Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Hasutan


__ADS_3

Mansion Zinchanko


Pria itu menatap ke arah wanita yang tak sadar dan penuh luka itu, wajah yang terlihat membiru di sudut bibir nya serta memar di leher terlihat jelas jika ia sempat mencekik nya.


Tangan nya mengelus pelan pipi wanita itu dan menatap nya dengan dalam.


Sedangkan wanita berkaca mata yang baru saja mengobati wanita itu merinding melihat nya, tubuh yang penuh luka dan memiliki banyak serpihan kaca di dalam nya yang tertinggal, bahkan ada beberapa koyakan yang membutuhkan bedah kecil untuk mengatasi nya.


"Apa peralatan disini ada yang kurang?" tanya Richard membuka suara.


Ia memang cenderung membeli alat medis, walaupun ia memang sudah memiliki nya dari awal karna pekerjaan nya ilegal nya.


"Tidak tuan," jawab dr. Candy pada pria itu.


"Dia tidak boleh ke rumah sakit," ucap nya sembari menatap wajah wanita itu lalu mengelus rambut serta pipi nya berulang kali.


"Tapi jika di rumah sakit akan lebih banyak dokter yang mengawasi da-"


"Berani sekali orang seperti mu membantah!" potong Richard segera.


Alasan ia sangat jarang membawa wanita itu ke rumah sakit karna ia takut akan ada kesempatan untuk gadis itu kabur atau selingkuh dari nya, dan bagi nya tempat teraman nya adalah di mansion nya.


Berbeda dengan putra nya yang memang harus menghadirkan dokter khusus anak dan juga ia yang bisa ia atur dengan menjadi pelanggan VVIP dan membeli saham rumah sakit.


dr. Candy langsung terdiam, tatapan tajam yang melihat ke arah nya seakan tengah menusuk ke jantung nya membuat nya memilih untuk bungkam saja.


"Tidak akan ada bekas luka kan?" tanya Richard pada dokter wanita yang terlihat takut itu setelah diam beberapa saat.


"Jika di lakukan perawatan dengan baik maka tidak akan ada bekas luka," ucap dr. Candy pada pria itu.


"Baguslah, istri ku tidak suka bekas luka." jawab nya lirih sembari memberikan senyum lega.


Deg!


dr. Candy tersentak melihat nya, ia tak pernah melihat orang seperti sebelumnya dalam hidup nya, jika ia tau istrinya tidak suka bekas luka kenapa ia selalu di panggil untuk mengobati luka yang di buat oleh pria itu.


"Sebaiknya nyonya tidak mengalami luka atau benturan lagi, kita tidak tau kapan nyonya akan mencapai batas nya." ucap nya memberi saran pada pria itu.


Richard diam tak mengetakan apapun, tangan nya meraih tangan pucat dan kecil istri nya lalu menggenggam nya dengan erat, ia bahkan mencium punggung tangan nya dengan dalam.


"Batas apa maksud mu? Apa kau mengatakan dia mungkin akan benar-benar mati?" tanya nya sembari melirik tajam ke arah dr. Candy.


Wanita itu terlihat gugup dan membenarkan posisi kaca mata nya.


"Dia tidak akan mati lebih dulu dari ku, dia itu istri ku, milik ku..." ucap nya sembari mengecup punggung tangan Ainsley yang ia genggam.


dr. Candy tak mengatakan apapun, ia hanya ingin segera keluar dari atmosfer yang mencengkram tenggorokan nya itu.


"Saya akan lakukan yang terbaik," ucap nya menunduk dan melihat ke arah pria itu seakan-akan meminta agar pria itu menyuruh nya keluar.


"Kapan dia akan bangun?" tanya Richard yang tau permohonan dari mata wanita itu namun masih ingin menanyakan kondisi sang istri.


"Mungkin sekitar dua atau tiga hari setelah ini nyonya akan sadar," jawab dr. Candy dengan sesopan mungkin.


"Baik, kau sudah bisa keluar." ucap nya sembari kembali memperhatikan wajah istri nya.


Wanita itu pun perlahan berbalik dan segera keluar dari ruangan yang penuh dengan aura yang membuat nya tak bisa bernapas.


Setelah dr. Candy keluar, mata pria itu kembali tertuju pada sang istri, tangan nya masih menggenggam erat tangan kecil wanita itu.


"Kalaupun yang kau katakan itu bukan kebohongan, aku tetap tidak bisa melepas mu. Kenapa aku sampai seperti ini?" tanya nya lirih sembari melihat wanita itu.


Ia pun menaikkan selimut nya dan dan mencium dahi wanita itu sejenak lalu pergi ke tempat putra nya.


...


Rumah sakit.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya pria itu saat datang dan melihat tubuh kecil putra nya yang masih tak sadar.


"Operasi nya berjalan lancar, tuan muda Axel mengalami gegar ringan, serta tidak ada pendarahan dalam dan juga sekarang kondisi nya mulai stabil, hanya saja perlu sangat di perhatikan ketika sadar. Mungkin setelah tiga hari dia bisa sadar." ucap salah dokter pada pria itu.


Richard mengangguk, setelah para dokter melakukan cek ulang mereka pun keluar, pria itu menatap putra nya.


"Axel? Nak? Daddy udah hukum mereka, kamu bangun yah?" ucap nya dengan nada rendah di telinga putra nya.


Ia menepuk tubuh putra nya dengan lembut dan mencium nya beberapa kali.


Sedangkan ia memerintahkan Liam untuk menyiksa pria yang menurut nya berhubungan dengan penculikan putra nya.


......................


Sekertaris Jhon seakan harus memutar otak nya dan beradu dalam suatu pemikiran.


Ia ingin segera memberi tau Daniel namun Sean sudah melarang nya lebih dulu.

__ADS_1


"Anda harus bangun! Saya sudah sampai sejauh ini demi menyelamatkan Anda," ucap nya menatap pria yang masih di pantai dengan alat medis itu setelah peluru nya di keluarkan.


Walaupun peluru tak mengenai titik vital namun pria itu namun tetap saja membuat nya kehilangan banyak darah.


"Anda dengar kan? Kalau anda tidak bangun juga saya akan menggelapkan dana perusahaan dan mengalihkan saham anda untuk saya," ucap nya lagi menatap pria itu.


Tak ada jawaban karna memang pria itu yang tak sadar saat ini.


"Anda memang tau cara menyusahkan orang lain," ucap nya lirih menatap pria yang bagi nya sangat bodoh itu karna hampir menghilangkan nyawa nya untuk sesuatu yang bahkan tak bisa di miliki.


......................


Lima hari kemudian


Ainsley tersadar dua hari yang lalu, tubuh nya masih terbalut perban yang juga membuat nya masih merasakan sakit.


Setelah ia bangun, suami nya kembali mengurus nya seperti biasa walaupun pria itu lebih sering diam tanpa mengatakan apapun.


Mata nya melihat ke arah wajah pria yang tengah mengambil bubur yang berada dalam mangkuk itu dengan sendok.


"Aku pernah bilang untuk membunuh ku saja kan? Kenapa kau tidak lakukan saja?" tanya nya menatap pria yang seperti tak mendengar nya bicara.


Richard tak menjawab apapun, ia hanya memberikan suapan nya ke depan mulut wanita itu.


Iris hijau wanita itu bergetar tentu, ia tak mau membuka mulut nya sama sekali dan menerima makanan nya.


Pria itu melihat ke arah bubur nya yang ia sodorkan dan menatap tajam ke wanita itu.


"Mau ku suapi seperti kemarin?" tanya nya membuka suara dengan nada bicara yang dingin.


Deg!


Ainsley tersentak, ia ingat dengan jelas kemarin suami nya mencengkram erat mulut nya dan memasukkan paksa semua bubur yang ia berikan.


Melihat wajah wanita itu yang berubah dan juga terlihat tertekan, Richard kembali lagi mengambil sendok nya dan menyuapkan makanan ke dalam mulut sang istri.


Kali ini Ainsley menerima nya, terlihat iris dan kunyahan nya yang gemetar melihat ke arah suami nya.


Di suapan ketiga, Ainsley menolak. Ia tak merasa lapar sedikit pun dan ia pun mulai kenyang walau hanya makan sedikit.


"Aku mau bertemu Axel," ucap nya lirih.


Richard tak mengatakan apapun lagi, ia kembali diam dan mengambil segelas air di samping nakas tempat tidur nya lalu memberikan minum istri nya.


Setelah beberapa teguk pria itu memberikan nya minum, Ainsley pun mulai menolak dan menatap ke arah Richard.


"Kau tidak akan menemui nya lagi," ucap Richard yang seketika memberikan hantaman petir pada wanita itu.


"Apa? A-apa yang kau bilang?" tanya nya mengulang sembari langsung meraih tangan pria itu.


Tak ada jawaban lagi, Richard hanya melihat ke arah istri nya yang begitu terkejut.


"Kau mengatakan itu karna berpikir aku benar-benar berniat menyakiti Axel?" tanya Ainsley sekali lagi.


"Kau menyayangi Axel?" tanya nya sembari menatap istri nya.


"Itu pertanyaan konyol," jawab Ainsley pada pria itu.


"Kau bilang dia hidup mu kan? Sekarang aku sudah memegang hidup mu, jadi jangan menguji ku lagi." ucap Richard pada wanita itu.


Deg!


"Kau menggunakan Axel untuk mengancam ku? Dia itu anak mu juga! Bukan hanya anak ku!" ucap Ainsley yang terkejut menatap pria itu.


"Dia memang anak ku, maka nya aku menyayangi nya, aku hanya memisahkan kalian saja kan?" tanya nya sembari mengusap air mata wanita itu yang mulai jatuh.


Ainsley terdiam mendengar nya, ia menggeleng tak percaya pada pria itu.


Alasan ia meninggalkan pria yang ia cintai, alasan terbesar nya menikah dengan yang menjadi suami nya saat ini adalah karna ia yang ingin mendampingi putra nya hingga beranjak dewasa.


"Biarkan aku menemui nya, ku mohon..." ucap nya lirih saat pria itu kini menggunakan putra nya.


"Aku akan memberi mu kabar tentang Axel secara berkala dan juga setelah ini aku akan mengirim nya ke luar negri," jawab Richard pada sang istri.


"Dia itu masih kecil! Kau mau mengirim nya kemana?" tanya Ainsley yang tentu nya langsung menolak tindakan suami nya itu, "Kau seperti ini karna berpikir aku mengkhianati mu?" sambung nya lirih.


"Bukan nya itu memang benar? Walaupun kau tidak sampai tidur dengan nya hari itu tapi bukan nya sama?" tanya Richard dengan mata tajam.


Selama wanita itu tak sadar ia mencari tau apa yang terjadi hari itu, walaupun ia tau istri nya berbohong namun tetap saja ia merasa takut jika ternyata sang istri memiliki kemungkinan selingkuh dari nya.


"Sampai akhir pun kau tidak percaya pada ku?" tanya Ainsley yang kembali menetes kan air mata nya.


"Aku mencintai mu, karna itu aku selalu takut kau pergi dari ku." ucap Richard pada nya.


Ainsley memejam mendengar ucapan suami nya, "Tapi kau tidak pernah percaya aku."

__ADS_1


"Kau hanya perlu melakukan apa yang ku katakan saja, diam di sini tanpa melakukan apapun dan aku tak perlu mencurigai mu." jawab Richard pada istri nya.


"Kalau aku seperti itu aku akan bisa bertemu Axel?" tanya Ainsley lagi.


"Entahlah, aku tidak tau." jawab nya sembari bangun dan beranjak pergi.


Greb!


Ainsley meraih dan memegang tangan pria itu dengan erat, mata nya memancarkan perasaan yang terlihat sangat jelas ingin pria itu menyetujui permintaan nya.


"Ku mohon biarkan aku bertemu Axel," ucap nya lirih dengan suara memohon.


"Kalau begitu memohon lebih keras lagi mungkin aku akan memberikan mu bertemu dengan nya lagi," jawab pria itu sembari melepaskan tangan nya.


...


Rumah sakit.


"Daddy?" suara menggemaskan yang bersinar melihat nya datang ke dalam ruangan.


"Axel gimana? Masih sakit?" tanya nya menatap putra nya sembari mendekat.


"Masih, Daddy? Waktu itu kenapa lama datang nya? Paman Sean hampil di tembak sama penjahat nya, tapi Axel gigit penjahat nya." ucap nya yang kini sudah mulai lancar berbicara tidak seperti awal anak itu baru bangun.


Ia tak tau dan tak sadar saat sang ayah menembak paman baik nya ketika menggendong nya karna ia yang juga tengah tenggelam menahan rasa sakit nya.


Walaupun Axel terlihat baik-baik saja saat ia bersama sang ayah, namun ketika anak lelaki itu sendirian ataupun bertemu pria asing ia akan ketakutan dan terlihat begitu waspada.


Maka dari itu Axel menjalani terapi psikiater setelah ia bangun.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Richard mengernyit.


"Paman Sean yang bantuin Axel, Paman Sean gak datang? Telus Mommy kenapa gak pelnah datang juga?" tanya Axel sekali lagi yang mulai merindukan sang ibu.


Richard diam, walaupun ia mendengar putra nya mengatakan jika pria yang ia benci membantu nya namun ia tak suka melihat putra nya yang seakan-akan terlihat dekat dengan pria yang ia benci itu.


"Tapi mungkin saja paman itu juga membuat Axel di sana kan? Kalau dia yang culik Axel gimana?" tanya nya lagi pada putra nya.


"Paman Sean itu baik Dad! Kalau paman yang culik Axel kenapa Axel di bantuin?" tanya nya menatap sang ayah.


Axel pun mulai bercerita tentang semua hari nya yang ia sembunyikan, bahkan hari tentang penculikan nya.


Mata bersinar dan juga wajah polos yang bisa mengatakan semua nya, ia tau putra nya tak berbohong namun ia juga merasa tak suka mendengar kedekatan putra nya dengan pria itu.


Ia merasa berterimakasih jika pria itu memang menyelamatkan putra nya, namun ia juga membenci nya kedekatan nya, setelah istri nya yang masih mencintai pria itu kini putra nya yang juga mulai menjalin kedekatan dengan pria yang sama membuat nya semakin gelisah dan rasa persaingan nya semakin tinggi.


Ia tak menyesal sama sekali menembak pria itu, dengan alasan istri nya masih menyukai pria itu saja sudah cukup bagi nya untuk membunuh pria itu.


Namun sayang, bagaikan kucing yang memiliki sembilan nyawa, pria itu tak mati namun masih belum sadar hingga sekarang.


"Paman Sean itu gak baik Axel, dia jahat!" ucap nya pada putra nya.


"Baik kok Dad!" jawab Axel yang langsung menyanggah.


"Axel kangen sama Mommy?" tanya Richard menatap putra nya.


Axel langsung mengangguk, "Axel mau ketemu Mommy, kenapa Mommy gak datang?" tanya nya lesu yang semakin merindukan ibu nya.


Ia sangat ingin pelukan ibu nya dan juga bacaan buku cerita yang sering di bacakan oleh wanita yang ia panggil Mommy.


"Mommy gak mau ke sini karna paman Sean, Paman Sean yang buat Mommy gak bisa ketemu sama Mommy," ucap Richard lagi yang mengatakan kebohongan buruk tentang pria itu.


"Kenapa paman Sean gitu? Mommy kan harus nya sama Axel," tanya anak lelaki itu para sang ayah.


"Sekarang Mommy lagi sama Paman Sean, Paman Sean gak mau kalau Mommy sama kita lagi, jadi dia bakal bawa Mommy pergi," ucap nya lagi.


"Axel mau Mommy..." ucap nya lirih yang mulai takut jika sang ibu benar-benar meninggalkan nya.


"Mommy bilang sama Axel kalau Mommy itu sayang sama Axel, jadi kenapa Mommy tinggalin Axel?" sambung nya yang kini mulai menangis.


"Makanya Daddy kan udah bilang kalau paman Sean itu jahat, dia buat Mommy gak mau ketemu Axel lagi terus buat Mommy juga gak sayang Axel lagi." ucap nya sembari menghapus lembut air mata yang jatuh dari mata putra nya.


"Mommy sayang Axel! Huhu..." ucap nya sontak dengan suara serak karna tangis.


"Kalau Mommy sayang Axel kenapa Mommy gak datang sekarang?" tanya nya lagi.


Sedangkan Axel hanya diam dengan air mata yang luruh di wajah menggemaskan nya.


"Karna Paman Sean yang buat Mommy gak bisa datang," ucap nya lagi kembali memutar fakta dan kenyataan yang ada.


"Axel kangen Mommy huhu..."


"Mommy kenapa gak datang? Axel mau Mommy..." tangis nya tersedu yang mulai menginginkan ibu nya.


Richard tak mengatakan apapun, ia memeluk putra nya dengan lembut sembari menepuk nya pelan untuk menenangkan nya.

__ADS_1


"Yang gak bakalan tinggalin Axel itu Daddy, jadi Axel harus nurut sama Daddy..." ucap nya pelan di telinga putra yang menangis tersedu.


__ADS_2