
Satu Minggu kemudian.
Wanita itu membuang napas dengan kasar secara berulang sembari menyandarkan diri nya dirinya di atas kursi yang seharusnya nyaman untuk nya.
Ia sudah kembali bekerja seperti biasa dan hari ini pun ia baru saja memeriksakan kandungan nya yang baru berusia beberapa Minggu.
Tangan nya mengusap pelan perut nya yang masih rata, putra nya menolak jika ia akan memiliki anak lain sedangkan anak itu sudah datang lebih dulu.
"Mommy harus gimana sayang? Kakak kamu gak mau kamu..." ucap nya lirih.
Ia pernah membesarkan satu anak sendirian maka dari itu ia tak bermasalah membesarkan satu anak lagi namun yang membuat nya bingung adalah penolakan dari putra nya.
Ia juga belum memberi taukan kandungan nya pada pria yang membuat nya hamil, entah mengapa bukan nya memberi tau namun malah terus menghindari pria itu dalam beberapa hari terakhir.
...
Setelah panggilan ponsel nya tak di jawab beberapa kali dan seakan ingin memutus kontak pada nya pria itu pun kini datang menunggu langsung ke perusahaan wanita itu tanpa mengatakan jika ia akan datang.
"Dia kenapa? Dia marah? Apa aku buat kesalahan?" gumam nya lirih yang merasa semua nya baik-baik saja sebelum nya namun kini tiba-tiba hilang kontak seperti hilang di telan bumi.
Karna datang tanpa pemberitahuan pria itu sudah menunggu lebih dari tiga jam di tempat yang sama namun masih belum bisa menemui wanita itu hingga ia mulai melihat ke arah wanita yang baru saja turun dan keluar.
Namun begitu menatap mata nya wanita itu langsung berlari menjauh dari nya.
"Ainsley?" panggil nya lirih melihat wanita yang langsung berbalik arah ketika melihat nya dan pergi seketika.
Ia pun langsung mengejar wanita itu dengan segera yang terlihat begitu menghindari nya.
Greb!
Tangan pria itu langsung datang dan mencegah lengan wanita itu.
Ainsley terdiam, langkah kaki nya yang pendek langsung terhenti begitu tangan nya tertangkap.
"Kenapa mengindari ku?" tanya Sean langsung ketika ia sudah meraih tangan wanita itu.
Ainsley diam sejenak dan memutar tubuh nya, ia tak tau jika pria itu akan menemui nya langsung walaupun ia sudah memblokir panggilan nya.
"Aku gak menghindar kok," sanggah nya pada pria itu.
Sean tak mengatakan apa-apa atas sangkalan wanita itu melainkan terus memandang wajah nya dengan mengernyit.
"Katakan," ucap nya tanpa basa-basi ataupun mempercayai sangkalan tak masuk akal itu ketika wanita di depan nya mengaku tak menghindari nya sama sekali.
"Kalau begitu lepaskan dulu tangan ku," ucap Ainsley sembari melihat ke arah tangan yang di cegah itu.
"Kalau ku lepas kau akan langsung kabur lagi," jawab Sean yang tentu nya tak akan melakukan nya.
"Aku tidak kabur," balas wanita itu.
"Benarkah? Kalau begitu kenapa langsung lari waktu melihat ku? Itu yang nama nya tidak kabur? Tidak menghindari ku?" tanya pria itu yang mulai memberikan segudang perkataan yang menunggu jawaban.
"Aku lagi ada urusan di sini! Bukan menghindari mu! Lagi pula kenapa aku harus pergi kan? Aku aja gak ada salah apa-apa!" ucap Ainsley yang terlihat gugup dan mengatakan apa saja yang terlintas di pikiran nya.
"Kalau begitu bicara dan lihat aku! Jangan lihat yang lain!" ucap pria itu yang sama sekali tak bisa mengerti apa yang ada di pikiran wanita itu.
Ainsley diam tak menjawab, ia menghindari pria itu karna tau diri nya hamil anak pria yang ada di depan nya.
Ia juga bingung mengapa ia yang harus nya lari dan bersembunyi namun respon alami nya membuat nya seperti itu.
"Kenapa sih? Aku itu cuma lagi..." ucap nya yang bingung harus mengatakan apa.
"Lagi apa? Kau itu kenapa? Aku buat salah? Kalau aku melakukan kesalahan kau harus nya bilang apa itu, jangan menghindari ku." ucap Sean sembari tak melepaskan tangan wanita di depan nya.
"Aku cuma lagi mau sendiri aja Sean, lagi mau tenang sebentar!" ucap nya yang bingung harus mengatakan apa lagi pada pria itu sedangkan ia tanpa sadar terus menerus menutupi kehamilan nya.
"Aku ganggu? Aku mengganggu mu?" tanya pria itu mengernyit dan bahkan mengulang pertanyaan nya.
"Iya!" jawab Ainsley yang langsung mengatakan nya karna ingin segera lari lagi.
Pria itu tersentak mendengar jawaban cepat dari wanita di depan nya hingga membuat nya melepaskan tangan nya secara perlahan.
Begitu tangan nya terlepas, Ainsley pun langsung beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun pada pria yang mematung memandangi nya dari belakang.
......................
Internasional High school
Remaja itu menatap tajam sepanjang perjalanan nya menuju ke kelas nya.
Ia mendengar jika seorang siswa dari kelas lain tengah mengatakan perasaan nya pada gadis yang ia kenali, hal itu membuat nya langsung meninggalkan olahraga golf yang baru saja ia mulai dan segera kembali ke kelas nya.
"Lily? Mau gak jadi pacar aku?" tanya nya lirih pada gadis itu sembari memberikan buket bunga.
Gadis itu tampak bingung, ia ingin menolak namun akan membuat pria itu malu karna di tolak di tempat umum.
"Gak bisa! Dia udah punya pacar!"
Suara yang langsung keluar membuat beberapa remaja itu yang berada di kelas langsung menatap ke arah pintu.
"Axel?" gumam Emily melihat teman nya datang bergegas.
Axel langsung meraih tangan gadis itu dan menyembunyikan tubuh mungil itu belakang nya, "Pergi sana, dia udah punya pacar!" ucap nya.
"Pacar? Siapa?" tanya siswa itu sembari mengernyitkan dahi nya karna bingung. Ia pernah bertanya pada gadis itu namun karna Emily yang merasa diri nya belum memiliki hubungan yang mengikat dengan siapapun membuat nya mengatakan kalau ia sedang tidak memiliki kekasih.
"Iya, pacar aku siapa?" tanya Emily dengan suara berbisik pada Axel sedang menyembunyikan tubuh nya di balik punggung itu.
"Aku lah!" jawab nya dengan lantang tanpa ragu.
Siswa yang tengah memegang buket bunga itu terkejut begitu pula dengan gadis cantik yang bahkan tak tau kapan mereka mulai pacaran.
"Apa? Kapan?" tanya Emily tanpa sadar bahkan sampai membuat pria yang tadi nya ingin menyatakan perasaan pada nya terdiam.
"Kamu lupa?" tanya Axel dengan bingung.
Tak hanya ia, gadis itu pun bahkan lebih bingung lagi, "Lupa apa?"
"Malam itu! Masa kamu lupa sih? Kamu nih masa jadi perempuan itu gak ada tanggung jawab nya?" tanya remaja itu sekali lagi.
"Tanggung jawab apa? Memang nya aku ngapain kamu?" tanya Emily dengan bingung.
__ADS_1
"Kita kan udah tidur bareng! Masa aku di tinggalin sih? Kamu gak mau tanggung jawab sama aku?" tanya remaja itu yang membuat semua yang mendengar tercengang sekaligus gadis di depan nya.
Bagi nya hal yang pernah ia lakukan itu sudah termasuk melakukan hal itu walaupun belum sampai ke arah sana.
Namun ia tak mau gadis itu meninggalkan nya setelah melakukan hal yang bagi nya cukup besar dan berharga di memori nya.
"Axel!" ucap Emily yang langsung menutup mulut remaja itu.
"Ta-tapi kan kita gak ngapa-ngapain!" ucap Emily sembari menutup mulut remaja itu.
"Jadi aku mau di tinggalin?" tanya nya dengan suara dan wajah yang sendu pada gadis itu seperti anak anjing yang kehujanan.
"Ki-kita kan temen..." ucap gadis itu yang mulai memerah dan ingin menyembunyikan wajah nya.
"Kamu nih! Masa gak tau sih?!" tanya remaja itu dengan mulai kesal.
"Gak tau apa?" tanya Emily yang menatap bingung ke arah sahabat nya.
"Aku tuh suka kamu! Masa kamu mau pacaran sama yang lain? Apa lagi kita kan udah itu!" ucap remaja itu tanpa sadar.
Karna begitu kesal saat tau gadis yang ia sukai sedang di dekati oleh pria lain nya membuat nya melakukan tindakan impulsif yang bahkan melupakan di mana mereka sedang bicara.
"Axel! Kita masih di kelas!" ucap gadis sembari menatap ke arah teman nya.
"Ciee...."
"Ada yang baru mulai nih!"
Salah satu suara yang mulai terdengar di telinga remaja itu membuat nya baru saja menyadari di mana mereka berbicara.
Blush!
Mata remaja itu membulat, rona wajah nya naik sejenak ia lupa jika ia tengah berada di tempat yang ramai dan bukan nya hanya berbicara dengan gadis itu.
Ia juga baru sadar mengapa gadis itu tadi menutup mulut nya berulang kali.
Ia pun membalik tubuh nya dan menatap ke arah siswa yang membatu memegang sebuket bunga.
"Kau dengar kan? Aku pacar nya Lily! Dia juga harus tanggung jawab sama aku! Jadi gak bisa dekat-dekat sama yang kayak kamu!" ucap nya sekilas dan langsung menarik tangan gadis itu keluar dari kelas.
Wajah nya memerah namun ia tetap menarik tangan gadis itu.
...
"Sekarang kita kelas lagi? Aku malu..." ucap Emily lirih sedangkan bangku taman itu sudah mulai mendingin karna udara di musim salju.
"Kita sekarang udah pacaran kan? Aku pacar kamu, kamu pacar aku." ucap Axel yang tak mengatakan jawaban atas ucapan gadis itu sebelum nya.
"Tapi kalau kita pacaran terus putus kita kan gak bisa temenan lagi!" jawab Emily yang takut hubungan pertemanan nya hilang.
"Kalau kita pacaran yah abis itu kita nikah," jawab Axel tanpa beban.
"Terus kamu tadi kenapa bilang kita uda tidur bareng? Yang lain kan salah paham! Semua nya salah paham!" ucap gadis itu lagi.
"Kamu sih! Gak mau tanggung jawab sama aku!" ucap remaja itu dengan kesal.
Tanggung jawab yang ia bicarakan bukan lah dalam hal materi namun dalam hal kebersamaan, bagi nya malam itu adalah hal yang berharga untuk nya namun gadis itu seperti tak menganggap nya demikian.
"Axel? Dimana-mana tuh yang minta tanggung jawab itu perempuan! Bukan laki-laki!" sahut gadis itu mendengar teman nya.
"Memang nya aku bilang kalau aku mau gitu juga sama yang lain?" tanya Emily dengan bingung.
"Terus? Bukti nya banyak juga tuh yang nyatain perasaan sama kamu!" sahut Axel dengan nada yang terlihat jelas kecemburuan nya.
"Memang nya kamu enggak? Kemarin aku lihat aja ada yang kasih kamu coklat! Anak sekolah mana tuh? Seragam nya beda!" ucap Emily yang juga pernah kesal di posisi yang sama namun ia tak pernah menunjukkan nya.
"Kamu bilang kan ambil aja coklat nya!" jawab Axel yang tau karna saat itu gadis di samping nya juga ada.
"Harus nya yah jangan kamu ambil! Masa aku bilang ambil aja langsung kamu ambil! Kamu tolak lah!" jawab Emily kesal.
"Jadi gak boleh? Lily gak suka aku deket-deket sama perempuan yang lain?" tanya remaja itu dengan bingung.
"Enggak lah!" sahut Emily dengan segera.
"Aku juga gak suka! Gak suka kalau Lily sama yang lain!" jawab Axel lagi.
"Aku tuh suka sama Lily! Masa kamu gak tau sih? Aku suka! Suka banget!" sambung nya lagi dengan penuh semangat dan wajah yang memerah bagaikan tomat.
Rona yang mulai naik membuat wajah remaja tampan itu memanas sejak tadi begitu pula dengan gadis di samping nya.
"Ke-kenapa kamu diam aja? Aku kan jadi malu..." ucap Axel yang mulai lirih begitu tak mendengar suara apapun dari gadis itu.
Emily terdiam wajah nya memerah dan memanas seketika hingga membuat semua perkataan yang ingin ia katakan hilang dalam sekejap.
"Kamu gak suka aku yah?" tanya nya lagi.
Namun masih hening tak ada balasan apapun dari gadis itu.
"Lily?" panggil Axel lagi.
"Ih! Axel! Aku kan malu!" ucap nya ketika remaja itu menarik tangan nya untuk melihat wajah nya nya yang memerah.
"Memang nya kamu aja yang malu? Aku juga tau!" ucap remaja itu sembari menangkup pipi yang lembut dan bulat itu dengan tangan nya sehingga hanya melihat ke arah nya saja.
Wajah yang sama-sama memerah dan memandang satu sama lain dengan dekat hingga membuat gadis itu semakin merasakan panas walaupun tengah berada di musim dingin.
Humph!
Tak ada yang mengatakan untuk memangut bibir merah muda itu lagi namun remaja itu mendapatkan dorongan dari mana sehingga tiba-tiba mencium gadis di depan nya.
Emily tersentak sejenak, remaja itu mel*mat bibir nya yang kian hari semakin berbeda sejak pertama kali ciuman yang mereka lakukan.
Tangan nya mendorong dengan kuat secara refleks karna takut seseorang tiba-tiba datang dan melihat.
Deg!
Axel terkejut, gadis itu yang mendorong nya dengan kuat hingga membuat nya melepaskan ciuman nya secara tiba-tiba.
"A-aku mau ke kelas!" ucap Emily yang terbata karena gugup dan langsung beranjak ingin pergi
Remaja tampan itu tak menjawab melainkan hanya terdiam karna berpikir mungkin gadis itu kini benar-benar marah pada nya.
__ADS_1
"Maaf..." ucap nya lirih yang tak lagi mencegah gadis itu.
Langkah gadis itu terhenti, ia melihat ke arah wajah yang kini tak bersemangat lagi, dan mulai merasa bersalah karna mendorong Axel begitu kuat tadi nya.
Langkah kecil nya mulai datang sejenak dan,
Cup!
Satu kecupan ringan dan sekilas melayang di bibir remaja itu.
"A-aku juga suka Axel..." ucap nya lirih hampir tak bersuara dan dengan suara yang terbata.
Jantung nya hampir meloncat keluar saat mengecup bibir remaja itu dan mengatakan satu kalimat yang terlihat mudah namun sulit di ucapkan.
Mata Axel membulat sejenak menatap ke arah gadis itu, Emily pun langsung berbalik dan berlari secepat kilat dengan wajah merah nya.
Senyuman cerah dengan wajah memerah itu pun terlihat, walaupun ia begitu gugup namun ia juga begitu senang hingga membuat nya tak memikirkan lagi kegugupan.
......................
Mansion Sean.
Pria itu terdiam, ia memikirkan beberapa hari terakhir yang mungkin membuat wanita itu mengganggap nya risih dan marah pada nya.
"Aku ada salah apa lagi?" gumam nya yang bingung mencari kesalahan nya.
"Dia terganggu? Apa karna aku terlalu terlihat jelas kalau suka pada nya?" gumam nya lagi dengan bingung.
Sedangkan ponsel nya mulai terus berdering namun tak ada satupun yang ia angkat karna tau itu adalah panggilan dari sang ayah.
Desakan untuk memiliki pasangan oleh ayah nya semakin membuat nya tak nyaman, "Makin pusing..." gumam nya lirih sembari mematikan ponsel nya.
......................
Dua Minggu kemudian.
Wanita itu melakukan pemeriksaan berkala untuk kandungan nya, ia belum mengatakan apapun pada pria yang membuat nya hamil atau pun mengatakan pada putra nya.
"Anda seperti nya kurang istirahat dan sering kelelahan," ucap sang dokter saat memeriksa kandungan wanita itu.
Ainsley diam sejenak, ia memang tengah berada di masa yang begitu sibuk karna tengah berada dalam masa pengembangan proyek baru.
"Apa dia tidak apa-apa?" tanya Ainsley yang memliki maksud bertanya tentang kandungan nya.
"Sejauh ini masih baik-baik saja, tapi saya sarankan agar anda mau beristirahat selama berada di trimester pertama." ucap sang dokter.
Ainsley mengangguk sejenak akan ucapan sang dokter yang memberi nya saran.
......................
Internasional high school.
Bruk!
Tubuh remaja yang terhempas hingga menghancurkan kursi kayu yang di tumpuk tak lagi di gunakan untuk kegiatan pembelajaran lagi.
"Tadi kau bilang apa? Taruhan?!" tanya Axel sembari menarik kera siswa yang beberapa Minggu lalu baru saja menyatakan perasaan pada teman nya dan kini sudah berganti menjadi pacar nya.
Sebelum nya ia tak sengaja mendengar sekelompok siswa itu tengah berbicara tentang taruhan dan tidur bersama.
Ia tak begitu peduli karna memang banyak yang melakukan taruhan atau tantangan seperti itu bahkan ia pun juga pernah di ajak untuk melakukan tantangan dengan memacari gadis di kelas nya atau kelas lain lalu meniduri nya.
Tetapi tak begitu tertarik untuk hal seperti karna sudah sibuk dan merasa cukup dengan kebahagian nya tanpa perlu bersenang-senang dengan cara seperti.
Namun apa jadi nya jika nama yang ia kenal di sebut dan yang kini di jadikan taruhan seperti itu, bukan sembarang nama namun nama dari gadis yang ia sukai.
"Hey? Okey kami gak akan buat taruhan dengan pacar mu lagi, dan lagi pula kami kan juga gak tau." ucap salah satu siswa lain nya membela teman nya yang sedang di pukuli.
"Lalu tadi kenapa kalian bicara dan mentertawakan nya?!" tanya Axel yang masih geram.
"Itu cuma candaan biasa!" sahut salah satu dari mereka.
"Tapi kenapa kalian pakai dia buat taruhan?!" ucap nya yang masih memanas.
"Lagi pula wajar kan? Dia kan juga populer," sahut salah satu dari mereka.
Karna para siswa itu tau, walaupun bukan dari mereka pasti ada kelas lain atau kakak kelas yang mungkin juga menjadi kan gadis itu sebagai taruhan atau tantangan.
Gadis yang populer karna terkenal cantik, mudah berteman, dan pintar.
Axel semakin memanas mendengar jika gadis itu di bilang wajar sebagai salah satu dari taruhan mereka.
Bugh!
Satu pukulan melayang di wajah remaja yang baru saja mengatakan ucapan yang membuat Axel memanas, para siswa itu mulai tak terima dan melakukan perlawanan.
Brak!
Tubuh yang di angkat, di balik, dan di banting pun terlihat begitu jelas.
Kekuatan yang kontras dari remaja lain nya membuat Axel lebih unggul untuk masalah begitu.
Akh!
"Mama!"
Tangan yang di pukul kuat dengan balok kayu membuat remaja itu hanya menjerit dan tanpa sadar memanggil ibu nya.
"Mati aja kalian sana!" ucap Axel yang masih membabi buta memukuli remaja lain nya walaupun memiliki banding yang tak seimbang karena empat lawan satu.
...
Ainsley yang terdiam tak bisa mengatakan apapun pada pria di depan nya yang terus bertanya apa kesalahan nya hingga ia merubah sikap nya.
"Gak ada salah apa-apa Sean, aku cuma mau sendiri aja kok." ucap nya pada pria itu.
"Tapi kan ak-"
Ucapan nya terpotong begitu wanita di depan nya mengangkat telpon.
"Kantor polisi?!" tanya Ainsley mengulang dan terkejut.
__ADS_1
"Ada apa?" Sean yang bingung pun tentu nya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Kita ke sana dulu," ucap Ainsley panik dan segera pergi bersama pria di depan nya.