
Apart Venelue'ca
3 Bulan kemudian.
Wanita itu melihat ke arah putrinya yang kini sudah semakin tumbuh besar, dan bahkan sudah bisa membalik tubuh nya sendiri.
"Anak Mommy pinter..." ucapnya sembari mengecup bayi mungil itu.
"Dia sudah bisa bergerak sampai seperti itu?" tanya Sean yang mendekat ke arah sang istri bermain dengan putri mereka.
"Iya," jawab Ainsley singkat dengan senyuman lebar nya.
"Oh iya, Axel udah pernah manggil Daddy belum? Pada mu," sambung wanita itu yang teringat sesuatu.
"Belum," ucap Sean membuang napas nya lirih, "Papa juga udah suruh dia manggil kakek tapi masih belum juga." jawab pria itu.
Ainsley diam sejenak, putra nya masih belum terbiasa mengganti panggilan pria yang sudah menjadi suami nya itu.
...
Pukul 09.23 pm
Wanita itu mengetuk pintu kamar putra nya dalam tiga kali ketukan baru membuka nya.
Axel langsung menoleh, remaja tampan yang tengah bermain game di komputer itu pun melihat sejenak.
Merasa sang ibu tengah menunggu nya remaja itu pun mulai mematikan game yang ia mainkan, "Ada apa Mom?" tanya nya menoleh pada sang ibu.
"Kamu main aja dulu gak apa-apa, Mommy tungguin kok." ucap nya tersenyum pada putra nya.
"Udah selesai kok Mom," jawab Axel yang melepaskan headset lalu mendekat ke sang ibu.
"Mommy mau tanya, boleh?" Ainsley yang menatap wajah putra nya.
"Boleh Mom, Mommy mau tanya apa?" jawab remaja itu pada ibu yang sangat ia sayangi.
"Axel masih belum bisa terima paman Sean jadi ayah kamu yah?" tanya wanita itu dengan nada lembut.
"Mommy kenapa tanya gitu?" remaja itu mengernyit dengan bingung.
"Gak apa-apa, Mommy kan udah nikah hampir setahun lebih, tapi kamu seperti gak mau buka hati kamu untuk terima paman Sean." jawab Ainsley pada putra nya.
"Bukan gak mau Mom, Axel belum terbiasa..." jawab nya lirih.
"Nak? Kalau misal nya ada yang gak kamu suka kamu bilang sama Mommy yah? Jangan diem aja, Mommy bukan peramal. Kamu tau kan? Kalau kamu masih anak Mommy..." ucap nya lirih pada putra nya.
"Axel gak ada masalah kok sama paman, Axel cuma belum terbiasa aja Mom. Axel tuh bingung kalau manggil dia tiba-tiba beda, terus dia juga pasti bakalan aneh denger nya." ucap nya lirih.
"Semua yang ada di sini itu sayang sama kamu nak, paman Sean juga pasti bakalan seneng banget kamu panggil Daddy," ucap Ainsley tersenyum sembari mengusap kepala putra nya.
"Kamu itu bukan orang asing, kamu itu anak nya Mommy. Kesayangan nya Mommy..."
"Bukan cuma Mommy aja yang sayang kamu, Grandma Clarinda, Paman Sean, sekarang malah ada Olive lagi yang sayang sama kamu juga karena kamu kakak kesayangan nya,"
"Ada kakek nenek dari orang tua Mommy juga sayang sama kamu, dan kamu juga harus tau kalau Mommy nikah sama paman Sean berarti dia juga udah keluarga kita, Mommy rasa Kakek Daniel juga sayang sama kamu, yah walaupun kalian berantem terus sih sampai kepala Mommy pusing..."
"Tapi mereka semua itu sayang sama Axel, kayak Mommy yang sayang Axel..." sambung nya lagi.
Remaja itu hanya diam, "Kamu boleh kok cemburu sama Olive karna semua nya lihat dia terus, tapi kan Olive masih bayi nak. Kamu dulu loh juga begitu. Kalau ada yang lihat kamu pasti langsung gemes mau cium."
"Mommy dulu kalau kamu udah tidur selalu larang Daddy kamu buat lihat, biar apa? Supaya kamu gak bangun lagi karna di ciumin Daddy kamu, kamu itu kalau udah nangis, lama banget..." ucap nya pada putra nya.
"Axel nyusahin Mommy dulu yah?" tanya nya pada sang ibu.
Ainsley menggeleng mendengar nya, "Sama sekali engga nak, Mommy malah seneng banget ngurus kamu. Mommy kan sering bilang kamu itu kebahagian nya Mommy..." ucap nya pada putra nya.
Axel hanya diam lalu menjatuhkan kepala nya ke pangkuan sang ibu.
Ainsley tersenyum dan mulai mengusap rambut halus putra nya, "Mommy cuma mau Axel tau, kalau semua yang ada di sini itu sayang sama Axel..."
Axel meremas gaun yang di kenakan sang ibu, "Axel itu sayang sama Olive sama Mommy, tapi Axel kadang ngerasa sekarang Mommy cuma sayang Olive aja, udah gak sayang Axel lagi..." gumam nya lirih pada sang ibu.
Perhatian yang biasanya selalu menjadi milik nya kini teralihkan dan terfokus karna sang ibu masih mengurus bayi yang masih membutuhkan perhatian penuh.
"Axel sedih?" tanya Ainsley ketika ia merasa gaun nya mulai basah karna tetesan air mata putra nya.
"Mommy itu sayang Axel kok, Olive kan masih bayi nak. Atau hari ini mau tidur sama Mommy? Mommy temenin yah? Besok Mommy buat makanan kesukaan Axel terus kita Date gimana?" tanya Ainsley pada putra nya.
Satu anggukan menjadi jawaban remaja itu. Ainsley pun tersenyum dan terus mengusap kepala putra nya hingga jatuh tertidur.
Perlahan ia bergerak dan memposisikan remaja itu dengan nyaman, menaikkan selimut nya dan mengelus rambut nya sekali lagi sebelum beranjak pergi.
Sean menunggu di kamar mereka sembari mengayunkan dengan pelan keranjang bayi nya.
"Tadi dari mana?" tanya Sean saat melihat wanita itu kembali.
Ainsley duduk di pinggir ranjang nya sembari membuang napas nya lirih.
"Axel kayak nya cemburu lagi sama Olive, apa aku akhir-akhir ini jarang perhatiin dia yah?" tanya nya lirih.
Sean pun beranjak duduk ke samping sang istri sedangkan putri nya sudah terlelap dengan nyenyak.
"Bukan begitu, dia cuma belum terbiasa. Kau kan biasa nya cuma ngurus dia aja, sekarang ada Olive, ada aku, jadi merasa banyak yang harus di bagi." ucap nya pada wanita itu.
"Kau sendiri tau kan? Yang dia punya itu cuma kau sebelum nya, jadi dia juga masih terlalu bergantung pada mu, kau kan juga selalu manjain dia..." sambung Sean lagi.
Sean mulai merebahkan diri nya ke atas ranjang, sedangkan Ainsley langsung ikut merebahkan diri di samping suami nya sembari mencari ganjalan kepala nya di lengan pria itu.
"Besok aku mau Date sama Axel, boleh?" tanya nya pada pria itu sembari memeluk dada bidang suami nya.
"Boleh, pulang dia sekolah?" tanya Sean sembari melihat sekilas ke arah wanita yang tidur di lengannya itu.
Ainsley mengangguk atas pertanyaan itu, Sean pun beranjak memeluk tubuh mungil itu dan menepuk punggung nya.
"Yasudah, hati-hati kalau bawa mobil nya..." ucap nya pada istri nya.
....
Remaja itu tersenyum cerah pergi dengan sang ibu membuatnya kembali bersemangat. Ia pun meletakkan tas belanjanya dan mencari keberadaan adiknya.
"Cari apa nak?" tanya Ainsley yang baru masuk saat melihat putra mencari ke segala arah.
"Olive Mom," jawab nya singkat dan remaja itu pun langsung melangkah ke arah adik kecil nya.
Ainsley mengikuti langkah putranya, dan ikut berdiri di samping remaja yang bahkan tinggi nya sudah melebihi dirinya.
"Mommy sayang Axel juga kan?" tanya nya sembari memegang tangan mungil bayi menggemaskan itu.
"Iya, Axel kan anak nya Mommy..." jawab Ainsley tersenyum.
"Maaf yah Mom..." ucap nya lirih.
"Maaf kenapa?" tanya Ainsley dengan bingung.
"Axel cemburuan, kayak anak-anak..." ucap nya lirih sembari terus memainkan tangan mungil adik nya. "Mommy gak sebel kan sama Axel?" tanya nya lagi.
Ainsley tersenyum dan mengusap rambut putra nya, "Kenapa sebel? Malah Mommy lihat Axel jadi makin gemes, mau Mommy cubit pipi nya." jawab wanita tertawa.
"Kan Axel udah besar Mom!" ucap nya langsung.
"Tapi menurut Mommy masih kecil aja tuh, kalau masih bisa Mommy gendong, Mommy bawa terus kayak Olive." jawab Ainsley tertawa kecil.
"Kan Axel bukan anak bayi..." ucap nya lirih dengan mengerucutkan bibir nya.
Wanita itu hanya tertawa, "Yauda, jagain Olive yah Mommy mau keluar sebentar." ucap nya pada putra nya.
__ADS_1
...
Dug!
Remaja itu memberikan satu tas belanja ke arah pria yang tengah duduk menonton televisi itu.
"Ini buat paman?" tanya Sean saat menerima tas belanja tersebut.
"Bukan!" jawab nya dengan ketus sembari melihat ke arah lain dengan raut gugup.
"Jadi buat siapa?" tanya Sean lagi dengan mengernyit.
"Bu-buat..."
"Da..Daddy..." sambung nya lirih hampir tak bersuara.
Sean mengernyit ia mendengar sekilas namun tak begitu jelas walaupun hanya ujung suara saja yang di dengar.
"Kamu bilang apa tadi? Baru manggil apa tadi? Daddy? Coba ulangi lagi, masa laki-laki suara nya kecil?" tanya Sean yang langsung bangun dan menatap ke arah remaja itu dengan penuh senyuman.
"A-apa sih? Aku gak ada bilang apa-apa tuh!" jawab Axel ketus dengan gugup.
"Ada kok, tadi barusan dengar." jawab Sean yang langsung mendekat ke arah remaja itu.
"Panggil Daddy lagi..."
"Tadi kan gak dengar..." ucap nya sekali lagi membujuk remaja labil itu.
"Gak tau deh! Aku mau balik ke kamar aja!" jawab Axel dengan ketus dan langsung beranjak ke kamar nya sedangkan pria itu terus mengikuti nya.
Ainsley yang tengah menidurkan putri nya pun langsung menoleh ke arah kedua pria yang membuat apart nya menjadi bising.
Ia mendekat, "Jangan berisik di sini, nanti Olive bangun!" ucap nya yang langsung membuat kedua pria itu diam.
"Paman Sean ini Mom!" adu Axel pada ibu nya.
"Tadi dia manggil aku Daddy, sekarang malah gak mau bilang lagi." ucap Sean pada sang istri.
"Beneran?" tanya Ainsley pada putra nya.
"Gak ada kok Mom!" jawab Axel salah tingkah dan gugup pada sang ibu.
Ia pun mendekat ke arah putra nya dan mengelus kepala remaja itu, "Anak Mommy sekarang makin dewasa..." ucap nya pada putra kesayangan nya itu.
Ada beberapa hal yang bahkan setelah menikah tak ingin di ganti oleh remaja itu, pertama tempat tinggal nya dan yang kedua adalah nama belakang nya.
Seharusnya setelah sang ibu menikah, nama belakang yang ia gunakan adalah Xavier namun ia tetap ingin menggunakan nama belakang ayah kandung nya.
Sang ibu pun tak melarang atau mencegah nya begitu juga dengan Sean yang tetap membiarkan anak sambung nya itu memakai nama belakang ayah kandung nya.
"Kalau gitu nanti waktu liburan sekolah kita ke pantai? Gimana? Axel suka kan?" tanya Ainsley pada putra nya.
"Pantai? Tapi kan Olive gak bisa pergi jauh-jauh?" tanya nya yang khawatir pada adik kecil nya.
"Olive kan bisa Mommy jagain, lagi pula kita kan udah lama gak pantai? Kesukaan Axel kan?" tanya nya pada putra nya karna tau tempat yang sangat ia sukai juga merupakan tempat yang sangat di sukai putra nya.
Senyuman cerah langsung mengembang di wajah tampan itu, "Night Mom." ucap nya langsung mengecup pipi sang ibu.
"Daddy engga?" tanya Sean pada remaja itu dengan menggoda nya.
"Ih! Udah besar kok masa minta di kiss?" tanya Axel dengan ketus pada pria itu.
Sean hanya tertawa mendengar nya, padahal remaja itu baru saja mencium pipi sang ibu.
Axel pun beranjak masuk ke kamar nya, wajah nya melihat dari sela pintu yang akan ia tutup, "Night Da..Dad..." ucap nya lirih yang masih belum terbiasa dengan panggilan yang keluar dari lidah nya.
Setelah itu ia pun langsung menutup pintu kamar nya dengan rapat.
"Lihat! Dia panggil aku apa tadi? Berarti sekarang aku sudah di akui?" tanya Sean semnagat pada wanita itu.
Pria itu tersenyum, menarik tangan kecil itu lalu merapatkan tubuh nya.
"Semangat nya cuma itu aja? Aku kan juga butuh semangat yang lain," ucap nya sembari mengecup telinga wanita itu.
"Besok yah? Tau gak? Tadi itu aku baru nidurin Olive," ucap Ainsley yang mengatakan jika dirinya sudah lelah.
Sean tak menjawab namun terus mengecup pipi dan leher jenjang wanita yang tengah ia peluk saat ini.
Ainsley mendorong pelan, "Kita masih di depan kamar Axel, pindah ke kamar kita aja..." ucap nya yang tak mau putra nya tiba-tiba keluar dan melihat nya.
"Ke kamar? Berarti mau?" tanya Sean yang dengan semangat.
"Enggak! Kita tidur! Jangan yang aneh-aneh!" ucap Ainsley seketika.
"Yakin? Tidur aja nih?" tanya pria itu dengan tatapan nakal melihat ke arah istri nya.
Ainsley membuang napas nya panjang, ia tau malam ini akan membuat nya tidur lebih larut lagi.
......................
Satu Minggu kemudian.
Desiran ombak yang terdengar lirih, angin yang membuat pakaian menjadi hamburan bagai layangan.
Cahaya mentari yang tampak cerah serta pasir putih yang menyapu lembut lembut tepi daratan itu.
"Mommy? Kesini deh!" ucap Axel tersenyum pada sang ibu.
Sean mendekat ke arah wanita itu dan mengambil putri nya yang masih di gendong, "Kenapa bukan pengasuh aja yang bawa dia tadi?" tanya nya pada sang istri yang sejak tadi terus menggendong putri mereka.
"Kalau pindah tangan dia rewel," jawab Ainsley pada suami nya.
"Yasudah sini aku bawa Olive, kau main dengan Axel dulu." ucap nya sembari mengecup bibir wanita itu dan menggendong putri nya yang langsung nyaman pada nya.
Ainsley tersenyum, ia membalas mengecup bibir pria itu disertai hisapan kecil lalu beranjak ke arah putra nya yang tengah bersemangat mengubur diri nya di atas pasir.
Wanita itu tertawa, ia mengusili putra yang tadi nya ingin mengubur diri nya di bawah pasir, sedangkan pria itu hanya tersenyum sembari menciumi putri kecil nya.
"Olive mau main juga sama Kakak sama Mommy? Hm?" tanya nya sembari mencium gemas pipi gembul putri nya itu.
...
"Mom? Mommy gak jalan-jalan sama..." ucap nya menggantung karna masih belum terbiasa.
"Daddy? Dia kan sekarang ayah kamu juga." ucap Ainsley sembari mencubit pipi putra nya.
"I-iya Daddy..." jawab remaja itu lirih.
"Matahari terbenam nya bagus loh Mom!" sambung Axel ke pembicaraan berbeda.
"Terus Olive gimana?" tanya wanita itu sembari menunjukkan putri kecil nya yang menggeliat kecil sembari memakan jari nya.
"Olive sama aku! Sini sama kakak!" ucap nya sembari mengambil adik imut nya dari sang ibu.
Sean yang baru saja kembali dari menerima telpon pun langsung bergabung.
"Jalan-jalan yuk," ajak Ainsley sebelum pria itu sempat duduk.
"Kau mau keliling pantai?" tanya Sean pada istri nya.
Satu anggukan menjadi jawaban disertai dengan senyuman semangat.
Sean pun menatap ke arah putri nya dan membuat remaja itu langsung tau apa yang di khawatirkan.
"Olive sama aku, nanti kembali nya jangan malam-malam yah? Aku lapar kalau Minggu makan malam nya kelamaan," ucap Axel pada sang ibu dan juga ayah sambung nya.
__ADS_1
...
Angin yang berjalan kini mulai berubah menjadi lebih dingin, pria itu menggenggam tangan wanita yang berada di samping nya dan sesekali melihat dengan senyuman.
"Dulu waktu kita pisah, juga di pantai kan? Tapi bukan pantai ini..." ucap pria itu tersenyum lirih.
Ainsley tersenyum dan menoleh ke belakang melihat ke arah jejak kaki yang tercetak di atas pasir putih itu.
Jejak yang terlihat besar dan kecil namun menyamakan langkah nya.
"Dulu aku coba ikutin langkah kaki mu, tapi sekarang kaki kita langkah nya sama..." ucap Ainsley yang sekali lagi mengatakan perbedaan nya.
Pria itu tersenyum, menangkup wajah yang bagi nya selalu cantik mau betapapun usia wanita itu.
"Rasa nya baru sebentar mengenal mu, kenapa waktu berjalan terlalu cepat?" tanya pria itu sembari menangkup pipi wanita itu dan menempel kan hidung mancung nya sekilas.
"Sean?" panggil wanita itu lirih, "Nanti, kalau terjadi sesuatu apapun itu. Jangan tinggalin aku..."
"Aku gak mau sendirian lagi, aku tau kok aku egois tapi gak apa-apa kan? Kau bilang bakal wujud in semua yang aku mau." sambung nya lirih.
Pria itu mengangguk, "Iya, kau tidak akan sendiri." ucap nya tersenyum.
"Janji?" tanya Ainsley sembari memberikan kelingking nya.
Humph!
Bukan nya menautkan jemari pria itu malah menautkan bibir nya dan mengesap cukup lama di bibir merah muda itu.
"Kalau sudah dewasa harus nya cara membuat janji nya beda," goda pria itu berbisik.
"A-apa sih?" tanya Ainsley sembari mendorong pelan ketika pria itu sekalian mengecup leher nya dengan gemas.
"Sean! Geli!" ucap Ainsley yang tertawa sembari terus merasakan suami nya yang juga terus jahil mengganggu nya.
Kilauan yang orange yang perlahan memudar, bayangan mentari yang terasa akan hilang tenggelam oleh laut dan kini mulai menampilkan cahaya bulan di tengah gelap nya langit malam.
Pasir putih yang halus itu menjadi alas, wanita yang memejam kan mata nya sembari menikmati angin sejuk yang datang pada nya dan menyandarkan kepala nya dengan nyaman di bahu suami nya.
"Love you Sean," ucap nya lirih ketika ia mulai merasa tenang dan nyaman.
"Love you too..." balas pria itu sembari mengecup puncak kepala sang istri.
Ainsley pun menatap ke arah pria yang baru saja mengecup puncak kepala nya, tatapan yang mengunci sejenak dan kemudian bergerak dengan sendiri nya untuk semakin mendekat.
Humph!
"I love you, maybe more than your love..." ucap pria itu lirih sembari mengusap bibir yang masih basah itu dengan ibu jari nya.
"I know," ucap wanita itu tersenyum pada pria yang tengah menatap dalam ke arah diri nya.
π·π·π·
Aku melihat mu...
Awal yang ku pikir bukan apa-apa ternyata membuat ku bejalan sampai tidak tau cara kembali...
Aku tidak yakin bagaimana perasaan kasih sayang itu, yang aku tau hanya menginginkan seseorang dan tak mau di tinggalkan...
Aku menjadi lebih buruk bahkan dari seseorang yang ku benci...
Tapi aku tau satu hal...
Aku melakukan sesuatu yang paling tak ku sukai dan ku hindari...
Menunggu...
Aku membenci nya bahkan mengucapkan nya saja sampai tak mau...
Tapi entah kenapa aku tetap berada di titik yang sama dan melihat sesuatu yang seperti sulit untuk ku raih...
Namun aku sadar satu hal...
Tidak ada satu pun garisan takdir yang bisa ku tebak...
^^^^^^- Sean Justin Xavier ^^^^^^
πΈπΈπΈ
Aku tidak tau apa pilihan ku adalah yang terbaik atau tidak...
Aku terus menangis sampai lupa bagaimana cara nya untuk berhenti...
Mengharapkan seseorang mencintai ku, tanpa tau ternyata cinta juga bisa menyakiti ku...
Mungkin memang harus seperti ini...
Memiliki dan di miliki...
Datang dan pergi...
Menderita dan bahagia...
Aku rasa tidak satu satupun kertas yang mampu mengatakan sebayak apa yang sudah ku lalui...
Di hidup ku aku menemukan beberapa orang yang memberi ku kenangan hingga tak bisa ku lupakan sedikit pun...
Kenangan yang tak akan pernah hilang...
Rasa yang tidak akan pernah bisa di lupakan...
Aku mengingat semua yang datang pada ku...
Tentang aku...
Tentang dia...
Sesuatu yang semestinya ada di poros nya dan tak pernah berubah.
Hidup ku seperti Puzzle yang berserakan, walaupun rumit namun potongan tersebut tetap akan di temukan...
Tidak akan pernah hilang...
^^^- Ainsley Setya Bellen^^^
...πππ...
...ππ THE END ππ...
...****************...
Tamat yahππ
Dan novel ini gak ada season nya, hanya side story dari spin offππππ
Buat Axel sama Emily, othor buat konflik mereka ringan dan juga sampai mereka Uda. resmi pacaran yah, jadi othor rasa gak perlu season dari merekaππ
Terimakasih yang sudah mengikuti cerita penuh liku dari novel iniππ
Besok akan othor siapin spin off babang Richard yahπ
Selamat jumpa di karya othor selanjutnyaπππ
Terimakasih banyak buat readers yang mengikuti hingga di siniππ
Yang kapal babang Richard besok yahππ
__ADS_1
Happy readingππππ