
Mata yang berbinar sembari memegang piagam yang baru ia dapatkan. Rasa senang nya bertambah menjadi satu ketika hari yang bertepatan mengunjungi sang ibu.
"Siapa paman itu?" gumam nya saat melihat pria yang berpapasan dengan nya dan ia tau jika di ujung jalan yang ia tuju hanya ada rumah sang ibu.
Setelah sampai dengan hati dan perasaan yang teramat senang anak lelaki itu segera masuk ke dalam rumah nya.
Deg...
Mata nya membulat sempurna, lantai di rumah megah tersebut seakan runtuh membuat nya langsung terjatuh. Piagam kaca yang ia pegang terlepas dari tangan nya dan langsung pecah berhamburan seketika menyentuh lantai.
"Ma-mamah?" gumam nya degan suara teramat gemetar.
Tubuh membiru dengan pucat yang tergantung di depan nya dengan tetesan darah yang mengalir dari tali yang tipis yang pada akhirnya membuat leher wanita itu hampir putus dan cairan merah kental itu mengalir hingga menetes di lantai.
Anak lelaki yang masih berumur 9 tahun itu pun terdiam sesaat, mata nya merekam setiap sudut penampakan dari tubuh sang ibu yang meninggal tragis di depan mata nya.
Kaki nya ambruk tak mampu menahan rasa runtuh di hati nya ia menatap tak percaya pada apa yang dilihat nya.
Ia sangat terkejut bahkan lebih dari kata terkejut hingga membuat nya tak bisa melupakan apa yang ia lihat di depan mata nya hingga seumur hidup nya.
Menjadi sangat sensitif dengan kata ataupun penglihatan yang berkaitan dengan "Bunuh diri" walaupun ia tau jika sang ibu tak mungkin ingin meninggalkan nya namun ia tetap tak bisa hal mengerikan yang ia lihat.
Saat satu-satu nya matahari dalam kehidupan nya kini redup dan hilang di telan kegelapan.
"Mamah! HUA!!!" tangis nya membeludak pecah dan langsung memeluk kaki sang ibu yang masih tergantung.
Supir yang mengantar nya pun langsung masuk dan segera menutup mata anak itu agar tak melihat hal mengerikan tersebut.
Ia pun menelpon seseorang untuk segera mengurus mayat yang tergantung di depan nya.
"Mamah...
Huhuhu..." anak lelaki itu tak bisa mengatakan apapun selain tangis nya yang begitu pilu dan tubuh yang gemetaran.
......................
Rumah Sakit.
Pria itu terduduk dengan pendengaran yang samar sembari menunggu hasil dari kesehatan kekasih nya.
"Ini sudah yang kedua kali nya..." gumam nya saat mengingat jika gadis itu juga pernah melakukan hal yang sama namun tidak tepat di depan mata nya langsung.
Apa aku harus membawa nya menemui psikiater lagi? Kenapa dia masih mau bunuh diri?! Kalau aku...
Batin pria itu dengan pikiran yang terus berlawanan arah. Ia merasa bersalah karna menghentikan terapi kejiwaan gadis itu begitu saja namun ia takut jika gadis itu sudah benar-benar pulih maka cinta yang biasa ia terima juga akan hilang.
Karna yang paling tau dengan apa yang di rasakan gadis itu adalah ia sendiri.
Sikap naif, polos dan tak memahami perasaan dari Ainsley membuat nya cepat membaca situasi gadis cantik itu dengan cepat.
...
2 jam kemudian.
Gadis itu kini sudah berada di ruang inap dengan perban yang berada di leher nya guna menutup luka nya.
"Maaf...
Aku juga terlambat membawa mu ke rumah sakit..." gumam pria itu sembari menggenggam tangan gadis itu.
Sean menatap wajah pucat di depan nya yang tertidur dengan damai, sesekali ia mengusap dahi gadis itu.
Ia tak ingin hal seperti ini terjadi lagi namun jika ia membuat gadis itu mengikuti terapi psikiater dan gadis itu pulih sepenuh nya dari tekanan kejiwaan nya maka bukan tak mungkin jika ia akan di tinggalkan.
Ia bisa menahan dan memaksa gadis itu tinggal dengan nya jika hal itu terjadi namun perhatian yang sudah terbiasa ia dapatkan?
__ADS_1
Senyuman cerah dan hangat gadis itu yang selalu di tunjukkan pada nya akan segera hilang saat kekasih nya sudah tau membedakan hal yang baik dan hal yang buruk.
Termasuk sikap posesif dan obsesif nya. Karna pria itu sangat yakin jika perasaan gadis yang tengah bersamanya saat ini bukanlah "Cinta" melainkan "Butuh" namun karna sikap naif dan polos kelinci menggemaskan itu membuat nya tak memahami perasaan nya dengan benar.
......................
Flashback on.
Greb...
Gadis itu tersentak dalam tidur nya dan membalik tubuh nya seketika saat ia merasa seseorang memeluk nya.
"Sean?" panggil nya lirih saat melihat kekasih nya yang tiba-tiba datang ke apart nya dan memeluk nya.
"Katanya kangen aku, tapi kenapa wajah mu begitu?" tanya Sean sembari menangkup wajah kecil gadis nya.
"Sean udah pulang? Langsung kesini? Udah makan belum?" tanya Ainsley yang langsung beranjak bangun.
Kekasih nya yang beberapa hari lalu sedang berada di luar negeri kini sudah kembali dan bahkan langsung mendatangi apart nya di tengah malam ketika baru sampai.
"Belum, aku bau yah? Kau langsung bangun?" tanya pria itu sembari mengendus tubuh nya sendiri.
Ainsley menggeleng dan tersenyum pada kekasih nya ia pun langsung menghamburkan pelukan nya dengan erat, "Sean wangi! Aku suka!" ucap nya dengan manis.
"Sepertinya aku yang kangen..." ucap pria itu lirih sembari membalas pelukan gadis nya.
4 Hari tak memeluk gadis itu sama sekali membuat nya benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya.
"Mau mandi bareng?" tanya pria itu setelah melepas pelukan nya.
Blush...
Wajah gadis itu langsung memerah dengan ajakan kekasih nya dan hanya membuat pria tampan itu tertawa dengan gemas.
"Cuma mandi saja...
"Sean!" ucap Ainsley yang merasa malu dengan wajah yang semakin memerah sedangkan pria itu terus tertawa.
...
Aroma sabun yang menenangkan dan air hangat yang membuat tubuh kedua orang itu merasa nyaman.
Sesekali pria tampan itu menyiram punggung putih itu dengan air di tangan nya hingga membuat kilap dari sabun yang jatuh di atas kulit lembut gadis itu.
"Ainsley?" panggil Sean sembari mengusap lembut punggung gadis nya.
"Hm?" jawab Ainsley singkat.
"Kalau aku selingkuh kau marah tidak?" tanya Sean asal.
Gadis itu tersentak dan langsung membalik tubuh nya menatap wajah kekasih nya.
"Sean gak suka lagi sama aku?" tanya nya lirih dengan mata sendu.
"Aku kan cuma tanya, lagi pula aku cu-"
"Jangan pergi...
Jangan tinggalin aku, aku...
Bakal jadi penurut, jadi anak baik..." potong gadis itu cepat.
Pria itu mengernyit melihat reaksi gadis nya, seharusnya gadis itu marah dan mengatakan pada nya kalau ia tak boleh seperti itu.
"Kalau aku tak suka lagi dengan mu, hubungan kita akan jadi membosankan? Iya kan?" tanya pria itu lagi, ia sama sekali tak berniat selingkuh namun saat melihat reaksi gadis nya ia merasa janggal.
__ADS_1
"Kalau begitu aku bakal jadi yang Sean mau! Tapi jangan pergi...
Yang aku punya cuma Sean aja..." jawab Ainsley sekali lagi.
"Kalau misal nya aku punya wanita lain, kau tetap mau dengan ku?" tanya pria dengan semakin mengernyitkan dahi nya.
"Sean punya dua pacar?" tanya gadis itu lagi.
"Seperti itu," jawab Sean singkat.
"Tapi Sean gak bakal pergi kan? Aku mau nya sama Sean! Yang penting Sean gak pergi!" ucap Ainsley yang langsung memeluk tubuh kekasih nya tak peduli jika saat ini tubuh nya dan tubuh pria itu tak memakai apapun di balik rendaman air.
"Ainsley? Kau mencintai ku, kan?" tanya pria itu sembari melepaskan pelukan kekasih nya perlahan.
"Cinta?" tanya Ainsley dengan mata jernih nya yang tak mengerti apapun, "Iya aku cinta Sean, jadi jangan pergi..." sambung nya lagi.
"Kau tau cinta itu seperti apa? Kalau kau benar-benar cinta pada ku pasti kau tidak mau aku dengan wanita lain!" ucap pria itu sembari menatap tajam gadis nya.
"Ta-tapi aku gak mau sendiri...
Aku cuma punya Sean, aku bisa lakuin apapun yang Sean mau tapi jangan tinggalin aku..." ucap gadis itu tertahan dan hampir menangis.
Pria itu diam sesaat menatap wajah sendu itu dan kemudian tersenyum getir.
"Iya, kau mencintai ku..
Aku juga mencintai mu, jadi kau tak perlu takut kalau aku akan pergi, aku juga tak akan selingkuh..." ucap pria itu sembari memeluk dan menaikan lagi gadis itu ke pangkuan nya.
Ia pun mulai memangut bibir gadis itu dan menatap wajah yang sedang ia lum*t bibir nya dengan dalam.
Kau bukan mencintai ku, tapi butuh aku untuk ruang kosong mu...
Aku benar-benar jatuh ke permainan ku...
Sean yang sebelum nya ingin memanfaatkan gadis itu untuk memperkuat posisi nya kini ia sendiri yang malah benar-benar jatuh cinta karna sikap polos dan lugu gadis itu yang mampu melelehkan hati nya yang membeku.
Rasa takut mulai menyelimuti nya lagi, takut akan kehilangan orang yang ia cintai.
Gadis yang bahkan tak bisa memahami perasaan nya dengan sungguh-sungguh membuat pria itu mulai merubah sikap dan hubungan nya secara perlahan.
"Ainsley?" panggil pria itu setelah melepaskan ciuman nya.
Gadis itu mengandah dengan wajah memerah dan nafas yang masih terengah-engah karna ciuman kekasih nya.
"Kau harus jadi anak penurut dan patuh, kalau kau nakal aku akan menghukum mu. Kau mengerti?" bisik pria itu pada gadis nya.
"Iya, Sean." jawab Ainsley sembari menatap lekat wajah pria nya.
Pria itu tersenyum namun dengan sudut yang tak bisa di artikan. Ia pun mulai merengkuh tubuh kecil itu dan menidurkan di atas tubuh nya yang masih berendam air hangat tersebut.
Aku akan membuat mu terus seperti ini...
Aku mencintai mu, dan kau juga akan tetap mencintai ku...
Tapi kau terlalu polos dan naif, jadi aku akan memberi mu sedikit hukuman, agar kau tetap dengan ku...
Sean pun perlahan mulai merubah sikap nya, setiap kali ia melihat gadis itu dekat dengan pria lain bahkan hanya sekedar menyapa membuat nya takut jika gadis itu menemukan "Sesuatu yang nyaman" lain nya dan berbalik menjauh dari nya.
Karna ia tau dengan jiwa polos seperti itu mungkin gadis nya akan termangsa oleh serigala lain dan bahkan tak menyadari nya lalu pergi begitu saja setelah meninggalkan jejak di hati nya.
Ia pun mulai bersikap posesif dan memiliki obsesi yang besar akan gadis itu, kesalahan sedikit saja dan hal yang ia anggap akan dapat menjadi pemicu gadis pergi akan membuat nya menggila dan bersikap kasar tanpa ia sadari.
Bagi nya semua hukuman mengerikan yang ia mulai ia lakukan dari hari ke hari adalah untuk melindungi gadis itu dan membuat gadis itu tetap di sisi nya dan jauh dari pria manapun kecuali ia sendiri.
Tanpa ia tau semua yang ia lakukan dan menjadikan gadis itu sebagai "Boneka kesayangan" tercinta nya akan semakin merusak wanita yang ia cintai dari hari ke hari.
__ADS_1
Flashback off.