Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Hello, World!


__ADS_3

2 Bulan kemudian.


Rumah sakit.


Pemulihan pria itu berjalan dengan lancar, ayah nya sesekali mengunjugi dan meminta nya untuk kembali ke Prancis namun pria itu menolak nya dan tetap memilih di Spanyol.


"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanya pria itu saat ia mulai bisa beraktifitas normal.


"Saya merahasiakan kondisi anda jadi para petinggi tidak tau tapi banyak yang berusaha mencari celah tetutama untuk proyek baru yang akan di buat," jawab sekertaris Jhon.


"Hm, apa yang mau coba mereka lakukan? Bukan nya kemarin sudah di ancam?" tanya Sean sembari menatap iPad yang berisi dokumen digital nya.


"Karna ancaman kemarin mereka mencoba rencana menyingkirkan anda," jawab sekertaris Jhon sedikit hati-hati.


"Dengan cara apa? Membunuh ku?" tanya Sean pada sekertaris nya.


"Benar tuan," jawab sekertaris Jhon karna beberapa kali mobil yang ia bawa hampir kecelakaan dan ia tau mereka mengincar atasan nya.


"Masalah kemarin juga di anggap salah satu dari mereka?" tanya Sean lagi.


"Benar, tapi anda bisa mengatakan siapa yang melakukan ini pada tuan, jadi saya bisa mengurus nya." jawab sekertaris Jhon.


"Biarkan saja, dia juga terluka, tapi gerakan nya dari awal memang niat membunuh ku, bukan lebih tepat nya dia memang mesin pembunuh dari awal," jawab pria itu dengan yakin.


Bukan sekali dua kali orang lain menginginkan nyawa nya, banyak yang ingin ia lenyap sebanyak relasi yang ia bangun.


Dan ia tentu tau mana orang yang normal dan mana yang seperti mesin pembunuh saat berhadapan langsung.


"Ainsley bagaimana?" tanya nya yang tak bisa menahan rasa penasaran nya.


Ia tau jika gadis itu sempat menyiapkan sesuatu untuk nya karna sekertaris nya tak mungkin sepeka itu pada apa yang membuat nya nyaman atau tidak.


"Masih sama, nona Ainsley masih dengan kekasih nya saat ini." jawab pria itu yang bicara berdasarkan apa yang ia lihat.


"Jangan pakai kosa kata 'Kekasih' membuat ku kesal saja," decak Sean tak suka.


"Baik tuan," jawab pria itu cepat.


Sean pun menyuruh pria itu keluar, ia meletakkan tablet nya dan berjalan mendekat ke jendela rumah sakit tersebut.


"Apa dia akan baik-baik saja?" gumam nya mengingat gadis yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Ia ingin mulai belajar melepaskan gadis itu namun entah kenapa hati nya tak bisa tenang jika gadis itu bersama dengan pria yang memilki sejuta kegelapan di balik nya.


Walau ia pun bisa di bilang hampir sama namun ia sadar adanya sedikit perbedaan diantara mereka.


Dan perbedaan nya adalah jumlah musuh dan sasaran kelemahan orang lain.


Walaupun pria itu nanti nya akan sangat mencintai mantan kekasih nya ia tau jika musuh pria itu lebih banyak dari nya atau mungkin lebih keji dari musuh-musuh nya.


Ia tau jika dirinya bukan lah pria yang benar-benar 'bersih' namun lingkungan nya tak sekotor pria yang menikam nya beberapa waktu lalu.


Karna biasanya musuh yang ia hadapi mengincar nya langsung di bandingkan orang sekitar nya jika tak ada maksud dendam berbeda dengan musuh pria itu yang seperti para predator dan mantan kekasih nya bagai kelinci menggemaskan di antara hewan buas.


"Ku harap kau bisa bertemu yang lebih baik," ucap nya yang sepenuh hati mengatakan nya.


Ia masih menyukai bahkan sangat suka, ia bisa melakukan apapun untuk gadis itu, namun kini entah kenapa ia hanya berharap agar gadis itu bisa tetap hidup.


......................


Dua Minggu kemudian.


Mansion Zinchanko.


Gadis itu menghabiskan semua jus seledri yang di berikan pada nya.


Richard meletakkan ke atas meja dan mengusap sudut bibir gadis itu.


Beberapa waktu lalu saat melihat pria itu meminum jus berwarna hijau itu ia merasa tertarik walaupun awalnya ia sangat membenci salah satu jenis sayuran tersebut.


"Pengaruh anak nya mungkin," jawab Ainsley pada pria itu sembari mengelus perut besar nya.


Richard tersenyum, ia mengusap perut yang tengah membesar itu dengan pelan, "Dia mau seperti Daddy nya?"


Deg!


"Tidak! Dia akan seperti ku!" ucap Ainsley segera.


Pria itu tak membalas apapun ia hanya tersenyum saja.


...


Televisi yang mulai menampilkan acara membosankan membuat nya berniat mematikan nya hingga tangan nya terhenti saat melihat wajah pria tak asing bagi nya.

__ADS_1


Ia tersentak dan terpaku sejenak namun kemudian tersenyum tipis dengan hati yang mulai hambar melihat nya.


"Kau merindukan nya?"


Gadis itu terkejut saat mendengar suara yang tiba-tiba terdengar di telinga nya.


"Paman?!" ucap nya terkejut.


"B'One juga punya sekolah di sini? Tapi kenapa mereka tidak tau anak nya masih hidup?" tanya Richard pada gadis itu.


Ainsley tak menjawab ia melihat pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu tersenyum sembari memberikan beberapa penghargaan pada anak-anak berbakat yang berada di naungan B'One group.


Karna keluarga nya yang bergerak di bidang seni dan pendidikan tentu nya cabang yang berada Spanyol menyangkut tentang seni musik.


"Padahal dia tidak pernah tersenyum seperti itu pada ku," gumam nya miris melihat wajah sang ayah yang tersenyum di layar kaca sedangkan selalu menatap nya dingin.


Richard melihat gadis itu yang terlihat sendu, "Apa kau mau aku bunuh dia saja?" tanya pria itu tanpa basa basi.


"Apa?!" Ainsley terkejut dengan tawaran pria itu, "Jangan! Walaupun aku tidak suka tapi tidak mungkin sampai mau dia di bunuh! Dia kan juga orang tua ku!"


"Kau masih menyayangi mereka? Bukan nya mereka sudah membuang mu?" tanya pria itu, walaupun gadis di samping tak pernah mengatakan apapun tentang keluarga nya namun ia yang mencari tau sendiri.


"Tidak, aku tidak benci dan juga tidak sayang lagi, aku sudah tidak berharap apapun dari mereka." jawab gadis itu tersenyum pahit.


"Lalu kenapa kau mau kembali?" tanya Richard sembari menatap ekspresi yang bahkan tak ia mengerti.


"Karna Ibu ku yang sekarang, seperti yang paman bilang mereka pasti akan tau aku masih hidup kan? Jadi sebelum ada masalah aku mau kembali lebih dulu, walaupun mungkin harapan mereka bukan itu." jawab Ainsley dengan lirih.


Setiap kali ia membayangkan akan kembali semua perkataan kasar terdengar lagi di telinga nya.


Kata-kata yang selalu di ucapkan sang ibu agar ia mati saja dan tak harus nya lahir.


Sikap sang ayah yang selalu meremehkan nya dengan semua usaha maksimal yang ia lakukan sehingga apapun yang ia kerjakan tak pernah cukup.


"Mungkin tidak," jawab Richard singkat.


Ia tau karna Michele sama sekali tak mendaftarkan kematian putri nya walaupun sudah hilang selama bertahun-tahun.


"Entahlah tapi - Auch!" ringis nya saat merasakan kontraksi di perut nya yang tiba-tiba merasakan sakit.


"Ainsley? Ada apa?" tanya pria yang melihat gadis itu meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Ti-tidak tau! Tapi sakit..." ringis nya sembari menarik kemeja pria tampan itu hingga melepaskan dua kancing nya.


Pria itu pun tanpa menunggu waktu lama langsung bergegas menggendong Ainsley membawa nya ke tempat yang seharusnya, jantung nya berdegup dengan kencang entah mengapa ia merasa gugup, takut, khawatir secara bersamaan.


__ADS_2