Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Ku harap kau mati saja


__ADS_3

4 Bulan kemudian.


Richard menghentikan beberapa pekerjaan dan perebutan yang tengah ia lakukan guna mengurangi perselisihan yang terjadi pada nya.


Ia tersadar saat semua musuh nya mulai mengetahui kelemahan nya dan hal itu membuat nya lebih berhati-hati karna kehamilan gadis itu.


"Kau sudah coba pakaian yang baru ku beli?" tanya pria itu saat melihat gadis itu yang tengah mengusap kelinci yang berada di mansion nya.


"Sudah," jawab Ainsley singkat.


Walaupun sudah beberapa bulan berlalu namun entah kenapa ucapan mantan kekasih nya begitu terngiang di kepala nya.


Bahagia?


Ia bahkan bingung dengan perasaan nya, hubungan nya dengan mantan kekasih nya masih berlanjut, walau kini sudah berganti dengan hubungan pertemanan namun tak pernah sampai memiliki hubungan yang lebih dalam.


"Aku mau lihat, aku belum lihat kan?" ucap pria itu sembari ikut duduk di sebelah gadis itu.


"Paman mau itu kan? Paman lupa? Sekarang kita kan tidak ada hubungan apa-apa lagi, kita masih terikat cuma karna ada anak ini," ucap Ainsley mulai menghindar.


"Kita kan juga tidak pernah melakukan nya lagi kan? Sejak yang waktu itu? Sekarang pasti anak ku mau bertemu Daddy nya." ucap Richard pada gadis itu.


"Tidak! Mau itu kan?! Kita ini kan tidak ada hubungan apapun lagi!" ucap nya sembari bangun dan pergi.


Richard diam melihat gadis itu yang pergi menghindari nya.


...


Pukul 07.35 pm.


"Ayo makan malam," ajak Richard pada gadis itu.


Sikap gadis itu sering berubah-ubah dan sering marah saat perasaan nya sedang tak nyaman.


"Aku tidak mau makan sama paman," ucap nya sembari membuang wajah nya.


Richard menghela napas nya, "Kau kesal karna tadi siang? Kalau kau tidak mau aku juga tidak menyentuh mu kan?"


"Tidak ada, aku kesal aja sama paman!" jawab gadis itu sekali lagi.


"Kau sudah coba teh mu? Kau bilang mau teh mawar kan tadi?" tanya Richard pada gadis itu.


Ainsley melirik teh yang di siapkan untuk nya tangan nya meraih dan mengambil nya, lalu.


Prang!


"Sekarang aku tidak mau lagi," ucap Ainsley sekali lagi.


"Jadi kau mau nya apa?" tanya Richard yang masih berusaha bersabar dengan sikap gadis nya.


"Paman pergi! Aku mau makan tapi kalau makan sama paman tidak bisa! Kalau paman tidak mau pergi antar aku pulang aja!" sentak nya dengan nada kesal.


"Baik aku pergi, makan yang banyak, kalau ada yang tidak sesuai minta pelayan menggantinya." ucap Richard dan berbalik pergi.


Ainsley diam ia menatap pria yang mengikuti permintaan tak sopan nya, tangan nya menggenggam erat sendok yang ia pegang.


"Seperti ini lebih baik..." gumam nya lirih.


...


Prang!


"Aku bilang jangan kesini kan?!" teriak nya sembari melempar vas yang berada di dekat nya saat melihat pria itu masuk ke kamar nya.


"Aku hanya mau melihat mu, bukan tidur di sini." ucap Richard sembari melihat pecahan keramik di bawah kaki nya.


"Aku mau pulang! Aku tidak mau di sini!" balas Ainsley yang terlihat kesal dan mulai menghancurkan barang-barang yang berada di kamar mewah tersebut.


Richard mendekat ia menangkap tangan kecil itu serta menatap tajam ke arah gadis itu yang kelakukan nya semakin menjadi dari hari ke hari.


"Berhenti!" bentak nya seketika membuat gadis itu membeku beberapa saat.


"Seharusnya seperti ini," ucap nya lirih.


"Kau mau aku marah?" tanya Richard mengernyit.


Ainsley menggeleng, "Aku mau paman tidak suka aku lagi," jawab nya lirih.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa ka-"


"Kalau aku melahirkan paman juga tak mau melepaskan ku kan?" Potong Ainsley segera.


"Kau masih suka pria itu kan?" tanya Richard sembari mulai menggenggam erat tangan mungil itu.


"Makanya paman jangan suka aku! Aku tidak balas perasa-"


"Ainsley!" panggil nya segera.


"Kita masih terikat cuma karna anak ini, bukan yang lain, jadi..." ucap Ainsley dengan suara bergetar.


Greb!


Ia menarik gadis itu dalam pelukan nya, memeluk nya erat walaupun tubuh mungil itu tengah memberontak.


"Kalau begitu kau seperti ini saja, aku tak masalah, aku suka semua sikap mu." gumam nya sembari memeluk tubuh gadis itu.


Dia harus mati, kalau dia mati tidak akan ada yang menganggu hubungan ku!


"Setelah anak ini lahir kita tidak akan ada hubungan apapun kan?" tanya nya lirih saat ia mulai berhenti memberontak.


Richard tak menjawab namun masih memeluk gadis itu dengan erat lalu perlahan melepaskan nya.


Humph!


Mata Ainsley membelalak, ia berusaha melepaskan pangutan bibir nya saat tengkuk nya terus di tahan oleh tangan pria itu.


Hah...hah..hah...


Richard melepaskan pangutan nya yang mendadak namun membuat gadis itu tak bisa bernapas.


"Akan ku pikirkan setelah anak kita lahir," ucap nya sembari menatap wajah gadis yang tengah tersengal-sengal tersebut.


"Kan! Bukan nya waktu itu paman janji nya tidak begini? Setelah anak ini lahir kita tidak akan ada hubungan lagi!" ucap Ainsley.


Bukan nya ia yang tak ingin di cintai namun memiliki hubungan yang hanya cinta sepihak tak akan membuat kebahagian namun akan membuat nya terluka dan juga melukai perasaan pria itu.


"Makanya jangan terus mengungkit nya, dan jangan terlalu sering marah," ucap nya sembari menunduk melihat perut yang mulai membuncit tersebut.


"Anak kita bisa terkejut," sambung nya dengan nada rendah yang lembut sembari mengusap pelan perut yang sudah mulai membulat itu.


"Besok aku akan mengantar mu," jawab pria itu sembari mengantar gadis itu ke tempat tidur nya.


Auch!


Ringis Ainsley saat tendangan dari calon bayi nya yang mulai aktif bergerak.


"Sakit? Anak nya nakal?" tanya Richard saat melihat gadis itu meringis.


Ia pun menidurkan gadis cantik itu dan mengelus perut membulat itu dengan lembut dan pelan.


"Anak nya harus mirip aku! Jangan jadi kayak paman!" ucap Ainsley pada pria itu.


"Memang nya aku kenapa? Aku tidak merasa ada yang buruk," jawab Richard sembari menoleh melihat dirinya dari pantulan kaca jendela.


"Tapi kalau mirip dengan mu juga tidak apa-apa, tapi lebih baik kalau perempuan mirip dengan mu kan menggemaskan," ucap Richard tersenyum.


"Tidak! Ini aja!" jawab Ainsley segera.


Ia sudah menjalani USG yang menunjukkan jika calon anak nya adalah laki-laki, walau tak ada yang salah jika mirip ayah nya namun ia tak mau anak nya menurun perilaku kejam sang ayah yang tak begitu menganggap berharga makhluk bernyawa.


"Tapi kalau adik nya kan jadi ramai, kau tidak mau punya anak perempuan?" tanya pria itu.


"Paman aja! Nanti sama istri paman," jawab Ainsley segera.


"Memang nya kau tau siapa yang akan jadi istri ku?" tanya pria dengan smirk nya.


"Tidak tau! Tidak mau tau juga!" jawab Ainsley yang tak ingin ambil pusing.


"Perut mu sering sakit?" tanya Richard mengganti topik.


"Iya, belakangan ini tapi ini udah mulai membaik," jawab Ainsley saat memikirkan kapan perut nya sering nyeri.


"Karna dia mau sama Daddy nya, tapi Mommy nya marah-marah terus makanya dia marah, sekarang aku di sini dia tenang kan?" tanya Richard sembari terus mengusap perut yang tengah berada calon anak nya di dalam.


Ainsley diam dan melihat ke arah perut nya, calon pangeran kecil memang tak rewel saat ini dan tak membuat nya sakit saat Richard mengelus nya.

__ADS_1


"Tidak ada pengaruh, tuh!" elak nya sembari menepis tangan pria itu.


Richard tersenyum dan tetap kembali mengelus perut bulat itu, "Tidur, dia tidak akan rewel lagi."


ucap nya sembari menunjuk dengan wajah ke arah perut gadis itu.


Ainsley tak berniat untuk tidur namun, entah karna anak nya merasa nyaman sehingga membuat nya mulai terasa kantuk dan tertidur.


...


Suara deru napas yang terdengar beradu malam itu.


"Kau mengajak ku keluar untuk seperti ini?!" tanya Sean sembari mengusap darah dari sudut bibir nya.


"Aku keluar untuk membunuh mu," jawab pria itu enteng, "Kau lumayan juga." ucap nya sembari merasakan cairan merah kental yang keluar dari hidung nya.


"Pakai ini, kita punya masing-masing satu." sambung nya sembari melempar satu pisau pada pria itu.


Sean mengambil nya, ia mengernyit namun tak sempat untuk bingung karna kembali di serang lagi.


Set!


Tubuh nya menghindar dari pisau dan ia juga melayang kan pisau nya ke arah pinggang Richard.


"Sasaran mu bagus, tapi kau tidak terlatih dalam membunuh orang," ucap pria itu yang mulai menggunakan pisau nya dan menusuk pria itu.


Dusk!


Ia mulai memutar pisau nya, ia akui mungkin jika bukan pembunuh yang sangat terlatih tak akan mampu membunuh mantan kekasih gadis yang ia sukai itu.


"Aku ingat malam ini, ini pertama kali nya aku terluka karna bertarung dengan orang lain sejak 7 tahun yang lalu." ucap nya sembari memutar pisau yang masih bersarang dalam perut Sean.


"Si*l! Kep*rat!" umpat pria itu sembari berusaha menahan pisau di perut nya walau semakin memutar dan dalam.


Tes...


Rasa sakit mulai menjalar, darah segar yang keluar semakin deras dari tubuh nya.


"Sayang sekali kita harus bermusuhan," ucap Richard, "Tidak apa, aku akan menjaga nya mulai sekarang."


Sean mulai kehilangan keseimbangan nya sebanyak darah yang ia keluarkan, Richard pun menarik pisau nya hingga memancarkan semua cairan merah kental itu.


Crass!


Bruk!


"Kau hanya kurang sedikit pengalaman lagi," ucap Richard sat melihat pria itu jatuh.


Ia yang sudah diajarkan membunuh sejak kecil oleh ayah nya yang kejam tentu nya memliki beribu pengalaman yang menghilangkan nyawa orang lain, namun ia juga sedikit merasakan yang berbeda dari mantan kekasih gadis nya.


Pria yang bertarung dengan nya saat ini, memiliki ketahanan yang lebih kuat, dan jika saja pria itu di besarkan dengan cara yang sama seperti nya yaitu mesin pembunuh sejak kecil mungkin saja ia yang saat ini berbaring di tanah.


Pandangan nya mulai mengabur, ia kembali melihat semua kilasan yang dulu ia lihat saat kecelakaan nya.


Ainsley?


Padahal aku ingin menemui lagi...


Sekarang kau sudah bahagia?


Seperti keinginan dulu?


Apa ini bayaran ku karna semua yang ku lakukan dulu.


Richard bangun, dan menatap ke arah pria yang sudah tak sadarkan diri itu. Ia terluka namun tak separah Sean.


"Kalau kau bisa selamat kali ini, aku tak akan melakukan hal seperti ini lagi, tapi ku harap kau mati dengan tenang saja." ucap nya dan berlalu meninggalkan pria itu sebelum matahari terbit dan orang-orang mulai kembali beraktifitas.


...****************...


Maaf yah kalau othor nya sekarang up nya agak jarang, apa lagi yang novel sebelah๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Karna othor nya lagi UAS dan sedang gencar nya bimbingan sama dosen biar proposal lancar, makanya waktu nya banyak berkurang apa lagi tugas juga makin banyak๐Ÿ™๐Ÿ™


Makasih buat pendukung dan readers yang membaca cerita othor semoga kalian sehat selalu yah๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


Salam penuh luv dari othor๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


Happy Readingโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธ


__ADS_2