
Mansion Zinchanko.
Richard mengernyit melihat gadis itu terus memeluk putra nya sejak tiga hari yang lalu, saat tak melihat bayi mungil itu Ainsley akan terlihat panik.
"Kau kenapa? Berapa hari ini terus bersama Axel?" tanya Richard sembari mendekat dan ingin mengendong putra nya yang tengah menangis.
"Tidak apa! Aku saja yang gendong!" jawab Ainsley cepat dan ingin membawa putra nya pergi, tentu saja ia merasa panik jika putra nya bersama dengan pria itu.
"Aku kan Ayah nya, sini ku gendong, kau tidak bisa membuat nya tenang." ucap Richard yang langsung ingin mengambil putra nya yang rewel.
"Tidak! Kalau kau merasa geram nanti mungkin saja..." ucap Ainsley lirih.
Ia ingin kembali ke apart nya karna kini ia sudah mulai memegang tanggung jawab sebagai pewaris Belen dan tentu nya semua saham dan kekayaan pribadi nya juga melimpah ruah.
Dan alasan utama ia tak bisa pergi dari mansion pria itu karna tak ingin meninggalkan putra nya.
Rasa takut, khawatir, dan gelisah menyelimuti nya, dan rasa tidak percaya akan pria itu semakin membesar.
"Mungkin apa? Memang nya aku akan lakukan apa pada nya?!" tanya Richard yang kesal melihat sikap waspada gadis itu berlebihan.
"Atau kau mau bawa dia kabur?" tebak Richard dengan mengernyit.
Ainsley tersentak ia diam sejenak tak bisa menjawab tebakan yang tepat sasaran tersebut.
"Kenapa pikir nya begitu?" tanya Ainsley lirih tak memandang wajah pria itu.
"Kau ini kenapa sih?" tanya Richard mengernyit pada gadis itu.
"Kenapa? Kau tanya aku kenapa?" tanya Ainsley yang berbalik bertanya pada nya.
"Iya! Dari kemarin sikap mu terus saja seperti itu!" ucap pria itu kesal.
"Sekarang kau marah pada ku kan? Kau bilang Axel tidak akan sama seperti anak mu yang lain karna kau suka aku, lalu..." tanya nya sembari
menarik napas.
"Lalu kalau rasa suka mu sudah habis, Apa yang akan terjadi pada Axel?" sambung nya lirih.
Richard tersentak, "Astaga! Apa yang kau pikirkan?! Ha?!" tanya pria itu sembari mencengkram bahu gadis di depan nya.
Baby Axel semakin menangis tersedu, mendengar suara yang keras dari kedua orang tua nya.
"Aku tidak akan melakukan nya, apa yang bisa membuat mu percaya? Hm?" tanya pria itu dengan nada rendah sembari menahan emosi nya.
"Entahlah, mungkin dengan berjanji kalau tidak akan membunuh siapapun lagi?" jawab Ainsley karna ia takut nyawa putra nya terancam jika pria itu masih memiliki sifat kejam.
"Aku janji tak akan membunuh kalian berdua," ucap nya dengan iris yang beradu pasti.
"Kami berdua? Lalu yang lain?" tanya Ainsley mengernyit.
Richard diam, hidup nya memang hanya penuh dengan dua kata, di bunuh atau membunuh. Ia harus melakukan nya untuk bisa bertahan hidup.
"Kau mau buat perjanjian? Aku tidak akan melakukan pada mu atau anak kita," ucap nya yang tak menjawab pertanyaan gadis itu.
"Bagaimana aku percaya perkataan mu?" gadis itu ragu, dan hal tersebut memang wajar jika ia sampai tak yakin setelah melihat dan mendengar tentang pria tampan itu.
"Jalani saja, kau akan tau kalau aku tidak akan pernah membunuh mu, ataupun Axel." jawab Richard berusaha menyakinkan gadis itu.
Suara nyaring dari Baby Axel yang terus menangis membuat mata pria itu teralihkan, ia perlahan mengambil putra nya yang masih sangat rapuh itu dari gendongan ibu nya.
"Sstt..."
"Mommy sama Daddy sudah tidak bertengkar lagi, sudah yah nangis nya..." ucap nya lembut sembari menggendong bayi mungil itu.
Ia membawa keluar dan memberikan Ainsley waktu sendiri untuk mencerna perkataan nya.
Bruk!
Kaki nya ambruk ke lantai, entah mengapa ia merasa takut dan masih ada sesuatu yang mengganjal di hati nya.
"Aku akan baik-baik saja, dulu juga seperti ini kan?" gumam nya yang mengingat beberapa hubungan toksik yang ia jalani dulu.
Dengan sang ibu ataupun dengan mantan kekasih nya, dan ia masih bisa bertahan hingga sekarang.
...
Richard melihat gadis itu yang terdiam di makan malam nya.
"Mau makan di luar saja hari ini? Hm?" tanya nya dengan lembut sembari meraih tangan gadis itu.
Ainsley menoleh dan menatap tangan nya yang kini hilang di balik genggaman tangan kekar pria itu.
"Kau benar-benar suka aku kan? Kalau nanti perasaan mu hilang atau memudar kau tetap tidak akan menyakiti Axel kan? Iya kan?" tanya nya lagi yang seakan membutuhkan kepastian terus menerus.
"Hey? Look at me! I Love you, more than you can imagine." ucap nya berbisik pada gadis yang terus menerus gelisah tersebut.
"I'm just afraid, someone can change..." jawab nya lirih.
"I love you, you just need to know that." Richard terus berusaha meyakinkan gadis itu.
Ainsley diam, pria itu pun menarik tangan nya dan mulai membawa nya makan malam di luar malam ini.
"Di sini saja tidak apa," ucap nya saat pria itu ingin mengajak nya makan di luar.
"Di luar saja, sekalian mengganti suasana kita, hm?" ucap pria itu tersenyum.
Ainsley pun tak lagi menjawab ia hanya mengikuti apa yang di inginkan pria yang tengah menggenggam jemari nya.
......................
Restoran.
Ainsley diam sejenak sembari menatap ke sekeliling nya, ia ingin mengatakan jika dulu tempat ini sering ia datangi bersama mantan kekasih nya namun ia takut pria itu marah pada nya.
"Kau tidak suka di sini?" tanya Richard saat membawa masuk gadis itu.
"Bukan tidak suka, aku hanya..." jawab nya lirih.
Aku teringat dia lagi...
__ADS_1
Sambung nya dari hati nya, ia tak bisa mengatakan hal tersebut.
Richard diam sejenak, ia pun menarik tangan gadis itu menuju keluar namun.
"Dasar br*ngsek!"
Suara seorang wanita yang cukup keras hingga membuat langkah nya dan Ainsley terhenti.
Tentu nya mata mereka langsung tertuju pada sumber suara, Ainsley terkejut ia melihat mantan kekasih nya yang di siram air minum oleh wanita yang duduk di depan nya.
"Sean?" gumam Ainsely mengernyit.
"Seperti nya mantan tersayang mu juga tidak jauh beda dari ku," ucap Richard tersenyum dengan senyuman simpul nya.
Ainsley masih terkejut, namun tangan nya segera tertarik hingga ia berjalan keluar dari tempat itu dan mencari restoran mewah lain nya.
Sean mengusap wajah nya dengan sapu tangan yang ia bawa dalam saku jas nya, saat ini di depan nya adalah wanita ke lima yang di jodohkan pada nya dan di atur dalam kencan buta.
"Minuman di sini lebih bagus kan? Dulu aku juga sering ke sini, dengan wanita yang lebih cantik 10 kali lipat dari mu." ucap Sean dengan tersenyum seakan tanpa beban.
Sedangkan wajah wanita itu memerah, ia tak pernah mendapat ucapan pedas atau perkataan hinaan yang seakan menjatuhkan harga diri nya.
"Kau mati saja dengan sifat mu itu!" ucap nya dengan geram dan beranjak pergi.
Sean hanya tersenyum ringan dan menaikan bahu lalu meminum minuman di depan nya.
"Satu masalah sudah pergi," gumam nya bernapas lega.
Sejak kembali ke Prancis sang ayah terus memaksa nya dan membuat nya agar mengikuti kencan buta untuk perjodohan nya.
Ia sudah berusaha menolak dan tak perduli namun sang ayah dengan segala cara membuat nya terpaksa ikut dan tentu nya ia bisa mengatasi nya dengan membicarakan hal yang paling di benci wanita.
Hal-hal yang tak di sukai dan membuat para wanita itu yang lebih dulu membatalkan kencan buta nya.
Sean membuang napas nya lirih, ia menatap sejenak ke arah tempat yang bahkan belum berubah tersebut.
"Aku merindukan nya lagi..." ucap nya lirih sembari membuang napas nya.
Walaupun ia sudah mulai melepaskan gadis itu namun ia masih sangat mencintai nya, bahkan rasa cinta nya belum pudar sama sekali.
......................
Mansion Zinchanko.
Ainsley masih belum bisa tertidur sama sekali, ia teringat dengan mantan kekasih nya yang di siram air.
"Kau belum tidur?" tanya Richard saat ia mendekap tubuh kecil dan mungil itu dari belakang.
"Belum, belum mengantuk." jawab Ainsley lirih.
"Kau memikirkan dia?" tanya Richard mengernyit dan menarik tubuh gadis itu agar telentang dan tak membelakangi nya.
"Tidak," elak Ainsley yang tak ingin ketahuan.
"Kau memikirkan nya," ucap Richard singkat yang tau jika gadis itu berbohong.
"Tidak! Aku bil- Humph!" bibir yang langsung tertutup saat pria itu langsung mencumbu nya.
Tangan nya mulai menyelinap masuk ke dalam piyama gadis itu dan menyentuh semua bagian privasi di dalam nya.
Humph!
Ainsley yang terus mendorong tubuh bidang pria itu tak bisa bergerak sama sekali, bibir nya terbungkam dan tubuh nya tenggelam dalam tubuh tegap penuh dengan otot tersebut.
Hah..hah..hah...
Gadis itu membuang napas nya dengan terengah-engah saat ciuman balutan yang penuh akan lilitan itu terlepas.
"Pikiran mu harus di penuhi dengan ku saja," ucap Richard sembari kembali mencium bibir merah muda itu dan menarik piyama yang tengah di pakai gadis itu.
Sreg!
Tubuh putih itu mulai terlihat polos, ia pun tanpa menunggu apapun lagi langsung menyerbu tubuh indah yang membuat nya candu.
Meninggalkan semua bekas kepemilikan di atas kulit berwarna putih susu tersebut.
Mata Ainsley mengabur, ia sangat lelah saat tubuh nya terus saja di buat basah oleh pria yang api dalam dirinya tak pernah padam.
"Tidurlah, setelah itu kau hanya boleh memikirkan ku saja." bisik nya saat gadis itu hampir terpejam.
......................
Satu minggu kemudian.
Jas yang menampilkan lekuk dan membuat nya terlihat anggun, tas bermerek serta sepatu heels yang terlihat mewah membuat dewan unversitas tak memiliki cara untuk mencela nya lagi.
Ainsley memutar pena yang ada di tangan nya, mendengarkan pendapat serta opini yang berbeda dan beberapa yang mengkritik pengalaman nya untuk duduk di posisi yang sudah menjadi kewajiban nya.
"Kenapa kualifikasi saya kurang? Saya rasa anda juga tau bagaimana prestasi yang saya raih kan?" tanya Ainsley tersenyum saat seorang dewan mengkritik nya.
Sedangkan Michele ingin langsung membantah dan mengusir orang yang membuat putri nya tersudut, mungkin sudah terlambat hingga gadis itu sudah tak lagi mengharapkan kasih sayang nya.
Namun ia ingin menjadi ayah untuk gadis itu saat ini. Ainsley tersenyum dan menggelengkan kepala nya saat melihat nya ingin marah.
Bukan senyuman yang tulus yang dulu selalu di berikan namun hanya senyum formalitas seperti orang asing.
"Saya dengar kemampuan putri anda meningkat saat saya melakukan pembaruan sistem di sekolah?" tanya Ainsley yang mulai bisa menyindir seseorang.
Ia belajar dari semua orang di sekitar nya, orang-orang yang mengambil semua kepolosan yang ia miliki.
"Karna dia les makanya nilai nya bisa tinggi!" sanggah pria itu segera.
"Les yah? Anda tau siapa yang mengubah peraturan di tempat les nya?" tanya Ainsley tersenyum.
Pria itu mengernyit, "Apa hubungan nya dengan pertanyaan anda dan situasi saat ini?"
"Bukan 'anda' tapi sekarang harus nya anda memanggil saya dengan pimpinan utama," ucap gadis itu meralat ucapan pria di depan nya.
"Hubungan yah? Karna saya yang mengubah dan mengganti sistem serta guru les di tempat itu, dan universitas ini juga tidak memerlukan orang yang menerima lapisan kertas di dalam amplop untuk melewatkan uji penelitian." ucap nya yang menyindir beberapa dewan yang berada di sana.
__ADS_1
Ia tau jika universitas dan sekolah yang di jalankan saat ini memiliki beberapa kasus suap dari beberapa mahasiswa kaya agar meluluskan dengan cepat.
Perdebatan tetap terjadi, namun posisi yang sudah ia tempati tak bisa di geser lagi, dan ia hanya melakukan kewajiban yang menjadi milik nya sejak lahir.
"Ainsley," panggil Michele pada gadis itu.
Ainsley menoleh, "Ada apa? Apa saya melakukan hal yang mengecewakan tadi?"
"Tidak! Bukan itu, aku han-"
"Kalau begitu saya permisi lebih dulu," ucap Ainsley sembari memberi hormat dan pergi.
Michele tak bisa mencegah nya, ia bahkan tak bisa membuka pembicaraan agar dekat dengan putri nya.
...
Ainsley berjalan melewati beberapa toko yang menampilkan barang-barang terbaik nya di dinding kaca toko tersebut.
Ia tak tau jika kehidupan yang di siapkan orang tua nya ternyata lebih melelahkan di banding saat ia dulu melewati nya.
Namun seperti biasa ia tak bisa mengeluh, dulu ia akan selalu mengeluh pada kekasih nya karna ia bersandar pada pria itu, namun kini ia belum sepenuh nya bisa bersandar pada pria yang akan ia nikahi.
"Kalau aku bicara hal yang kecil seperti ini apa dia akan mendengarkan ku?" gumam nya yang takut jika Richard tak akan merespon ucapan sepele tentang hari yang ia jalani.
Ia memilih berjalan-jalan lebih dulu di bandingkan langsung kembali ke mansion megah yang ia tinggali sekarang.
Langkah nya terhenti sejenak, ia merasa seakan ada yang mengikuti, dan ia baru menyadari saat melihat bayangan yang terus sama dari balik kaca.
Ia pun langsung melangkahkan kaki nya dengan cepat, namun para pria itu pun langsung mengejar nya.
Siapa mereka?
Gumam nya yang terus berlari dan berusaha kembali ke arah yang ramai.
Greb
"Ak-" bibir nya langsung terbungkam saat satu kepalan tangan menutup nya dan menarik nya ke arah lain.
"Sst, kenapa mereka mengejar mu?" tanya pria itu sembari meletakkan satu jemari nya di bibir nya.
Ainsley menggeleng, ia tak tau jika akan bertemu pria di di tempat yang tak terduga lagi.
Sean memang melihat gadis itu berjalan-jalan ia tidak menggangu dan hanya melihat dari jauh, namun saat ia melihat gadis itu berlari ia pun langsung melihat kenapa gadis itu mempercepat langkah nya.
"Disini saja, jangan keluar. Mengerti?" ucap Sean sembari bergegas pergi.
"Se-"
"Jangan keluar," ucap nya lagi pada gadis itu.
...
Para pria yang tadi mengejar Ainsley pun bertatapan arah dengan nya.
Buagh!
Salah satu pria itu terjatuh, "Gila! Siapa kau?" tanya pria itu yang menyentuh wajah nya yang lebam.
"Pertama, keluarkan semua senjata kalian lebih dulu." ucap Sean yang harus merebut senjata mereka karna ia tak memiliki senjata sama sekali.
"Dasar sombong!" ucap salah satu dari empat pria di sana, mereka pun mulai mengeluarkan pisau belati dalam saku mereka dan mengacungkan ke arah pria tampan itu.
Sean tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum simpul melihat nya.
Salah satu pria langsung mendekat sembari mengacungkan pisau pada nya.
Pria itu mengelak, ia menangkap tangan yang di acungkan pada, lalu memutar nya dan menepis pisau sehingga pria itu menjatuhkan belati nya.
"Senjata bukan anjing, dia tidak akan mengingat tuan nya." ucap nya tersenyum sembari langsung mengayunkan pisau tersebut tepat menebas leher pria itu.
Crass!
Darah segar yang langsung mengenai nya mengalir ke wajah nya, ia bisa menggunakan senjata yang awalnya bukan milik nya.
Beberapa saat kemudian.
Genangan darah yang mulai terlihat di sepatu nya, dan terlihat jelas di balik jas yang memiliki kemeja putih di dalam nya.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya nya saat pisau yang bahkan masih meneteskan darah segar nya.
Ia tak tau namun, ke empat pria itu bukan lah pembunuh handal dan hal itu membuat nya menarik kesimpulan jika ke empat pria itu hanya ingin menculik lebih dulu tanpa membunuh gadis itu langsung.
Tak ada jawaban sama sekali, padahal ia hanya menyisahkan satu orang yang masih hidup untuk di tanyai.
"Wah, kau juga bisa membunuh seseorang rupa nya?"
Sean menoleh ke arah suara, ia melihat pria yang akan di nikahi mantan kekasih nya datang.
Richard datang karna Ainsley menelpon nya saat Sean menyuruh nya menunggu, dan tentu nya ia pun langsung mencari jejak yang mengikuti gadis nya dan menemukan pria yang sudah menghabisi orang-orang itu.
"Bukan urusan mu," ucap Sean ketus.
"Percuma tanya dia, dia tak akan bilang di suruh siapa." ucap Richard sembari mengambil salah satu pisau yang terjatuh dari ketiga orang yang sudah mati itu.
Tak!
Ia pun melempar dan langsung pisau belati tajam itu menebus dahi pria yang tersisa.
Tak hanya itu, Richard juga melihat mayat yang sudah ada sejak ia datang, serta pria yang berdiri tegap dengan lumuran darah.
"Kalau seperti ini kita sama, kau juga pasti memiliki banyak musuh kan? Makanya tidak terkejut sama sekali." ucap Richard pada pria itu.
Sean tersenyum ia menggeleng mendengar jika mereka adalah jenis yang sama, "Tidak kau salah akan sesuatu,"
"Musuh ku akan mengincar ku karna merek harus melihat ku jatuh dan menyingkirkan ku, tapi kebanyakan musuh mu mengincar mu atas dasar dendam bukan ingin menjatuhkan mu." ucap Sean pada pria itu.
"Kau ingin mengatakan aku hanya akan membuat nya dalam bahaya?" tanya Richard dengan senyuman tak suka.
"Kau sudah tau itu sejak awal kan? Musuh mu bukan mengincar mu tapi orang terdekat mu." ucap Sean sembari berlaku meninggalkan pria itu.
__ADS_1
"Sekarang kau tau perbedaan kita kan?" tanya Sean pada pria itu.