
Internasional High School
Mata biru itu berbinar, melihat nama nya yang muncul di pemberitahuan sekolah jika ia lolos ke salah satu pameran musik yang ia inginkan sejak lama.
"Celine? Lolos kamu," ucap Rachel pada gadis itu.
"Iya!" jawab Celine dengan mata berbinar yang begitu terpancar.
"Kamu gak pergi ke ruang kepala sekolah?" tanya Rachel lagi.
Surat yang di butuhkan selanjutnya akan di berikan oleh kepala sekolah karna akan menjadi perwakilan dari sekolah itu sendiri.
"Kan aku udah bilang aku tuh pinter," ucap nya menyombongkan diri sembari tertawa.
"Pinter nya cuma di musik aja, coba kalau uda masuk kelas langsung tidur!" jawab Rachel terkekeh pada teman sebangku.
"Yang penting itu aku kan ada pinter nya, gak bodoh semua!" ucap Celine lagi.
"Ih, sadar yah kalau bodoh?" tanya Rachel semakin tertawa.
"Kan! Rachel nyebelin!" ucap nya dengan kesal pada teman nya.
"Tapi kamu kan cantik! Jadi bisa seimbang, kalau udah cantik, pinter, kaya, semua sama kamu." ucap Rachel pada gadis itu.
"Rachel juga cantik!" jawab Celine dengan mata berbinar.
Ia sebelum nya mengikuti partisipasi dan belum mengatakan apapun pada keluarga nya. Ia berharap jika berhasil akan menjadi kejutan dan membuat kedua orang tua serta sang kakak merasa bangga pada nya.
"Nanti waktu pulang kasih tau kakak deh," ucap nya dengan semangat dan tersenyum.
......................
Steve dapat merasakan pancaran sinar kembang api di mata gadis nya, bagaimana tidak?
Celine terus menatap nya dengan Kilauan binar hingga membuat nya tak bisa menolak nya sama sekali.
"Kamu ada apa? Kenapa lihatin kakak terus?" ucap nya sembari menepikan mobil nya dan fokus dengan gadis itu.
"Lihat deh ini," ucap nya dengan semangat menunjukkan jika ia berhasil masuk ke dalam pameran musik bergensi di Italia.
"Kamu masuk? Kenapa gak pernah kasih tau kakak?" tanya pria itu tersenyum.
"Kan Celine mau kasih kejutan," jawab nya tersenyum, "Kak?" panggil nya lagi.
"Hm?"
"Celine mau jadi pemain piano aja kak, nanti perusahaan Papa kan ada kakak." ucap nya yang ingat sejenak sang ayah pernah menyuruh nya masuk ke dalam perusahaan.
"Kamu suka nya di bidang musik?" tanya Steve lagi pada gadis itu.
Satu anggukan menjadi jawaban atas pertanyaan pria itu.
"Kalau sudah pernah punya kualifikasi masuk di sini, Celine jadi punya tambahan kalau mau ke universitas Juilliard." ucap nya tersenyum yang kini sudah mulai menginginkan kemana langkah nya akan pergi.
Steve terdiam sejenak, jika gadis itu pergi ke universitas yang di inginkan maka ia harus terpisah sedangkan ia masih mulai membangun perusahaan nya sendiri saat ini.
"Kamu yakin mau kesitu? Masuk nya gak mudah dan kamu harus pisah juga sama kakak sama Mama Papa?" tanya nya pada gadis itu.
"Makanya Celine mau usaha dari sekarang kak, lagi pula kan Celine gak selama nya di sana..."
"Kakak juga bisa sering datang kan?" tanya nya sembari mulai bergelanyut di tangan pria itu.
Ia merasa tengah bersemangat ketika sudah mulai memiliki impian dan cita-cita yang ia inginkan.
Steve tak mengatakan apapun, bukan nya tak ingin gadis kecil nya meraih impian namun ia takut gadis itu bertemu banyak pria saat tak bersama nya.
......................
Mansion Evans.
Pria itu menatap dan menunggu gadis yang tengah makan dengan begitu sangat lahap itu sampai tak bisa ia hitung sudah betapa banyak makanan yang masuk.
"Kamu nanti muntah loh besok pagi kalau makan malam nya sebanyak ini, pencernaan juga gak bagus..." ucap nya sembari menatap ke arah gadis itu.
"Kenapa di marahi Celine? Biarin dong dia makan banyak, biar anak Papa cepat besar." ucap Mike yang memberikan daging kecap jamur kesukaan gadis itu.
"Makasih Papa," jawab gadis itu tersenyum lebar.
"Kamu kapan nanti pergi nya ke Itali?" tanya Freya pada putri nya yang terlihat semangat sejak tadi.
Gadis itu sudah memberi tau jika ia lolos ke seni pertunjukkan musik bergensi itu, dan tentu nya Mike maupun Freya merasa bangga dan senang akan hal tersebut.
"Tiga Minggu lagi Mah, Celine harus latihan dulu juga di sini." jawab gadis itu sembari memakan makanan nya.
"Makan nya jangan kebanyakan Celine," ucap Steve sekali lagi yang takut pencernaan gadis itu terganggu.
"Anak nakal ini, adik nya lagi mau makan malah di marahi." ucap Mike pada putra nya.
"Bukan marahi Pa, Steve cuma ingatin Celine." jawab nya sembari menatap sekilas pada sang ayah.
"Marahi lagi kakak Pah," ucap Celine tertawa pada sang ayah.
Gadis itu benar-benar senang saat ini sampai mata nya terus membentuk sabit karna tersenyum sepanjang hari.
...
Keesokkan pagi nya.
Hoek!
Kaki kecil itu langsung berlari ke kamar mandi nya, belum apa-apa ataupun memakan sarapan nya ia sudah muntah.
"Aduh, kayak nya yang di bilang kakak bener deh..." ucap nya lirih yang merasa diri nya terlalu banyak makan.
Steve datang ke kamar gadis itu saat pagi, dan ia semakin mudah masuk karna Mike yang menyuruh nya untuk memanggil adik nya agar sarapan bersama.
"Kenapa?" tanya pria itu yang melihat wajah gadis itu pucat.
"Perut Celine mual kak, rasa nya mau muntah." jawab nya pada sang kakak.
Steve memperhatikan wajah pucat adik nya, "Kamu sih, kakak bilang kan jangan makan terlalu banyak." ucap nya sembari menepuk punggung adik tiri nya itu.
"Iya, Celine salah kak..." jawab nya lirih sembari perlahan mulai memeluk pria itu tanpa sadar.
Steve tentu tak menolak pelukan manja gadis itu yang ingin terus lengket dengan nya.
Ia pun menggendong tubuh kecil itu dan membawa nya duduk ke pangkuan nya.
__ADS_1
"Kamu baru beberapa hari kenapa makin berat sekarang?" tanya pria itu mengernyit sembari menatap wajah adik nya yang semakin chubby menggemaskan.
"Ih, Kakak!" ucap Celine kesal pada ucapan sang kakak.
Auch!
Gadis itu meringis, pipi chubby malah di gigit oleh sang kakak yang merasa gemas pada nya.
"Makin berisi aja kamu, makin gemesin." ucap Steve yang semakin gemas melihat adik cantik nya.
"Kakak, Celine lagi sakit loh." ucap nya pada pria itu.
"Perut nya masih mual?" tanya Steve pada gadis kecil itu.
Ia tak berpikiran sama sekali tentang hal lain nya karna ia tau dan sadar sudah memberikan pil kontrasepsi yang manjur untuk gadis kesayangan nya itu.
"Masih kak," ucap Celine pada pria itu.
Steve pun beranjak mengelus perut rata gadis nya dengan lembut, "Sudah mendingan?" tanya nya sembari mengecup pipi gadis itu.
Satu anggukan menjadi jawaban serta petikan kecil dari gadis polos itu.
"Nanti kita ke rumah sakit yah," ucap nya pada adik nya yang manis.
"Gak mau kak, Celine takut!" ucap nya yang masih takut dengan dokter.
"Takut kenapa?" tanya pria itu pada gadis manja di pangkuan nya.
"Takut di suntik!" jawab nya dengan polos pada sang kakak.
Steve tertawa mendengar jawaban adik cantik nya, "Kalau kamu gak sakit gak mungkin di suntik kok." ucap nya pada gadis itu.
"Nanti siang juga bakalan sembuh kak, biasanya memang gini kok sekarang." ucap Celine membujuk sang kakak agar tak membawa nya ke dokter.
"Mungkin karna Celine kebanyakan makan kak," sambung nya lagi pada pria itu.
Steve membuang napas nya, "Kalau kamu siang nanti masih pucat kakak bawa ke dokter, terserah kamu mau bilang apa." ucap pria itu dengan khawatir.
Cup!
"Iya, kakak!" jawab gadis itu dengan senyuman ceria nya setelah mengecup pipi sang kakak.
......................
Dua Minggu kemudian.
Internasional High school.
Suara tuts yang begitu senada, halus, dan harmonis menjadi satu terdengar di ruangan latihan musik tersebut.
"Bagus, kamu banyak perkembangan sekarang." ucap pria yang memakai kaca mata itu.
"Thanks, Sir!" jawab Celine tersenyum dengan ceria.
"Coba kamu tekan sedikit di sini dan yang ini di lepas." ucap Gerry pada gadis itu.
Guru seni musik baru yang masih muda dan memiliki talenta yang kuat hingga membuat nya mendapatkan gelar saat masih muda.
"Baik, Sir." jawab Celine yang menuruti permintaan pria itu.
Gerry tersenyum puas, ia suka mengajar murid yang memiliki bakat dan kemampuan yang besar juga.
Celine menghentikan jemari nya, "Sir? Anda lulusan dari universitas Juilliard kan?" tanya Celine lirih.
"Ya, Ada apa? Kamu mau coba masuk ke sana?" tanya Gerry sembari berhenti membalik buku musik di tangan nya.
"Iya, kualifikasi yang saya miliki masuk tidak?" tanya gadis itu dengan ragu.
"Seperti nya kamu masih sempat mengikuti nya, bukan hanya bakat tapi nilai akademik pun juga di pertimbangkan jadi karna masih ada waktu kamu bisa kejar sebanyak mungkin sekarang." ucap nya pada gadis itu.
"Saingan kamu juga tidak sedikit, dan yang di terima hanya sekian persen. Seleksi mereka sangat ketat." sambung nya lagi.
"Kalau sekarang saya belum bisa yah?" tanya nya lagi.
"Kalau kamu ikut seni pertunjukkan yang di Itali saat ini mungkin bisa jadi nilai tambah kamu nanti nya di sana." jawab Gerry setelah berpikir.
Gadis itu tersenyum semnagat mendengar nya, ia ingin lebih berusaha lagi untuk memenuhi keinginan pertama yang ingin ia raih.
"Kamu sakit? Wajah mu pucat." tanya Gerry sembari menatap wajah gadis itu.
"Mungkin kelelahan?" jawab gadis itu sembari menyentuh pipi nya.
Pria berkaca mata itu mengangguk, ia menutup buku musik di tangan nya, "Kelas hari ini selesai, terus latihan dan besok akan saya periksa lagi." ucap nya yang menentukan kelas karna melihat wajah murid nya sudah pucat.
Sedangkan itu.
Steve menunggu di mobil nya, ia sudah tau jika gadis nya akan pulang terlambat.
Mata nya melihat dan menyilang tajam dari jauh, "Apa-apaan mereka?" gumam nya yang langsung keluar.
Sementara itu, Celine mulai kehilangan keseimbangan nya. Ia merasa sangat lelah walaupun hanya beraktifitas lebih banyak dari biasanya hingga membuat nya ingin jatuh.
Gerry yang masih berada di samping gadis itu pun menarik tangan nya dan menhan tubuh gadis itu lalu perlahan melepaskan nya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya nya dengan khawatir pada murid nya itu.
Greb!
Satu tarikan kuat membuat Celine tersentak, "Sedang apa? Pelukan di lingkungan sekolah?" tanya Steve dengan tajam.
"Anda wali nya? Seperti nya dia sakit." ucap Gerry yang tak sadar pria di depan nya tengah cemburu.
"Dia kakak saya Sir, terimaksih atas bantuan nya tadi." ucap Celine pada pria itu.
Gerry mengangguk dan tersenyum tipis begitu pula pada Steve.
Ia tak memiliki maksud apa-apa pada murid cantik nya itu karna ia memang murni hanya menyukai bakat nya nya saja sebagai pengajar.
Gerry sendiri bahkan sudah memiliki keluarga dan istri yang tak kalah cantik nya, maka dari itu sudah jelas jika ia tak tertarik dengan gadis itu sebagai perempuan.
"Kalau begitu saya duluan lebih dulu, dan seperti nya adik anda harus di bawa periksa karna sebentar lagi dia harus segera pergi." ucap nya pada Steve yang mengingatkan.
Setelah melihat ke arah pria itu yang sudah pergi dan masuk ke mobil nya, Celine melepaskan tangan sang kakak yang menahan nya.
"Kakak? Sakit tau di tarik tiba-tiba." keluh gadis itu.
"Kakak gak suka sama guru musik kamu," ucap nya terus terang.
__ADS_1
"Dia baik kok," jawab Celine pada sang kakak.
"Baik apa? Kamu suka sama dia?" tanya Steve dengan kesal saat mendengar gadis itu membela pria lain.
"Bukan tapi- Ugh!" gadis itu merasa tak enak di kepala dan perut nya.
Pandangan nya semakin berputar dan ia ingin segera merebahkan tubuh nya.
Steve langsung menahan tubuh gadis itu, "Kita ke dokter dulu." ucap nya sembari mulai menggendong adik nya.
"Ha? Apa? Kak? Malu tau di gendong begini?" tanya Celine yang langsung menutup mata nya karna di gendong saat masih di lingkungan sekolah.
Steve tak menjawab, ia masih marah namun juga khawatir saat melihat kondisi adik kesayangan nya itu.
......................
Rumah sakit.
Gadis itu kini tertidur di atas ranjang pasien nya saat sudah di periksa oleh sang dokter.
Sedangkan wanita itu melihat dan berulang kali mengecek nya agar tidak salah.
"Anda wali nya?" menatap Steve dan gadis yang tertidur dengan masih mengenakan seragam nya itu.
"Apa penyakit nya serius?" tanya pria itu mengernyit, "Saya kakak nya." ucap Steve menjawab pertanyaan sang dokter.
Wanita yang mengenakan jas putih itu membuang napas nya, "Seperti nya adik anda hamil." ucap nya membuat pria itu terkejut.
Steve tersentak, ia tak pernah terlambat memberikan pil kontrasepsi untuk gadis itu, tapi kenapa?
"Apa ada yang salah?" tanya nya lagi mengulang tak percaya apa yang ia dengar.
"Tidak ada yang salah, apa anda ingin melakukan pemeriksaan USG? Kandungan nya sudah memasuki usia sekitar 4 Minggu." ucap sang dokter.
"Mungkin saja itu bukan kehamilan," ucap nya yang masih tak percaya.
Dokter tersebut pun membuang napas nya lirih, ia melakukan pemeriksaan ulang agar membuat pria itu percaya dan bahkan melakukan USG, dan...
Sesuatu yang membuat nya kembali terkejut terlihat.
"Seperti nya ada sedikit lagi yang perlu anda ketahui." ucap nya pada pria itu.
Steve melihat ke arah sang dokter, sedangkan wanita itu menunjukkan apa yang tertangkap di layar USG perut gadis itu.
"Kenapa banyak sekali? Dia normal kan?" gumam Steve yang bingung saat melihat titik seperti biji kacang yang berserak.
"Ada Empat," ucap sang dokter memeriksa sekali lagi.
"Seperti nya adik anda hamil kembar," ucap sang dokter saat memeriksa.
"Ha? Apa?" tanya pria itu terkejut.
Antara senang dan khawatir bersamaan yang datang pada nya, "Tapi dia masih kecil kan? Apa itu akan baik-baik saja?" tanya pria itu yang terkejut namun juga khawatir.
"Kehamilan usia remaja tentu beresiko, tapi bisa di lakukan perawatan jalan." ucap sang dokter.
Pria itu diam, mata nya melihat ke arah layar yang menampilkan gambar 4 titik seperti biji kacang yang berada di perut adik nya, mata nya pun melihat secara bergantian ke arah gadis yang tengah tidur itu.
"Saya akan memberi tau nya nanti," ucap nya yang mengisyaratkan akan memberitahu sendiri.
Entah apa respon yang akan di berikan gadis itu nanti nya.
Sekarang ia tau kenapa porsi makan nya gadis cantik itu berlipat ganda dari biasa nya.
Bukan satu, melainkan empat! Yang harus ia beri makan di dalam diri nya sekaligus.
Gadis yang bahkan masih memiliki sifat kekanakan dan tak tau cara mengurus diri nya sendiri bahkan kini sudah memiliki sesuatu yang harus ia urus juga.
......................
Apart.
Pria itu membawa gadis nya ke apart yang baru ia beli akhir-akhir ini dengan penghasilan nya sendiri tanpa campur tangan sang ayah.
Ia menatap gadis yang masih tertidur itu dan menunggu nya hingga bangun.
"Kakak?" ucap Celine lirih memperhatikan pria yang terus memperhatikan nya hingga ia bangun.
"Kamu jujur sama kakak, kamu minum vitamin yang kakak kasih?" tanya nya langsung ke inti nya.
Gadis itu tersentak, "Mi..minum..." jawab nya gugup dan berdalih.
"Kalau kamu bohong kakak bisa hukum kamu, kamu mau?" tanya Steve dengan nada penuh penekanan pada gadis itu.
"Waktu itu jatuh kak, Celine gak sengaja..." jawab nya lirih tapi tak memberi tau jika ia membuang pil selanjutnya.
"Kenapa gak bilang?" tanya Steve yang sudah tau dari mana bisa kecolongan.
"Celine takut kakak marah lagi, waktu itu kan kakak habis hukum Celine..." cicit yang merasa takut dan menautkan jemari nya.
"Maaf kak..." sambung nya lirih.
Pria itu membuang napas nya, ia meraih tangan kecil gadis itu dan menatap nya.
"Karna sudah terlanjur seperti ini," gumam nya lirih.
Celine menatap tak mengerti ke arah wajah sang kakak.
"Celine? Kamu mau tidak mulai sekarang tinggal nya sama kakak aja? Cuma kita, Mamah Papa gak ikut?" tanya pria itu yang sadar kalau orang tua nya sampai tau tentang kehamilan gadis itu maka akan membuat sang ayah murka.
Celine menggeleng atas ucapan sang kakak, "Celine suka sama kakak, tapi kalau cuma kita berdua aja nanti Celine juga kangen sama Mama Papa..." jawab nya lirih.
"Celine kan juga harus pergi ke Itali kak besok," ucap nya lirih pada sang kakak.
Pria itu diam tak mengatakan apapun, ia tau jika ibu hamil tak bisa naik pesawat di trimester pertama karna memiliki banyak resiko belum lagi gadis di depan nya yang hamil pada usia remaja.
"Kalau kakak gak izinin kamu pergi?" tanya pria itu sekali lagi.
Celine mengernyit, ia menatap heran sekaligus tidak terima, "Kenapa? Kan itu kesempatan Celine buat masuk Julliard kak? Itu kan cita-cita Celine sekarang? Kata nya kakak bakal dukung Celine?" tanya gadis langsung.
"Tapi bukan sekarang," ucap Steve langsung.
"Kalau gak sekarang, terus kapan lagi? Celine kan udah usaha buat kesana kak, Celine mau ke sana kak..." ucap nya yang juga kukuh pada sang kakak.
Menemukan impian yang ingin di tuju tidak lah mudah, ia baru saja ingin menentukan arah hidup nya namun sang kakak sudah ingin menahan nya lagi.
Steve tak mengatakan apapun, ia bukan ingin menghalangi gadis itu meraih impian nya namun ia juga tak ingin buah hati nya dalam keadaan yang terancam.
__ADS_1
Bukan satu melainkan empat sekaligus jika ia kehilangan nya.