Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Naive Girl


__ADS_3

Deg...


Tangan pria itu tak sampai meraih dan memegang namun ia sempat menyentuh sebelum gadis itu benar-benar jatuh.


Ainsley menutup mata nya dan memegang erat selimut yang melilit tubuh nya, ia merasa melayang di udara sejenak sebelum terjatuh.


Bruk!


Richard pun melihat ke bawah dan menatap gadis itu yang masih sempat tertolong karna ia sudah memberi tau beberapa pengawal nya untuk menyiapkan sesuatu ketika gadis itu ingin lompat.


Pria itu bernafas lega ketika melihat tubuh yang tak hancur dan juga selimut yang masih melilit erat dan tak menunjukkan bentuk tubuh yang indah tersebut pada para pengawal nya. Namun gadis itu kehilangan kesadaran dikarnakan terkejut dan luka ringan.


......................


Setelah kembali dari perusahaan Sean terus menghubungi kekasih nya yang tak diangkat sama sekali hingga ia mendatangi party yang di gelar teman gadis itu.


"Ainsley tidak dengan mu? Ku pikir kau menjemput nya," ucap Vindi yang berpikir jika teman nya tak kembali karna sudah di larang kekasih posesif nya.


"Kapan dia pergi?" tanya Sean mengernyit


"Sekitar jam 3 sore tadi," jawab Vindi dengan jujur. "Tadi dia katanya ma-" sambung nya yang langsung terhenti ketika pria itu langsung balik pergi.


Sean pun kembali ke mansion nya dan membuka komputer nya. Ia tak bisa terlalu banyak menggunakan perintah otoriter di perusahaan nya karna ketiga kakak nya sangat ingin mencari kesalahan nya.


......................


Mansion Sean.


"Dimana?" gumam nya sembari terus mengotak-atik komputer nya.


Ia memberikan aplikasi pelacak di ponsel kekasih nya namun tak bisa menemukan nya, dan ia sendiri juga mempunyai pengetahuan tentang komputer dan sistem informatika yang sangat baik yang tak lain adalah peretas yang menyembunyikan hal tersebut dari siapapun.


Bahkan ia sendiri pernah meretas akun perusahaan sang ayah untuk mengambil data yang ia inginkan. Namun setelah membuat kekacauan tersebut ia juga pura-pura mencari pelaku nya.


"Video?" gumam nya saat melihat video yang sempat di rekam kekasih nya berbulan-bulan yang lalu ketika melihat pembantaian di hutan sebelum nya.


Ainsley memang sebelum nya memindahkan diam-diam dan Sean yang dulu juga tau tentang video pelecahan itu karna Richard yang terus mengirim ulang ke ponsel gadis itu hingga Sean melihat nya.


"Astaga..." gumam pria itu memijat pelipis nya.


Kini ia sudah sangat yakin jika gadis polos nya sudah terlibat sesuatu yang berbahaya, "Kenapa bisa sampai begini?" ucap nya lirih dan semakin khawatir karna tak dapat menemukan gadis itu.


Ia pun menelpon sekertaris nya lebih tepat nya anak culun yang dulu nya ia biayai untuk pendidikan kuliah dan membuat pria itu memiliki kesetiaan pada nya dan itu semua juga termasuk kedalam skema nya untuk mendapatkan orang-orang berpotensi pada nya.


"Cari data terakhir kemana Ainsley pergi dan dengan siapa, lalu mobil dengan plat 890 XX cari dimana sekarang." perintah nya nya pada sekertaris Jhon.


"Baik, tuan." ucap sekertaris Jhon setelah nya Sean pun menutup telpon nya.


Setelah menutup telpon belum lama ia memejam sesaat memikirkan kemana gadis nya pergi komputer nya berbunyi setelah terkena serangan virus balik ketika ia berusaha menyadap beberapa cctv.


"Tak mungkin kan? Ini sistem keamanan? Tapi biasa nya tak akan seperti ini..." gumam nya karna merasa janggal.


Ia sudah terbiasa menyadap namun hanya cctv tetapi memiliki tingkat keamanan tinggi seperti berusaha menyembunyikan tempat lain yang menjadi inang nya.


"Benar-benar..." gumam nya, menemukan sesuatu yang tak bisa ia retas membuat nya merasa tertantang apa lagi ia yang memang ingin menemukan gadis nya.

__ADS_1


......................


Mansion Zinchanko.


Hari telah berganti dari gelap nya malam ke terang nya sinar mentari yang sudah meninggi.


"Tuan!" panggil Liam tergesa-gesa pada tuan nya.


"Hm? Ada apa?" tanya Richard yang terhenti sejenak dari langkah nya.


"Ada yang berusaha meretas cctv jalan ke mansion utama dan berusaha melacak tempat ini." ucap Liam melaporkan karna sistem keamanan mereka yang terserang virus yang sama sembari memberikan Ipad yang berisi laporan yang sedang terjadi.


"Kenapa bisa? Siapa yang melakukan nya?" tanya Richard mengernyit. Jika orang tersebut tak begitu hebat tak mungkin sanggup menyerang balik sistem keamanan nya.


"Tidak ada yang bisa di temukan dari identitas nya kecuali nama akun RinX008," balas Liam pada tuan nya.


"Alihkan, buat pengalihan agar tidak tertuju kesini. Dia bergerak secara buru-buru, walaupun pintar tapi masih gegabah." ucap Richard pada bawahan nya.


...


Mentari pagi yang sudah meninggi membangunkan gadis itu dari mimpi buruk yang begitu panjang untuk nya.


Mata nya menerjap dalam rasa takut dan terbuka seketika.


"Sudah bangun?" suara seorang pria yang sekali lagi mengejutkan nya.


Paman?


Batin yang merasa mengenal suara pria tersebut namun saat ia beranjak bangun lalu melihat siapa yang berbicara membuat nya membatu seketika.


Pria bertopeng yang sama seperti sebelum nya dan ia yang masih belum keluar dari tempat tersebut.


Tatapan tajam serta menusuk ke arah nya, walaupun pria itu memakai topeng menutup bagian mata nya namun masih tak dapat menyembunyikan tatapan tajam tersebut.


Plak!


Satu tamparan kuat melayang di pipi gadis itu. Tamparan yang menyambut nya ketika ia baru sadar setelah lompat dari lantai empat.


"Kau pikir kau bisa berbuat semau mu? Aku menyuruh mu untuk mati? Bahkan kalau kau mau mati kau tak akan mati dengan mudah!" ucap pria itu setelah menampar hingga membuat hidung gadis itu mimisan.


Tubuh Ainsley bergetar ia hampir menangis karna merasa sangat takut sembari menahan cairan merah kental yang keluar dari hidung nya.


"Pa-paman di mana? Pria yang sebelum nya dengan ku?" tanya nya lirih dengan sangat pelan dan suara yang gemetar.


Pipi nya terasa kebas dan aroma anyir yang begitu terasa di indra penciuman nya namun ia juga ingin tau sosok "Paman" yang ia inginkan.


"Kenapa? Kau sangat ingin tau dia dimana?" tanya Richard mengernyit.


Gadis itu tak menjawab alasan nya, ia hanya ingin membuktikan bahwa apa yang ia percayai adalah benar.


"Kau bisa menemui nya, nanti akan ada pelayan yang menjemput mu dan mengantar nya." ucap Richard dan berlalu pergi guna mengganti gaya nya nya lagi agar bisa menjadi "Paman" yang di inginkan gadis itu.


...


Langkah nya penuh dengan debaran setelah pelayan di mansion megah itu mengantar nya ke sebuah kamar.

__ADS_1


"Paman?" panggil nya lirih pada pria di depan nya ketika ia memasuki kamar tersebut.


"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu dengan nada yang lebih di lembutkan tak seperti ia yang biasanya.


Ia berjalan mendekat namun gadis itu secara refleks memundur pada nya.


Suara nya benar-benar mirip...


Batin Ainsley yang menatap tanpa ekspresi ke pada pria di depan nya.


"Syukurlah...


Aku sangat khawatir sebelum nya, aku tidak tau kenapa tiba-tiba mobil kita di cegat waktu kau sedang tidur dan di bawa ke sini..." ucap Richard dengan pura-pura khawatir baginya hal ini merupakan permainan yang menyenangkan.


Deg..


Gadis itu terperanjat, walaupun suara mereka sangat mirip dan postur tubuh yang sama namun dengan dua kepribadian yang berbeda.


Bukan! Mereka bukan orang yang sama kan? Paman itu orang baik! Paman tidak jahat!


Batin nya yang terus menyangkal apa yang sudah jelas di depan nya.


"Paman...


Paman orang baik kan?" tanya Ainsley yang mulai mendekat perlahan.


Richard mengernyit ia merasa jika gadis di depan nya berusaha mengelabui apa yang ia rasakan dan lihat dengan sendiri nya.


"Kenapa tanya begitu? Apa bagi mu orang yang jahat?" tanya pria itu yang juga berjalan mendekat dan menyentuh dagu gadis cantik hingga membuat nya mengandah.


Tak ada jawaban hanya mata yang memandang lurus ke depan arah pria di depan nya.


Richard yang mulai paham situasi memanfaatkan kebingungan gadis di depan nya dan memeluk nya perlahan.


Ainsley tak menolak ataupun tak membalas nya, karna ia memang nyaman dengan sosok "Paman" yang membuat nya sedikit merasakan sosok "Ayah" yang selalu ia cari.


Perbedaan umur dan sikap dewasa tentu nya membuat nya merasakan hal berbeda setelah sekian lama selalu hidup menjadi boneka orang lain.


Ribuan kenangan buruk, rasa sakit, tangisan, dan jiwa yang hancur selalu di dalam diri yang ia berusaha ia tutupi dengan luka lain dan menanamkan jika tak akan terjadi apapun pada nya.


Membangun pemikiran berbeda yang di bangun oleh semua luka nya.


Bodoh?


Kata-kata yang mungkin orang lain ucapkan untuk nya namun tak akan ada satu pun yang mengerti sudah seberapa hancur jiwa yang ia miliki dan tak akan di pahami oleh orang lain yang bahkan tak pernah terluka sedalam dirinya.


Rasa sakit dan luka yang menghancurkan jiwa nya hingga mengunci kesadaran dan rasionalitas nya.


"Paman? Kapan kita bisa keluar dari sini?" ucap nya lirih yang tengah berada pelukan pria tampan itu.


Richard tersenyum simpul mendengar perkataan gadis itu yang tetap ingin percaya jika ia adalah "Pria" yang berbeda dari penculik nya.


"Dia akan melepaskan mu, tapi bukan sekarang..." jawab pria tersebut dengan smirk nya.


Tangan nya mengelus rambut panjang yang terasa halus tersebut dengan lembut dan memeluk gadis yang bahkan sudah benar-benar kehilangan arah karna sejak kecil sudah di "Penjara" oleh rasa sakit yang bangun orang-orang sekitar nya.

__ADS_1


Dia terlalu naif, tapi menyenangkan...


Aku semakin menginginkan nya...


__ADS_2