Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Warning!


__ADS_3

Pagi yang mulai datang menyingsing memberikan cahaya yang bersinar lembut menjatuhkan cahayanya pada pria itu hingga ia mulai terbangun.


Sean membuka matanya perlahan rasa kantuk masih ia rasakan namun cahaya bagi yang mengusiknya hingga membuatnya terbangun.


Pandangannya masih mengabur ia mengusap wajahnya dan menatap ke sekeliling tempat yang tak asing baginya ia bahkan lupa bagaimana cara ia sampai di tempat itu.


Pria itu memperhatikan wajah tenang Yang masih tertidur disampingnya wajah yang sanggup menenangkan hatinya.


Gadis itu masih tertidur dengan tenang Sean perlahan mengusap rambutnya dengan lembut, dan memandang nya dengan lekat, kalau saja hubungannya belum berakhir mungkin pria itu sudah menciumnya dan memeluk nya dengan erat.


Usapan lembut yang menyentuhnya dan mengalirkan kehangatan dari ujung jari pria itu membuat Ainsley perlahan tersadar dan membuka mata nya perlahan.


Ia mengusap dan sedikit menggeliat saat baru saja terbangun, namun begitu pandangan jelas dan sudah benar-benar terbangun, ia membulatkan mata nya dan langsung duduk.


"Sean?" panggil Ainsley lirih.


"Aku kesini kemarin malam?" tanya Sean pada gadis itu sembari ikut duduk.


"Sean mabuk kan semalam? Bahaya tau! Kalau ada kecelakaan bagaimana?!" tanya Ainsley dengan mata yang khawatir.


"Benar juga, apa aku harus lihat mobil ku untuk memeriksa?" tanya Sean pura-pura panik seakan ia baru saja menabrak seseorang.


"Sean!" teriak Ainsley dengan mata kesal nya.


Pria itu tertawa ia kembali memperlihatkan senyum nya, gadis yang mampu membuat hati nya kembali tenang setelah di landa kekacauan.


"Terjadi sesuatu?" tanya Ainsley lirih saat melihat senyum pria itu setelah kemarin malam tiba-tiba mendatangi tempat tinggal nya.


Senyum pria itu jatuh, namun ia memberikan tawa miris yang semakin membuat gadis di depan nya gelisah.


"Aku menyentuh mu sembarang kemarin?" tanya Sean sembari menatap wajah cantik yang bagi nya selalu menggemaskan.


"Tidak," jawab Ainsley sembari menggelengkan kepala nya pelan.


"Maaf, padahal aku sudah janji tak akan mengganggu mu." ucap Sean pada gadis itu.


Namun ia juga tak begitu menyesal karna sudah mabuk dan tanpa sadar mendatangi gadis yang masih sangat ia cintai.


Setidak nya kerinduan nya berkurang saat melihat wajah gadis itu.


Ia pun beranjak turun dari ranjang yang ia tempati dan mulai melangkah keluar.


"Sarapan! Se-setidaknya sarapan sebelum keluar," ucap Ainsley saat pria itu ingin keluar dari kamar nya.


Langkah Sean terhenti dan menoleh ke arah gadis yang masih duduk di ranjang nya, wajah khawatir dan ragu yang dulu selalu ia lihat jika gadis itu gelisah akan nya.


"Kau mengajak mantan pacar yang masih menyukai mu untuk sarapan bersama?" tanya Sean tersenyum pada gadis itu.

__ADS_1


"I..tu.." ucap Ainsley tak bisa menjawab pada pria itu.


"Jangan terlalu di pikirkan, aku hanya bercanda," ucap Sean saat melihat wajah bingung tersebut "Ayo, katanya kau ingin sarapan dengan ku?"


"Bukan! Aku kan tidak bilang ingin sarapan dengan Sean!" sanggah Ainsley cepat.


Pria itu hanya tersenyum, baginya menggoda kelinci kecil yang polos adalah yang sangat ia sukai dulu dan ia tak menyangka jika masih bisa melakukan nya sekarang.


Ainsley pun turun dan mengikuti langkah pria itu, Sean pun membuka lemari es gadis itu, tak ada apapun kecuali air mineral.


Walaupun ia tak bisa memasak namun setidaknya ia masih bisa membuat sandwich yang enak karna tak terlalu rumit dalam pembuatan nya berbeda dengan Ainsley yang sama sekali tak bisa memasak apapun.


Mata nya pun kemudian beralih ke tempat lain dan terhenti di bekas bungkusan makanan cepat saji yang beberapa hari terakhir di pesan oleh Ainsley.


"Kau makan ini?" tanya Sean sembari menunjuk ke arah tumpukan makanan sisa di depan nya.


Ainsley mengangguk lirih sembari menatap pria tampan itu.


"Astaga, Ainsley! Kalau sakit perut bagaimana?!" ucap Sean tak habis pikir.


Selama ia memutuskan hubungan nya, ia memang tak datang membawakan makanan pada gadis itu lagi walaupun ia sangat ingin melakukan nya, namun ia sudah berjanji tak akan menganggu nya lagi.


"Tapi aku sehat-sehat saja sampai sekarang!" pungkas Ainsley dengan cepat.


45 Menit kemudian.


"Sandwich?" tanya Ainsley mengerutkan kening nya.


"Ini lebih sehat dari pada makanan mu," ucap Sean sembari melahap makanan nya.


Ainsley membuang napas nya dengan pelan, sudut bibir nya naik menatap roti isi sayur dan daging di depan nya, makanan yang dulu sangat ia sukai karna ia juga sangat menyukai yang membuat nya.


"Kau mau makanan yang lain? Tadi aku juga sudah beli beberapa yang kau suka, ku letakkan di kulkas." Sean yang merasa gadis itu enggan memakan makanan nya padahal dulu ia ingat dengan jelas jika Ainsley sangat menyukai nya.


"Tidak aku suka," jawab gadis itu dengan sembari mengangkat sandwich nya.


Hoek!


Lagi!


Perut nya terasa sangat bergejolak di pagi hari seperti biasa padahal dulu tak pernah seperti itu, ia pun langsung berlari ke wastafel dan memuntahkan sesuatu yang tak ada karna ia bahkan masih belum memakan apapun.


Sean mengikuti langkah gadis itu, dan mengusap punggung nya.


"Makanya jangan makan sembarang!" omel pria itu sembari mengelus punggung Ainsley dengan lembut.


"Masih sakit? Apa kita ke rumah sakit saja? Sudah priksa?" pertanyaan yang langsung datang pada gadis itu setelah Sean membasuh bibir Ainsley seperti anak kecil.

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa, mungkin karna makan sembarang." jawab Ainsley pada pria di depan nya.


"Mau priksa?" tanya Sean dengan nada lembut.


Ainsley menggeleng, ia tak ingin terlalu sering pergi ke rumah sakit karna baginya tempat tersebut mulai membuat nya muak.


......................


5 Hari kemudian.


Ainsley turun dari mobil nya yang berada parkiran basement apart nya.


Tempat yang biasanya sunyi karna hanya tempat dimana mobil mewah di parkir di area luas tersebut.


Ia melihat pria yang yang memakai jaket hitam serta, memakai masker hitam dan topi hingga tak memperlihatkan wajah nya.


"Bukan nya ini musim panas?" gumam Ainsley menatap pria tersebut.


Ia sama sekali tak memiliki kecurigaan kecuali pakaian jaket tebal yang di kenakan karna di pakai saat musim panas.


Pria itu berjalan mendekati Ainsley, namun gadis itu sama sekali tak merasa curiga hingga.


Tusk!


Mata Ainsley terbelalak, ia merasakan perih yang luar biasa saat sesuatu merasuki perut nya.


Sesuatu yang tajam menembus pakaian, kulit hingga daging nya lalu di cabut dengan satu tarikan.


Tes...tes...tes...


Pria berjaket hitam itu melewati Ainsley seperti tak terjadi apapun, walaupun langkah gadis itu sudah terhenti.


Ainsley memegang titik yang terasa begitu sakit di perut nya, tangan nya mulai terasa basah, sesuatu yang mengalir keluar membasahi dan memberikan corak di pakaian yang ia kenakan.


"Akh!" ringis nya melihat cairan merah kental yang keluar dari tubuh nya.


Sebuah mobil mewah yang baru memasuki parkiran luas tersebut pun, melihat gadis yang ia tuju mengalirkan cairan merah kental di perut nya lalu mulai terjatuh.


"Ainsley?!" ucap Richard yang dengan cepat ke arah gadis itu dan segera menghampiri nya


Tubuh gadis itu ambruk, pandangan nya mulai mengabur serta pendengaran yang mulai terasa hilang perlahan.


Ainsley?!


Seseorang yang memanggil nama nya sebelum ia menutup mata nya.


Richard pun datang dan memapah tubuh gadis itu dalam pangkuan nya, terlihat jelas bekas tusukan pisau di perut gadis itu dan darah yang meleleh keluar.

__ADS_1


Ia panik, rasa nya benar-benar kalut. Hal yang bahkan tak pernah ia tau jika hal ini lah yang dinamakan rasa takut akan kehilangan seseorang.


__ADS_2