
Ainsley masih tak sadar namun ketiga pria itu sedang menunggu nya di satu ruangan yang sama.
"Papa mau apa di sini? Tidak kembali?" tanya Sean yang melihat sang ayah yang menatap wanita yang masih tak sadar itu.
"Dia tidak asing, bukan nya dia pacar mu dulu?" tanya Daniel mengernyit pada putra nya, ia ingat dulu putra nya pernah membawa seorang gadis untuk di kenalkan pada nya.
Dan sekarang gadis yang terlihat begitu polos itu dulu nya kini sudah mempunyai seorang anak yang begitu menyebalkan bagi nya.
"Padahal dia dulu waktu muda nya sangat baik tapi anak nya," ucap nya sembari melihat ke arah Axel yang duduk di samping sang ibu.
"Baik juga lah!" sahut Axel seketika.
"Aduh," ucap Daniel sembari memegang bagian belakang kepala nya yang terasa nyeri karna tekanan darah tinggi nya saat mendengar jawaban ketus remaja itu.
Wanita itu mulai tersadar, Sean sebenarnya ingin memiliki waktu berdua untuk berbicara pada wanita itu namun apa daya ketika sang ayah dan putra wanita itu tak membiarkan nya sama sekali untuk memiliki waktu sendiri.
"Mommy udah bangun? Mommy gak apa-apa? Masih sakit?" tanya Axel yang langsung bertubi sembari memegang tangan sang ibu.
Nada suara nya langsung berubah lembut dan rendah berbeda dengan sewaktu berbicara pada Daniel ataupun Sean yang cenderung ketus.
Ainsley yang masih baru bangun melihat tiga orang yang sudah menunggu nya beserta dengan deretan pertanyaan dari putra kesayangan nya.
"Kenapa ramai sekali di sini?" tanya nya lirih yang masih terlihat linglung.
Daniel langsung mendekat, "Kau masih ingat aku? Ku dengar kau lagi hamil kan? Jadi kapan menikah nya dengan putra ku?" tanya nya langsung tanpa aba-aba.
Ia tak peduli mau perempuan dari mana yang diambil putra nya asalkan masih berbeda gender dan setidak nya bukan wanita yang seusia nya.
Maka dari itu ia sama sekali tak mempersalahkan status janda wanita di depan nya. Ia juga dulu nya sudah cukup mengenal wanita itu.
Ainsley langsung terperanjat mendengar nya, bagaimana bisa ada orang yang mengetahui nya dan di sana juga ada putra nya.
"Ha-hamil apa?" tanya nya gugup saat kesadaran nya semakin kembali.
"Mommy nih baru satu kali pergi sama paman langsung pulang bawa anak baru!" sambung remaja itu dengan cemberut.
Ainsley semakin terperanjat dengan ucapan putra nya, ia pun langsung menoleh ke arah pria yang berdiri tak jauh dari ranjang pasien nya dan menatap ke arah pria itu.
"Aku bisa bicara dengan nya dulu?" tanya Sean pada ayah dan juga putra wanita di dalam nya.
"Kenapa aku gak boleh ikut!"
Pertanyaan yang keluar secara bersamaan dari remaja tampan itu dan juga pria tua di samping nya.
"Bocah? Ngapain ikut? Ini kan urusan orang tua!" ucap Daniel menatap ke arah remaja itu.
"Orang tua yang harus nya ngapain ikut? Ini kan urusan Mommy aku? Aku kan anak Mommy!" jawab Axel seketika.
Ainsley terdiam melihat nya, "Kalian..." ucap nya lirih yang baru bangun namun suasana di tempat nya sudah ribut sedangkan ia butuh ketenangan.
Axel mau pun Daniel langsung melihat ke arah Ainsley dengan antusias.
"Bisa keluar?" ucap nya lirih sembari memegang kepala nya.
"Kan, jangan ribut di sini." ucap Sean yang langsung mendekat dan memegang wanita itu.
"Yang bikin ribut kan Daddy nya paman!" ucap Axel dengan ketus sebelum melenggang pergi.
"Anak nakal ini! Hey tunggu! Aku yang bikin ribut?! Hey? Berhenti!" sahut Daniel yang langsung menyusul dan ikut ke luar bersama dengan Axel karna mengejar remaja yang masih aktif itu.
Kini ruangan tersebut mulai kembali sunyi, tak ada suara yang terdengar karna kedua nya masih diam sejenak.
"Kenapa tidak bilang?" ucap Sean yang mulai membuka suara.
Ainsley masih diam sembari menautkan jemari nya satu sama lain. Ia bingung harus mengatakan apa pada pria yang kini tengah bertanya pada nya.
"Ainsley?" panggil pria itu lagi.
Wanita itu kembali menoleh ke arah pria yang memanggil nya, "Aku bingung..." ucap nya lirih.
"Bingung kenapa? Memang nya aku bakalan marah kalau tau?" tanya pria itu mengernyit.
"Tunggu! Apa kau mau..." ucap nya menggantung ketika menebak sesuatu yang harus nya tak terlintas di benak nya.
Ainsley melihat ke arah pria itu, ia tak bisa menebak pikiran negatif apa yang ada di dalam kelapa pria di depan nya.
"Kau tidak berniat mengugurkan nya kan?" tanya nya lagi.
"Tidak! Aku gak ada pikiran buat gugurin kandungan ku!" sangkal Ainsley langsung pada pria di depan nya.
"Terus kenapa di tutupi?" tanya Sean lagi.
"Aku bukan nutupi kok, cuma belum bilang aja..." ucap wanita itu seakan membela diri nya.
"Sama aja kan? Lagi pula mau sampai kapan di sembunyikan? Sampai perut mu besar? Sampai melahirkan?" tanya Sean lagi.
"Axel gak mau punya adik..." ucap nya lirih menjawab pertanyaan pria di samping nya.
"Aku bingung harus gimana, lagi pula memang nya kau bakalan percaya kalau ku bilang ini anak mu? Kita juga masih sekali kan? Kalau kau nolak terus gak mau akuin kalau ini ana-"
"Astaga! Ainsley!" ucap pria itu yang kehabisan kata-kata saat wanita di depan nya malah seakan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu.
"Memang nya kita baru kenal? Kalau boleh jujur saja pasti pria yang kau tiduri cuma dua kan?" tanya pria itu sembari membuang napas nya.
Ia tau karna diri nya yang pertama dan tentu nya pria lain nya adalah mantan suami yang telah meninggal dunia itu.
"Kau kan mungkin aja gak percaya..." ucap nya lirih sembari menautkan jemari nya.
Sean menarik napas nya lirih, "Berarti sekarang itu anak kita, lalu sekarang kau ingin apa?" tanya nya sembari menatap ke arah pria itu.
__ADS_1
"Aku bingung..." jawab nya lirih.
"Mungkin ini seperti menakuti mu tapi kalau pun kau tidak mau menikah dengan ku, anak itu pasti akan jatuh hal asuh nya pada ku."
"Aku bisa aja biarin dengan mu, karna pasti kau juga bisa menjaga nya dengan baik. Tapi Papa ku uda tau kau hamil."
"Dia pasti akan melalukan segala cara supaya anak itu bisa pakai nama belakang keluarga ku," ucap Sean yang mengatakan apa yang akan terjadi ke depan nya karna sang ayah sudah tau masalah kehamilan wanita itu yang berasal dari darah nya.
Ainsley langsung memegang perut nya, tentu nya ia tak mau anak nya di ambil begitu saja ataupun hal asuh yang tak jatuh ke tangan nya.
"Tapi..." gumam nya lirih, "Axel gimana?" ucap nya yang hampir tak bersuara.
"Kalau aku nikah tiba-tiba dia mungkin bakalan terkejut, dia juga gak bisa terima ayah baru dalam beberapa hari kan?" tanya nya lagi.
"Tentu kita juga bakalan bicara sama Axel juga, tapi sebelum itu bagaimana dengan mu?" tanya pria itu sembari menatap iris hijau yang terkena cahaya mentari yang cerah walaupun salju masih turun.
"Aku?" tanya Ainsley mengulang.
"Hm, Kau."
"Kau mau menikah dengan ku? Atau hanya karna anak saja?" tanya nya lagi pada wanita itu.
Ainsley diam sejenak, ia sudah pernah menikah hanya karna anak saja sebelum nya walaupun setelah di jalani tak begitu buruk seperti yang ada di pikiran nya.
"Kalau begitu pikirkan lagi," ucap Sean saat melihat ke arah wajah wanita yang diam saja.
"Sean? Aku mau tanya sesuatu?" ucap nya lirih.
"Mau tanya apa?" Sean yang menatap dengan bingung.
"Kau masih suka aku? Kita udah terlalu lama kan seperti ini terus? Memang nya gak bosan?" tanya Ainsley lirih.
"Bosan? Kenapa kau pikir aku bakalan bosan?" tanya pria itu mengernyit.
"Tentu saja! Kita kenal nya udah terlalu lama kan? Dan mungkin bisa aja nanti habis nikah kau langsung bosan dengan ku? Aku juga tidak cantik lagi sekarang, umur ku juga sudah tidak muda lagi," ucap nya lirih.
"Tidak cantik?" gumam pria itu mengernyit sembari menatap wajah yang tengah menatap arah lain itu.
Ia pun mulai beranjak memegang dagu wanita itu lalu menatap nya dengan lirih.
"Cantik, bahkan sekarang pun masih cantik sama seperti waktu aku pertama kali melihat mu." ucap nya sembari menatap dan tetap memegang dagu wanita itu yang membuat iris hijau itu terkunci sejenak.
"Tapi tetap aja kan? Bakalan lebih banyak yang cantik nya itu lebih dari aku," ucap Ainsley lagi sembari menepis tangan pria itu, "Kau akan segera bosan..."
Kebersamaan yang sudah terlalu lama tentu nya akan membuat seorang pria ingin mencari sesuatu yang menarik lain nya ketika telah mendapatkan yang mereka inginkan.
Dan itu lah yang selama ini ada di pikiran wanita itu.
"Kalau begitu aku juga mau tanya sesuatu?" ucap Sean sembari menatap wajah yang berpaling itu.
Ainsley kembali menoleh dan menatap nya, "Kau bosan merawat Axel? Atau kau bosan jadi ibu nya setelah sekian lama?" tanya Sean yang langsung membuat mata wanita itu membulat.
"Sama, aku juga begitu."
"Kau sendiri juga tau kan? Aku bahkan sampai sekarang belum menikah," ucap nya lagi, "Kau tau alasan nya karna apa?"
Ainsley diam tak mengatakan apapun walau mungkin di kepala nya memiliki jawaban yang ia ketahui.
"Karna aku menyukai mu, dulu waktu aku melepaskan mu itu aku juga uda coba buat lupa, aku simpan semua barang yang pernah kita pakai atau barang-barang mu yang masih tertinggal di mansion."
"Tapi kau tau? Pada akhir nya aku akan tetap membongkar nya, aku tidak tahan. Tapi aku tidak bisa menemui mu, hidup mu yang sudah seperti sempurna." ucap nya tersenyum tipis.
"Tapi waktu aku pertama kali bertemu Axel, dan tau kalau dia itu anak mu aku tidak bisa berhenti menemui nya, dia mirip dengan mu dan aku merasa sedikit bisa bernapas, aku seperti melihat kau di dalam diri anak itu." ucap nya lagi.
"Aku masih menyukai mu, bahkan mungkin terlalu lama untuk hanya di katakan sebatas suka." ucap pria itu menutup kalimat nya.
Ainsley kini diam tanpa sepatah kata pun, ia hanya menatap dan terkadang menautkan jemari nya satu sama lain dengan gugup.
"Pikirkan sampai besok pagi, apapun yang kau pilih aku akan menerima nya." ucap nya sembari mulai beranjak.
"Kalau aku tetap tidak mau menikah dengan mu? Apa anak ini akan jadi milik kau dan ayah mu?" tanya nya lirih.
Sean menggantikan langkah nya, "Aku akan bantu untuk membuat mu mendapatkan hak asuh nya, kalau kau mau aku akan membantu mu dari pada Papa ku."
Ucap Sean yang kemudian segera beranjak dari pintu tersebut membiarkan wanita itu diam sejenak di tempat yang kini begitu sunyi itu.
Ia memegang perut nya yang masih rata, antara bingung dan merasa bersalah menjalar pada nya.
"Aku juga suka..."
"Tapi apa boleh? Aku sekarang kan hidup karna dia..." ucap nya lirih yang kembali bimbang saat di hadapkan dengan sebuah pilihan.
Ia merasa akan baik-baik saja dan juga menginginkan seseorang yang bisa bersama nya, tapi bagaimana dengan reaksi putra nya?
Bagaimana dengan reaksi pria yang sudah memberi nya jantung jika pria itu masih ada?
Keinginan dan merasa bersalah ketika ia ingin memiiki suatu kebahagian yang lain namun juga memiliki sesuatu yang menahan nya jauh di dalam hati nya.
...
Pukul 08.15 pm
Axel melihat ke arah sang ibu yang kini terlihat melamun setelah berbicara dengan pria yang ia panggil paman.
"Mommy? Mommy mikirin apa?" tanya remaja itu pada ibu nya.
Ainsley melihat ke arah putra nya, ia mengulurkan satu tangan nya agar remaja itu mendekat ke arah nya.
"Axel ke sini nak, Mommy mau bicara sama kamu." ucap nya pada putra nya dan membuat remaja itu langsung mendekat ke arah nya.
__ADS_1
"Maafin Mommy yah..." ucap nya saat remaja itu sudah mendekat dan duduk di ranjang pasien nya.
Axel diam tak menjawab, "Aku gak apa-apa kalau Mommy punya pasangan lain, tapi kalau untuk adik itu aku agak takut..." ucap nya lirih.
Ainsley diam sejenak membiarkan putra nya mengatakan apa yang menjadi kekhawatiran nya.
"Aku tuh takut, kalau Mommy udah punya anak nanti nya bakalan lupain Axel, karna kan Mommy bakal punya anak yang lain dan mungkin dari pria yang bakalan lebih Mommy suka dari Daddy." ucap nya lirih.
"Selama ini kan Mommy sayang sama Axel karna Axel itu cuma anak Mommy satu-satu nya..." sambung nya lirih yang takut sang ibu tak lagi menyayangi nya jika ia memiliki saudara atau saudari lain nya.
"Kamu kenapa mikir nya begitu? Hm?" tanya Ainsley dengan lembut sembari mengelus kepala putra nya.
"Banyak Mom, teman-teman aku yang orang tua nya cerai terus menikah lagi dan punya keluarga masing-masing, mereka itu udah gak di peduliin lagi." jawab nya yang berbicara sesuai apa yang ia lihat.
"Tapi kan Mommy sama Daddy bukan cerai atau pisah karna mau milih jalan masing-masing, tapi karna kami memang udah sampai di situ pernikahan nya." ucap Ainsley pada putra nya.
"Dan mereka yang mungkin ngabaikan anak mereka sebelum nya waktu udah punya kelurga yang lain karna mereka itu gak tau dan gak pernah merasa di posisi yang sama." ucap nya pada putra nya dengan lembut.
"Maksud Mommy?" tanya remaja itu dengan bingung.
"Mereka gak tau apa yang di rasain anak mereka, karna mereka gak pernah ada di posisi itu." ucap nya memperjelas.
"Memang nya Mommy pernah? GrandMa sama GrandPa kan gak pernah cerai," ucap nya pada sang ibu.
Ainsley tersenyum tipis mendengar nya, tentu nya ia tak mau mengatakan tentang seberapa buruk yang pernah ia alami dulu.
"Axel? Apapun itu kamu cuma perlu tau satu hal." ucap nya pada putra nya.
"Mommy itu sayang kamu, mau Mommy punya berapa anak lagi, Mommy gak akan tinggalin dan lupain kamu." ucap nya sembari menangkup wajah putra nya.
"Kalau misal Mommy nih di suruh milih selamatin aku atau adik bayi itu Mommy pilih mana?" tanya nya yang seperti anak-anak karna cemburu dengan adik nya yang bahkan belum lahir.
"Kamu atau adik bayi kamu?" tanya Ainsley mengulang.
Satu anggukan menjadi jawaban dari remaja tampan itu.
"Mommy gak pilih dua-dua nya, kalau Mommy cuma bisa selamatin satu aja." ucap nya pada putra nya.
"Kalau adik kamu nanti ada, dia itu juga hidup nya Mommy sama kayak kamu..."
"Kalau kalian gak ada mendingan Mommy juga gak ada. Mommy gak sanggup kalau harus di tinggalin begitu. Apa lagi di tinggalin kamu..." ucap nya sembari mencubit pelan hidung putra nya.
Axel tak menjawab ucapan ibu nya, ia masih cemberut dan takut akan kecemburuan nya yang begitu kanak-kanak.
"Mommy janji bakalan tetep sayang aku?" ucap nya pada sang ibu.
Ainsley tersenyum kecil mendengar nya, ia mengangguk dan memberikan kelingking nya untuk janji yang akan ia buat pada putra nya.
"Iya, Mommy janji." ucap nya sembari menunjukkan kelingking nya.
"Bakal lebih sayang Axel dari pada adik bayi?" tanya nya lagi.
"Iya, Mommy bakalan lebih sayang sama Axel." ucap nya Ainsley sekali lagi yang harus menenangkan kegelisahan putra nya lebih dulu.
Remaja itu tersenyum dan mulai menautkan kelingking nya pada sang ibu.
"Yauda gak apa-apa Axel punya adik baru, yang penting adik nya harus lucu kayak Mommy. Gak boleh kayak paman Sean!" ucap nya sekali lagi.
"Paman Sean kenapa rupa nya nak?" tanya Ainsley mengernyit.
"Paman Sean itu nyebelin!" ucap nya pada sang ibu.
"Nyebelin? Nyebelin banget? Axel gak suka paman Sean?" tanya nya lagi.
"Bukan gak suka Mom tapi Axel mau bilang paman Sean nyebelin aja!" ucap nya yang memang sudah terbiasa bersikap ketus terhadap pria itu.
"Jadi kalau Mommy nikah nya sama orang lain selain paman Sean boleh enggak?" tanya nya pada putra nya.
Mata hijau itu yang mirip dengan sang ibu itu membulat, kalau pria lain yang mendekati ibu nya pasti tak akan ada yang menyukai nya sama seperti Sean.
Dengan sikap penolakan kekanakan yang kuat itu di tambah lagi sikap yang terus ketus mana ada yang bisa tahan jika punya anak tiri seperti nya.
"Mommy mau sama siapa lagi?" tanya nya segera.
"Kamu kan gak suka paman Sean." ucap Ainsley tertawa kecil.
"Suka kok!" ucap nya langsung.
"Suka kenapa?" tanya Ainsley lagi.
"Suka karna dia nyebelin!" jawab nya asal.
"Jadi kalau Mommy sama paman Sean boleh tidak?" tanya pada putra kesayangan nya itu.
Axel melihat ke arah sang ibu yang menatap nya, "Ka-kalau itu buat Mommy bahagia gak apa-apa kok! Yang penting Axel harus yang di sayang nomor satu!" ucap nya langsung beranjak dan tidur di ranjang tunggu pasien yang di sediakan di kamar tersebut.
Ainsley hanya tersenyum melihat tingkah putra nya yang terlihat menggemaskan.
......................
Keessokkan hari nya.
Pria itu kembali mengunjungi wanita di depan nya guna mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya kemarin malam.
"Ayo menikah," ucap nya pada pria itu dengan tersenyum.
Sean terperanjat sejenak, ia menatap tak percaya.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti nya, tapi aku mau mencoba nya, jadi tidak apa-apa untuk melakukan sesuatu yang ku mau..." ucap nya lirih.
__ADS_1
"Aku tidak akan membuat mu menyesal untuk pilihan mu sekarang..." ucap pria itu yang juga memiliki senyuman yang sama.