Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (No, I didn't)


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Kak? Berat banget..." rintih nya yang tak tahan berjalan mengikuti langkah sang kakak.


"Kan kakak bilang kamu di apart aja? Kenapa ikut kakak?" tanya Steve sembari menggandeng tangan gadis nya yang kesulitan berjalan karna perut yang kian membesar.


"Celine kan bosen kak di apart aja," jawab gadis itu sekena nya dengan cemberut.


"Kakak kan cuma ke Minimarket sayang." ucap pria itu sembari menatap gadis nya yang terlihat cemberut.


Semakin membesar perut gadis itu, semakin lengket juga ia pada pria yang menghamili nya, jangankan ke minimarket dekat apart nya, saat mau mandi pun ia juga mengikuti nya seperti anak ayam.


"Kan bisa pesen makanan aja sih kak? Biasa kakak juga gitu," celetuk nya yang kini sudah lupa alasan mengapa pria itu pergi ke minimarket.


"Kamu bilang tadi mau puding yang kakak buat? Bahan nya kan gak ada di apart," ucap Steve menggeleng sembari mencubit pipi yang juga semakin membulat itu mengikuti perut nya.


"Oh iya lupa, hihi..." ucap nya yang langsung tertawa dengan perubahan yang secepat kilat.


"Mau kakak gendong kamu?" tanya Steve lagi pada gadis yang masih duduk itu sembari melihat kaki gadis nha yang tengah membengkak karna hamil.


"Gak mau kak, malu." jawab nya cepat sembari melihat ke arah belanjaan sang kakak.


Sedangkan pria itu mulai berjongkok dan memeriksa kaki mungil yang terlihat sedang tak baik itu.


"Udah bengkak gini, kamu mau jalan ke apart kita lagi?" tanya Steve pada gadis itu sembari memijat nya dengan halus.


"Gak papa kak, tapi nanti waktu di apart Celine boleh makan es krim yah?" tanya nya tersenyum pada pria itu.


"Satu aja," ucap Steve yang tau jika kali ia tak menuruti nya lagi maka gadis itu akan terus merengek pada nya.


....


2 Minggu kemudian.


Apart


Ting!


Mata biru itu langsung menoleh menatap ke benda petak tipis yang menjadi alat komunikasi utama.


Setelah getaran yang cukup lama pada ponsel itu ia baru menyadari ada yang menelpon dan kini malah berganti dengan pesan yang di tinggalkan.


"Kak?" panggil nya yang mengambil ponsel sang kakak dan memberikan nya.


Steve yang masih mengganti pakaian nya dengan piyama tidur pun langsung menoleh pada suara gadis yang memanggil nya.


"Hm?" pria itu kembali mengancingkan satu persatu kemeja nya.


"Tadi ada yang nelpon tapi Celine gak tau, pas mau angkat udah mati, ini ada yang kirim pesan." ucap nya sembari memberikan ponsel sang kakak.


Mata Steve membulat, melihat berita yang masuk di ponsel nya.


"Astaga!" decak nya kesal karna mendapatkan pekerjaan lagi saat ia ingin beristirahat.


"Kenapa kak?" tanya Celine yang langsung mengernyit melihat wajah kesal sang kakak.


"Ada yang melakukan plagiarisme dengan desain game yang akan di liris dia juga meliris nya lebih awal," jawab pria itu.


"Kalau gitu besok aja kak baru buka lagi, kan kakak mau tidur." ucap Celine pada sang kakak.


"Kamu tidur duluan yah? Kakak beresin ini dulu." ucap Steve sembari mengecup dahi gadis itu.


"Celine kan mau nya tidur sama kakak," jawab nya dengan manja dan memeluk lengan pria itu.


Dan pada akhirnya gadis itu tetap mengikuti nya yang bahkan tengah berkutik di depan laptop nya dengan serius.


"Celine berat kak?" tanya gadis itu saat ia duduk di pangkuan sang kakak yang masih mengerjakan sesuatu di depan nya.


"Tidak," jawab Steve singkat karna ia juga sedang serius.


Gadis itu hanya menatap nya dengan mata yang penuh arti, "Kalau kakak lelah, istirahat dulu.." ucap nya lirih sembari menyentuh rahang tegap pria yang memangku nya.


Steve melihat ke arah gadis nya yang menatap dengan mata menyimpan sesuatu di dalam nya.


"Iya, kakak gak apa-apa kok..." ucap nya sembari mengecupi pipi chubby gadis nya.

__ADS_1


"Nanti kalau Celine udah lanjut sekolah biasa lagi terus kuliah nanti gantian Celine yang kerja kakak nunggu di rumah." ucap nya tersenyum manis dengan mata semangat yang begitu polos.


Pria itu tersenyum mendengar nya, jika saja ia lebih suka menganggur tentu nya ia bisa memanfaatkan kepolosan gadis itu membiayai hidup nya.


"Kalau kamu udah selesai kuliah pun, tetap kakak yang kerja, kamu di rumah aja jagain anak-anak kita..." ucap nya dengan gemas sembari menggelitik pipi gadis itu dengan bulu mata nya yang panjang.


"Terus setiap akhir bulan kita liburan bareng, kamu suka kan yang begitu?" tanya Steve lagi sembari dan membuat binar di mata biru itu memancar keluar.


"Mau!" jawab nya dengan semangat dah memeluk pria itu.


Steve bisa merasakan ganjalan saat gadis nya memeluk erat diri nya, perut besar itu menjadi penghalang namun ia juga menantikan penghalang pelukan itu segera melihat dunia.


"Kamu lucu banget sih? Hm? Kakak mau nya anak kita mirip kamu semua..." ucap nya tersenyum melihat tingkah gemas gadis itu.


"Kenapa gak mirip kakak aja?" tanya Celine bingung.


"Kamu aja kan kamu kesayangan kakak..." jawab pria itu asal sembari memainkan pipi gadis nya yang sekarang menjadi mainan tangan nya seperti memegang squisy.


Ia sendiri tau dirinya seperti apa, ayah nya sendiri saja dulu berulang kali membawa nya ke psikiater anak karna tak memberikan reaksi serta emosi apapun berbeda dengan gadis di depan nya yang cerah bagaikan bunga matahari yang sedang mekar.


......................


Kantor.


"Kenapa bisa ada desain yang bocor?" tanya nya dengan tatapan yang tajam menyilang menatap para pegawai yang terlibat dalam proyek itu.


Tak ada satu pun yang berani menatap tatapan tajam itu, pria yang sejak awal masuk dan menjadi atasan baru mereka terlihat begitu dingin dan tak bisa di dekati seperti beruang kutub Utara yang tengah mencari mangsa.


"Kami sudah memeriksa keamanan data ja-"


"Bukan di sistem keamanan, saya yang membuat nya sendiri jadi saya yakin sistem nya tidak akan bisa di retas. Saya lebih yakin ada yang memang membocorkan nya." ucap nya lagi menatap para staf itu.


Tak ada jawaban, begitu hening hingga suara napas pun bisa terdengar.


"Saya akan laporkan pihak berwajib atas masalah ini, dan memastikan dia akan mengganti sepuluh kali lipat kerugian yang di terima." ucap Steve membuang napas nya dengan kasar.


Seseorang yang mendengar nya tengah mengepal dan mendengar erat, menatap dengan kesal wajah yang terlihat tak memiliki ekspresi sama sekali itu.


...


Apart.


"Kangen Daddy yah? Ketemu Daddy yuk?" ajak nya yang berbicara dengan perut besar nya.


Bukan anak-anak nya yang merindukan sang ayah namun ia lah yang merindukan pria itu walau hanya baru beberapa jam.


"Shanon? Antar aku ke kantor kakak? Mau buat kejutan," ucap nya yang memanggil pelayan di apart nya


"Tapi tuan bilang anda tidak boleh keluar selagi tuan masih di luar." Jawab pelayan tersebut mengingatkan karna berhubungan dengan perut yang kian membesar itu Steve pun semakin mewanti-wanti keadaan gadis nya.


"Kan mau ke kantor kakak, bukan kemana-mana, nanti juga ketemu kakak kan? Biar jadi kejutan Shanon..." jawab gadis itu lirih dengan membujuk pelayan nya.


"Tapi-"


"Ih! Shanon gak dengerin Celine!" ucap nya yang cemberut.


Melihat nona muda nya yang manja itu sudah kesal ia pun mulai menurut. Karna ia tau yang membuat nya masih dapat bekerja karna gadis itu yang masih ingin diri nya, jika ada aduan tentang kinerja nya mungkin pria yang memberi nya gaji akan langsung memecat nya.


Ia pun pun mulai bersiap dan turun serta masuk ke dalam mobil.


"Nona? Saya boleh tanya sesuatu?" tanya Shanon yang menatap ke arah nona nya yang duduk sembari memakan choco chips yang manis.


"Boleh? Shanon mau tanya apa?" jawab Celine dengan santai.


"Nona bisa kenal tuan dari mana?" tanya nya dengan hati-hati.


Ia melihat gadis kecil menggemaskan yang tengah hamil besar itu seperti penjinak hewan buas karna bisa menaklukan pria yang bagi nya begitu menyeramkan.


"Kenapa?" tanya Celine yang menoleh.


"Saya kan juga mau minta di ajari biar dapat pasangan yang sayang juga," jawab Shanon tertawa kecil dengan mengelak enggan mengatakan jika gadis itu seperti penjinak hewan buas.


Steve memang sengaja memilih pelayan yang memiliki umur tak begitu jauh dengan diri nya ataupun gadis nya agar bisa menjadi teman bercerita saat ia tidak ada.


"Shanon kenapa belum pacaran?" tanya gadis itu yang mengarah ke arah lain.

__ADS_1


Ia yang masih 17 tahun saja sudah sampai mengandung sedangkan wanita yang membawa mobil itu sudah berumur 30 tahun tapi masih menikmati masa sendiri nya.


"Buat pusing, kalau pasangan satu malam juga bisa di cari jadi buat apa yang pasangan yang sama terus?" jawab nya tertawa karna bagi nya memiliki pasangan hanya akan membuat nya merasa terkekang.


"Jadi Shanon nanti gimana kalau mau beli sesuatu?" tanya Celine dengan tatapan yang begitu ingin tau.


"Saya kan kerja, bisa pakai uang yang saya hasilkan." jawab nya pada gadis cantik itu.


"Wah, keren..." jawab Celine dengan mata berbinar melihat wanita yang bagi nya terlihat mandiri.


"Saya juga hanya melakukan pekerjaan seperti ini," jawab Shanon yang malu mendengar pujian gadis itu.


...


Gadis dengan perut besar itu pun datang ke meja informasi karna baru kali ini datang ke kantor di mana sang kakak bekerja.


"Ruangan Steve Goerge Evans di mana?" tanya nya lirih sedangkan Shanon tengah menunggu nya di mobil..


"Ada keperluan apa?" jawab yang menjaga meja informasi melihat gadis muda yang tengah hamil besar itu.


"Saya mau bertemu dia," ucap Celine lagi.


"Sudah membuat janji?" tanya staf meja informasi.


"Harus buat janji? Apa tidak bisa tunjukkan ruangan nya saja?" tanya Celine dengan bingung karna ia juga tak tau cara peraturan di tempat seperti itu bagaimana.


"Dengan siapa saya bicara saat ini?" tanya staf tersebut menanyakan identitas gadis cantik itu.


"Rahasia, hihi..." jawab Celine yang tertawa kecil dengan polos nya.


"Maaf nona, kami tidak bisa memberi tau nya." jawab staf meja informasi yang memang tak bisa membiarkan orang lain masuk begitu saja.


"Yah..."


"Yauda, aku cari sendiri." ucap nya lesu.


Ia pun mulai berjalan ke arah lain dengan bingung, ingin menelpon namun sedang membuat kejutan karna ia yang datang tiba-tiba.


"Maaf, permisi. Apa anda kenal dengan yang namanya Steve Goerge Evans?" tanya gadis itu yang merasa lelah karna berjalan dan pada akhirnya bertanya pada orang lain.


"Steve? Direktur perencanaan?" tanya pria itu mengulang


Celine mengangguk dengan semangat, sedangkan pria itu memperhatikan gadis yang terlihat begitu muda namun sudah membawa beban di perut nya yang luar biasa besar.


Ia tak tau apa namun ia bisa menangkap satu hal, gadis di depan nya pasti memiliki hubungan dengan pria yang membuat nya kesal.


Seharusnya ia yang menjadi direktur perencaan namun terganti dengan orang yang baru saja datang dari Prancis.


"Anda siapa? Saat ini direktur Steve tidak bisa di temui, dia sedang bersama kekasih nya." ucap nya yang memanas-manasi.


Deg!


Gadis itu tersentak, kekasih mana? Kan hanya ia yang di jadikan wanita pria itu.


"Ke..kasih apa?" tanya lirih dan terkejut.


"Iya, anda tidak tau? Jahat sekali dia? Bermain dengan anak kecil lalu meninggalkan nya dewan wanita lain saat sudah hamil." ucap nya yang mengatakan kebohongan hanya karna iri dengan atasan baru nya itu.


Celine diam namun ia terus mendengar perkataan yang tak menenangkan nya.


Ser...


Percikan air mulai jatuh di antara kedua kaki nya sedangkan pria itu menatap heran.


"Saya dengar ibu hamil mudah buang air kecil tapi seharusnya anda bisa tahan sampai ke kamar mandi saya bisa ant-"


"Aku tidak buang air kecil," ucap nya lirih yang melihat kaki dan lantai nya yang basah dengan cairan bening kekuningan.


Seorang wanita yang lewat pun datang melihat lantai yang basah di atas gadis itu berdiri, "Anda baik-baik saja?" tanya nya pada gadis yang terlihat terdiam itu.


"Iya, saya baik-ba- ugh!" ucapan nya terpotong, ia merasakan sesuatu yang membuat nya begitu mulas.


"Ketuban nya pecah, panggil ambulans!" ucap wanita itu saat melihat gadis muda di depan nya mulai merintih.


"Gak apa-apa, operasi nya kan dua Minggu lagi..." jawab nya dengan suara merintih, "Dari pada itu panggil kakak ku..." sambung nya yang mengira ketuban pecah bukan lah masalah besar karna jadwal operasi nya dua Minggu lagi.

__ADS_1


"Ambulans akan segera datang, bersabar lah." ucap si wanita yang merasa lebih penting menyelamatkan gadis itu lebih dulu.


Sedangkan pria yang mengatakan kebohongan itu merasa mendapat masalah, ia pun seger beranjak dan memberi tau saingan kerja itu tentang gadis muda yang hamil besar yang tengah mencari nya itu.


__ADS_2