
7 Hari kemudian.
"Aku tak boleh mengemudi sendiri?" tanya Axel sembari menatap ke arah jendela pada pria yang tengah membawa mobil nya itu.
"Boleh aja, tapi kalau ibu mu tau dia pasti marah." jawab Liam dengan enteng pada remaja itu.
"Kalau gitu jangan kasih tau Mommy," ucap Axel pada paman nya itu.
"Ck! Dasar Mama boy," ucap Liam tertawa kecil meledek remaja pria itu.
"Biarin!" sahut Axel mendengus kesal mendengar ledekan paman nya.
Ia tau arti dari dua kata yang baru di ucapkan oleh paman nya itu, makna yang mengatakan jika diri nya benar-benar anak mami walaupun sudah mulai beranjak dewasa.
Dan ia pun tak menyangkal karna masih belum bisa lepas dari ibu nya dan begitu menyayangi wanita itu karna hanya itu lah satu-satu nya keluarga yang ia miliki.
...
Wanita itu membuang napas nya lirih pekerjaan yang menumpuk membuat kepala nya terasa berdenyut.
Satu notifikasi di ponsel nya membuat nya menoleh, ia pun mengambil dan mengangkat nya.
Kaki nya pun bergegas turun begitu panggilan nya terputus.
"Kau menunggu lama?" tanya Ainsley saat ia sudah turun dan melihat pria yang tengah membaca majalah dan duduk di sofa tunggu lantai bawah perusahaan itu.
"Tidak," jawab Sean singkat pada wanita di samping nya.
"Kita pergi sekarang?" tanya pria itu sembari memeriksa jam tangan nya, ia memang datang di waktu makan siang dan ingin makan siang bersama.
Ainsley pun mengangguk ia mengikuti langkah pria itu dan berjalan ke resto yang mereka inginkan.
Pria itu melihat ke arah wanita yang makan di depan nya, tak menyukai satu jenis minuman namun selalu memesan nya seperti sebuah kebiasaan.
"Dia sangat suka jus seledri?" tanya nya setelah bertahun-tahun melihat cara makan wanita itu.
Ainsley menoleh, ia mengambil tisu yang di sediakan dan mengusap bibir nya.
"Seledri? Iya, dia suka..."
"Kau tau tidak? Dulu waktu aku hamil aku juga selalu minum, padahal aku tidak suka bau nya." ucap Ainsley pada pria itu.
Sean hanya tersenyum mendengar nya, sesekali wanita di depan nya memang suka membicarakan suami nya yang telah tiada.
"Kau merindukan nya?" tanya Sean pada wanita itu sembari menyendok makanan di piring nya.
"Rindu? Tentu, bagaimana pun juga dia pernah jadi suami ku kan? Tapi kalau aku setiap hari cuma rindu dan sedih saja, bagaimana aku mau membesarkan Axel?" jawab wanita itu.
Saat awal pria itu meninggalkan nya selama nya tentu ia banyak mengalami kesulitan, merindukan seseorang yang jelas tak akan bisa lagi berdiri di depan nya.
Karna itu ia memutuskan untuk lebih cepat pindah setelah kondisi nya memungkinkan karna tak mau terus menerus terpuruk sedangkan ia masih memiliki sesuatu yang harus ia jaga dan ia urus.
Sesuatu yang begitu penting melebihi hidup nya dan menjadi sumber kekuatan nya.
"Benar juga," ucap Sean mengangguk pelan.
"Ku dengar Axel buat masalah Minggu lalu?" tanya nya lagi pada wanita itu.
"Hm, aku sudah urus." jawab Ainsley sembari menyantap makanan nya.
"Sebenarnya aku sedikit menyayangkan sikap nya," ucap Sean ketika membahas putra wanita itu yang memukul pegawai nya.
"Hm? Itu karna dia kan masih remaja." jawab Ainsley yang tentu nya tetap membela putra nya karna ia merasa pria di depan nya tengah mengkritik nya.
"Itu dia! Karna masih remaja harus nya mereka bukan dibuat masuk IGD!" ucap Sean sekali lagi.
Ia sudah tau masalah yang di sebabkan oleh anak wanita itu dan bahkan alasan dari mengapa masalah itu bisa terjadi.
"Ha? Apa?" Ainsley mengernyit mendengar nya.
"Harus nya di buat masuk ruang mayat kan?" Sambung nya lagi dengan mata berapi-api.
Ia mendukung apa yang di lakukan oleh Axel karna kalau ia berada di sana dan juga mendengarkan kata yang di dengar oleh remaja pria itu mungkin ia juga akan melakukan hal yang lebih buruk.
"Aku benci waktu kau menikah dengan nya dulu tapi aku lebih benci waktu orang lain merendahkan mu," gumam nya lirih.
Ainsley dapat mendengar nya namun ia tak mengatakan apapun sebagai balasan nya.
Sementara itu tak lama kemudian sekumpulan anak sekolah yang rela kabur sejenak untuk makan di luar pun terlihat masuk beriringan.
"Axel? Itu Mommy kamu kan?" ucap salah satu remaja pria yang mengenakan jaket untuk menutupi seragam nya.
"Mana?" tanya Axel sembari mencari dengan mata nya.
"Itu! Itu siapa? Pacar Mommy kamu? Yah..." ucap Diego pada teman nya itu dengan lesu.
"Hush!" Mack langsung mencubit lengan Diego karna ia tau teman nya itu tak mau sang ibu menikah lagi.
Axel hanya diam tak mengatakan apapun, sedangkan Emily melirik ke arah teman nya dan mulai menggenggam tangan remaja pria itu.
Ia tau kalau teman nya ia tak begitu menyukai pria yang bersama ibu nya namun yang membuat nya bingung mengapa teman nya tak menyukai pria itu.
Sedangkan baginya pria itu adalah paman baik selama ia mengenal nya.
"Makan nya agak jauh yuk, nanti kalau Tante Ainsley tau kita bisa di marahi." ucap Emily sembari membawa pelan tangan teman nya pergi.
......................
Apart Venelue'ca
__ADS_1
Axel menunggu sang ibu di ruang tengah sembari sesekali melihat ke jalanan kota yang masih bersinar membelah gelap nya malam.
Ia gelisah menunggu sang ibu karna berpikir ibu nya saat ini tengah bersama dengan pria yang ia kira bisa menjadi pacar sang ibu.
Mungkin hal ini kekanakan namun bayangan masa kecil nya masih menjadi racun di pikiran nya, ia takut sang ibu akan kembali mengabaikan dan membuang nya ketika memiliki pasangan lain selain sang ayah.
Sama seperti waktu ia kecil yang tengah berharap penuh sang ibu akan datang ketika ia benar-benar membutuhkan pelukan ibu nya.
Suara pintu membuat nya langsung mendekat, "Dari mana Mom?" tanya nya dengan was-was pada sang ibu.
"Mommy tadi masih ada kerjaan, tumben kamu nunggu Mommy di sini? Biasa nya langsung tidur kalau tidak di kamar." ucap Ainsley pada putra nya.
Axel masih diam membiarkan sang ibu masuk dan membuka jaket nya serta meletakkan tas nya.
"Axel belum makan?" tanya Ainsley lagi yang bingung kenapa putra nya terus mengikuti nya malam ini, "Mommy kan tadi bilang pulang nya agak lama."
Masih tak ada jawaban namun hanya tatapan yang menatap ke arah diri nya.
"Mau Mommy masakin makan malam?" tanya nya lagi pada putra nya.
"Mommy beneran lembur atau pacaran sama paman Sean?" tanya nya pada wanita itu.
Ainsley diam sejenak, tentu nya jawaban nya adalah tidak.
Ia tak bohong sama sekali dan benar-benar hanya lembur sepanjang malam bahkan ia juga membawa ikut pekerjaan nya pulang.
"Mommy gak pacaran kok," ucap nya pada putra nya.
"Yakin? Tapi yang aku lihat gak begitu!" ucap nya lagi.
"Axel?" panggil Ainsley pada putra nya.
"Mommy kok bisa sih sama yang lain?! Mommy gak mikirin aku? Gak mikirin Daddy?!" tanya nya lagi pada sang ibu.
"Mommy kerja nak," ucap Ainsley lagi pada putra nya yang tak percaya sama sekali.
"I don't wanna stepdad Mom, that will never change!" ucap nya dengan kukuh dan mata yang penuh yakin pada sang ibu.
"Kalau kamu gak mau, Mommy juga gak akan begitu! Axel kenapa? Bilang sama Mommy? Hm?" tanya Ainsley pada putra nya yang tiba-tiba marah sembari menggenggam kedua lengan putra itu sedangkan ia sudah lelah berkerja seharian.
"Yang jelas Mommy gak boleh nikah lagi! Gak boleh pacaran sama yang lain juga! Termasuk paman Sean!" ucap nya sekali lagi.
"Kamu kenapa sih ungkit Sean? Bukan maksud Mommy paman Sean? Mommy gak nikah, gak pacaran dan Mommy juga cuma teman aja kok," ucap Ainsley pada putra nya.
"Daddy meninggal karna Mommy," ucap remaja pria itu bergumam.
Ia tak tau kecelakaan seperti apa yang menimpa ibu nya hingga perlu mendapatkan jantung namun apa yang sudah tertanam di kepala nya juga tak bisa dengan mudah di hapuskan.
Ia merasa sang ibu kecelakaan karna bersama dengan seorang pria yang tak lain adalah Sean dan kecelakaan karna itu.
Setelah semua nya terjadi, sang ibu kembali pada nya dan sang ayah namun karna ayah nya yang tak ingin wanita yang ia cintai pergi kemudian memilih memberikan jantung nya.
Deg!
Ainsley tersentak mendengar nya, semenjak putra kesayangan nya tau alasan sang ayah meninggal terkadang ia dapat merasakan jika putra nya sedikit menyalahkan nya karna kepergian sang ayah ketika mereka bertengkar kecil.
"Maaf," ucap nya lirih tangan yang sebelum nya menggenggam kedua lengan putra nya perlahan jatuh.
Axel mulai tersadar jika ucapan nya menyakiti perasaan sang ibu secara tidak langsung. Raut wajah yang langsung berubah dan menunjukkan kesedihan di dalam nya secara tak langsung.
"Mom? Maaf, aku..."
"Aku bukan maksud mau nyalahin Mom-"
"Gak apa-apa, lagi pula yang kamu bilang juga gak salah," potong Ainsley dengan senyuman tipis.
"Kalau bukan karna Mommy, kamu gak perlu bertengkar sama teman kamu di hari ayah, bisa bawa Daddy kamu kalau ada acara, kamu juga bisa-"
"Mom..."
"Sorry..." potong nya lirih pada sang ibu.
Ainsley tersenyum sembari membuang wajah nya agar tak terbawa suasana karna ketika ia begitu lelah ia juga akan sangat sensitif.
"Harus nya Mommy yang minta maaf, kalau bukan karna Mommy kamu masih punya Daddy kan?" ucap wanita itu pada putra nya dengan suara bergetar.
"Axel juga seneng masih punya Mommy! Axel juga sayang sama Mommy!" ucap nya lagi.
Ainsley hanya tersenyum, "Iya, Mommy tau..."
"Mommy ke kamar dulu yah? Mommy mau istirahat..." ucap nya pada putra nya.
Axel pun diam dan membiarkan sang ibu ke kamar nya, ia menyesali perkataan nya yang tak sengaja keluar karna begitu takut sang ibu akan pergi bersama pria lain lalu kemudian mengabaikan nya lagi seperti masa kanak-kanak.
Sementara itu Ainsley pun masuk ke kamar nya dan menjatuhkan diri nya ke atas ranjang, ia membuang napas nya panjang.
"Karna aku?" gumam nya lirih.
"Kalau aku benar-benar mati waktu itu dia pasti masih ada kan?" gumam nya lirih sembari menoleh ke samping sisi yang kosong.
"Kalau aku yang pergi mungkin semua nya akan lebih baik dari sekarang..." sambung nya lirih dengan mulai terpejam karna merasa begitu lelah baik secara fisik ataupun mental nya.
Ia pun tertidur tanpa menghapus make up tau mengganti pakaian nya lebih dulu dan biasanya ia akan melakukan nya ketika terbangun nanti nya.
...
Pagi yang menyinsing datang, rasa bersalah remaja pria itu pun masih ada setelah melukai perasaan sang ibu secara tak langsung.
Ia bangun lebih pagi dan menyiapkan sandwich untuk sarapan nya dengan sang ibu.
__ADS_1
"Morning Mom," ucap nya pada sang ibu yang baru keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan mereka.
Ainsley heran menatap putra yang ada gerangan baru bangun lebih pagi sedangkan biasa nya akan selalu kesiangan.
Wanita yang bahkan masih mengenakan piyama berwarna biru itu menatap heran sejenak sembari terus melangkah mendekat.
"Axel yang buat sarapan nya," ucap nya pada sang ibu setelah mendekat dan membuat ibu nya duduk.
Ainsley tertawa kecil melihat sikap putra nya yang membujuk nya karna mengira ia sedang marah.
"Mommy gak marah kok, yang Axel bilang kan juga gak salah..." ucap nya tersenyum.
"Mommy..." panggil nya lirih yang semakin merasa bersalah pada sang ibu.
"Iya, Mommy makan yah masakan buatan anak Mommy..." ucap tertawa kecil melihat wajah memelas putra nya.
"Hmm, enak sandwich nya." ucap nya yang memuji remaja pria berusia 16 tahun itu.
"Nanti mau pergi ke sekolah nya bareng Mommy," ucap nya pada sang ibu.
"Kemarin gak mau?" tanya Ainsley lagi.
"Sekarang aku tuh mau! Tapi Mommy jangan keluar dari mobil," ucap nya pada sang ibu.
"Kenapa?" tanya Ainsley bingung.
"Mereka itu mata keranjang Mom," jawab Axel yang membuat ibu nya tertawa.
"Masa teman kamu suka nya sama ibu-ibu?" tanya wanita itu dengan tawa kecil nya.
"Makanya! Mereka itu gak normal Mom!" jawab Axel pada ibu nya.
"Kalau kamu suka nya sama siapa?" tanya Ainsley yang mulai mengalihkan pembicaraan agar tak kaku lagi.
"Axel belum punya pacar," ucap nya pada pertanyaan sang ibu.
"Kamu suka nya sama Emily kan?" tanya wanita itu yang langsung membuat putra nya tersentak dan terkejut secara bersamaan.
Uhuk!
"Mommy!" ucap Axel pada ibu nya yang hanya tertawa.
"Kenapa? Emily cantik loh, baik lagi." ucap Ainsley lagi yang kembali menggoda putra nya.
"I-iya..." jawab Axel lirih dengan wajah yang mulai memerah.
Ainsley tersenyum melihat rona wajah putra nya, ia tau anak nya mengikuti nya jika masalah pipi yang memerah saat sedang malu.
......................
Setelah sekolah usai Axel memilih pulang ke mansion yang ia tinggali ketika sang ayah masih hidup, sebelum ke rumah nya yang sekarang.
Ia sesekali memang ke sana ketika merindukan sang ayah ataupun ingin mengingat momen yang mereka bentuk bersama.
Langkah nya menuju ruang kerja sang ayah ketika sudah tiba di mansion megah nya.
Ia tersenyum mengingat di sudut ketika memperhatikan sang ayah yang tengah bekerja sembari menunggu untuk makan bersama dan ibu nya yang tengah menyiapkan makanan.
Rasa penasaran dan tangan serta langkah nya yang mengitari hingga kaki nya tersandung sudut meja dan bak tertimpa tangga ia juga tersandung ke sisi lain nya hingga membuat dinding yang seolah rata itu bergeser memberikan cela yang lain.
"Eh? Ini apa?" gumam nya lirih.
Ia melihat banyak memori card dan juga alat pantauian cctv di cela tersebut.
Bukan sebuah ruangan nya, hanya cela yang memberikan ruang menyimpan memori card beserta sistem pengawas nya.
Ia tau di mansion nya di penuhi cctv namun ia tak tau ada cctv yang juga di simpan di tempat berbeda.
Richard yang dulu nya tak pernah mempercayai siapapun tentu nya meletakkan kamera pengawas di kamar ia dan putra nya, ruang ganti bahkan di kamar mandi sekali pun.
Pria yang hidup tanpa mempercayai siapapun karna memiliki trust issue yang begitu besar karna perjalanan hidup nya.
Remaja pria itu pun mulai mengambil memori card itu karna penasaran dan melihat satu persatu di laptop yang berada di tempat itu.
Pertama ia melihat masa kecil nya, kelurga utuh nya yang begitu terlihat bahagia hingga membuat senyuman nya terlihat sekaligus hati yang merindukan nya.
"Eh? Aduh!" ucap nya yang seketika malu saat melihat hubungan orang tua nya ketika ingin melakukan sesuatu yang biasa di lakukan pasangan.
Ia pun selalu melewatkan adegan yang terekam itu karna tak mau melihat hubungan privasi orang tua nya.
Namun ia juga tak berhenti memutar memori card itu karna masih sangat merindukan keluarga lengkap nya.
Hingga senyuman nya jatuh, suara yang ricuh terdengar di telinga yang memakai airpods.
"Mereka bertengkar?" gumam nya lirih yang terkejut melihat cara kedua orang tua nya bertengkar.
"Kenapa Daddy terus mukul Mommy?" gumam nya lirih.
Mata nya masih tak mempercayai nya, ia mencari yang lain lagi karna merasa mungkin saat itu sang ayah hilang kendali.
Semua video yang terekam di mansion mewah itu terlihat oleh nya, ia melihat secara keseluruhan kecuali bagian adegan di mana kedua orang tua nya melakukan hubungan.
Mengetahui apa yang selama ini tidak ia ketahui sama sekali.
Deg!
Iris jernih menjatuhkan satu air mata nya, ia sekarang tau sang ibu tak pernah meninggalkan nya ataupun apapun yang sela ini terjadi di belakang nya dan di sembunyikan.
__ADS_1