
Pria itu membuka kembali laptop nya menatap ke arah layar yang memberikan banyak informasi itu.
Dahi nya mengernyit, akses yang sudah ia bobol untuk mengambil informasi masyarakat kembali tertutup.
Ia pun langsung menutup nya dan beranjak memanggil bawahan nya.
"Kau yang menutup nya?" tanya Richard dengan tatapan amarah nya.
Bagi nya waktu sangat di perlukan saat ini, ia hampir tak lagi memiliki kesempatan untuk beristirahat.
"Pemerintah sudah mulai mengetahui, saya tidak bisa terus membiarkan nya." jawab Liam pada tuan nya.
"Lalu Ainsley? Kau sudah temukan jantung nya?" tanya Richard sembari berdecak.
Liam hanya diam, jawaban yang mustahil jika ia menjawab 'Ya' bibir nya bungkam hingga tak menemukan jawaban yang bisa ia berikan pada tuan nya.
Richard membuang napas nya dengan lirih, ia tak bisa memikirkan apapun lagi, tak sanggup di tinggalkan namun ia juga sangat takut operasi nya tak berhasil yang nanti nya putra akan sendirian.
"Apa jantung ku saja? Hasil pemeriksaan nya cocok kan? Aku juga berhenti merokok ketika menikah," gumam nya lirih.
"Tuan!" ucap Liam seketika pada tuan nya saat mendengar perkataan pria itu yang seperti kehilangan asa untuk tetap membuat istri nya hidup.
"Atau aku membesarkan Axel sendiri?" tanya nya lirih yang tersenyum pahit.
"Jangan gegabah saya mohon..." ucap pria itu pada tuan nya.
"Menurut mu ini tindakan gegabah?" tanya Richard pada Liam.
Liam diam sejenak mendengar nya, ia memikirkan kata yang akan ia jadikan sebagi jawaban untuk tuan nya.
"Ini tidak seperti anda, setiap orang akan pada akhirnya akan pergi kan? Anda atau nyonya Ainsley?" tanya nya lagi.
"Kalau ini seperti aku yang biasa, apa yang akan ku lakukan?" tanya pria itu lagi.
"Yang jelas nya anda bukanlah orang ayang akan berkorban untuk orang lain dan melakukan sesuatu yang akan membuat anda rugi," jawab Liam seketika.
"Benarkah? Berarti dia sudah mengubah ku? Tapi mau ku pikirkan bagaimana lagi aku tidak bisa hidup jika dia tidak ada." ucap nya lagi.
"Lalu bagaimana dengan Axel?" tanya Liam langsung.
Donor jantung yang sesuai dan ada di waktu mendesak ini hanya jantung pria itu.
"Axel? Menurut mu aku bisa membesarkan nya? Dia mirip seperti Ainsley. Wajah nya, sikap nya, sifat bahkan cara bicara nya," jawab Richard dengan senyuman kosong.
"Bahkan sekarang saja aku sudah mulai sulit melihat wajah nya, aku bisa membesarkan nya kalau seperti itu?" tanya Richard lagi.
"Setidak nya dia masih memiliki ayah nya," jawab pria itu pada tuan nya.
"Kalau aku memberi jantung ku juga bukan berarti dia kehilangan kedua nya kan?" tanya pria itu lagi.
"Tuan?! Kondisi nyonya juga tidak baik-baik saja untuk transplantasi? Kalau anda gagal maka Axel akan kehilangan kedua orang tua nya." ucap nya lagi yang berusaha mengganti pikiran pria itu dari hanya untuk istri nya berganti dengan untuk putra nya.
"Dia punya kau, punya Clarinda juga." jawab Richard yang seakan tak bisa di bantah.
"Dia butuh orang tua nya, dia butuh tuan juga!" ucap Liam yang merasa kesal karna tuan nya berbicara tanpa berpikir lebih dulu.
"Aku butuh Ainsley!" jawab Richard membalas perkataan pria itu seketika.
"Kau tidak mengerti? Aku butuh Ainsley! Aku tidak mau yang lain! Aku cuma mau dia!" ucap pria itu lagi sembari melihat ke arah bawahan nya.
Liam melihat pria itu yang sudah seperti kehilangan akal, ia seperti melihat tuan nya yang berubah tak seperti yang ia tau.
"Lalu anda akan mengorbankan nyawa anda? Jantung anda?!" tanya Liam yang langsung meninggikan suara nya.
"Lalu aku harus ikut dengan bunuh diri dengan nya juga?" jawab Richard dengan pertanyaan yang ambigu.
"Anda percaya saya untuk menjaga Axel? Bagaimana kalau saya mengalihkan semua aset yang harus nya untuk Axel menjadi milik saya?" tanya Liam yang ingin tuan nya kembali memikirkan ucapan yang baru di katakan nya.
m
"Benarkah? Kau tidak akan melakukan nya," ucap Richard yang langsung tau.
"Anda tau dari mana? Saya tidak akan melakukan nya? Saya bukan orang baik, saya rasa anda paling tau hal itu kan?" tanya Liam lagi.
Richard hanya memberikan senyuman tipis pada pria itu, "Tapi kau bukan orang yang akan meminum darah teman mu."
Liam diam sejenak, ia tau maksud perkataan pria itu. Richard yang sangat yakin jika ia tak akan akan mengkhianati diri nya.
"Katakan pada dr. Terry kalau operasi nya bisa di lakukan, besok pagi." ucap pria itu ketika ia dan pria di depan nya sudah hening tak ada ucapan lagi.
"Anda benar-benar akan melakukan nya?" tanya Liam lagi.
__ADS_1
Richard tak membalas dan hanya melihat ke arah pria itu lalu beranjak pergi.
...
"Daddy?"
Suara imut yang terdengar begitu wajah nya kelihatan oleh anak kecil yang selalu menempel pada nya.
"Hey?" tangkap Richard seketika pada putra nya yang tampak lesu itu.
"Kenapa? Hm?" tanya nya lagi pada putra nya yang masih terlihat sedih.
"Daddy gak kemana-mana kan? Daddy udah sembuh? Daddy balu pulang dali mana tadi?" tanya nya pada sang ayah yang tadi nya sembari melihat mata ayah nya yang tengah menggendong nya.
"Daddy ada urusan tadi," jawab Richard pada putra nya.
"Axel mau kemana hari ini? Main sama Daddy yuk?" ajak pria itu dengan senyuman cerah nya.
"Memang Daddy mau jalan-jalan? Mommy kan lagi sakit? Tunggu Mommy sembuh aja nanti kita main beltiga," jawab Axel pada sang ayah.
"Tapi ini kita main nya berdua dulu sama Daddy nanti kalo Mommy udah bangun terus sembuh baru main sama Mommy juga." ucap Richard pada putra nya.
"Tapi kan Mommy kasihan kalau di tinggal." jawab Axel lagi yang ingin bermain bertiga dengan ayah dan ibu nya.
"Jadi Axel gak mau main sama Daddy? Padahal Daddy mau bawa ke baling-baling kesukaan Axel," ucap Richard pada putra nya.
"Telus Mommy?" tanya Axel lagi yang terus memikirkan sang ibu.
"Mommy sebentar lagi sembuh makanya Mommy gak akan marah kalau Axel pergi sama Daddy dulu." ucap nya tersenyum sembari mencium pipi putra nya.
"Benelan? Mommy bakal bangun? Kapan? Axel udah gak sabal! Axel mau makan cake buatan Mommy lagi!" ucap nya dengan mulai menaikkan binar di mata bulat itu.
"Iya! Mommy bakal bangun bentar lagi, jadi main sama Daddy yuk? Daddy mau hari ini kita main berdua!" ajak pria itu tersenyum pada putra nya.
"Tapi Mommy benelan bakal bangun?" tanya Axel lagi.
"Iya sayang, Mommy bakal bangun abis itu buatin Axel cake lagi." jawab Richard pada putra nya.
Sekilas raut sendu di wajah imut itu perlahan tergantikan nya.
"Nanti kita bisa main beltiga?" tanya nya lagi yang mulai semangat.
Richard diam sejenak mendengar pertanyaan putra nya, ia pun mencubit pipi putih yang lembut itu dan memberikan nya senyuman, "Iya, cerewet yah? Kayak Mommy nya..." ucap nya yang tersenyum.
Anak kecil yang tak mengerti apapun dan hanya melihat dengan mata nya tanpa ada memikirkan tentang kebohongan tentu nya bisa segera mempercayai senyuman sang ayah yang seakan mengatakan semua akan baik-baik saja.
...
Gulali yang seperti awan saat menghilang seketika di dalam mulut.
Rasa manis yang meleleh serta berbentuk seperti kepala beruang membuat anak kecil menggemaskan itu tersenyum dan menggenggam tangan sang ayah.
"Daddy! Axel mau main tembak-tembakan juga!" ucap nya ketika melihat bebrapa orang yang berkumpul berusaha menembak benda yang bergerak dengan peluru pinball.
"Main itu? Boleh," ucap Richard sembari menggendong putra nya dan membawa nya.
Bermain beberapa permainan membuat senyuman kembali di wajah anak polos itu.
Pistol mainan yang tampak besar dari tubuh nya membuat nya tak menembak semua sasaran dengan tepat.
"Yah..." ucap nya kembali lesu.
"Mau Daddy yang gantiin?" tanya Richard pada putra nya ketika melihat anak kesayangan terlihat lesu.
"Memang nya Daddy bisa?" tanya Axel dengan polos nya.
Pria itu hanya tersenyum, ia yang bahkan biasa menggunakan senapan asli dan juga sasaran yang terus berlari tentu nya membuat nya sangat mahir.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Tak ada satu pun pinball yang jatuh sia-sia semua tepat mengenai sasaran yang di tuju, hingga pemilik gerai main itu terheran mendengar nya.
"Daddy aku hebat kan?" tanya Axel dengan senyum nya berbicara pada penjaga gerai nya.
"Anda bisa memilih hadiah," ucap penjaga gerai setelah rasa kagum nya teratasi.
"Axel mau apa?" tanya Richard pada putra nya.
__ADS_1
Axel yang mengarahkan jari telunjuk nya pada boneka kelinci besar yang terlihat memegang wortel.
"Axel mau itu! Boneka nya milip Mommy!" ucap nya pada sang ayah.
Ricard hanya tersenyum kecil mendengar nya.
Axel pun memegang boneka yang hampir berukuran sama dengan tubuh nya.
"Mau main apa lagi?" tanya Richard yang memberikan semua keinginan putra nya.
"Mau main itu!" ucap Axel sembari menunjuk ke arah permainan lempar panah.
Richard pun mengiyakan dan segera membawa putra nya ke sana.
Lagi-lagi pria itu juga lah yang melakukan nya lemparan panah tepat mengenai tanda tengah di tempat nya.
Semua orang yang melihat nya terkagum seketika, sedangkan anak kecil yang menggemaskan itu tertawa senang ketika sang ayah terus menerus menang.
"Daddy hebat deh! Bisa tembak-tembakan, bisa lempal panah!" ucap Axel pada sang ayah ketika ia tak mengetahui apa pekerjaan sang ayah.
"Kan Daddy Axel! Hebat pasti!" ucap Richard tertawa sembari mengelus kepala putra nya.
"Axel mau jadi kayak Daddy!" ucap nya tersenyum.
"Axel? Axel tau gak? Kalau Mommy itu sayang banget sama Axel." ucap Richard pada putra nya.
"Telus kenapa waktu itu ninggalin Axel kalna milih sama paman Sean?" tanya nya lagi pada sang ayah.
"Karna Mommy gak punya pilihan," jawab nya pada sang putra.
Ia tak bisa menghentikan kebohongan yang sudah ia katakan namun ia bisa mengubah haluan benci putra nya agar hanya tertuju pada pria itu saja.
Walaupun ia akan segera meninggalkan semua nya namun bukan berarti siapa saja bisa menggantikan posisi nya.
"Kenapa Mommy gak punya pilihan? Paman Sean paksa Mommy?" tanya Axel dengan tatapan polos nya.
"Iya, Mommy itu sebenernya sayang sama Axel, khawatir sama Axel setiap hari tapi gak bisa karna ada paman Sean." ucap nya lagi.
Axel hanya diam, tak ada yang bisa mengerti apa yang ada di pikiran kecil nya.
"Axel bisa jagain Mommy? Gantiin Daddy jagain Mommy..." ucap nya pada putra kesayangan nya.
"Daddy mau kemana?" tanya Axel pada sang ayah.
Pria itu tersenyum pada putra nya, ia menunjuk kembali ke arah langit.
"Ke sana," ucap nya tersenyum.
"Ke langit? Kenapa ke langit?" tanya Axel dengan polos.
"Daddy mau cari adik Axel yang di langit," ucap pria itu dengan senyuman.
"Abis itu Daddy bakalan balik lagi bawa adik Axel?" tanya nya dengan polos.
"Yeeyyy! Daddy mau ke langit jemput adik Axel! Nanti kita bisa main belempat!" ucap nya tersenyum dan senang saat ia tak mengerti maksud sang ayah.
Richard diam melihat senyuman polos putra nya yang tak mengerti apapun, entah mengapa ia seperti mengetakan kebohongan yang dalam pada putra nya.
"Axel sayang banget sama Daddy, I love you so much Dad..." ucap nya yang meruntuhkan pertahanan pria itu.
Richard pun membalas senyuman putra nya dan memeluk nya dengan erat.
"Sama, Daddy juga sayang banget sama Axel..." ucap Richard dengan suara bergetar sembari memeluk erat putra nya.
Bagi nya sudah cukup satu hari perpisahan manis dengan putra kesayangan nya dan menghabiskan semua waktu bersama dengan baik.
Daddy juga sayang Axel...
Aku tau aku egois tapi kalau ada yang bisa menggantikan ku, dia harus lebih berusaha...
Aku tak mau memberikan jalan mudah untuk siapapun...
Ainsley...
Aku mencintai mu, untuk sekarang...
Besok...
Tahun berikut nya...
Dan bahkan di napas kedua ku...
__ADS_1
Kalau di hidup ku ini aku tidak bisa memiliki mu, aku akan membuat mu mencintai ku di kehidupan yang lain...
Ku pastikan kau tidak akan memiliki siapapun yang bisa kau cintai selain aku...