
Kediaman Clarinda.
Rumah besar dan mewah yang di penuhi dengan pelayan dan penjaga itu kini sudah mulai berubah menjadi rumah yang nyaman.
Semenjak kepergian sang suami dan putra nya, wanita itu terlihat tak bersemangat, diam dan mulai dingin.
Namun situasi mencair saat ia mulai membuat gadis yang ia tabrak menjadi putri angkat nya, kegembiraan yang kembali menyatu di kediaman mewah itu
Calesta membalik tubuh nya berulang kali ke kanan dan ke kiri, namun ia masih tak dapat menidurkan mata nya.
"Ainsley? Nama nya bagus juga tapi aku kan tidak biasa pakai nama itu?" gumam nya yang belakang ini mulai mengganggu pikiran nya saat ibu angkat nya ingin benar-benar menghapus identitas lama nya dan hidup sebagai Calesta Quete.
Ia pun beranjak bangun, langkah nya berjalan ke depan pintu kamar Clarinda dan mengetuk nya.
"Mah? Sudah tidur?" tanya nya sembari membuka pintu tersebut setelah mengetuk nya.
Clarinda menghentikan bacaan yang ia baca dan menatap ke arah pintu, ia melihat kepala gadis itu yang muncul di balik pintu dengan rambut panjang nya yang tergerai.
"Astaga!" pekik nya terkejut.
"Kenapa Mah?" tanya Calesta tak tau sembari memasuki kamar ibu angkat nya.
Auch!
"Aduh! Sakit Mah!" ringis gadis itu saat telinga nya di tarik ketika Clarinda mendekat.
"Nakal sih kamu! Sudah jantung Mamah tidak sehat lagi masih di buat terkejut!" ucap wanita itu sembari mengelus dada nya ketika selesai menjewer gadis di depan nya.
"Sehat kok! Mamah jangan sakit!" ucap Calesta sembari memeluk ibu angkat nya, ia tak merasa asing namun merasa nyaman.
Clarinda tertawa melihat sikap manja gadis itu tangan nya mengelus rambut halus yang tengah memeluk nya, "Makanya jangan nakal, biar Mamah bisa sehat terus..."
"Iya, gak nakal kok! Kalau Calesta hidup nya seratus tahun Mamah harus dua ratus tahun!" ucap gadis itu tersenyum.
"Kalau begitu nanti Mamah sendiri lagi? Gimana kalau Calesta hidup seratus tahun Mamah juga hidup seratus tahun?" Clarinda yang menawar keinginan gadis itu.
"Hmm?" Calesta berpikir sejenak ia memutar kepala nya, "Yaudah deh!" jawab nya setelah setuju.
Walaupun umur tak ada yang bisa menebak nya namun setiap kehidupan tetap memiliki harapan, harapan yang berhak di miliki siapapun.
"Kamu mau ngapain ke sini? Tidak bisa tidur?" tanya Clarinda sembari berjalan duduk ke ranjang nya.
"Iya! Mau tidur sama Mamah!" jawab gadis itu cepat dan masuk kedalam selimut ibu angkat nya.
Clarinda hanya tersenyum ia memeluk gadis itu dan mengelus punggung nya dengan lembut. Dari dulu ia memang sangat ingin memiliki anak perempuan namun karna ia yang sulit hamil membuat nya hanya memiliki satu putra.
"Mah...
Kalau aku gak mau jadi Ainsley aku tetap boleh jadi Calesta kan?" tanya gadis itu lirih, sejak di beri tau semua nya ia selalu takut akan di buang sedangkan ia tak mengenal dan mengingat apapun.
"Mau jadi Calesta ataupun Ainsley yang terpenting sekarang kau akan tetap jadi anak ku," jawab wanita itu sembari melihat ke arah wajah gadis itu.
"Tapi kan, aku bukan..." ucap gadis itu lirih.
"Darah memang lebih kental dari pada air, tapi ada beberapa air yang sudah di campur bahan lain pada akhir nya akan lebih kental kan?" tanya Clarinda pada gadis itu.
"Maksud nya?" Calesta tak mengerti dengan ucapan wanita di depan nya.
__ADS_1
"Maksud nya, mau itu hubungan darah atau tidak itu tidak mempengaruhi kasih sayang seseorang," jawab Clarinda pada gadis itu.
Calesta diam, namun ia memeluk ibu angkat nya dengan erat, ia tak tau kenapa ia sangat suka wanita itu memeluk nya.
Bagaikan perasaan yang sangat ia rindukan dan inginkan sejak dulu.
"Kalau suami sama putra Mamah gimana? Mungkin aja mereka gak suka aku..." tanya gadis itu dengan suara serak.
"Kau menangis?" tanya Clarinda sembari melepaskan pelukan gadis itu dan menatap wajah nya, "Kenapa nak?"
"Pelukan Mamah hangat...
Aku...
Aku mau di peluk Mamah terus..." jawab nya yang tanpa sadar semakin menjatuhkan air mata nya.
Ia memang tak ingat apapun namun jauh dari hati nya ia masih sangat menginginkan kasih sayang, kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan.
"Setiap Mamah peluk pasti nangis, Lihat mata nya merah kan...
Cup..cup..." ucap Clarinda sembari mengusap air mata gadis itu.
"Kau tanya kalau suami dan putra Mamah masih ada mereka akan suka pada mu atau tidak? Jawaban nya sudah pasti suka, Zen itu dari dulu mau punya adik jadi dia pasti bakal suka pada mu sedangkan Robert dia juga akan suka karna aku juga suka punya anak seperti mu..." jawab Clarinda tersenyum.
"Benarkah?" tanya gadis itu mulai berfikir jika memiliki ayah dan satu kakak laki-laki juga menyenangkan.
"Kalau saja kita bertemu lebih cepat pasti mereka akan mengenal mu juga," ucap Clarinda yang mulai membayangkan akan seperti apa kelurga nya saat gadis itu masuk dan membuat keluarga nya semakin lengkap.
"Eh? Kenapa aku jadi punya pikiran jahat? Pasti kau juga punya orang tua yang menyayangi mu, mana bisa aku mengambil mu begitu saja." sambung nya yang merasa jika orang tua gadis itu juga sama seperti nya yang sangat menyayangi putra nya.
"Tentu saja, semua orang tua kan sayang anak-anak nya," jawab wanita itu dengan lembut.
"Tapi aku tidak ingat mereka..." ucap Calesta lirih.
"Tadi Calesta takut Mamah buang kan? Seharusnya yang takut itu Mamah...
Mamah takut kalau Calesta sudah ingat, Calesta gak sayang Mamah lagi terus lupa sama Mamah..." ucap wanita itu mengelus wajah putri angkat nya yang sudah ia perlakukan bagai putri kandung.
"Mana mungkin! Calesta kan sayang Mamah! Calesta ga ingat mereka! Cales Takut! Sekarang mau nya sama Mamah!" jawab gadis itu segera.
Clarinda tersenyum, walaupun gadis itu nanti nya akan lebih memilih keluarga nya pun ia juga tak akan bisa mencegah karna ia tau sakit dan sedih nya kehilangan anak.
"Iya...
Sudah, tidur sekarang. Sudah malam," Jawab nya sembari mengelus putri angkat nya hingga tertidur.
......................
7 Hari kemudian.
Hotel
Pria itu melihat dari dinding kaca yang menampilkan jalanan serta bangunan tinggi yang masih menampilkan suasana klasik di kota besar tersebut.
Kini ia sudah sampai di Madrid sehari setelah ia melihat gambar gadis itu yang tertangkap kamera nya.
Richard kini tengah mencari pasti, namun tak ada satupun informasi yang bisa ia dapatkan.
__ADS_1
"Sekarang aku akan mencari mu," gumam nya sembari memninum sampanye di tangan nya.
Kini ia seperti memiliki harapan baru dalam hidup nya.
...
Sean kembali setelah pertemuan bisnis nya semua berjalan lancar tak ada satu pun hambatan.
"Belikan aku kopi," perintah nya pada supir yang membawa mobil nya.
Ia sedang tak bersama sekertaris Jhon maka dari itu ia meminta sang supir membelikan nya minuman dan ia menunggu di dalam mobil.
Pria itu terlihat lelah, ia tak bisa tidur namun ia juga masih membutuhkan istirahat.
Sean menghela napas nya dengan berat menyandarkan kepala nya ke bangku mobil sembari melihat ke arah luar jendela.
Ia menoleh melihat ke arah cafe yang berada di sebrang penyimpangan jalan tempat sang supir membelikan kopi untuk nya.
Deg!
Ainsley?
Batin nya tersentak melihat kisaran dan postur tubuh yang sangat mirip dengan gadis yang ia cari, walau tak terlihat jelas dan hanya dari samping itupun juga terhalang dengan pintu kaca kafe namun ia dapat mengenali apa yang ia lihat.
"Itu nwnar dia!" ucap nya dan langsung keluar.
Ia berlari agar bisa langsung bergegas berlari menuju gadis itu.
TIN!!!
Suara klakson bus membuat nya terkejut dan langsung memundur agar ia tak mengalami kecelakaan, ia pun menunggu bus tersebut lewat dan langsung menyebrang walaupun rambu lalu penyeberang belum menyala.
Ia membuka pintu kafe nya dan menatap ke sekitar, tak ada Ainsley di sana. Hanya pengunjung lain yang tak ia kenal.
"Ada yang kurang tuan?" tanya sang supir saat melihat wajah tuan di depan nya kebingungan dan mencari sesuatu.
"Kau melihat nya? Gadis yang memakai pakaian hitam dan rok pendek abu-abu muda tadi? Rambut nya di ikat, tinggi nya 160 cm? Kau lihat dia kan?" tanya Sean tanpa memperdulikan pertanyaan supir nya yang sedang membawa minuman milik nya.
"Tadi, memang ada yang seperti itu. Tapi dia sudah keluar setelah membeli minuman nya," jawab supir tersebut pada Sean.
"Kemana? Kemana arah nya tadi?!" tanya Sean segera.
Supir tersebut pun menunjuk ke arah gadis itu keluar setelah membeli minuman nya.
Sean pun langsung menyusul ia berlari dan ke arah yang di tunjuk tanpa tau kemana sebenarnya jalan yang ia ambil.
Hah...hah...hah...
Tarikan napas nya yang terdengar setelah ia berlari tanpa arah, berusaha mencari jejak keberadaan gadis nya.
Namun nihil, ia tak menemukan apapun selain lalu lalang orang yang berjalan, namun gadis itu kini tak terlihat lagi keberadaan nya.
Ainsley? Kau kan itu?
Kau masih hidup kan? Aku yakin!
Aku tak mungkin salah mengenali mu...
__ADS_1