axel ada di langit!" teriak Axel membela diri dengan mata yang berkaca.
Bukan menangis karna perkelahian namun karna teman nya terus menerus mengatakan ia yang tak memiliki ayah.
"Mommy, dia tadi talik rambul Lily sama Axel," ucap Emily mengadu pada ibu nya.
Ketika orang tua yang langsung di panggil bersamaan dengan para anak mereka yang membuat masalah.
"Lily kenapa ikutan?" tanya wanita itu ketika putri nya ikut terlibat.
"Dia kan gigit Axel," jawab gadis kecil itu dengan polos nya.
"Telus Mack juga talik lambut Lily!" ucap Axel lagi.
"Itukan Lily duluan yang mulai! Lagi pula juga Axel kan memang gak punya Daddy! Kalau punya kenapa nanti gak datang pas ada acala?! Huh tukang bohong!" ucap Mack yang juga membela diri nya.
Pria kecil itu kembali kesal, tubuh kecil nya ingin meraih dan kembali menyeruduk teman sekelas nya.
Guru yang berada di sana pun segara ingin mencegah, dan Ainsley yang langsung meraih tangan putra nya agar tak menyerang lagi.
"Axel punya Daddy! Mommy, kita jemput Daddy ke langit yuk!" ucap nya yang semakin berkaca karna mendengar ejekan yang terus sama.
Ainsley hanya diam, begitu juga dengan guru dan ibu murid lain yang di panggil karna tau maksud dari ucapan polos anak kecil.
"Axel gak punya Daddy..."
"Gak punya Daddy..." ejek Mack terus hingga membuat pria kecil itu semakin kesal.
"Punya! Axel punya!" teriak nya yang sembari meneteskan air mata nya di tengah rasa kesal nya.
"Mommy! Ayo jemput Daddy..."
"Jemput sekarang, huhu..." ucap nya yang mulai menangis meminta sesuatu yang tak mungkin pada ibu nya.
"Huh! Dasal Axel tukang boh- Auch! Sakit Mom..." ringis Mack ketika tangan sang ibu menjewer telinga nya agar diam.
"Sst..."
"Axel punya Daddy kok, jangan nangis sayang..." ucap nya sembari menghapus air mata putra nya dengan ibu jari nya secara lembut.
"Axel punya kan? Mack nakal Mom..." ucap nya mengadu pada sang ibu.
"Iya, nanti Mommy marahin. Tapi jangan berkelahi lagi, gak baik sayang..." ucap nya pada putra nya.
"Dia bilang Axel gak punya Daddy..."
"Axel kan punya Daddy, tapi Daddy lagi di langit kan?" tanya nya sendu membuat para guru dan orang tua murid yang lain tidak tega memarahi nya.
"Iya, sayang..." jawab wanita itu sembari memeluk dan menggendong putra nya.
Walau pun ia belum sepenuh nya kuat untuk mengangkat beban pasca operasi namun ia tak tega melihat putra nya yang sedih seperti itu.
__ADS_1
"Saya minta maaf atas nama putra saya, saya akan ganti kerugian nya." ucap nya sembari berusaha menyelesaikan masalah yang di buat putra nya.