Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (Sleep)


__ADS_3

Mall.


"Kak? Boneka nya lucu!" ucap gadis itu dengan senang sembari mengangkat satu boneka panda yang terlihat menggemaskan.


"Iya, lucu kayak kamu." jawab Steve tersenyum pada gadis nya.


"Kakak kenapa?" tanya Celine yang melihat wajah sang kakak yang terlihat letih, tangan nya menyentuh wajah pria itu melihat nya dengan iris biru dan terlihat khawatir.


Steve meraih tangan gadis itu, mencium telapak tangan nya dengan lembut.


"Kakak gak apa-apa, kamu senang?" tanya nya pada gadis yang dalam beberapa hari ini terus murung ketika harus merawat ke empat bayi nya.


"Iya kak!" jawab gadis itu dengan semnagat.


Steve tersenyum saat melihat raut wajah yang kembali seperti gadis yang ia kenali lagi.


Mata nya menoleh ke arah pakaian lucu dengan telinga beruang di tudung nya.


"Ini lucu kan kalau buat Key,Rey, Fey sama Ken?" tanya Steve yang langsung tertarik melihat pakaian lucu itu membayangkan betapa menggemaskan putra-putra nya memakai semua itu.


Celine diam tak menjawab, perhatian sang kakak lagi-lagi tertuju pada buah hati mereka, ia memang tak masalah namun jika mendengar nya seperti memiliki kewajiban sebagai seorang ibu yang harus ia pikul.


"Sayang? Kenapa? Hm?" tanya nya sembari memeluk pinggang ramping gadis nya yang hanya diam.


"Kakak cuma perhatiin mereka aja sekarang..." ucap nya lirih.


"Perhatiin kamu juga, mereka kan anak kita, anak kakak sama kamu..." ucap nya sembari mengecup bibir mungil gadis nya.


Gadis itu hanya diam tak menjawab apapun, ia bingung mengapa suasana hati nya masih belum bisa ia kendalikan.


"Kamu jangan pikirin itu lagi yah? Kan sekarang kakak gak bilang kamu yang harus jaga mereka..." ucap nya menatap ke arah gadis di depan nya.


Gadis yang begitu manja nya luar biasa hingga membuat nya terus membujuk gadis kesayangan nya itu.


"Tapi kakak sayang aku kan?" tanya Celine yang seakan terus ragu.


"Memang nya kakak pernah gak sayang kamu?" tanya nya sembari menatap ke arah gadis nya.


"Celine sayang kakak, kakak itu yang paling Celine sayang." ucap nya sembari bergelanyut di lengan pria itu.


Steve hanya tersenyum sembari mengusap puncak kepala gadis nya, "Jadi kita beli ini kan? Buat mereka? Kamu kan suka yang lucu-lucu, kalau anak kamu di kasih ini pasti juga lucu." ucap nya pada gadis cantik itu.


Celine mengangguk pelan, ia tau putra-putra nya begitu lucu dan menggemaskan namun ia masih takut jika mendengar tangisan bayi-bayi mungil itu lagi.


...


Dua hari kemudian.


Apart.


Suara keran yang mengucurkan air bening itu dengan deras keluar dari wastafel berwarna putih abu yang mengkilap itu.


Pria itu berulang kali membasuh tangan dan juga hidung nya yang sering mengeluarkan cairan merah kental itu.


"Aku mengantuk, hari ini aku sudah ada tidur? Atau semalam?" gumam nya lirih yang bahkan tak ingat kapan ia tertidur dengan lelap di samping gadis nya.


"Kak?"


Suara yang dari luar mulai memanggil nya, membuat langsung membasuh wajah nya dan beralih dan kembali membilas hidung nya sejenak.

__ADS_1


"Kakak kenapa lama banget di kamar mandi?" tanya gadis itu pada sang kakak.


"Iya? Ada apa?" tanya pria itu yang mendekat ke arah gadis nya.


"Kakak kok pucat sih?" tanya Celine yang mengernyit sembari menatap wajah sang kakak.


"Kakak gak apa-apa, kamu kenapa tadi manggil kakak?" tanya Steve pada gadis nya.


"Yang datang ke apart kita banyak banget kak?" tanya Celine yang terheran-heran melihat 8 wanita dengan berbagai tentang umur 25-40 ke apart nya.


"Iya, mereka itu pengasuh Key, Rey, Fey sama Ken, jadi sekarang kamu jangan panik lagi urusin mereka." ucap nya pada gadis nya.


"Ada yang masih muda kak," ucap Celine menatap sang kakak.


"Terus?" tanya Steve yang bingung dengan pernyataan sang adik.


"Muda banget, nanti malah kakak yang suka." ucap nya pada pria itu.


"Lebih muda kamu lah," jawab pria itu tertawa kecil walau rasa nya ia ingin langsung tidur.


"Tapi apart kita penuh kak," ucap Celine yang tak begitu suka apart nya di penuhi dengan orang baru berbeda dengan mansion sang ayah dulu.


"Yauda nanti kakak buat shift untuk mereka, jadi mereka gantian jaga. Gak perlu datang sekaligus semua." ucap nya pada gadis itu.


Celine masih mengerucut, namun ia memilih untuk mempercayai ucapan sang kakak.


Cup!


"Makin sayang sama kakak!" ucap gadis itu tersenyum.


Steve tersentak, walaupun perlu kesabaran seperti dewa untuk menghadapi sikap manja gadis nya namun dengan satu kecupan mengalahkan semua nya.


Humph!


"Ih! Kakak!" ucap Celine yang semakin menyembunyikan wajah nya di dada bidang pria itu.


Steve tertawa, sekali lagi gadis nya membuat nya merasa semua yang ia lakukan tak sia-sia sama sekali.


Kini ke empat bayi mungil itu mulai berpindah tangan, namun tetap saja Steve tetap meminta gadis nya untuk memberi asi di 6 bulan pertama nya tampa boleh di ganti dengan susu formula.



"Kok mereka lucu?" tanya gadis itu lirih melihat putra-putra nya yang menggeliat setelah di pakaikan pakaian yang di pilihkan sang ayah.


"Lucu kan? Mereka kan anak kita, masa gak lucu." jawab Steve tersenyum melihat ke arah gadis nya.


"Kak?" panggil nya lirih.


"Hm?"


"Celine boleh pegang pipi mereka?" tanya gadis itu yang bahkan takut menyentuh putra-putra nya.


Bahkan saat memberi asi pun ia tak mau di tinggal pengasuh putra nya karna ingin langsung diambil saat bayi nya menangis.


"Boleh, kan anak kamu." ucap Steve yang menatap ke arah gadis nya yang seperti merasa takut, ia bisa mengkonsultasikan hal ini pada dokter yang menangani sindrom Baby blues gadis nya.


"Tapi Celine takut mereka nangis kak..." jawab nya lirih.


"Kan ada kakak, lagi pula kalau mereka nangis kan bukan berarti kamu yang salah? Kakak tau kamu gak mungkin nyakitin mereka..." ucap nya pada gadis itu walau ia tau gadis nya pernah hampir membunuh ke empat anak nya sekaligus.

__ADS_1


"Tapi..." ucap Celine lirih.


"Gak apa-apa, sini tangan kamu." ucap nya yang ingin mengarahkan pada baby Fey, namun belum sempat di arahkan ke putra ketiga nya malah tangan gadis nya di tangkap oleh putra kedua mereka.


Nyah...


Baby Rey tertawa melihat wajah sang ibu sembari memegang telunjuk yang penuh di genggaman mungil nya.


"Kak? Dia ketawa? Sama aku kak?" tanya Celine yang terkejut dan tak percaya.


Steve tak menjawab namun ia memberikan senyuman nya.


"Celine mau pegang lagi kak..." ucap nya yang mulai ingin menyentuh putra-putra nya lagi.


"Nanti pulang kakak kerja kita konsul lagi yah?" ucap Steve sembari mengecup kening gadis nya.


Celine mengangguk, ia kembali menatap bayi imut yang bagaikan boneka menggemaskan itu.


......................


Rumah sakit.


Seperti biasa Steve menunggu gadis nya melakukan konsultasi, walau memiliki beberapa perubahan walau tak banyak namun sudah ada kemajuan.


"Kak? Kita pulang yah?" tanya Celine yang mendekat ke arah sang kakak.


Steve kembali melihat ke arah gadis nya, ia merasakan cairan yang dingin kembali mengalir di hidung nya.


Kenapa dia terlihat jauh sekali?


Sesuatu yang berbayang membuat pria itu tak bisa melihat dengan jelas, sedangkan gadis yang berjalan ke arah nya terkejut setengah mati.


Bruk!


"Kak! Kakak!" panggil Celine yang mulai panik.


Untung nya ia masih berada di wilayah rumah sakit dan tentu nya segara menjalankan pertolongan medis.


...


Sang dokter sedikit bingung untuk bicara pada gadis yang hanya terus menangis itu.


"Kakak ku gak mati kan? Dia kenapa pingsan? Kak Steve itu jarang sakit..." ucap nya pada sang dokter sembari terus menangis.


"Yang pertama Kakak anda tidak mati tapi nyaris-"


"Huhu, kan..." tangis nya yang langsung membuat ucapan sang dokter terpotong.


Pria itu menarik napas nya sejenak, memang benar pria itu kini bisa baik-baik saja, namun pria tampan itu hampir meninggal karna serangan jantung akibat kelelahan.


"Saat ini kondisi nya baik-baik saja, tapi dia memerlukan istirahat yang cukup." ucap sang dokter.


"Terus kenapa sampai sekarang belum bangun?" tanya Celine lirih.


"Dia sedang tidur, kalau bisa saya tau perkiraan dalam satu hari berapa lama dia tidur?" ucap nya yang perlu mengkonfirmasi lagi.


Celine diam, ia ingat dalam beberapa hari terakhir tak pernah melihat sang kakak tertidur, saat ia ingin tidur sang kakak masih mengerjakan sesuatu dan saat ia bangun sang kakak tengah merawat putra nya ketika tak ada yang menjaga bayi-bayi nya.


"Itu..." ucap nya yang tak bisa menjawab.

__ADS_1


"Dia hanya tidur, kali ini biarkan dia tertidur dan bangun dengan sendiri nya." ucap sang dokter setelah melakukan pemeriksaan dan perawatan.


Memang kelelahan cenderung terdengar sepele namun siapa sangka jika hal tersebut yang membuat nyawa beberapa orang melayang akibat kerja jantung yang semakin berat dan pada akhirnya mengakibatkan kram otot dan kram jantung sehingga membuat seseorang dapat mengalami serangan jantung mendadak.


__ADS_2