Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Tidak ada yang boleh merusak kebahagian nya!


__ADS_3

Mansion Zinchanko


Mata bulat dan bersinar itu menatap wajah sang ibu yang tengah mengancingkan seragam sekolah nya satu persatu.


"Mommy?" panggil nya menatap sang ibu.


"Yes, love?" jawab wanita itu sembari merapikan seragam putra nya.


"Mommy gak malah sama Axel?" tanya nya lirih dengan nada takut.


"Marah kenapa?" tanya Ainsley yang menatap kembali ke arah wajah menggemaskan itu.


"Karna Axel bodoh, suka nya main aja." jawab nya dengan tatapan polos.


Deg!


Mata wanita bergetar mendengar nya, iris hijau yang terlihat sayu itu pun menatap ke arah wajah yang terlihat tak tau apapun itu.


"Jangan dengerin apa yang Grandma bilang kemarin, Axel itu pintar. Mommy tau kok, gak apa-apa main dulu sekarang. Mommy gak akan marahin yang penting Axel jadi anak yang baik yah sayang." ucap nya sembari mengusap kepala putra nya.


Wajah menggemaskan itu beringsur memeluk sang ibu, "Axel jadi anak baik kok, Mommy Daddy jangan tinggalin Axel yah..."


Jujur saja mendengar permohonan putra nya membuat wanita merasakan sesuatu yang menggelitik di dada nya.


"Gak akan! Axel itu anak kesayangan Daddy sama Mommy, gak mungkin di tinggalin." jawab nya sembari mengusap pundak putra nya dengan lembut.


Ia pun melepaskan pelukan putra nya menatap wajah imut yang terlihat khawatir itu, "Mommy buatin cake untuk Axel, Axel mau kan?" tanya Ainsley tersenyum.


Anggukan penuh semangat menjadi jawaban anak menggemaskan itu pada ibu nya.


...


Angin lembut serta mentari cerah membuat silau di wajah wanita itu, tampak wajah nya yang tengah berpikir melihat ke sembarang arah dan tatapan yang tak fokus.


"Kau sedang pikirkan apa?"


Suara bariton yang membuat nya langsung menoleh pada kursi di sebelah nya.


"Tidak ada," jawab nya singkat pada suami nya.


Richard menarik napas nya sejenak, ia menoleh ke arah wanita yang terlihat diam dengan mata yang seakan mengatakan sesuatu.


"Semalam waktu aku tidak di rumah apa ada yang terjadi?" tanya nya yang ingin wanita itu menjelaskan sendiri walaupun ia sudah mengetahui gambaran besar nya dari pelayan di mansion.


Ainsley diam sejenak, ia enggan mengatakan apa yang terjadi, "Bukan masalah besar."


"Kalau bukan kenapa kau sampai kena serangan panik? Waktu aku memukul mu saja kau tidak kena serangan panik." tanya pria itu mengernyit.


Tak ada jawaban, bahkan wanita itu tak melihat ke arah nya.


"Ainsley?" panggil Richard sekali lagi saat istri nya tak menjawab.


"Aku sudah cerita kan semua tentang ku, masa kecil ku, orang tua ku, semua yang pernah ku alami." ucap nya pada wanita itu, "Sekarang aku mau tentang mu, bukan dari orang lain tapi aku mau dengar dari mu sendiri."


Ainsley masih tak mengucapkan sepatah kata pun, ia tau jika pria itu bisa saja membunuh kedua orang tua nya karna geram maka dari itu ia tak pernah mengatakan apapun yang pernah di lakukan oleh kedua orang tua nya.


"Kau akan tetap diam seperti ini?" tanya Richard lagi.


"Sejak kecil aku tidak punya hubungan yang baik dengan orang tua ku, dan masalah semalam aku hanya mengingat hal yang tidak perlu ku ingat saja." jawab Ainsley pada suami nya.


"Hal seperti apa itu?" tanya Richard lagi.


"Bukan sesuatu yang penting," jawab Ainsley yang enggan memberi tau sembari menoleh dan tersenyum tipis pada suami nya.


"Aku masih ingin dengar tentang mu lagi, teman-teman atau bagaimana yang kau alami." ucap pria itu saat ia menyadari jika istrinya mengalihkan pembicaraan dan menghindari percakapan lebih dalam tentang orang tua nya.


"Teman? Aku tidak punya teman, satu-satu nya yang ku kenal itu cuma Vindi teman kuliah ku dulu, lalu kalau mantan pacar aku juga cuma pun-" ucap nya terhenti sebelum suami nya mendengar nama mantan kekasih nya.


"Siapa? Dia?" tanya Richard dengan nada tak senang.


Baik ia maupun wanita itu sudah tau siapa 'Dia' yang di maksud.


Ainsley mengangguk pelan mendengar nya, mengiyakan pertanyaan suami nya.


"Mantan mu cuma dia?" tanya pria itu tak percaya.


Satu anggukan kecil terlihat di wajah cantik itu, Richard hanya mengernyit. Bagi nya tak mungkin wanita yang memiliki spesifikasi tinggi seperti nya tak ada ingin.


Apa lagi dulu nya wanita itu benar-benar gadis yang polos dan menggemaskan, walau kini juga masih sangat menggemaskan di mata nya.


"Pantas saja! Ck!" decak nya kesal saat tau ternyata pria itu bukan hanya sekedar mantan kekasih namun cinta pertama wanita nya.


"Richard?" panggil Ainsley lirih menatap ke arah suami nya yang terlihat kesal.


Ia pun segera mengubah topik nya, "Kalau mantan pacar mu ada berapa?" tanya nya mengalihkan rasa kesal pria itu.


"Tidak punya," jawab nya singkat, "Mungkin ada satu tapi seperti nya tidak menganggap kalau kami pernah pacaran dulu." sambung pria itu yang ingat akan seorang gadis.


"Jahat sekali! Kenapa dia gak anggap kalian pacaran?" tanya Ainsley yang menatap ke arah pria itu.


"Karna saling memberikan satu sama lain?" jawab pria itu menatap wanita di depan nya.


"Kau mau tau siapa gadis jahat itu?" tanya nya sembari menatap iris hijau di depan nya.


Ainsley mengangguk penasaran ingin tau siapa yang bisa membuat pria itu mengingat seseorang sampai sekarang.

__ADS_1


"Dia ada di depan mata ku sekarang," jawab nya sembari melihat ke arah wajah istri nya.


Ainsley mengernyit, ia menoleh ke belakang mencari wanita lain selain dirinya.


"Tidak ada siapapun," gumam nya lirih lalu menatap kembali pria yang masih memperhatikan nya.


"Aku?" tanya nya lagi pada pria itu.


"Iya," jawab Richard singkat pada istri nya.


"Aku? Tapi kau kan seperti berpengalaman," gumam wanita itu lirih.


Richard tertawa kecil mendengar nya, bagi nya berpacaran dan memiliki hubungan dengan wanita wanita yang menjadi budak nya adalah hal yang berbeda.


"Lalu wanita yang pernah kau..." tanya nya lagi yang tak melanjutkan kalimat nya.


"Mereka? Berapa yah? Aku tidak ingat," jawab pria itu yang memang tak pernah menghitung wanita yang sudah ia tiduri dan bermain dengan nya.


"Dasar!" ucap Ainsley menatap pria itu.


"Dasar apa?" tanya Richard menatap wajah istri nya.


"Penjahat wanita!" jawab Ainsley yang membuat Pria itu tertawa lepas.


"Tapi kan aku tidak pernah melakukan dengan wanita lain waktu sudah dengan mu," ucap Richard yang masih dengan tawa nya.


Tak ada balasan, wanita itu hanya membuang mata nya dengan malas saat melihat suami nya tertawa begitu lepas pada nya.


................


Internasional Primary School


Anak menggemaskan itu terlihat tertawa dengan gadis kecil di samping nya.


"Hihi olang nya lucu," ucap gadis kecil yang tertawa di samping nya hingga membuat nya ikut tertawa juga.



"Tapi Lily lebih lucu," ucap Axel menatap teman sekelas nya yang duduk berdekatan dengan nya.


Gadis kecil yang bernama Emily Rothe yang selalu menjadi menjadi teman sebangku nya pun kini menjadi teman main nya.


"Kok aku lucu sih? Aku kan cantik!" ucap gadis kecil itu sembari menatap ke arah Axel.


"Hihi cantik! Kayak Mommy Axel juga cantik!" jawab Axel tersenyum.


"Cantikan Mommy aku tau!" jawab Emily pada Axel yang juga masih sama kekanakan nya dengan menanggap orang tua nya yang paling cantik.


"Ih! Cantikan Mommy Axel tau!" ucap Axel tak mau kalah.


"Mommy Lily!" selak gadis kecil itu yang juga keras kepala.


Emily menahan tangis nya, bocah seperti nya yang bahkan menangis saat kehilangan satu penghapus nya tentu nya juga bisa menangis saat kalah berdebat.


"Hua..."


"Axel jahat! Mommy Lily kan yang paling cantik huhu..." ucap nya menangis walaupun sebelum nya ia baru saja tertawa.


Axel mengernyit dengan wajah imut nya melihat gadis seusia nya yang menangis.


"Lily kok nangis?" tanya nya melihat nya wajah yang memerah karna air mata itu.


"Huhu..."


"Lily kan yang paling cantik!" ucap nya hingga membuat gadis kecil itu menatap ke arah teman nya lagi.


"Tadi katanya Mommy Axel?" tanya Emily menatap teman nya sembari cegukan.


"Kalau di sekolah yang paling cantik itu Lily, kalau di lumah balu Mommy yang paling cantik!" jawab nya sembari berpikir dengan kepala kecil nya.


Senyuman kembali terlihat jelas di wajah anak perempuan menggemaskan itu, "Axel juga cantik!" ucap nya dengan mata berbinar walaupun masih merah.


"Yeeyy! Kita yang paling cantik!" ucap Axel melompat dengan senang.


"Hihi!" Lily pun mulai tertawa dan juga ikut senang sama seperti teman nya.


Setelah jam sekolah usai, beberapa anak menunggu di ruang tunggu jemputan untuk supir mereka ataupun orang tua yang menjemput langsung.


"Axel kenapa selalu di jemput nya lama sih?" tanya Emily menatap menatap heran.


"Iya! Axel main sama paman baik dulu balu pulang," jawab Axel tanpa ragu.


"Lily ikutan main boleh?" tanya nya yang ingin ikut penasaran juga.


"Hm? Gak boleh!" jawab Axel hingga membuat wajah gadis kecil itu menekuk.


"Kenapa? Axel gak selu!" ucap nya dengan wajah cemberut.


"Lily kan cuma boleh main sama Axel aja!" jawab anak menggemaskan itu.


"Gak mau main sama Axel lagi deh!" ucap Emily yang terlihat kesal.


Axel pun mendekat dan berbisik pada gadis kecil itu, "Besok Axel bawain 3 cake buatan Mommy Axel lagi, tapi jangan kasih ke temen yang lain," ucap nya pada gadis kecil itu.


"Kenapa gak boleh kasih tau yang lain?" tanya Emily menatap bingung.

__ADS_1


"Kan Axel bawain buat Lily aja," jawab nya dengan polos.


Walaupun ia memiliki banyak teman dan berteman dengan semua teman sekelas nya namun ia lebih suka memberi sesuatu pada gadis kecil itu.


Ia hanya membagi milik nya pada orang lain pada orang yang ia sukai saja.


"Yaudah, Lily gak jadi malah. Besok Lily bawain bunga Mommy juga," jawab nya tersenyum yang memang suka memetik bunga yang di rawat sang ibu saat sudah bermekaran.


"Bye! Axel!" ucap nya bangun dan melambai dengan penuh senyuman cerah.


"Bye! Lily!" jawab nya tersenyum sembari melambaikan tangan nya.


Namun kaki nya mendekat dan melangkah ke arah gadis kecil itu.


Muach!


Kecupan gemas seperti yang ia tiru dari sang ayah mendarat di pipi gadis kecil itu.


Emily tak lagi bingung, ia juga tak tau namun ia sudah terbiasa dengan kecupan pipi teman nya itu.


"Bye! Lily!" ucap Axel tersenyum setelah mengecup pipi teman nya.


Ia tak tau itu hal yang boleh atau tidak, namun ia hanya mengcopy apa yang ia lihat dari kedua orang tua nya.


Untungnya Ainsley yang jarang membiarkan suami nya mengecup ataupun berciuman bibir di depan putra mereka, maka dari itu Axel hanya mengikuti kecupan pipi seperti yang sering ia lihat saja.


Setelah teman nya keluar Axel pun terlihat bosan dan menunggu paman baik nya seperti biasa di luar sekolah.


Tak lama ia menunggu sebuah mobil berwarna hitam yang sudah sangat ia kenali pun datang.


"Paman!" ucap nya dengan senang dan berlari ke arah pria itu.


Greb!


Sean langsung menangkap tubuh kecil yang masuk ke dalam pelukan nya tanpa ragu.


"Hey? Jangan lari-lari kan paman bilang?" tanya Sean sembari melihat wajah yang tersenyum tanpa beban di depan nya.


"Tapi kan uda gak sabal mau ketemu paman," jawab Axel sembari menatap pria itu.


Sean tersenyum dan mencubit pipi gemas anak lelaki itu.


"Engga sabar mau ketemu paman atau gak sabar mau main?" tanya Sean menebak dengan menatap wajah yang terlihat senang itu.


"Hihi dua dua nya," jawab Axel tertawa dengan wajah riang pada pria itu.


Sean hanya tersenyum melihat nya, wajah menggemaskan yang semakin hari semakin menarik kasih sayang nya membuat nya tak bisa berhenti menemui anak itu.


"Paman, hali ini kita beli yang kemalin paman bawa yah?" ucap nya tanpa ragu meminta sesuatu.


"Axel suka?" tanya Sean menatap anak menggemaskan itu.


Axel mengangguk dengan semangat mendengar nya, mata yang berbinar terlihat sekali ia jelas suka dan senang berada di dekat pria itu.


...


Sean menurunkan Axel dari gendongan nya dan mengantarnya lagi kembali ke sekolah.


"Yaudah, paman pelgi deh!" ucap Axel dengan wajah polos nya.


"Kok paman di usir?" tanya Sean melihat anak menggemaskan itu.


"Iya, nanti kalau Daddy tau paman di malahin." jawab nya dengan polos pada paman baik nya.


Sean tertawa kecil, ia mengusap kepala Axel beberapa kali dan berjongkok agar menyamai tinggi nya.


"Kiss paman dulu," ucap nya dengan gemas.


Muach!


Tanpa ragu Axel pun memberikan kecupan nya pada pria itu.


Sean tersenyum ia pun bangun dan berbalik ke dalam mobil nya lagi.


"Bye! Axel!" ucap nya sembari melambaikan tangan nya.


"Bye! Uncle!" jawab Axel yang ikut melambaikan tangan nya dengan penuh senyuman cerah.


Pria itu pun masuk ke mobil nya melihat dari kaca spion anak dari mantan kekasih nya yang memilih tak menunggu di dalam karna tau sebentar lagi akan di jemput.


Ia pun menghidupkan mesin nya, dan mulai berjalan dengan mobil nya, saat sudah semakin menjauh ia pun kembali menoleh dari spion mobil nya ke arah di mana anak menggemaskan itu berdiri tadi nya.


Deg!


Mata nya membulat, ia tersentak begitu melihat apa dari spion nya.


Orang-orang yang entah dari mana datang nya langsung tiba-tiba memasukkan tubuh kecil itu ke dalam karung besar mengikat nya dan membawa nya ke mobil.


Ia pun langsung memutar stir dengan segera, jarak yang sudah jauh membuat nya sedikit ketinggalan untuk mengejar.


"Plat mobil nya kosong?" decak nya yang tak bisa menandai plat mobil nya.


Dulu aku memang tidak tau akan seperti ini, tapi sekarang waktu lihat dia lahir dia itu seperti akan jadi kebahagian ku, hidup ku.


Terbesit ucapan yang pernah di katakan oleh wanita itu ketika melihat putra nya yang baru saja terlahir ke dunia.

__ADS_1


"Kebahagiaan nya..." gumam nya sembari mempercepat laju mobil nya mengikuti mobil yang juga sudah membawa cepat anak menggemaskan itu.


"Tidak ada yang boleh merusak kebahagian nya!" decak nya menatap tajam dan semakin menginjak gas mobil nya.


__ADS_2