Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Toxic relationship


__ADS_3

Mansion Sean.


Pria tampan itu mengendong kekasih nya yang baru ia turunkan dari mobil. Amarah nya masih meninggi dan terus naik melihat bekas kepemilikan di leher gadis cantik itu.


Ia pun memerintahkan pelayan di mansion nya untuk menyiapkan air dingin di bathup kamar mandinya.


Byur!!!


Pria itu langsung menjatuhkan tubuh gadis nya ke bathup yang penuh dengan es agar membuat dingin dan menyadarkan Ainsley segera.


Ainsley pun jatuh dan cukup terkejut saat ia tiba-tiba merasa dingin, mata nya memandang sayu ke arah pria tampan yang menjadi kekasih nya.


"Sean?" panggil Ainsley pada pria tampan itu.


"Sudah sadar?!" tanya Sean sembari menggertakan gigi nya menahan emosi.


Ainsley bingung, ia masih belum tersadar sepenuh nya dari obat perangsang yang di campur dengan alkohol memabukkan itu.


"Auch! Sakit Sean..." ringis gadis itu saat rambut panjang nya di tarik kuat oleh kekasih nya sendiri.


"Sekarang sudah sadar?! Hm?" tanya Sean pada gadis nya.


"Sa..sakit Sean..." ringis Ainsley saat wajah nya mengandah karna jambakan yang di berikan sang kekasih.


Sean pun menatap datar pada wajah yang terus meringis tersebut, ia pun tanpa aba-aba mencelupkan kepala gadis cantik ke bathup yang penuh dengan air dingin.


Blup...blup...blup...


Sesak...


Gadis itu tak bisa bernafas sama sekali saat pria tampan itu memasukkan dan menahan kepala nya di dalam air yang merendam tubuh nya.


Tangan nya memukul kecil ke tangan sang kekasih yang sedang menahan kepala nya dari luar.


"Fuah! Hah... hah..." tarikan nafas yang begitu berat dan berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin ke paru-paru nya saat Sean mengangkat kepala nya.


"Sudah sadar?" tanya Sean lagi pada gadis itu.


Ainsley masih menatap sayu dan tak menjawab pertanyaan dari Sean, ia masih berusaha menghirup udara sebanyak mungkin.


Namun pria tampan itu tak memiliki kesabaran sebesar itu untuk menunggu nya mengambil nafas dan menjawab nya. Ia pun lantas mencelupkan dan menenggelamkan lagi kepala kekasih nya di air.


Ukh!


Blup...blup...blup...


Lagi-lagi tangan kecil gadis itu berusaha menepis tangan yang sedang menenggelamkan kepala nya hingga membuat nya tak bisa bernafas.


Setiap kali Ainsley mencapai titik dimana ia tak sanggup menahan nafas Sean akan menarik kepala nya.


"Sudah sadar?" tanya Sean lagi dengan pertanyaan yang sama sembari menarik rambut panjang gadis itu.


Ainsley pun mengangguk lirih dan menatap memelas pada kekasih nya.


"Auch!" pekik nya pelan saat jambakan di rambut nya di lepaskan dengan kasar.


"Kenapa bisa disana?" tanya Sean dengan wajah dingin pada gadis yang sudah gemetaran itu.


Entah karna kedinginan atau ketakutan, namun gadis itu tak berani beranjak bangun dari bathup yang penuh akan air yang di isi es balok.


"Ta-tadi aku kumpul tugas..." jawab Ainsley dengan suara gemetar pada kekasih nya.


"Kau ini bodoh?! Kau mau mengumpul tugas atau merayu dosen mu?!" tanya Sean emosi pada gadis yang terus tertunduk gemetaran itu.


Ainsley pun langsung mengandah melihat ke arah kekasih nya.


"Bukan Sean! Bukan...


Aku cuma kumpul tugas tadi...

__ADS_1


Tidak lakukan hal lain..." jawab Ainsley memelas.


Dibandingkan dengan sikap kasar yang akan ia terima. Ia lebih takut jika pria itu akan meninggalkan nya.


"Kau minum alkohol?" tanya Sean lagi dan tetao membiarkan gadis itu terendam di bathup yang penuh es.


Ainsley menggeleng perlahan menatap kekasih nya.


"Ta-tadi waktu aku tanya ruangan...


Me-mereka yang kasih aku minum...


Padahal aku tadi juga tidak mau..." jawab Ainsley jujur dengan gugup karna masih bingung menjelaskan situasi yang terjadi pada nya.


"Kenapa tak memberitau ku? Dan...


Kenapa kau bisa dengan nya?!" tanya Sean lagi, walaupun ia sudah tau dari mimik gadis nya jika pria yang memberinya minuman dan yang bersama di kamar dengan nya adalah pria yang berbeda.


"A-aku tadi minta bantuan nya Sean..." jawab Ainsley menangis karna takut yang bercampur dengan rasa dingin hingga menusuk ke tulang nya.


"Bantuan?" gumam Sean semakin geram.


Pria itu menyalah artikan jawaban gadis nya, tentunya ia salah paham dengan maksud "bantuan" yang baru saja di lontarkan dari bibir mungil gadis itu.


Ia tau jika Ainsley yang berada di pengaruh obat dan sedang meminta "Bantuan" pada pria lain?


Kekasih mu sangat cantik..


Dan juga...


Sangat harum...


Seketika ingatan tentang apa yang di katakan Richard membayang di kepala nya.


Harum? Apa yang sudah mereka lakukan tadi?!


Batin Sean dan memandang penuh amarah ke gadis cantik yang polos itu.


PLAK!!!


Yang ia tau ketika rasa cinta nya semakin besar ia semakin sulit mengontrol dirinya dan membuat nya mengalami masa OLD karna takut akan di tinggalkan lagi.


NB KET : Obsessive love disorder (OLD) adalah suatu kondisi di mana seseorang menjadi terobsesi terhadap orang yang sangat dicintainya. 


Membuat nya lebih bersikap posesif dan semakin mengekang kehidupan pasangan nya.


Ainsley tak berani melawan ataupun memprotes sikap kekasih nya. Ia tau saat pria itu sedang cemburu maka sikap atas dirinya pun akan sangat berlebihan namun ia tak peduli dan tetap ingin dengan pria tampan itu.


"Maaf Sean...


Aku salah..." mohon Ainsley menangis dan menyatukan kedua tangan nya memohon pada kekasih yang sudah mengambil semua rasa cinta nya.


"Bangun!" titah Sean memandang dingin Ainsley yang sudah gemetar karna kedinginan.


Ainsley terdiam. Ia membatu dan membeku begitu saja saat melihat tatapan tajam kekasih nya.


"Auch!"


"Kau tak dengar! Aku suruh kau bangun!" jawab Sean sembari menarik rambut gadis itu dan menyeret nya keluar dari bathup kamar mandi nya.


Bruk!


Ia menghempaskan tubuh gadis itu kelantai hingga membuat Ainsley langsung tersungkur karna tenaga nya yang tak pulih dengan baik.


"Buka pakaian mu! Buka seluruh nya tanpa sisa!" ucap Sean saat melihat gadis itu yang terjatuh tersungkur di lantai.


Ainsley terdiam, ia tak pernah mendengar kekasih nya memberikan perintah untuk melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan.


Walaupun ia pernah di pukul, di tampar, cambuk dan di kurung diruang bawah tanah, namun ia tak peduli dan tetap tetap ingin bersama pria itu.

__ADS_1


Bagi nya sama saja, ia mendapatkan rasa sakit namun pria itu juga memberikan rasa cinta yang belum pernah ia dapatkan dari siapapun maka dari itu membuatnya tak peduli tentang hubungan yang semakin berduri yang ia jalani.


Auch!


"Sean...


Sakit..." rintih Ainsley saat rambut di tarik lagi.


"Ukh!" pekik nya saat tangan kekasih nya yang lain mulai mencekik leher jenjang nya hingga membuat nya tak bisa bernafas.


"Kenapa lama? Tak dengar yang ku katakan?!" tanya Sean sembari semakin mencekik dan menjambak rambut gadis itu.


Mata Ainsley melihat sendu ke arah pria nya sembari memukul kecil tangan yang sedang mencekik nya dengan kuat.


"Cepat lakukan yang ku suruh!" ucap Sean sembari melepaskan tangan nya yang sedang menyakiti gadis yang ia sukai.


"Ma-malu Sean..." jawab Ainsley lirih dengan suara bergetar sembari memegang leher nya yang terasa sakit.


PLAK!!!


Satu tamparan keras mendarat di pipi gadis itu hingga membuat ujung bibir nya terluka.


Ukh!


Sean pun langsung mencengkram erat dagu gadis itu dan menatap nya penuh amarah yang bercampur dengan rasa cemburu.


"Malu?! Kau malu aku melihat nya?! Tapi tak malu saat orang lain menelanjangi mu?!" tanya Sean sembari terus mencengkram rahang mungil gadis itu.


"Tidak Sean...


Maaf..." jawab Ainsley dengan suara serak karna tangis nya.


Sean pun melepaskan cengkraman nya, ia melihat gadis nya yang begitu ketakutan dan membuat sudut bibir nya terangkat.


"Kau mau putus dengan ku?" ancam Sean nada berbisik pada gadis itu.


Ia tentu nya tak ingin memutuskan hubungan dengan gadis cantik itu namun ia tau jika gadis itu menyukai nya dan tak bisa menyembunyikan perasaan nya.


Deg...


Mata Ainsley membulat melihat pria nya. Ia sangat takut jika pria itu akan meninggalkan nya.


"Tidak Sean...


Aku tak mau...


Huhuhu..." tangis nya yang pecah dan memohon pada pria tampan itu.


"Kalau begitu buka pakaian mu!" ucap Sean pada gadis nya.


Ainsley pun yang mendengar hal itu mau tak mau melakukan apa yang di minta kekasih nya.


Harga diri?


Ia tak mau mempertahankan hal tersebut jika harus kehilangan satu-satu nya orang yang memberikan kasih sayang padanya.


Tangan kecil nya yang gemetar pun mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh nya.


"Kenapa berhenti? Aku bilang kan buka semuanya!" ucap Sean pada gadis itu saat ia melihat gadis itu enggan membuka pakaian dalam nya.


"Ma-malu Sean..." jawab Ainsley lirih dengan suara yang hampir tak terdengar sama sekali, namun ia tetap membuka seluruh pakaian nya.


Sean tersenyum dan menarik tubuh gadis itu ke depan cermin, ia ingin gadis itu melihat sendiri bekas yang tertinggal di tubuh nya.


"Menurut mu hukuman apa yang harus ku berikan pada mu? Hm?" bisik Sean di telinga gadis nya.


"Apa saja...


Tapi jangan tinggalin aku..." jawab Ainsley lirih dengan air mata yang terjatuh.

__ADS_1


Sikap rasional dan logika nya hilang di telan perasaan yang semakin menjerat nya di hubungan yang akan terus semakin menyakitinya.


__ADS_2