Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
30 Februari


__ADS_3

Sean membawa Ainsley kembali RS namun Ainsley yang langsung menolak dan meminta Sean mengantarnya ke apartnya.


Pintu apart Ainsley pun mulai terbuka, ia kembali masuk ke tempat yang menurutnya sebagai tempat teraman.


"Sean...


Kau menginap kan?" tanya Ainsley lirih sembari memegang tangan Sean.


"Hm..." jawab Sean singkat sembari mengecup ringan kening Ainsley.


Ainsley pun masuk ke kamar nya dan membuka ponselnya yang mati karna kehabisan baterai, ia pun langsung mengisi daya ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk padanya.


Tangan nya bergetar lagi saat melihat pesan ancaman yang tak kunjung selesai dari Richard. Ainsley pun dengan cepat langsung menghapus semua pesan itu sebelum Sean melihatnya.


"Ainsley? Ayo makan..." ajak Sean saat makanan yang ia pesan sudah datang.


"I-iya..." Ainsley pun dengan gugup menjawab Sean sembari mematikan ponsel nya lagi.


Ia keluar dari kamar nya dan melihat Sean yang sedang merapikan meja dan menyusun makanan nya.


"Sini..." ajak Sean sembari menghampiri Ainsley dan menarik tangan gadis itu untuk duduk di meja bersama nya.


Ainsley masih diam ia masih memikirkan tentang video dan pesan ancaman yang di ponselnya sebelumnya.


"Kenapa diam saja?" tanya Sean saat melihat Ainsley yang melamun terdiam.


"Ti-tidak apa-apa..." jawab Ainsley lirih dan terkejut mendengar pertanyaan Sean karna ia sedang tenggelam dalam pikiran nya.


Ainsley melihat ke arah makanan di depan nya, semua adalah jenis makanan kesukaan nya, karna Sean memang memesan demikian.


"Sean...


Kau...


Tak akan meninggalkan ku, kan?" tanya Ainsley lirih.


"Aku akan meninggalkan mu." jawab Sean bercanda sembari memilah wortel di makanan yang ia pesan karna Ainsley tak menyukai wortel.


Mata Ainsley langsung membulat sempurna mendengar jawaban Sean, walaupun jika itu hanya kata candaan ia tak mau mendengar nya, ia pun langsung melihat wajah kekasih nya yang masih sibuk mencari ada tidak nya wortel di makanan yang ia pesan.


"Kapan? Jangan...


A-aku bisa lakukan apa saja...


Aku cuma punya kau...." jawab Ainsley lirih dengan suara tertahan, ia tak tau harus apa jika Sean meninggalkan nya. Selama 3 tahun terakhir ia sudah terlalu banyak bergantung dengan Sean.


Sean pun langsung mengalihkan pandangan nya pada Ainsley, ketika melihat raut wajah Ainsley yang benar-benar khawatir membuat nya tersenyum lembut, ia tak tau kenapa Ainsley sangat takut ia tinggalkan.


Ia bahkan berpikir jika ia tak cukup menunjukkan kasih sayang nya maka dari itu Ainsley sangat takut?


Tangan nya perlahan meletakkan sendok dan melihat nanar ke arah Ainsley, ia perlahan mengusap rambut di belakang kepala Ainsley.


"Aku akan meninggalkan mu...


Tanggal 30 februari..." jawab Sean dengan tertawa kecil pada Ainsley.


"30 februari?" tanya Ainsley lirih.


Ainsley pun langsung menangkap tangan Sean yang sedang mengelus lembut rambut nya. Ia benar-benar takut Sean akan meninggalkan nya di tanggal tersebut, sampai ia lupa jika tanggal 30 februari itu tak ada.


"Be-berarti tahun depan?" tanya Ainsley hampir menangis.


"Sean...." panggil Ainsley lirih, ia sangat takut jika Sean meninggalkan nya sampai tak dapat berpikir jernih jika tanggal 30 februari itu tak ada.


"Kau tak mau aku meninggalkan mu?" tanya Sean tersenyum sembari mengusap lembut air mata Ainsley yang terjatuh.


Ainsley pun langsung mengangguk mengindahkan ucapan Sean.


"Habiskan makanan mu, dan ikuti terapi..." ucap Sean pada Ainsley, awalnya ia hanya ingin bercanda, namun saat melihat Ainsley yang begitu takut di tinggalkan membuat nya memanfaatkan situasi agar Ainsley dapat memperbaiki psikis nya.

__ADS_1


"Terapi? Bertemu psikiater maksud mu?" tanya Ainsley lirih.


"Hm...


Kalau kau tak mau aku akan benar-benar meninggalkan mu tepat di tanggal 30 februari.


Kau mau jika itu terjadi?" tanya Sean dengan nada penuh penekanan pada Ainsley.


"Ja-jangan...


Aku gak mau sendiri..." ucap Ainsley menggeleng dan semakin menangis.


"Kau tak menjawab, sepertinya kau tak terlalu menyukai ku..." ucap Sean sembari mulai melepaskan tangan Ainsley yang sedang menggenggam tangan nya. Membuat gadis itu semakin takut jika benar-benar di tinggalkan.


"I-iya aku ikut terapi...


Tapi jangan tinggalin aku..." ucap Ainsley semakin kalang kabut saat Sean berusaha melepaskan tangan nya.


Sean pun tersenyum lembut dan mengecup kening Ainsley. Ia mulai menghapus air mata yang jatuh dari pipi gadis nya dan menatap nanar wajah Ainsley.


"Ssttt...


Sudah... sudah...


Aku tidak pergi...


Kau tak akan sendiri, jangan takut..." ucap Sean lembut untuk menenangkan Ainsley.


Sean bisa sangat lembut dan sangat kasar, apa lagi jika sedang dalam mode cemburu, membuat nya dapat menyiksa Ainsley, namun ia juga dapat diandalkan di segala situasi.


Ainsley pun perlahan tenang dan diam. Sean pun meletakkan kembali sendok ke tangan Ainsley dan menyodorkan beberapa makanan kesukaan Ainsley dan makanan yang sudah ia pisahkan wortel nya jika terdapat sayuran tersebut.


"Mau ku suapi?" tanya Sean saat melihat Ainsley yang hanya menatap makanan yang di sodorkan nya.


"Aku bisa sendiri kok..." jawab Ainsley lirih dan mulai menyendokkan makanan ke mulut nya.


Sean pun melihat Ainsley yang berulang kali menahan mual nya agar tak muntah membuat nya mengelus punggung Ainsley perlahan.


"Sudah...


Tak perlu makan terlalu banyak, yang penting bisa makan dulu..." ucap Sean pada Ainsley.


Ainsley pun langsung menghentikan makan nya dan meminum air putih yang sudah di tuangkan Sean untuknya. Walaupun baru beberapa suap makanan yang masuk kemulutnya namun ini adalah makanan yang bisa ia telan sejak beberapa hari terakhir.


"Kau mau istirahat?" tanya Sean lagi saat Ainsley sudah selesai minum.


Ainsley pun menggeleng perlahan.


"Aku mau belajar...


Sebentar lagi ujian...


Nanti mamah marah..." jawab nya lirih pada Sean.


Sean tak habis pikir, menemui orang saja tak bisa tapi ia masih bisa memikirkan belajar?


"Istirahat saja..." ucap Sean.


"Jangan...


Nanti mamah marah..." jawab Ainsley lirih, sejak kecil ia memang selalu takut dengan ibunya, sampai di bawah batas wajar.


Ibu nya memang memberikan rasa takut dan membuat psikis nya rusak sejak kecil yang membuatnya mempunyai sifat dan watak yang lemah.


"Yasudah...


Hanya satu jam setelah itu tidur yah..." titah Sean pada gadis yang berada di depan nya.


Ainsley pun menurut dengan ucapan Sean.

__ADS_1


"Mau ku bantu? Ada yang sulit?" tanya Sean pada Ainsley. Ia sejak tadi duduk di samping Ainsley dan memperhatikan gadisnya yang sedang belajar.


"Bisa kok..." jawab Ainsley lirih.


Sean pun tau jika Ainsley kesulitan di beberapa materi karna tak datang kuliah beberapa hari. Ia pun langsung mengambil buku Ainsley dan mencoba menerangkan beberapa materi yang sempat ketinggalan oleh Ainsley.


Setelah satu jam tepat Ainsley belajar, Sean langsung menutup buku Ainsley dan langsung merapikan nya.


"Eh? Kok di tutup? Kan belum selesai?" tanya Ainsley yang kebingungan karna Sean langsung merapikan buku-bukunya.


"Waktu belajar mu sudah habis.


Kau tidur sekarang!" titah Sean pada Ainsley.


Ainsley pun tak beranjak dari meja belajarnya dan hanya diam menunduk, ia masih ingin belajar lagi karna belum menyerap semua pembelajaran nya, ia takut jika ibunya menanyainya ia tak bisa menjawab.


"Kenapa diam saja? Mau ku hukum baru menurut?" tanya Sean dengan nada penuh penekanan.


"Ti-tidak." jawab Ainsley cepat pada Sean.


Sean pun langsung tersenyum dan meraih tangan kecil Ainsley, ia pun langsung membawa Ainsley ke ranjangnya, dan berusaha menidurkan Ainsley.


"Itu...


Aku belum minum obat tidur nya..." ucap Ainsley lirih saat Sean mulai mendekap tubuhnya.


"Obat tidur?! Kau mau meminum nya lagi? Ha?!" tanya Sean dengan nada tinggi dan langsung membuat Ainsley terkejut.


"Ti-tidak..." jawab Ainsley mengelak karna takut Sean marah.


"Sudah....


Tidur seperti ini saja..." ucap Sean sembari mendekap tubuh Ainsley dan menepuk punggung nya perlahan agar gadisnya bisa tertidur.


Ainsley pun perlahan tertidur karna merasa nyaman dengan perlakuan Sean padanya.


......................


Pukul 06.52 AM


Mentari pagi pun mulai menyinsing menebarkan semua sinar nya. Sean mulai terbangun perlahan.


Ia melihat Ainsley yang masih tertidur lelap di dalam dekapan nya. Karna merasa sangat nyaman membuat Ainsley dapat tertidur dengan lelap saat Sean mendekap nya.


Sean pun perlahan bangun dan turun dari ranjang dengan sangat pelan agar tak membangun kan Ainsley.


Ia pun segera menuju ponsel Ainsley dan memeriksanya, ia merasa curiga karna sebelumnya saat ia memanggil Ainsley, Ainsley terlihat sangat gugup dan terkejut ia pun langsung mematikan ponsel nya.


Sean pun mulai membuka ponsel Ainsley dan memeriksa beberapa pesan yang masuk ke ponsel kekasihnya.


Mata nya membulat sempurna melihat pesan tersebut, iris nya langsung bergetar melihat isi pesan tersebut.


Aku merindukan tangisan mu...


Juga tubuh mu...


Isi pesan tersebut beserta video Ainsley yang dikirim oleh Richard saat tengah malam, maka dari itu walaupun Ainsley sudah menghapusnya pesan tersebut ada lagi karna Richard terus mengancam gadis malang itu tiada henti.


Sean pun memutar video tersebut, mata nya semakin membulat sempurna dan sangat terkejut.


...****************...


Aduhh gimana nih babang Sean tau huhu🤧🤧🤧


Maaf yah othor up nya lama🤧🤧


Jangan lupa like komen vote fav rate 5 dan dukung othor yah🥰🥰❤️❤️


Happy Reading❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2