Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Aku pantas bahagia?


__ADS_3

Richard tak tau bagaimana gadis itu melakukan nya dengan kekasih nya, namun ia tau pasti jika pengalaman yang di lakukan bersama kekasih nya bukan lah hal menyenangkan.


"Mau kau lihat sendiri?" tanya Richard pada gadis itu dan mulai mencium lengkung leher nya.


Tangan nya yang lain menangkup gumpalan lembut itu dan terus memberikan kecupan serta menggelitik menggunakan lidah nya.


Richard melepaskan kungkungan pada tangan kecil dan menarik pakaian gadis itu hingga membuat bagian yang tersembunyi di balik pakaian itu terlihat walaupun masih di lapisi pembungkus nya.


"Jang- ungh!" pekik nya terkejut saat dada nya terasa tergelitik namun bukan untuk membuat nya tertawa.


Menghisap, menggigit kecil, dan mel*mat lingkaran hitam yang berada di puncak bagian tubuh gadis itu hingga membuat Ainsley melengkungkan tubuh nya tanpa sadar.


Hati nya menolak namun tubuh nya terasa terbakar karna hisapan pria itu.


"Ja-jangan disini..." gumam nya tanpa sadar saat pria itu membuat tubuh nya semakin mabuk.


"Berarti kalau tak disini kau mau?" tanya Richard sembari mengecup kembali bekas hisapan nya yang memerah, "Tidak apa-apa kau belum pernah di melakukan hal itu di sini kan?"


Jemari pria itu mulai turun mencari sesuatu yang mulai basah dan memasuki nya.


Ungh!


Sekali lagi Ainsley memekik, ia merasa panas dan dingin saat sesuatu menggelitik di bawah sana yang membuat nya menjadi gerah.


Richard hanya tersenyum karna ia tau ia sudah menguasai tubuh gadis itu walau bukan hati nya, namun hal itu bisa ia jadikan alasan untuk membuat gadis itu tetap di sisi nya.


Ciuman nya turun hingga di titik tempat bermain jemari nya dan menyingkirkan yang menjadi penghalang ciuman nya dalam satu tarikan.


Aku...


Kenapa bisa seperti ini? Aku, aku harus bangun!


Batin nya saat tubuh nya tak bisa di kendalikan lagi.


Kaki nya berusaha mendorong pria itu dan menyingkirkan wajah yang sedang terbenam memberikan ciuman yang membuat nya panas dan dingin di saat bersamaan.


Richard yang mengetahui pergerakan gadis itu yang ingin mendorong nya membuat nya dengan sengaja menggigit kecil apa yang ada di depan nya.


"Ungh!" lenguh Ainsley yang membuat semua otot nya mati rasa dan tak bisa melepaskan pria itu.


Merasa tak ada lagi pergerakan yang berusaha mendorong nya, Richard pun kembali mel*mat sesuatu yang bagi nya manis seperti gulali.


Tak berselang beberapa lama, tubuh gadis itu semakin bergejolak dan mengeluarkan ombak besar yang sembari mengeluarkan suara lirih yang ia tahan dengan tangan kecil nya agar tak terdengar keluar.


Richard hanya tersenyum, ia memang tau jika gadis yang tak mengenal apapun akan memiliki ketergantungan dalam hal yang membuat nya 'Nyaman' walaupun dalam jangkauan yang buruk.


Setelah menghisap nya ia pun bangun dan kembali berbisik di telinga gadis yang tengah menarik nafas tak beraturan nya.


"Sekarang kau sudah lihat kan? Kau membutuhkan ku dalam hal seperti ini,"


Ainsley yang akal nya sudah perlahan kembali pun mulai mendorong pria itu dan bangun dari meja datar yang luas tersebut.


Ia merapikan pakaian nya yang sudah berantakan, dan memasang yang tadi di lepaskan.


"Kau harus mengusap nya dulu, nanti bisa lengket." ucap Richard sembari mengeluarkan sapu tangan dari jas nya dan membersihkan sisa cairan yang berada di tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa seperti ini pada ku? Aku tak akan mengatakan apapun yang ku lihat di hu-"


"Aku menyukai mu, itu alasan nya aku menginginkan mu." potong pria itu segera menghentikan kalimat yang di ucapkan gadis itu.


"Suka? Seperti rasa suka? Kenapa sangat mengerikan?" tanya Ainsley dengan suara bergetar sembari kembali merapikan pakaian nya agar mengalihkan mata nya supaya tak menangis.


"Tapi kau menyukai nya kan? Maksud ku yang tadi, katakan kau lebih suka melakukan nya dengan ku atau dengan pacar mu?" tanya Richard mendekat dan membuat gadis itu tersudut dan kembali terduduk di atas meja.


Ainsley diam tak menjawab, alasan ia tak bisa melakukan nya hal itu dengan Sean lagi yang pertama karna ia merasa tak pantas dan tidak percaya diri dan alasan terkuat nya adalah tubuh nya yang masih mengingat pengalaman pertama yang begitu menyakitkan bagi nya. Ia pun juga belum memberi kesempatan pada pria itu untuk melakukan hal itu kedua kali pada nya.


Sedangkan saat pertama kali ia melakukan pada Richard saat masih berada dalam pengaruh obat perngs*ng dosis kecil hingga membuat gairah dalam tubuh nya terpercik.


Dan saat yang kedua kali nya ia antara merasakan nya dan tidak merasakan nya, karna mental nya yang tak sehat saat itu walaupun ia merasakan sakit namun tak sesakit di pengalaman pertama nya saat tubuh nya penuh luka dan di paksa memberi kesucian nya.


Maka dari itu tubuh gadis itu lebih merasa nyaman dan candu pada pria yang membuat nya merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan di pria manapun.


"Kau tak menjawab? Hm?" tanya Richard lagi pada gadis itu.


"Paman tidak punya hak untuk bertanya! Paman bukan siapa-siapa untuk ku!" jawab Ainsley sembari mendorong dada bidang pria itu dan segera berjalan menuju pintu.


Walaupun langkah nya masih gontai karna sepatu tinggi nya dan kaki nya yang masih lemas setelah mencapai pelepasan nya barusan.


Tap!


Richard menahan gadis itu sebelum memegang gagang pintu dan keluar, Ainsley terkejut saat pria itu sudah sampai tepat di belakang nya sebelum ia sempat kabur dari situasi yang menyudutkan nya.


"Kau berhutang satu pada ku, kau belum melakukan apapun untuk memuaskan ku tadi," bisik Richard agar mengikat gadis itu dengan cara nya sendiri.


"Aku tak pernah meminta," jawab Ainsley sembari berusaha menepis tangan pria itu.


Ainsley tak lagi menjawab dan bergegas meninggalkan Richard segera.


......................


2 Hari kemudian.


Apart winter garden.


Ainsley tak bisa mengerti kenapa tubuh nya bisa menyukai hal tersebut padahal ia merasa sangat takut pada pria yang sudah terbiasa ia panggil paman.


Di tengah rasa bingung yang membuat nya tak bisa menemukan jawaban nya, bel nya pun berbunyi dan membuat nya langsung teralihkan dan membuka pintu nya.


Melihat wanita berkacama yang selalu memberikan wajah ramah dan senyum sejuk itu datang ke apart nya sesuai hari terapi nya.


Ainsley pun membiarkan dr. Canly masuk dan segera melakukan konsultasi dan terapi nya.


Selang 30 menit setelah konsultasi di lakukan dan tak ada satupun suara yang keluar dari bibir gadis itu hingga Ainsley mulai berbicara dengan ragu.


"Kalau misal nya aku menyukai sesuatu namun ada hal yang tak bisa ku lakukan pada sesuatu itu tapi aku bisa melakukan nya pada sesuatu yang ku benci, kenapa aku bisa begitu?" tanya nya lirih dan ragu.


"Bisa nona jelaskan apa itu 'Sesuatu' dan hal apa yang bisa di lakukan dengan sesuatu yang di benci dan tak bisa di lakukan pada sesuatu yang di suka?" tanya dr. Canly agar lebih mengetahui arah pembicaraan gadis itu.


"Pria, padahal aku menyukai nya tapi aku tak bisa melakukan hal seharusnya bisa ku lakukan tapi kalau dengan pria yang ku benci itu aku bisa melakukan nya..." gumam Ainsley ragu.


"Kenapa tidak bisa? Padahal dia pria yang nona sukai?" tanya dr. Canly yang mulai memancing Ainsley agar mengeluarkan masalah nya.

__ADS_1


"Karna aku takut, rasa sakit nya kembali lagi kalau aku melihat nya ingin melakukan hal yang sama..." jawab Ainsley lirih dengan menunduk.


"Dan pria yang nona benci tidak memberikan rasa sakit? Lalu kenapa membenci kalau tidak menyakiti?" tanya dr. Canly.


"Tidak! Dia juga menyakiti ku! Dia lebih mengerikan!" jawab Ainsley langsung.


"Nona merasa nyaman tapi tidak merasa aman pada pria yang nona benci tapi merasa sebalik nya pada pria yang nona suka?" tanya dr. Canly pada Ainsley.


Ainsley mengangguk, kini saat bersama Sean ia merasa tak nyaman namun ia merasa aman dan terlindungi walau pria itu tak kalah mengerikan.


Dan saat bersama Richard ia merasa nyaman namun merasa tak aman sama sekali perasaan yang seakan-akan bisa mati dengan tragis kapan saja.


"Apa yang harus ku lakukan?" tanya nya lirih.


"Apa yang membuat nona bahagia? Mungkin nona akan tau setelah membiarkan pria yang nona suka," jawab dr. Canly.


"Kenapa?"


"Rasa aman, kalau kita merasa aman kita bisa lebih tenang, analogi nya seperti berada dalam sekoci kecil lebih baik dari pada kapal pesiar yang memiliki kebocoran di kabin nya. Walaupun nyaman namun rasa takut akan membuat tenggelam membuat nanti nya akan membuat kita tak nyaman." jawab dr. Canly.


"Tapi aku juga takut, dia juga mengerikan aku tak mau terluka lagi tapi aku tak bisa melepaskan yang mereka ikat pada ku," jawab gadis itu lirih dengan tangisan nya yang mulai luruh.


dr. Canly menyadari jika gadis itu membicarakan mantan kekasih nya namun ia tak tau siapa yang satu lagi di bicarakan.


Walaupun gadis itu masih memiliki rasa suka namun rasa takut dan keraguan nya begitu besar mengalahkan rasa suka nya.


"Ingat, saya pernah bilang untuk menghargai dan mencintai diri sendiri, tidak apa-apa menjadi egois untuk melindungi diri kita sendiri, karna semua orang berhak bahagia." ucap dr. Canly sembari memegang tangan gadis itu.


Ia tau situasi Ainsley saat ini benar-benar rapuh seperti sayap kupu-kupu yang indah namun mudah hancur jika sedikit saja tergores.


Dan Ainsley yang saat ini ia sedang mengalami tahap BPD (Borderline personality disorder) dan tahap lanjutan hingga sudah memasuki fase self-injury.


NB KET : BPD atau kepribadian ambang gangguan mental serius yang memengaruhi perasaan dan cara berpikir penderitanya. Kondisi ini ditandai dengan suasana hati dan citra diri yang senantiasa berubah-ubah dan sulit dikontrol, serta perilaku yang impulsif.


NB KET : Self-injury adalah perilaku menyakiti dan melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja. Hal ini dilakukan untuk melampiaskan atau mengatasi emosi berlebih. Hal ini bisa di sebabkan karna trauma psikologis atau gangguan mental seperti BPD, PTSD atau Depresi.


Dan karna gangguan mental BPD yang dialami oleh Ainsley membuat nya selalu mengalami ketidakstabilan emosional, perasaan tidak berharga, rasa tidak aman, impulsif, dan kesenangan menyakiti diri sendiri.


"Apa aku masih pantas untuk mendapatkan kebahagiaan?" gumam nya dengan mata kosong yang mengalirkan buliran bening nya.


"Semua orang pantas untuk mendapatkan nya, selagi itu tak menyakiti siapapun semua orang berhak bahagia, semua yang ada di dunia ini..." jawab dr. Canly dengan lembut.


dr. Canly memandang sendu ke arah wajah cantik gadis itu usia yang masih muda, memiliki wajah cantik, prestasi gemilang dan hidup dengan kekayaan materi yang melimpah namun memiliki jiwa kosong yang terluka dan hancur lembur.


...****************...



Ainsley Setya Belen



Sean Justin Xavier


__ADS_1


Richard Zinchanko


__ADS_2