
3 Hari kemudian.
Keadaan pria itu mulai membaik, karna ia yang memang memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat dari kebanyakan orang lain.
Richard hampir membuka mata nya namun ia melihat sesuatu yang harus nya tak bisa ia lihat saat ini.
Apa yang dia lakukan?
Batin nya yang mulai membuka mata nya perlahan namun menjadi semakin jelas.
Tubuh yang putih dan indah itu kini polos di hadapan nya namun setelah itu perlahan memakai pakaian nya kembali.
Dia mengganti pakaian? Mau menyiksa ku?
Batin nya yang jika ia tak akan sanggup menahan hasrat yang besar jika melihat tubuh polos yang candu itu.
Ainsley tak sadar, selesai mandi ia memang memilih berganti di kamar di bandingkan ruang ganti atau di kamar mandi karna ia merasa pria itu masih terlelap.
...
"Mau makan dulu?" tanya Ainsley pada pria itu sembari duduk di tepi ranjang nya.
Richard tersenyum, walau hanya perhatian sekedar merasa bersalah namun ia begitu menyukai nya, hanya saja luka nya yang semakin membalik membuat nya belum puas mendapatkan perhatian gadis itu.
"Ada yang ingin ku makan," bisik nya sembari menarik gadis itu mendekat pada nya.
"Apa itu?" tanya Ainsley sembari menatap mata yang hanya beberapa jarak dari nya.
"Kau akan memberikan nya?" pria itu menunjukkan smirk nya, tangan nya memegang dagu gadis itu.
"Apa itu makanan yang sulit? Kalau sejenis makanan ringan penutup mungkin aku bisa buat," ucap nya yang sadar jika ia memiliki kemampuan memasak makanan sejenis cake.
"Bukan, makanan yang manis tapi aku suka." jawab pria itu tersenyum.
Ainsley mengernyit, yang ia dengar pria itu tak suka makan makanan manis.
"Kau kan tidak suka makan makanan manis?" tanya nya yang bingung.
"Benar, tapi yang ini bisa membuat ketagihan." ucap nya dengan suara menggoda gadis itu.
"Apa? Jangan bilang yang paman narkotika?" tebak Ainsley yang tak bisa memikirkan sesuatu yang lain yang bisa membuat kecanduan dan merasa tagih selain benda ilegal itu.
"Panggil nama ku, bukan paman. Kau tau aku tidak suka kan?" tanya Richard sembari menyelipkan rambut ke balik telinga gadis itu.
"Iya, aku tidak terlalu terbiasa." jawab Ainsley lirih pada pria itu.
"Kalau begitu panggil nama ku sekarang, aku mau dengar." ucap nya tersenyum sembari mengelus wajah halus dan lembut gadis itu.
"Richard?" panggil nya lirih.
Cup!
"Hm, seperti itu." jawab nya tersenyum sembari mengecup bibir gadis itu.
"Kalau begitu berikan makanan ku sekarang," bisik nya setelah mengecup bibir merah muda itu.
"Apa?" tanya Ainsley lirih.
"Kau, aku ingin memakan mu." jawab pria itu tersenyum.
"Memakan ku?" tanya Ainsley mengernyit, bahkan saat ia sudah memiliki anak, ia belum bisa mengenal semua istilah pria tampan itu.
"Benar, melahap mu sampai habis." ucap Richard sembari menelusuri wajah gadis itu dengan tangan nya yang kemudian turun hingga menari di leher jenjang gadis itu.
Ainsley perlahan mengerti, ia langsung menepis tangan pria itu.
"Tidak! Kau kan sedang sakit! Tidak boleh banyak bergerak!" jawab Ainsley yang menolak dengan alasan yang ada di depan mata.
Richard tersenyum mendengar nya, tentu ia tau gadis itu pasti akan menolak nya.
"Kalau begitu kau yang bergerak," jawab nya tersenyum.
Ainsley tersentak, wajah nya langsung memerah seketika mendengar ucapan pria itu.
"Ma-mana bisa begitu!" ucap nya segera.
"Bisa! Kau kan pernah melakukan nya waktu itu, Spanyol? Kau ingat? Kau duduk di atas sini," ucap nya sembari menunjukkan bagian tengah paha nya.
Rona wajah Ainsley semakin merah padam, ia memang pernah melakukan nya sewaktu ia masih memiliki identitas Calesta dan tak mengingat apapun.
"Tapi kan sama aja! Kau juga bergerak dari bawah!" jawab nya dengan wajah yang merah padam dan tak bisa menatap mata pria itu.
"Makanya kali ini kau yang bergerak, aku akan melihat nya dari bawah saja." ucap Richard tersenyum.
"Ti-tidak! Aku tidak bisa!" jawab Ainsley gugup, ia pun langsung beranjak ingin pergi namun pria itu langsung mencegah nya.
"Lalu aku yang harus lakukan?" tanya Richard sembari memegang erat tangan gadis itu agar tak kabur.
"Jangan lakukan! Kan bisa!" jawab Ainsley segera.
"Tapi aku harus melakukan nya, kau tidak lihat di sini?" tanya nya sembari meletakkan tangan gadis itu di atas sesuatu.
Mata Ainsley membulat, ia merasakan sesuatu yang bangun dari pria itu.
"Kenapa? Kan kita tidak melakukan apapun?" tanya Ainsley mengernyit.
"Kau tidak sadar apa yang kau lakukan tadi pagi? Aku melihat saja tanpa menyentuh rasa nya benar-benar membuat ku gila." ucap nya sembari mengingat pemandangan pagi nya.
"Memang nya tadi pagi apa yang ku lakukan?" tanya Ainsley yang tak merasa melakukan apapun untuk membangkitkan hasrat pria itu.
"Mengganti pakaian di depan ku, dan sekarang kau lihat apa yang telah kau perbuat." ucap nya sembari membuat tangan gadis itu menyentuh sesuatu.
"Kan aku tidak tau..." jawab Ainsley yang baru sadar jika pria itu sudah bangun tadi pagi.
"Sekarang kau harus tanggung jawab, kalau seperti ini juga tidak baik untuk luka ku dan lagi kau tidak tau kan? Seberapa sakit nya yang kurasa?" tanya Richard pada gadis itu.
Ainsley tak mengerti, ia hanya mempelajari apa yang di berikan pada nya, dan bahkan dari segi pergaulan sosial ia juga sudah terbatas dari dulu.
"Kalau dia membesar begitu memang nya sakit? Kalau begitu kenapa punya paman besar? Ganti yang kecil aja kan bisa!" ucap nya dengan wajah sungguh-sungguh.
"Atau sekalian jangan di besarin!" sambung nya segera.
Richard terdiam, biasanya wanita suka ukuran yang memuaskan tapi gadis di depan nya malah ingin di kecilkan?
"Kan kau yang mer*ngsang ku, itu bukan hal bisa ku hentikan." ucap Richard.
"Kau harus tanggung jawab, kalau tidak mungkin kesehatan ku akan memburuk lagi, kau tau luka ku belum sembuh kan?" sambung nya pada gadis itu.
"Maka nya istir-"
"Kau bisa membantu ku kan? Kau tau dia tidak akan kembali normal sebelum itu kan? Kau kan bisa bergerak jadi aku akan mengurangi gerakan ku." bujuk pria itu pada gadis yang terlihat bingung di depan nya.
"Atau kau mau coba pakai ini?" tanya Richard sembari menyentuh bibir lembut gadis itu.
"Jangan keluarin di dalam yah, aku tidak suka rasanya." ucap Ainsley yang seperti tak memiliki cara lain.
__ADS_1
Richard tersenyum, ia pun perlahan menarik pakaian itu.
"Kenapa pakaian ku di buka?" tanya Ainsley yang menolak saat tangan pria itu ingin melucuti nya.
"Kau tau kan? Aku paling suka melihat mu tidak memakai apapun." ucap Richard tersenyum dengan penuh arti.
Ainsley masih tak ingin namun dengan begitu banyak alibi yang pria itu berikan membuat nya tak bisa menolak lagi.
"Ssh..." pria itu mendesis ia menekan kepala gadis itu hingga membuat nya hampir tersedak.
Mata Ainsley berair, ia ingin terbatuk namun tak bisa, rasa nya ia hampir lelah namun semua seperti tak ada guna nya sama sekali.
Ukh!
Ia terkejut, namun tak bisa mengatakan apapun saat mulut nya masih penuh akan sesuatu yang membuat nya bungkam.
Namun ia dapat merasakan sesuatu yang menggelitik dan masuk pada nya membuat nya merasakan hal yang lain.
Richard melepaskan tangan yang menahan kepala gadis itu, walau sedikit sulit meraih yang lain namun ia tau jika gadis itu juga mulai merasa sedikit lebih baik.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya nya sembari melihat jari tangan yang di letakkan pada nya.
"Tidak terlalu jauh, jadi masih bisa di raih." jawab Richard enteng dan perlahan melepaskan nya.
"Aku masih belum selesai, tapi kau sudah terlihat lelah, bagaimana kalau kita gunakan yang di bawah saja?" tanya pria itu dengan senyuman nya.
Ia hampir kelepasan beberapa kali namun ia menahan nya karna ingin melahap gadis itu.
"Lagi pula kau juga sudah siap kan?" sambung nya sembari menunjukkan jemari nya yang basah.
Wajah Ainsley memerah, ia menghindari tatapan pria tampan itu, namun Richard menarik nya lebih dulu.
"Sekarang duduk," ucap nya dengan suara berat.
Ainsley diam, kalau ia duduk berarti mereka akan segera menyatu.
"Kau bisa membantu ku kan? Atau mau tukar saja posisi nya? Tapi luka ku..." ucap nya lirih sembari meletakkan tangan gadis itu di atas balutan luka di perut nya.
Ainsley diam sembari menetap pria itu, Richard tak mengatakan apapun selain menunjukkan senyum nya ia memposisikan bagian yang tepat dan tiba-tiba langsung menekan bahu gadis itu agar langsung turun.
Ungh!
"Sekarang kau bisa bergerak," bisik nya lirih di telinga Ainsley.
Tangan nya yang perlahan membantu memegang pinggang ramping gadis itu, dan kemudian menggerakkan nya lebih dulu.
Hawa yang semakin panas mulai terasa, seperti lilin yang meleleh dan tak bisa di hentikan.
Mencapai sesuatu yang sama bersamaan lalu menjatuhkan tubuh nya di samping pria yang memliki aroma lavender di tubuh nya.
"Kenapa melihat ku terus?" tanya Ainsley saat pria itu terus menatap dekat di samping nya.
"I Love you..." jawab nya lirih yang tak berhubungan dengan pertanyaan yang baru di katakan.
Ainsley tak membalas ataupun menjawab nya, ia pun memposisikan dirinya saling berhadapan dengan pria yang berbagi selimut dengan nya saat ini.
"Luka nya tidak sakit, kalau tidur nya miring seperti itu?" tanya nya sembari melihat wajah pria itu dari dekat.
"Ku pikir tidak, aku bisa melihat mu lebih jelas jika seperti ini." jawab pria itu dengan nada rendah.
Ainsley ingin segera lari dari topik yang tengah terjadi, "Ini bekas luka?" tanya nya sembari menyentuh ujung alis pria itu.
"Hm,"
"Wanita yang ku benci yang melakukan nya," ucap Richard si singkat.
"Wanita? Richard kan kuat," ucap Ainsley terkejut dan tau jika pria itu tak mungkin kalah dari wanita.
"Ini luka waktu umur 6 tahun, ibu yang membuat nya." ucap nya pada gadis itu.
Ainsley tersentak, "Kenapa?"
"Karna aku tidak sesuai yang dia inginkan, dan aku juga tidak punya uang untuk mengobati nya dulu." ucap pria itu, tentu nya hal tersebut membuat gadis di depan nya terkejut.
"Ibu ku pel*cur, dan sampai umur ku 8 atau 10 tahun aku di besarkan di tempat seperti itu, aku juga tidak punya nama, nama ku ada setelah dia menjual ku." ucap pria itu tersenyum.
Ia mengatakan hal tersebut bukan untuk menarik simpati namun itu adalah masa lalu nya.
"Dengan siapa?" tanya nya Ainsley lirih.
"Seseorang yang mungkin ku panggil Ayah?" jawab nya tersenyum.
"Ayah mu? Ayah kandung?" tanya Ainsley lagi.
"Iya, tapi dia juga bukan orang lebih baik." jawab pria itu yang terlihat biasa saja.
"Kenapa?"
"Karna dia hanya memerlukan monster, mesin pembunuh yang berkerja untuk nya." ucap pria tersenyum.
"Ayah mu yang memberi nama?" tanya Ainsley lagi.
"Iya, nama ku dia yang berikan waktu membeli ku." jawab Richard pada gadis itu.
Ia dulu memang tidak peduli ayah nya ingin menjadikan nya apa, ataupun membentuk nya seperti apa.
Ia hanya tak ingin di pulang kan lagi pada ibu nya, dan kembali ke tempat yang bahkan membuat nya jijik saat ia tak mengerti apapun, maka dari prespektif nya pada wanita sangat rendah dulu nya.
"Ini bukan cerita yang menyenangkan, tapi kenapa kau tersenyum?" tanya Ainsley mengernyit.
"Karna aku tidak punya alasan untuk menangis," ucap nya yang semakin tersenyum.
Dengan cara hidup yang seperti itu tentu nya membuat pola pikir nya dan kepribadian nya berbeda dari orang lain.
Ainsley mengernyit, tak ada kesedihan melainkan rasa puas di mata pria itu walaupun memiliki masa lalu yang kelam.
"Mereka sudah mati," sambung Richard pada gadis itu sembari bergerak dan merangkul tubuh mungil yang langsung hilang jika ia memeluk nya.
"Karna aku yang membunuh mereka," sambung nya di telinga gadis itu saat ia merangkul tubuh kecil yang menggemaskan itu.
Deg!
Mata Ainsley membulat seketika mendengar nya, pria itu bahkan membunuh kedua orang tua nya sendiri, walaupun ia juga membenci orang tua nya namun ia tak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup orang tua nya.
"Kau terkejut? Tapi kau tau? Dia tak terkejut sama sekali. Waktu aku membunuh ayah ku dan saat dia meregang nyawa, kau ingin tau apa yang dia bilang?" bisik nya pada gadis itu.
"Aku membuat monster yang sempurna, itu yang dia katakan." sambung nya di telinga gadis itu.
Pria itu pun dengan lembut mengelus punggung halus gadis itu, ia tak menyesal sama sekali karna ia memang monster yang sengaja di ciptakan oleh orang-orang yang menghadirkan nya di dunia.
"Sekarang tidur, kau lelah kan?" bisik nya dengan lembut di telinga Ainsley.
......................
__ADS_1
Satu bulan kemudian.
Richard kini sudah membaik sepenuh nya, setelah hari dimana ia mengatakan sepercik masa lalu nya gadis itu terlihat takut.
Namun ia hanya perlu menunjukkan jika ia tak akan membahayakan gadis itu dan membuat nya percaya.
Setelah dari butik gaun pengantin, Ainsley meminta pria itu untuk berkunjung ke toko perlengkapan anak lebih dulu.
Untuk apa lagi selain membelikan sesuatu bagi putra kesayangan gadis itu.
"Kau mau beli topi untuk Axel?" tanya Richard pada Ainsley.
"Hm, dia imut kalau pakai seperti itu." jawab Ainsley tersenyum.
Semua yang berkaitan dengan putra nya membuat nya bersemangat.
Pria itu tersenyum, ia senang jika gadis itu jugq merasa senang, "Apa aku harus beli toko nya saja?" bisik nya di telinga Ainsley.
"Jangan! Axel juga ga bisa pakai semua nya!" jawab Ainsley langsung.
Pria itu hanya tersenyum dan tertawa kecil.
Tak lama kemudian seorang wanita pun datang setelah melihat pria yang dulu pernah melakukan hal yang jahat pada nya.
Namun ia mengejar gadis di samping pria itu lalu meraih tangan nya, "Kenapa kau ada di sini dengan nya? Di toko bayi?!" tanya wanita dengan sorot mata yang penuh akan amarah.
"Karna aku mau beli barang bayi..." ucap Ainsley terkejut.
Richard pun datang sembari membawa sepatu biru menggemaskan di tangan nya.
"Ini cocok untuk Axel?" tanya nya yang langsung mengernyit melihat wanita cantik yang tengah mencengkram tangan gadis nya.
"Siapa kau?" ucap nya dengan tajam dan langsung menepis tangan wanita itu, ia sudah lupa dengan wanita di depan nya.
"Kau punya anak sekarang?" tanya wanita itu terlihat marah.
"Apa urusan nya dengan mu?" tanya Richard dengan tatapan tak suka dan asing.
Wanita itu mengepalkan tangan nya, "Kau bilang kau tidak mau punya anak! Maka nya kau membunuh anak mu dulu!"
Ainsley tersentak, "Maksud nya?"
"Kau tidak tau? Pria di samping mu ini, tidak punya air mata dan darah! Dia bahkan menembak darah daging nya sendiri dengan tangan nya." ucap wanita itu yang merasa marah.
Richard mengernyit, ia pun ingat sesuatu. Beberapa wanita yang dulu datang pada nya dalam keadaan hamil atau pun sudah melahirkan namun ia tak akan menerima nya.
Jika hamil ia akan memberikan kompensasi dan mengugurkan nya, lalu jika sudah membawa anak maka ia akan membunuh anak nya dan lalu memberikan kompensasi.
"Kau salah satu wanita itu? Bukan nya kau sudah dapat kompensasi?" tanya Richard dengan wajah datar dan tak merasa bersalah sedikit pun.
"Tapi kau tak merasa bersalah?" tanya wanita itu dengan kesal.
Richard hanya membuang napas nya, lalu menarik Ainsley menjauh.
"Ayo pergi, jangan dengarkan orang yang tak waras." ucap nya lalu memanggil keamanan di tempat itu dan segera beranjak pergi.
Selama perjalanan kembali ke mansion Ainsley terdiam dan membeku.
Ia terkejut, pria itu pernah membunuh kedua orang tua nya dan bahkan darah daging nya sendiri.
"Kau tidak ingat siapa wanita tadi?" tanya Ainsley lirih membuka suara di dalam mobil.
"Apa aku harus ingat dengan semua wanita yang ku tiduri?" tanya pria itu mengernyit sembari menatap sekilas wajah gadis itu.
"Kenapa kau membunuh nya? Anak itu kan tidak salah apapun?" tanya Ainsley lirih dengan suara gemetar.
"Tapi dia kan cuma kesalahan, aku sudah mengatakan kalau aku tidak mau punya keturunan apapun dari mereka, makanya aku memberikan kontrasepsi ." jawab nya datar.
Ia tak suka memakai pengaman, dan semua wanita yang dulu ia tiduri juga hanya untuk bersenang-senang seperti prespektif yang di bangun orang tua nya dan tempat di mana ia tumbuh hingga tak memiliki hati nurani.
Ia juga sudah menyiapkan pencegahan agar para wanita yang tidur dengan nya tak hamil namun para wanita itu yang mungkin dengan alasan suka atau ingin meraih posisi yang tinggi lah yang ingin mengandung anak pria itu dan berharap agar hati pria itu luluh.
"Kalau begitu kenapa dia bisa hamil?" tanya Ainsley lagi.
"Karna dia melepaskan kontrasepsi yang ku berikan, jadi itu bukan salah ku kan?" tanya Richard yang bagi nya ia sudah cukup menjaga agar tak meninggalkan bekas berhubungan.
"Tapi tetap saja, dia kan anak mu..." ucap Ainsley lirih.
"Aku sudah berikan kompensasi dan dia menerima nya, kenapa kau memikirkan sesuatu yang tidak penting?!" tanya Richard yang tak suka pembahasan gadis itu.
"Lalu Axel? Kau juga akan membunuh nya nanti?!" tanya Ainsley yang terlihat marah.
"Tidak!" jawab nya dengan cepat.
"Kenapa? Aku bisa percaya kata-kata mu?!" tanya Ainsley dengan nada yang meninggi dan gemetar sekaligus.
Richard pun menepikan mobilnya dan menghentikan nya.
Ia membuka seat belt nya dan meraih gadis itu mencengkram kedua sisi bahu gadis itu agar bertatapan pada nya.
"Aku tidak akan melakukan nya, sudah ku bilang kan dia anak ku! Anak ku dengan mu! Jadi berhenti berpikir kekanakan seperti ini!" ucap nya dengan penuh penekanan.
"Kekanakan? Apa jaminan nya kau tidak akan berubah? Lalu kenapa Axel berbeda?" tanya Ainsley yang mulai ragu.
"Tentu saja karna kau! Karna aku mencintai mu! Jadi aku juga mencintai anak yang kau berikan! Anak kita!" ucap nya dengan penuh penekanan.
Deg!
Entah kenapa ia terkejut dan merasa takut sekaligus, "Karna kau mencintai ku?" tanya nya lirih.
"Kau sudah tau kan?" tanya Richard yang berpikir masalah nya sudah berakhir.
......................
Mansion Zinchanko.
Ainsley melirik ke arah keranjang bayi nya lalu berjalan mendekat melihat putra nya yang tertidur dengan pulas.
Ia mengusap dan membelai dengan lembut agar tak membuat bayi mungil itu bangun ataupun menangis.
Dia menginginkan mu karna mencintai ku?
Karna itu dia tidak membunuh mu...
Tapi bagaimana kalau rasa cinta nya pada ku sudah hilang?
Atau bagaimana kalau perasaan nya berubah dan dia menemukan gadis lain lagi?
Apa yang akan terjadi pada mu?
Apa yang akan terjadi pada kita?
Dia tidak boleh menyakiti mu!
__ADS_1
Anak ku tersayang...