
Mansion Evans
Gadis itu terus menangis pada sang ayah hingga membuat Mike meredakan amarah nya.
"Pa, Ja..jangan pukul kakak lagi..." tangis nya sembari memeluk erat sang kakak.
Mike membuang wajah nya, "Untuk sekarang jangan bawa Celine keluar dulu, kartu credit kamu papa blokir semua." ucap Mike pada pria itu.
Steve pun mengeluarkan isi dompet nya dan memberikan black card yang di berikan sang ayah berserta fasilitas yang ia nikmati sebelum nya.
"Sudah kan?" tanya nya dengan wajah yang tak menunjukkan emosi apapun.
Ia pun beranjak ke kamar tidur nya lagi sedangkan gadis itu masih menangis karna merasa bersalah.
...
Steve menghapus air mata gadis yang tengah berada di pangkuan nya itu.
"Maaf kak..." tangis Celine yang tak berhenti sama sekali.
"Iya, gak apa-apa. Kamu jangan nangis terus." ucap nya dengan lembut pada gadis cantik itu.
"Tapi karna aku kakak di marahi papa..." jawab Celine dengan masih terisak.
"Makanya kamu nurut sama kakak, kamu sih nakal." ucap Steve sembari mencubit pipi basah karna air mata itu.
Ia sama sekali tak masalah sang ayah menuduh dan menampar nya untuk hal yang tak pernah ia lakukan.
Namun akan menjadi masalah jika gadis itu yang mendapatkan perlakuan yang sama seperti diri nya tadi.
"Celine janji gak akan bantah kakak lagi, gak akan ke tempat itu lagi, bakal dengerin kakak terus." ucap nya dengan tangisan sendu.
Pria itu tersenyum simpul mendengar nya, walaupun ia tak merasakan apapun namun ia suka melihat gadis nya merasa khawatir.
"Tapi setelah kakak rasa sekarang pipi kakak mulai sakit," ucap nya berbohong pada gadis itu sembari memegang pipi nya.
"Sakit?" tanya Celine lirih sembari semakin merasa bersalah.
"Maaf kak..." ucap nya lirih sembari memegang pipi sang kakak.
Pria itu tersenyum kecil melihat raut khawatir itu dan semakin ingin mengerjai adik manis nya.
"Celine gak mau obati kakak?" tanya nya sekali lagi yang ingin memancing gadis itu.
"Obati? Kakak mau Celine panggilin dokter?" tanya nya dengan polos dan tatapan yang benar-benar khawatir.
"Celine bisa kok obati kakak juga," ucap nya pada gadis itu.
"Gimana kak cara nya?" tanya Celine dengan tatapan bingung.
Smirk terutas di bibir pria tampan itu, "Celine ingat tidak kalau kakak lagi hukum kamu terus ada yang kakak keluarin?" tanya nya pada gadis itu.
"Tau, yang kayak vanila itu kan?" jawab Celine dengan polos nya.
Pria itu mengangguk, "Kalau Celine buat kakak keluarin itu lagi nanti kakak bisa sembuh." ucap nya tersenyum pada sang adik.
"Memang nya apa hubungan nya kak?" tanya gadis itu pada sang kakak.
Steve tersenyum simpul mendengar nya, ia tau adik nya itu tak suka belajar dan mungkin sering tidur di kelas hingga membuat nya tak tau hal seperti itu.
Saat mendekati ujian, ia akan membuat soal latihan yang ia prediksi akan keluar nanti nya di ujian gadis itu. Dan itu lah yang menjadi acuan Celine agar tetap naik kelas setiap tahun nya.
"Kalau kakak sering keluarin itu waktu sama Celine kakak bisa makin sehat," ucap nya berbohong sembari menggoda gadis itu.
"Kalau gak di keluarin kak?" tanya Celine dengan bingung.
"Kakak bakalan sakit," ucap Steve yang melihat gadis itu langsung tersentak.
Celine langsung kembali memeluk, gadis yang selalu tidur di pelajaran biologi karna merasa bosan itu langsung tertipu dengan ucapan sang kakak.
"Kakak jangan sakit, kalau kakak sakit Celine sedih..." ucap nya kembali menangis.
"Jadi karna itu kakak sering begitu sama Celine? Tapi kakak kan sering keluarin nya di dalam Celine, kalau dia masuk lagi ke kakak gimana?" tanya nya dengan polos.
"Masuk gimana? Kamu yang kakak masukin," ucap Steve dengan bingung pada pertanyaan ambigu adik nya.
Celine diam, ia juga jadi bingung akan pertanyaan nya.
"Sekarang Celine harus apa?" tanya nya pada sang kakak dengan tatapan yang tak mengerti.
Steve tersenyum simpul mendengar nya, "Buat kakak keluarin nya itu di sini, bukan di dalam Celine lagi." ucap nya sembari memegang bibir gadis itu.
"Nanti kalau tertelan Celine gimana?" tanya gadis itu dengan polos nya akan pertanyaan sang kakak.
"Kalau kamu telan sampai habis bakalan jadi vitamin buat kamu, terus kakak juga bakalan jadi gak sakit lagi." ucap nya pada sang adik yang menatap nya bingung.
"Cara nya kak?" tanya nya lagi.
"Kamu hisap aja seperti waktu makan permen tapi jangan sampai di gigit atau kena gigi." jawab Steve yang kini ingin mencoba hal baru pada adik nya dan kembali mengajarkan sesuatu yang cukup sesat pada gadis polos itu.
"Ta..tapi Celine malu..." ucap nya dengan wajah memerah jika harus melihat dengan langsung dan dari dekat.
"Kenapa malu? Kamu kan udah pernah lihat, udah pegang, udah pernah rasain juga malah." ucap pria itu mengecup pipi gemas gadis itu.
"Tapi kan tetep malu..." ucap nya lirih dengan wajah memerah.
Steve tersenyum, ia suka melihat reaksi menggemaskan dan imut dari adik nya namun biarpun begitu ia tetap membuat gadis itu menurut pada nya.
Suara napas nya semakin berat, ia menahan kepala gadis itu, "Telan semua nya." ucap nya lirih dengan suara yang berat.
Gadis itu ingin muntah dan kehabisan napas namun ia tetap menurut pada sang kakak yang menahan kepala nya dengan erat.
"Buka mulut nya, sudah di telan kan?" tanya Steve yang masih ingin membuktikan jika sang adik sudah meminum vanila nya.
Celine tanpa sadar menurut begitu saja, ia membuka mulut nya dan menunjukkan tanda-tanda bersih karna sudah menelan nya sesuai instruksi.
"Pinter adik kakak," ucap nya tersenyum dengan napas yang semakin teratur dan mengecup kening adik nya yang penurut itu.
......................
__ADS_1
Satu bukan kemudian.
Mike mulai bingung, putra nya terlihat baik-baik saja tanpa sokongan nya, bahkan memiliki mobil yang baru ia lihat.
Steve seharusnya sudah bisa keluar dan hidup sendiri tanpa bantuan uang dari sang ayah, namun ia tetap berada di rumah utama hanya karna gadis kesayangan nya masih di sana dan tak bisa ia bawa pergi.
"Hari ini hukuman kamu selesai, tapi nanti malam kita akan bertemu dengan dengan keluarga dari Darv grup." ucap Mike yang menarik napas nya dan sudah memiliki rencana lain untuk putra nya.
"Kita semua Pah?" tanya Celine saat menyantap sarapan nya.
"Iya, kita semua." jawab Mike yang langsung lembut pada putri nya yang menggemaskan itu.
Celine tersenyum berbinar tanpa tau jika nanti malam senyuman nya akan runtuh.
......................
Restoran.
Gadis itu langsung diam ketika wanita cantik di depan nya memperkenalkan diri nya dengan memberi tangan nya untuk berjabat.
"Tadi Papa bilang apa? Kak Steve bakalan nikah sama kakak ini?" tanya nya lagi pada sang ayah.
"Iya, dia itu calon kakak ipar mu. Kamu harus akur sama dia." ucap Mike yang sudah merencanakan perjodohan putra nya.
Celine terdiam mendengar nya, ia sadar jika pria itu masih memiliki status kakak pada nya walau tak ada ikatan darah.
Namun tetap saja saat ia mendengar berita sang kakak akan menikah dengan wanita lain, dada nya seperti tercubit dan ia yang merasa kan sakit dan sesak namun tak mengerti mengapa ia bisa merasa demikian.
"Aku tak pernah setuju, dan aku juga tidak akan setuju untuk ini." ucap Steve dengan dingin dan hawa yang suram saat ayah tiba-tiba ikut campur di masalah pribadi nya.
Wanita cantik bernama Rosie De Owen itu pun langsung menarik lagi tangan nya, ia pun melihat ke arah pria tampan yang akan di jodohkan pada nya.
Ia tak pernah melihat ada pria yang menolak nya, dan memandang dingin pada nya seperti itu.
"Dia sering di manja," ucap Mike pada Cleve yang merupakan rekan bisnis nya dan yang akan menjodohkan putri nya pada putra nya.
Freya menarik napas nya, putri tersayang nya sama sekali tak membalas uluran tangan melainkan hanya terdiam dan terpaku.
"Celine? Kamu sakit?" tanya Steve yang begitu berbeda dari suara nya sebelum nya.
Celine menggeleng, "Celine mau minum aja kak..." ucap nya tanpa sadar meminta sang kakak mengambilkan minum untuk nya sama seperti saat ia di rumah.
Steve yang memang sudah terbiasa memanjakan gadis itu pun tak lagi heran akan sikap yang selalu bergantung pada nya itu.
"Ini minum, pelan-pelan..." ucap pria itu tanpa memperdulikan di tempat tersebut ada orang tua nya dan juga kelurga calon istri yang di siapkan sang ayah.
Rosie mengernyit, walaupun hanya sebentar namun terlihat jelas sikap pria itu hanya berbeda dan melihat lembut ke arah gadis kecil yang menjadi adik nya.
"Ja..jadi nanti kakak ini bakalan nikah sama kak Steve?" tanya nya lirih dengan lesu.
"Iya, nanti kamu jadi punya kakak perempuan juga." ucap Rosie dengan senyuman palsu walaupun ia tak begitu menyukai gadis yang mendapat perlakukan spesial itu dari pria yang membuat nya tertarik.
Celine merasa tersentak, ia tadi bersikap tidak sopan dengan mengabaikan sedangkan kini wanita itu berbicara dengan baik pada nya.
Gadis polos itu tak tau jika banyak orang di luar sana yang dapat berprilaku licik dan bermuka dua, yang ia mengerti hanya semua orang sama polos nya seperti diri nya.
"Maaf kak, tadi Celine gak sopan..." ucap nya lirih.
"Nama kakak juga cantik! Ada nama bunga nya, sama kayak nama aku." ucap Celine tersenyum.
Walaupun ia merasa sedih saat mendengar kakak nya akan menikah dan cemburu dengan wanita di depan nya, namun ia tak membenci kakak cantik yang bagi nya baik pada nya itu.
Tanpa ia sadari kebaikan itu hanya untuk di tunjukkan semua orang bukan tulus untuk nya.
"Dia putri bungsu ku, dia manis dan sedikit manja." ucap Mike ketika melihat mood putri sambung sudah kembali dan bersikap dengan baik pada orang lain.
Rosie memberikan senyuman nya sembari melirik ke arah gadis yang tersenyum pada nya.
Ia sudah dengar dan menyelidiki jika gadis itu hanya orang luar yang masuk karna ibu nya menikah, namun mendapat perhatian yang begitu banyak dan bahkan tadi sempat mengabaikan nya.
Steve melihat ke arah wanita itu yang memandang gadis kesayangan nya, walaupun tersenyum namun tetap saja menunjukkan raut tak suka dan seakan merendahkan gadis nya itu.
"Kak?" panggil Celine sembari menarik lengan baju sang kakak.
Steve langsung mendekat dan melihat ke arah adik nya itu, "Celine ke kamar mandi dulu yah." ucap nya berbisik.
Rosie memandang tak suka, orang luar yang begitu dekat dan menempel dengan pria yang membuat nya tertarik di pandangan pertama.
"Mau kakak temani?" tanya Steve pada gadis kecil kesayangan nya itu.
Celine menggeleng, "Sendiri aja kak."
"Pah, Celine ke toilet dulu yah..." ucap nya pada sang ayah sebelum meninggalkan jamuan perjumpaan keluarga itu.
Rosie pun juga ikut permisi dengan alasan yang sama, ia mendekati dan mengikuti langkah gadis itu.
Sesampainya di toilet Celine bercermin, ia mengatur napas nya dan rasa tak nyaman di dada nya.
"Kak Rosie baik sama cantik, kak Steve pasti suka..." ucap nya lirih yang entah mengapa merasa cemburu sekaligus sesak membayangkan jika nanti perhatian sang kakak tidak akan terpaku pada nya seorang lagi.
Rosie pun masuk, ia meletakkan tas nya dan bersikap seperti sedang melakukan touch up pada make up nya.
"Kamu bawa lipstick?" tanya wanita itu dengan senyuman palsu pada gadis itu. Ia membawa lipstick yang ia minta namun Rosie hanya mengatakan nya untuk basa-basi.
"Bawa kak, tapi liptint." jawab Celine yang langsung mengambil dan memberikan nya.
"Tidak apa-apa," jawab Rosie tersenyum.
Celine ikut diam saat wanita itu pun juga diam di samping nya.
Rosie menampilkan senyuman simpul nya, "Ku dengar kau bukan putri kandung dari paman Mike kan?" ucap nya membuka suara.
Deg!
Celine tersentak, ia bahkan sudah melupakan jika diri nya bukan putri kandung sang ayah karna Mike yang begitu menyayangi nya.
"Tapi Papa sayang sama Celine kok..." jawab nya lirih yang tak tau jika wanita di samping nya kini tengah menyindir nya.
"Walaupun begitu bukan nya kau terlalu dekat dengan kakak mu? Kalian tidak punya hubungan darah apapun kan?" tanya Rosie yang tetap tersenyum sembari menyudutkan gadis itu.
__ADS_1
"Tapi kan Celine sayang sama kakak," jawab nya dengan polos mengatakan tentang perasaan nya.
Rosie selesai memakai liptint nya, ia memandang ke arah gadis cantik itu dan melihat ke arah nya.
"Sayang bagaimana? Kamu kan cuma adik yang dari orang luar? Apa itu sayang yang lain?" tanya nya sembari mendekat dan membuat Celine mundur beberapa langkah.
"Maksud nya?" tanya gadis itu yang benar-benar tak mengerti.
"Kamu tidak menyayangi nya sebagai pria kan? Setidaknya, bukan nya kamu harus tau diri? Kan sudah di berikan hidup yang..." ucap nya sembari memandang rendah pada gadis yang memakai semua barang dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan bermerek terkenal.
Ia memperlakukan dan memandang rendah pada gadis itu karna tau calon adik ipar nya ini tak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Mike bahkan hanya orang biasa jika sang ibu tak menikah dengan konglomerat itu.
"Aku..." ucap Celine lirih yang merasa tersudutkan dan hanya diam menunduk.
"Aku harap kamu tidak seperti itu, kenapa? Karna sangat menjijikkan." bisik nya di telinga gadis itu.
"Kenapa? Kan Celine selalu mandi, selalu wangi..." ucap nya dengan tak mengerti dan menangkap hal lain.
"Berhenti pura-pura polos itu semakin menjijikkan, kalau kau seperti itu berarti kau itu kotor." ucap nya yang tak perlu menjaga image nya karna tau hanya ada mereka saat ini.
"Celine bersih kok..." jawab gadis itu lirih sembari mencium sejenak tangan dan tubuh nya.
Rosie tertawa kecil melihat nya, sejak awal ia melihat gadis itu dan ibu nya ia sudah memandang rendah karna tau kedua wanita itu hanya orang biasa yang naik posisi karna sang ibu menikah dengan konglomerat.
"Kau itu cuma orang luar, harus tau diri? Hm?" ucap nya tersenyum sembari mengusap rambut gadis itu.
"Celine gak orang luar! Itu Papa sama Mama Celine!" ucap nya dengan segera.
"Memang nya dia itu Ayah kandung mu? Kau masih tidak sadar?" tanya Rosie mengernyit. "Makanya aku benci orang rendah seperti mu." sambung nya lagi dengan berdecak.
"Celine gak rendahan..." jawab gadis itu yang sudah mulai menangkap jika wanita di depan nya tengah menghina.
"Makanya aku meminta mu jangan bertingkah dan tau diri, kau itu bukan siapa-siapa." ucap Rosie dengan senyuman nya dan menatap tajam ke arah gadis itu.
Celine diam, kepercayaan diri nya turun ketika wanita di depan nya mengatakan suatu fakta yang menusuk untuk nya.
Mengingatkan nya jika ia hanya anak luar yang di ikut dengan ibu nya dan bukan putri kandung dari pria yang ia panggil papa.
"Jadi aku mau kau jangan terlalu dekat lagi dengan kakak mu, karna dia akan menikah dengan ku dan aku juga risih jika dia dekat-dekat dengan orang seperti mu." Ucap nya pada gadis itu.
Celine masih terdiam, ia tak mengatakan apapun.
"Kalau kau mendekati nya terus, kau tidak ada beda nya dengan gadis murahan." ucap nya sebelum beranjak pergi.
Namun langkah nya berhenti sejenak dan kembali berbisik di telinga gadis itu, "Benar-benar kotor dan menjijikan."
Rosie pun keluar meninggalkan gadis itu sendiri.
"Celine gak kotor, bukan gadis murahan..." ucap nya lirih yang menahan air mata nya.
Sedangkan Steve terus melihat ke arah pintu, ia tak melihat gadis nya masuk walaupun Rosie yang pergi belakangan sudah kembali lebih dulu.
"Kau mau coba ini?" tanya Rosie dengan memberikan senyuman nya pada Steve.
Ia merasa tertarik dengan pria tampan yang memberikan kharisma nya itu, wanita yang selalu mendapatkan apa yang ia mau tentu nya langsung merasa harus mendapatkan pria tampan itu juga menjadi milik nya.
"Tidak," jawab Steve singkat dan dengan nada yang dingin.
Suara pintu di restoran privat room itu terdengar, Celine masuk dengan menundukkan kepala nya agar tak terlihat mata sembab nya yang habis menangis.
"Celine kenapa lama sekali nak?" tanya Freya pada putri.
"Gak apa-apa Mah, kepala Celine lagi sakit aja..." jawab nya lirih pada sang ibu.
Steve mengernyit mendengar nya, baru beberapa saat gadis itu sudah sakit?
"Kita ke rumah sakit yah? Atau Celine mau pulang aja?" tanya nya pada gadis itu.
Celine langsung menepis tangan nya, ia tak mau di bilang murahan, menjijikan, dan kotor lagi karna mendapatkan kasih sayang kakak nya secara khusus.
"Gak apa-apa kak..." jawab nya setelah menepis tangan sang kakak.
Steve semakin mengernyit, gadis itu tak pernah menepis nya sama sekali ataupun menolak nya.
......................
Mansion Evans.
Steve berulang kali memikirkan nya dan hanya mendapat kesimpulan jika wanita yang seperti rubah itu lah yang membuat gadis nya menjadi seperti itu.
Ia pun beranjak ke kamar gadis itu saat malam, namun.
"Dia kunci kamar nya?" gumam Steve yang merasa semakin heran.
"Celine? Kamu di dalam?" tanya nya mulai mengetuk kamar adik tiri nya itu.
"Iya kak," sahut Celine tanpa membuka pintu nya.
"Kamu kenapa? Buka pintu nya." ucap Steve dari luar.
"Celine mau tidur sendiri kak, gak mau di ganggu." jawab nya lirih.
"Kakak buat kesalahan sama kamu? Kamu kenapa?" tanya Steve dengan bingung.
"Gak apa-apa..." jawab nya lirih dari dalam.
Steve dapat mendengar suara bergetar gadis itu yang seakan sedang menahan tangis nya di balik pintu.
Ia pun beranjak pergi dan akan kembali lebih malam lagi dengan membuka pintu gadis itu menggunakan kunci cadangan nya.
Pukul 01.23 am
Pria itu melihat ke arah wajah dan mata sembab gadis nya yang sudah terlelap karna lelah menangis akibat kata-kata yang mempengaruhi dan menyinggung perasaan nya.
Perasaan yang sensitif itu merasa terluka karna kata-kata yang memberikan hinaan cukup dalam pada nya hanya karna ia adalah orang luar dan bukan berasal dari kelurga yang memiliki status yang sama seperti ayah tiri nya.
Ia sudah masuk diam-diam ke kamar gadis itu dengan kunci duplikat nya yang lain.
Tangan nya mengelus dan mengusap lembut wajah gadis itu, lalu mengecup kening nya sejenak.
__ADS_1
"Ada yang jahat sama kamu? Harus nya kamu bilang sama kakak..." ucap nya lirih pada adik kesayangan nya itu.
"Mereka yang menyakiti mu, aku akan membuat nya merasakan neraka lebih cepat." sambung nya dengan mata memincing tajam dan geram karna membuat gadis kesyangan nya sedih satu harian.